
"Kenapa kamu baru memberitahunya sekarang Al?? Kamu kok seperti ini??" Tanya Rania dengan tangis yang sudah membahasi pipinya. Perasaan nya saat ini campur aduk. Ada rasa bahagia dan juga sangat sedih karna akan berpisah dengan adiknya ini.
"Maafin Alya kak. Tapi Alya takut buat beritahu kakak" jawab Alya sambil menunduk
"Kapan kamu mengikuti ujian ini? Dimanaaa? Tolong ceritakan dengan jelas hikss hikss" tanyanya lagi
"Hmm sebelum UJian Nasional kak. Alya sangat ingin belajar disana dan Alya mencari link nya. Ternyata tahun ini menerima peserta beasiswa seratus persen. Jadi Aku berminat. Dan terus mengikuti ujiannya selama 3 tahap dan alhamdulillah lulus. Ini beneran kak bukan bohongan. Dan Alya sudah bertemu juga dengan panitia pengurus nya makanya Alya diberikan amplop itu" jelas Alya
"Kamu sangat ingin pergi kesana Al?" Kini giliran Bima bertanya
Dengan cepat Alya mengangguk "iya mas. Itu cita cita Alya. Alya mau menjadi dokter disana" jawab Alya yakin
Baru kali ini Alya mengungkapkan isi hatinya kepada kakak dan abang iparnya. Sebelumnya Alya tak pernah memberitahu akan cita citanya.
"Maafin Alya yang diam diam melakukan ini sendirian. Alya ga ingin menjadi beban terus menerus" ujarnya lagi
"Siapa yang bilang seperti itu?? Kamu itu adik ku Al! Tidak pernah menjadi beban ku!! Kamu mau meninggalkan kakak mu ini ha? Kamu itu masih sangat muda untuk kesana sendirian!" Ujar Rania dengan sedikit emosi
Bima mengelus punggung istrinya untuk menenangkannya "jawab kakak Al! Kenapa sangat jauh? Kanapa harus ke korea ha??" Sambungnya
Alya tak bisa menahan lagi air matanya "maafin Alya kak. Maafin Alya.. Alya bukan maksud buat ninggalin kakak. Tapi jika tidak diizinkan Alya tidak akan pergi" Pasrah Alya
Mendengar itu Rania pun pergi kekamarnya meninggalkan Alya dan Bima diruangan tv.
"Kakkk..." gumam Alya namun tak didengar oleh Rania
"Apa keputusan kamu sudah matang Al?" Tanya Bima
Alya mengangguk "sudah mas, tapi jika kak Rania tidak memberi izin, tidak apa apa. Alya masih bisa cari beasiswa yang lain lagi" jawab Alya
Bima menggeleng tanda tak setuju mendengar ucapan Alya "jika itu keputusan kamu, Mas dukung kamu. Tapi kamu harus ingat pesan mas disana jaga diri baik baik dan harus jaga kesehatan disana. Soal kak Rania kamu ga usah pikirkan. Ia seperti itu karna tak bisa pisah dari kamu tapi mas bantu ngomong sama dia ya. Jangan sedih lagi" Bujuk bima
"Beneran Mas?" Tanya Alya memastikannya
Ia mengangguk "memangnya kamu sudah bisa berbahasa korea?" Tanya Bima lagi
"Sudah.. ini hasil ujiannya dan amplop ini hasil ujian bahasa inggris" jawab Alya memberikan 2 buah amplop
Lagi lagi Bima sangat kagum dengan kepintaran adik iparnya ini. Sangat pintar bahkan melebihi anak anak seusianya. Ini adalah anugrah yang diberikan tuhan kepada Alya.
"Wahhh kamu sangat pintar. Bahkan nilai nya nyaris mendekati sempurna. Tenang saja Mas yakin kamu akan diizinkan oleh kakakmu"
Alya mengangguk dan tersenyum "makasih mas"
"Iya sama sama. Jadi kapan akan berangkat kesana? "Tanyanya lagi
"Minggu depan Mas" jawab Alya
"Wahh sangat cepat tapi tenang aja mas bantu sebisa mas yaa. Kamu jangan lupa berdoa" ujar Bima dan diikuti anggukan oleh Alya.
