
Kini Rania sedang duduk bersandar ditaman, hari ini Bima mendapatkan perintah dari atasannya untuk segera kekantor walaupun seminggu ini ia mengajukan cuti.
Kini Rania bertarung dengan pikirannya sambil menatap didepannya sebuah keluarga yang utuh terdiri ibu ayah dan kedua anaknya. Ia merasa seakan itu adalah keluarganya.
"Setidaknya aku pernah merasakannya, tetapi lain hal nya dengan Alya. Ia tidak akan pernah merasakan seperti itu" gumam Rania pelan yang masih menatap setia sebuah keluarga itu
Tak ia sadari, Air mata pun mengalir membahasi pipinya, sore ini ia sangat gelisah memikirkan kepergian Alya besok. Mereka akan berpisah dengan waktu yang cukup lama.
"Tuhan, hamba bukan tidak bersyukur dan hamba bukan mengeluh tapi bolehkah hamba menangis mengingat kehidupan pahit hamba dan adik hamba??" Gumamnya pelan. Sangat sakit terasa didalam lubuk hatinya.
Rania adalah seorang kakak yang tidak pernah memikirkan dirinya sendiri bahkan ia selalu memikirkan Alya.
"Kak.." suara seseorang yang sangat Rania kenal yaitu Adiknya Alya
Rania cepat cepat menghapus air matanya "kamu tau kakak disini dari siapa?" Tanya Rania mengalihkan perhatian Alya
Alya menggeleng "naluri seorang adik kak heheh" jawab Alya ingin menghibur kakaknya
Alya mendekat kearah kakaknya "sudah jangan sedih lagi. Kan Kita bisa telfonan dan vidio call kak. Aku bisa kok jaga diri sendiri kak. Kakak ga perlu khawatir" tenang Alya sambil menggenggam tangan kakaknya. Alya sangat paham apa yang sedang mengganjal dihati kakaknya.
Rania tersenyum sambil memperhatikan wajah cantik adiknya yang sangat Tegar menjalani hidupnya. Tak pernah mengeluh atas apa yang sudah ditakdirkan kepadanya. Rania tau jika adiknya ini menyimpan luka yang sangat dalam dan kesunyian yang ia tutup rapat rapat dihatinya. Rania pernah mencoba merayu adiknya agar mau bercerita sekilas tentang apa yang Adiknya rasakan namun Alya tak pernah ingin bercerita.
Rania tau betul jika Alya selalu menangis ketika malam hari tanpa ingin diketahui orang lain termasuk dirinya. Bahkan Rania melihat dengan mata kepalanya sendiri jika Adiknya ini keluar dari pemakaman dengan keadaan mata yang sembab dan setelah bertemu dengan nya, Alya langsung berubah seperti biasa yang tak ada masalah.
Setelah Menangis sejadi jadinya dan seketika itu ia harus kembali bersikap seperti biasa.
kadang Rania berfikir apa semenakutkan itu masalah hidup adiknya ini. Merasa sangat kasihan namun Rania tidak bisa memaksa adiknya membuka dan berbicara tentang perasaannya.
Walaupun kasih sayang yang ia berikan sudah semampu Rania namun tetap saja Alya membutuhkan kasih sayang orang tua. Tidak ada yang bisa menandingi kasih sayangnya orang tua.
Mendengar ucapan dari Alya, Rania pun mengangguk "sebelum kamu pergi, bolehkah kakak minta sesuatu kepadamu Al?" Ujar Rania dengan mata sendu.
"Apa itu kak?" Tanya Alya penasaran
Alya berfikir sejenak, selama hidupnya ia tak pernah memberi tahu perasaan nya kepada orang lain termasuk kakaknya, ia takut jika ia akan menambah beban orang lain dengan ia bercerita tentang perasaannya. Namun melihat kakaknya yang memohon kepadanya untuk pertama kali, dengan berat hati Alya pun mengangguk.
"Baiklah kak, tapi sesudah ini bersikaplah seperti biasa dan jangan terlalu dipikirkan. Janji??" Ujar Alya sambil menunjukkan jari kelingkingnya. Dengan gerakan cepat Rania menyambut jari itu dan mengangguk.
"Mulai dari mana dulu ya kak. Hmmm Alya bingung" ujar Alya hendak memulainya.
dengan fokus Rania bersiap siap mendengarkan keluh kesah adiknya ini untuk pertama kalinya.
