My IDOL Is Mine

My IDOL Is Mine
Kelulusan sekolah



"Lulusan terbaik tahun ini adalah ALYA DINDA PRATIWI kelas Dua belas IPA 4, kepada Ananda Alya dipersilahkan kedepan" ujar miss Zizi sebagai pembawa acara kelulusan SMA N 3 dikota ini.


Sorak riuh dengan ditambah tepukan tangan tamu undangan terdengar menggema keseluruh ruangan.


Gadis cantik yang masih terlihat imut dan polos berjalan kearah podium panggung dengan senyuman menghiasi wajah nan cantik itu. Semua mata memandang kearah gadis itu dengan tatapan yang sangat bangga dan kagum.


Gadis itu sudah berdiri dipodium itu dengan terus memandang seorang wanita yang sedang tersenyum lebar kepadanya.


"ALYA DINDA PRATIWI,, Siswi yang memiliki kepintaran diatas rata rata mampu mengalahkan murid murid unggulan kelas lain disekolah ini. Ia sangat berbeda dengan murid lainnya, Ia bahkan menempuh pelajaran disini hanya Dua tahun karna otak nya yang sangat jenius dan ia menyelesaikan nya dengan sangat baik. Berbagai penghargaan dan piala sudah didapatnya selama perlombaan yang ia ikuti. Dengan usia masih 15 tahun ia sudah mampu mendapatkan gelar siswi dengan lulusan terbaik disekolah ini. Ibu ibu dan bapak bapak silahkan memberikan tepuk tangan yang sangat meriah" ujar miss Zizi lagi.


"Prukkk...pruuukkk..prukkk.." suara tepukan tangan memenuhi ruangan ini lagi.


Setelah menerima piala dan penghargaan kini giliran Alya berbicara "Assalamualaikum bapak bapak dan ibu ibu sekalian. Saya sangat berterimakasih kepada kakak saya yang sudah menyekolahkan saya dan juga membiayai saya selama ini. Dan terimakasih juga kepada kepala sekolah dan wakil nya dan juga kepada ibu dan bapak guru yang sudah mendidik saya selama ini. Tanpa ibu dan bapak saya tidak akan bisa seperti ini. Tidak banyak yang bisa saya sampaikan namun saya sangat bersyukur. Hmm cukup sekian saya ucapkan terimakasih. Assalamualaikum" ujarnya meninggalkan podium dan diiringi tepuk tangan yang sangat meriah.


Semua teman teman Alya menghampiri Alya untuk memberi selamat dan juga berfoto bersama untuk kenang kenangan.


Setelah puas berfoto kini Alya dan kakaknya pun segera pulang kerumah.


Alya hanya tinggal bersama kakak nya sedari ia masih bayi karna orang tua mereka telah meninggal dunia akibat kecelakaan mobil. Ia tak memiliki saudara lainnya untuk tempat mengadu disana.


Kakak Alya sudah menikah namun belum memilki anak, suami kakak Alya seorang polisi dan kakak Alya bekerja sebagai sekretaris diperusahaan yang cukup terkenal dikota ini.


"Kakak sangat bangga sama kamu Al" ujar Rania sambil mengendarai mobilnya.


Alya hanya tersenyum, ia sedang memikirkan bagaimana ia akan memberitahu kakaknya dengan baik. "Sebaiknya nanti saja akan ku beritahu" batinnya


"Kamu mau lanjut kuliah dimana" tanya Rania lagi sesekali melirik Adiknya disampingnya.


"Hmm nanti saja akan ku beritahu kak" jawab Alya


Mendengar itu Rania pun mengangguk mengerti. Rania sudah paham betul sifat Adik satu satunya ini. Ia tak akan bercerita dengan keadaan yang kurang memungkinkan. Dan Alya juga sedikit tertutup kepadanya. Kadang Rania cukup kehabisan cara untuk mengetahui isi hati adiknya ini namun tetap saja Alya tidak pernah bercerita ataupun meminta apapun kepadanya.


Tak beberapa lama mereka sampailah dirumah yang tak besar namun cukup untuk mereka tinggalkan. Tidak terlalu mewah namun terkesan minimalis.