**
Bima sudah berada dikamarnya, ia melihat Istrinya sedang menangis ditepi ranjang sambil memeluk bantal guling "sayanggg" panggil Bima
"Sayangg.. kamu ga boleh seperti ituuu" ujar Bima memulai pembicaraan
"Tapi mas kamu ga liat Alya itu akan pergi sangat jauh mas! Jauh dari pantauan Aku. Nanti jika dia sakit bagaimana? Siapa yang akan mengurusnya? Apa dia bisa hidup seorang diri di negri orang? KOREA MAS ITU KOREA BUKAN Didalam indonesia lagi tapi diluar negri" jawab Rania sambil seguk an
"Iya sayang. Mas ngerti perasaan kamu, mas juga cemas tapi perlu kamu tau Alya itu anak jenius sayang. Bukan anak biasa bahkan ia bisa mendapatkan beasiswa seratus persen. Itu kesempatan emas buat masa depan dia sayang" ujar Bima berusaha meyakinkan istrinya
Rania terdiam mendengar ucapan dari suaminya "kamu itu seharusnya mendukungnya sayang, bukan seperti ini. Ini demi masa depannya sayang. Baru sekali ini Alya mengungkapkan keinginannya" sambungnya lagi
"Tapi Mas itu sangat jauhh" Rania masih memikirkan itu
"Jauh itu sudah pasti namun kita sesekali bisa mengunjunginya sayang sekalian kita liburan" ujar Bima
"Tapi Mass.."
"Biarkan dia memilih Masa depannya sayang. Kita cukup mendukung keputusannya. Sebagai tempatnya bersandar dan juga tempatnya berkeluh kesah" potong Bima
"Alya masih kecil mas dia masih 15 tahun. Bagaimana bisa dia berinteraksi dengan bahasa yang sangat berbeda" Rania masih meragukan keputusan Alya
"Ini bacalah " ujar Bima memberikan 2 buah amplop
Rania membaca dan lagi lagi ia sangat terkejut atas kemampuan adiknya yang mendapat skor tes kebahasaan yang nyaris mendekati sempurna
"Kamu sudah mengerti kan sayang maksud ku" ucap Bima
"Mungkin memang keputusan Alya itu yang terbaik untuknya. Kamu beri dukungannya ya sayang. Kasihan Alya kamu cuekin" bujuk Bima
Rania langsung memeluk Bima "kamu tau kan Mas, dari bayi Alya itu aku yang rawat bahkan aku rela tidak bermain dan menggunakan masa remajaku mengurusnya dan berjualan mencari uang untuk kami. Aku sangat menyayanginya bahkan seperti anak ku sendiri. Kamu tau kan mas kasih sayang aku ke dia" Rania mulai bercerita tentang pahitnya hidupnya
Dengan sabar Bima mendengarkan curhatan istrinya walaupun Rania sudah beberapa kali bercerita itu kepadanya.
"Iya sayang. Mas paham perasaan kamu" tenang Bima
"Walaupun seperti itu aku sangat menyayangi Alya. Aku berusaha memberikan Alya kasih sayang dan materi yang cukup untuknya. Mass apa aku bisa pisah dengannya?" Tanya Rania
"Sayang.. menurut mas kamu harus terbiasa karna Alya akan semakin tumbuh dan akan semakin dewasa. Kamu tidak boleh memperlakukan Alya selayaknya anak kecil lagi. Dia mempunyai masa depan yang sudah diatur nya sendiri. Kita hanya bisa mendukungnya. Percaya lah sayang Alya akan bisa menyelesaikan pendidikannya disana. Kamu harus support dia jangan buat dia tertekan" bujuk Bima
Rania pun menghapus air matanya, ia berpikir semua kata kata suaminya itu benar "baiklah mas aku akan mengizinkannya" jawabnya
"Terimakasih sayang. Keputusan kamu sangatlah bijak. Alya akan sangat bahagia" ujar Bima menguatkan Rania
Rania mengangguk "kapan Dia akan pergi Mas?" Tanya Rania
"Minggu depan. Kenapa??" Tanya Bima
"Secepat itu??? Kita belum menyiapkan apa apa untuknya" panik Rania
"Besok kita akan mulai membelikannya barang barang yang akan diperlukan. Terlebih lagi kita akan bertemu dengan panitia yang akan membimbingnya disana untuk beberapa minggu dulu sayang" lagi lagi Bima menenangkan Rania.
Rania akhirnya mengangguk dan ikut tidur bersama suaminya karna malam sudah larut.
Note : terimakasih sudah mampir dan membaca cerita baru Author. Jangan lupa vote like dan coment ya teman teman. Love you 💜