
Pukul 2 dini hari, Rania terbangun dari tidurnya, ia menatap wajah suaminya yang tengah pulas tertidur. Ia tersenyum dan segera beranjak keluar dari kamarnya.
Ia menaiki tangga kecil penghubung kekamar Adik satu satunya yaitu Alya. Kamar Alya yang berada dilantai atas sedangkan ia berada dibawah.
"Syukurlah aku menyimpan kunci cadangannya" gumam Pelan Rania.
Ia mendekat kearah Alya yang tengah pulas tertidur. Lampu kamar yang remang remang menambah kesan nyaman didalam kamar ini.
Rania duduk ditepi ranjang milik Alya, ia terus memperhatikan seluruh ruangan segi empat yang cukup besar jika dihuni untuk satu orang dengan pernak pernik hiasan dan juga beberapa poster IDOL dari adiknya ini.
Ya selain memiliki kepintaran yang luar biasa, Adiknya juga menyukai hal berbau korea apalagi grup k-pop. Mungkin ini adalah alasannya kenapa Alya memilih negri gingseng itu sebagai langkah awal masa depannya.
Ia Mengelus pucuk kepala Alya dengan pelan "kakak izinkan kamu Dek, tapi kamu harus janji jaga diri baik baik disana" gumam Rania sangat pelan. Nampaknya Alya tak merasa terganggu bahkan ia mengeratkan pelukannya pada boneka kesayangannya yang diberi nama SHOOKY. Shooky itu adalah boneka dari member BTS yaitu MIN YOONGI.
Rania beralih ke meja belajarnya Alya. Ia melihat semua foto yang terpajang diatas meja itu dan sesekali tersenyum.
Ada banyak foto disini namun dominan foto dia dan Alya.
Setelah puas memandangi foto, Rania pun segera beranjak dari tempat duduknya namun belum sempat beranjak, ia melihat sebuah buku tabungan dari Adiknya itu.
Ia membuka perlahan dan ia tersenyum karna melihat tabungan adiknya cukup banyak diusia nya yang sangat muda. "15 juta??" Gumamnya pelan.
Disana juga terdapat beberapa rincian catatan kecil tertulis tentang pembukuan uang tabungannya.
Uang yang dihasilkannya itu merupakan hadiah dari lomba yang ia ikuti dan menangkan dan juga ia menyisihkan uang jajan yang diberikan oleh Rania.
Setelah puas memeriksa semua nya, kini Rania pun meninggalkan kamar Alya tak lupa mencium kening Alya terlebih dahulu.
***
"Mas kok tumben ga pakai baju seragam?" Tanya Alya kepada Bima
Rania yang sedang menyiapkan sarapanpun hanya tersenyum
"Hmm hari ini kita pergi menemui panitia dari beasiswa kamu ya Al" ujar Bima
"Terus Kak ia gimana?" Tanya Alya bingung
"Kakak ikut juga lah dek masak gak sih" jawab Rania
Mendengar itu Alya sempat tak percaya namun langsung ditepisnya "beneran kak? Alya boleh pergi?" Alya mengulang nya untuk memastikan pendengerannya
Rania mengangguk "iya kamu boleh pergi tapi ada syaratnya kamu harus jaga kesehatan dan kalau ada apa apa langsung cerita sama kakak dan Mas mu ini"
Alya mengangguk "siap buk dan pak bosss" jawab Alya sangat bahagia.
mereka pun tertawa bersama. Tawa yang didalamnya juga kesedihan karna akan segera berpisah.
***
"terimakasih untuk ibu dan bapak yang sudah menyempatkan hadir kesini. Saya sangat bangga dan salut kepada Alya karna ia berhasil mengalahkan seribu peserta yang mengikuti tes ini. Dan Alya memang sangat berhak mendapatkan beasiswa ini karna kepintaran yang ia miliki itu sangat jauh diatas rata rata buk,pak" ujar Ibu siska se laku ketua panitia yang menyelenggarakan tes ini.
"Terimakasih atas pujiannya ibuk" jawab Rania sopan
Bu siska pun menceritakan tentang beasiswa ini karna setiap tahun mendapatkan kesempatan ini bahkan hanya satu orang untuk setiap tahunnya. Dan diadakan sebanyak di 10 negara.
Setelah berbincang bincang, Rania Bima dan Alya pun pamit.
Mereka berbelanja untuk keperluan Alya disana. Dari Pakaian hingga beberapa makanan kesukaan Alya.
"Kak disana juga ada kok ini. Ga usah beli ya" ujar Alya kepada kakaknya
Ia menggeleng pelan "ambil aja dek, kamu ga usah protes terus" ujar Rania yang masih sibuk memilih cemilan untuk adiknya
Mendengar itu Alya pun pasrah dan tak ingin merusak suasana hati kakaknya.
"Mas kok ga Dinas sih?" Tanya Alya kepada Bima
"Mas ambil cuti untuk kamu dan Kakak mu. Supaya seminggu ini kita menghabiskan waktu sama sama. Lagian Mas belum pernah ngambil cuti kecuali cuti menikah dua tahun lalu" jelas Bima
Mendengar itu Alya pun mengangguk mengerti, ia juga paham jika Abang ipar nya ini sedang mengobati hati kakaknya agar tak merasa sendiri dan sedih ketika Alya akan berangkat.
Sebelum Nya Alya akan diasramakam selama tiga bulan disana untuk menyesuaikan diri dengan tempat tinggal barunya.
Alya sangat bosan mengikuti Rania dan Bima berbelanja, ia akhirnya memutuskan untuk beristirahat dikursi yang ada didepan toko itu.
"Permisi.. boleh saya duduk disini?" Tanya pemuda itu
Alya pun mengangguk tak tunggu lama pemuda itu pun segera duduk disampingnya.
Alya mempunyai sifat yang tak suka memulai duluan jika berteman. Ia lebih suka diam dan memperhatikan disekelilingnya daripada memulai pembicaraan lebih dulu.
"Apa kau berasal dari kota ini?" Tanya pemuda itu lagi
"Ya " jawab Alya seadanya
"tapi aku baru melihatmu hari ini"
"Aku sangat jarang keluar rumah" jawab Alya lagi. Mendengar itu ia pun langsung mengangguk.
"Nama ku Rain, aku disini hanya berlibur kerumah nenekku" ujarnya memperkenalkan diri sambil mengacungkan tangannya kearah Alya.
Alya nampak berfikir, belum sempat Ia menjawab jabatan tangan dari Pemuda disampingnya, Rania sudah memanggilnya
"Sudah selesai?" Tanya Alya beralih ke Rania dan Bima
Mereka mengangguk "ini makanlah" ujar Rania memberikan coklat kesukaan Alya. Dengan senang hati Alya menerima dan langsung membuka coklat itu. Ia melirik sekilas Pemuda itu dan beranjak pergi meninggalkannya.
"Siapa namamu??" Teriak pemuda itu namun tak dihiraukan oleh Alya. Rania dan Bima sempat mendengar nya namun lebih memilih diam daripada bertanya kepada Adiknya.
Alya cukup misterius soal pertemanan. Bahkan ia hanya memilki 1 teman yang ia kenalkan kepada Rania dan Bima. Resti adalah teman satu satunya yang Alya ajak kerumah bertemu dengan Rania dan Bima. Alya sangat jarang memperkenalkan teman yang lainnya apalagi teman laki lakinya.
Note : terimakasih sudah mampir dan membaca cerita ini. Jangan lupa tinggalkan like coment dan votenya. Love u💜