Kini Alya sudah menggenggam hasil tes akhir untuk ke korea selatan dan ia dinyatakan lulus ke sekolah kedokteran disana dengan mendapatkan beasiswa sepenuhnya. Namun ia sangat bingung cara memberitahu kakaknya. Ia melakukan tes ini sebanyak 3 tahap dan akhirnya ia lulus dengan peserta kurang lebih seribu orang yang mengikuti ujian itu. Dan hanya ia sendiri yang lulus.


Tokk..tokk..tokk suara pintu, Alya pun melirik kesumber suara


"Alyaa makan yuk, kamu kan belum makan. Mas juga udah nungguin tu" ujar Rania dari arah luar. Ya kini saatnya makan malam. Mereka selalu melakukan makan malam bersama setiap harinya itu sudah menjadi tradisi dikeluarga Alya.


Jarak usia Rania dan Alya terpaut 13 tahun. Itu menyebabkan Rania memperlakukan Alya layaknya seperti anaknya sendiri. Ia merawat dan memberikan kasih sayang yang tulus kepada Alya walaupun terkadang Rania juga memerlukan kasih sayang itu. Beruntunglah sudah dua tahun ini Mas Bima hadir ditengah keluarga Rania dan Alya. Rania menikah dengan Bima sudah dua tahun walaupun belum memiliki anak namun mereka tetap bersyukur dan tetap menguatkan satu sama lain.


"Hmm tidak apa apa mas, kak. Alya baik ko" jawab Alya sambil tersenyum


"Syukurlah, hmm ngomong ngomong kamu mau lanjut kuliah kemana?" Tanya Bima lagi


"Huukkh huukhhh hukkhh.." Mendengar itu Alya langsung batuk


"Aduhh kamu hati hati kalau makan Al, kan jadi kesedak" ujar Rania sambil memberikan minum kepada Adiknya.


Alya mengambil minum itu dan meneguknya dengan cepat.


Rania pun memberi kode kepada suaminya agar menunda pertanyaan nya itu kepada Alya. Melihat kode dari istrinya Bima pun mengangguk mengerti.


Setelah mereka selesai makan, mereka pun duduk diruangan tv untuk menonton.


Alya tampak gelisah namun ia harus memberi tahu kakak dan abang iparnya ini mengenai keberangkatan ke korea minggu depan.


"Hmm Kak Mass.." panggil Alya


"Hmm??" Sahut mereka berdua masih fokus menonton acara tv


Alya pun diam tak meneruskannya, ia sangat bingung bagaimana caranya "kenapa Al? Kamu mau buah? Ambil aja dikulkas sudah kakak potong potong" ujar Rania masih fokus dengan tv didepannya


Alya menghirup nafas panjang dan menghembuskannya dengan cepat " aku mau ngasih tau soal ini " ujarnya sambil memberikan sebuah Amplop yang diatasnya tertulis nama Alya.


Mereka berdua mengambil dengan cepat amplop putih itu dan langsung membukanya.


Mereka sangat terkejut melihat itu, satu surat dan satu tiket penerbangan ke Korea selatan.


Dengan cepat Rania membaca isi surat itu dan ia sangat terkejut dengan isi surat yang ia baca. Tanpa kata kata ia memberikan kepada suaminya dengan mata yang berkaca kaca.


Bima pun membaca nya dan ia sama terkejutnya dengan Rania. Surat Beasiswa kedokteran penuh seratus persen dengan ditambah uang jajan dan tiket untuk kesana.


Mereka menatap satu sama lain merasa tak percaya adiknya bisa mendapatkan semua ini. Antara senang dan juga sedih.


Alya hanya menunduk menanti jawaban dari kakak dan abang iparnya atas keputusan nya ini.


Ia sangat takut jika kakaknya menentang kepergiannya dan tidak memberikannya restu.


Note : haiii gaess.. ini cerita yang ke 3 dari Author. Semoga kalian suka membacanya dan juga suka dengan kisahnya. Jangan lupa di like komen dan vote ya teman teman. Love uu 💜