"Hmm mungkin Aku tidak pernah menceritakan perasaanku kepada kakak namun yang aku alami menurutku itu sangat sulit kak. Dimulai dari orang tua kita yang aku tak kenal dan tak tau bentuk asli wajah mereka kecuali hanya menatap mereka difoto. Alya juga tidak tau kapan perasaan sedih ini muncul tapi yang Alya ingat ketika pertama kali Alya sekolah, jarak umur kita cukup jauh dan kita juga tidak punya keluarga lainnya. Pada saat kakak mengantarku, ada perasaan sedih bahkan aku tidak tau perasaan apa itu. Sangat sedih ketika aku melihat teman teman seusiaku digandeng oleh kedua orang tuanya namun aku hanya kakak yang mengandeng. Bukan tidak bersyukur tetapi aku sangat ingin sekali seperti mereka. Aku sangat iri dan sangat sangat ingin seperti mereka. Namun aku sangat sadar kondisi kita saat itu" ujar Alya menghentikan sejenak kalimatnya. Ia meneteskan air mata dihadapan kakaknya. Sangat sakit dan sesak didadanya.
Rania hanya terdiam fokus mendengarkan adiknya dengan matanya yang sudah mulai membengkak karna terus mengeluarkan Air mata se dari tadi.
Alya mengatur nafasnya "awalnya aku ingin bercerita kepada kakak namun Alya tidak tega jika menceritakannya karna itu akan membuat kakak juga sedih. Aku menyimpan nya sendiri dan kakak tau itu sangat menyakitkan ditambah lagi dengan otak ku yang terus berfikir dan bertanya kenapa harus akuu dan kakak yang harus mengalami ini. Tapi berfikir seperti itu tidak akan mendapatkan hasil" sambungnya sambil melirik kearah Rania.
Rania diam tanpa kata, mulutnya terasa terkunci mendengar ungkapan perasaan yang Alya rasakan.
Alya menatap kakaknya dengan tersenyum "kakak tau saat kakak akan menikah, malam itu aku sangat frustasi. Karna aku sangat kasihan kepadamu, disaat hari yang kau tunggu tunggu tak ada ayah dan ibu kita yang mendampingimu. Sesak didada ku ini bukan semata mata memikirkan perasaanku tapi sebagaiannya memikirkan perasaanmu. Aku sangat sakit melihatmu tidak didampingi oleh orang tua kita. Apa kakak tau rasanya? Ya kakak pasti tau. Jika berhubungan dengan kepentinganku aku masih bisa untuk menahannya namun jika berhubungan denganmu. Aku tidak bisa mengatasi nya" Alya terus bercerita.
tangis Rania semakin menjadi jadi "tak ada siapapun yang mengetahui tentang perasaanku kak, tentang otak ku yang terus berfikir ini. Jujur aku rasanya ingin meminum obat dengan dosis yang sangat tinggi agar aku bisa menyusul orang tua kita karna sudah melampaui batas sakitku tapi itu hanya akan menambah bebanmu. Sakit mental yang ku hadapi ini bagiku sangat menyiksa. Aku harus berperang dengan logika dan hatiku yang tak akan mendapatkan solusi. Namun aku seketika aku selalu sadar dan berdoa agar itu tak terjadi kepadaku. Dan sewaktu waktu ini sangat sakit dan hampir gila dibuatnya" lagi lagi Alya menghentikan nya karna isakan tangis Rania semakin kuat.
tak ingin melanjutkannya, Alya menarik kakaknya ke pelukannya "sudahlah kak, jangan terus menangis. Kamu sudah janji kepadaku. Setelah mengetahui perasaanku kamu akan sedikit tenang. Dan jujur saja Alya sedikit Lega. Sudah jangan menangis lagi" tenang Alya.
Rania bisa menumpahkan Perasaannya dengan cara mudah menangis berbeda dengan Alya yang sangat sulit menangis dan tak ingin orang lain mengetahui jika ia menangis.
Alya sangat tegar dibandingkan dengan Rania.
Sore itu mereka habiskan dengan berpelukan untuk menguatkan satu sama lain.
Note : terimakasih sudah mampir dan meninggalkan like coment dan votenya💜