
Setelah Eva turun dari pelaminan, kini giliran para tamu yang lain. Kalila menerima semua dengan senyuman, sesekali ia mendapat pelukan dari keluarga suaminya. Begitupun Keenan jika giliran teman atau koleganya.
" Tundukan pandanganmu, aku tidak ingin ada laki-laki lain melihat kecantikanmu." Bisik Keenan menggoda istrinya ditengah bersalaman dengan para tamu.
Kalila pura-pura cemberut, membuat Keenan yang gemas menjawil hidung istrinya.
" Jangan cemberut begitu."
Tak lama kemudian, tamu yang bersalaman mulai berkurang. Namun, seorang tamu pria yang berjalan paling akhir, menatap keduanya dengan tatapan sedih.
Eko, tak pernah menyangka jika wanita yang ia cintai, kembali bersama dengan bosnya. Ia kira, dengan bersabar menunggu Kalila melupakan sang suami, bisa membuatnya mendapatkan hati wanita itu.
Tapi nyatanya, Kalila justru kembali pada pria yang pernah melukai hatinya.
" Mas Eko." Kalila menyapa dengan riang, membuat Keenan menoleh pada Eko yang berjalan menghampiri mereka.
" Selamat ya." Ucap Eko lirih, begitu sulit mengendalikan perasaannya.
" Terima kasih mas, jika bukan karena bantuan mas, mungkin aku tidak akan bertahan sampai hari ini." Ucap Kalila penuh haru, teringat pertolongan Eko tempo lalu.
Walau disisi lain ia juga merasa bersalah, bagaimanapun dia tahu, jika Eko menyimpan perasaan padanya. Dalam hatinya ia berdoa, semoga pria sebaik Eko mendapatkan yang baik pula nantinya.
" Jangan berkata seperti itu, sudah seharusnya sebagai seorang teman aku menolongmu." Balas Eko yang bisa melihat lirikan tak suka dari Keenan.
Kini ia bisa menebak, jika pekerjaannya yang selalu menumpuk adalah ulah bosnya itu, agar ia tak bisa mengunjungi Kalila dikota B.
" Aku harap kau selalu bahagia atas pernikahanmu." Ucap Eko dengan tulus.
" Terima kasih mas, cepatlah menyusul. Carilah pendamping hidup." Ucap Kalila.
" Aku pasti akan bertemu dengannya pada waktunya, tanpa harus mencari." Balas Eko.
Kalila tersenyum.
" Selamat tuan." Ucap Eko beralih pada Keenan, sang bos.
" Terima kasih." Jawab Keenan datar.
" Tolong jaga dia baik-baik." Ucap Eko lirih, hanya terdengar oleh Keenan.
Eko melirik Kalila sekilas yang tersenyum padanya, kemudian turun dari pelaminan.
" Tanpa kau minta, aku pasti akan menjaganya. Dasar sok bijak!." Gerutu Keenan kesal memandangi langkah Eko yang semakin menjauh.
" Ada apa?." Kalila bertanya karena melihat suaminya menggerutu.
" Tidak ada." Jawab Keenan merubah ekspresinya 180 derajat, yang tadinya cemberut, langsung tersenyum selebar lautan.
" Kau tidak perlu cemburu padanya, kau harus percaya, jika cintaku hanya untukmu." Ucap Kalila yang memahami perasaan suaminya.
" Ya, aku sedang mencobanya."
" Mas Eko adalah salah satu orang yang berperan penting membuatku tetap bertahan hingga sekarang. Aku menghargai dan menghormatinya karena itu, bukan yang lain. Jadi, tolong jangan cemburu." Jelas Kalila.
" Baiklah, maafkan aku. Aku tahu dia sudah banyak menolongmu."
" Kalila." Panggil suara wanita membuat Kalila dan Keenan menoleh serempak.
" Siska..." Lirih Kalila melihat wanita yang tak lain adalah sahabatnya yang sudah lama tak bertemu.
Siska menatap Kalila dengan ragu, hingga akhirnya memutuskan berjalan mendekat dan langsung memeluk sahabatnya.
" Maafkan aku...." Lirihnya dengan isakan yang tertahan.
" Eh! Kenapa kau meminta maaf?." Kalila merasa heran, untuk apa Siska meminta maaf.
" Maafkan aku Lila, semuanya salahku. Tapi, sekarang aku merasa bahagia, karena kau sudah bahagia dengan pernikahanmu." Ucap Siska setelah pelukan keduanya terurai.
" Hei, kenapa kau meminta maaf?. Kau tidak punya salah apapun padaku. Ya, kecuali saat kau menghilang tiba-tiba tanpa kabar. Ah ya, Eva bilang kau kembali kekampung halamanmu kan?." Ucap Kalila dengan terkekeh.
" Maafkan aku Lila, aku... akan menceritakan semuanya padamu." Ucap Siska dengan takut-takut melihat wajah datar Keenan. Bagaimanapun kesalah pahaman antara mereka berawal karenanya.
" Jangan gugup begitu, memang kau mau cerita apa?." Kalila merasa penasaran, pasalnya gelagat sang sahabat terlihat aneh.
" Apa... kita bisa bicara berdua?." Tanya Siska hati-hati.
Kalila melirik Keenan sebentar, kemudian meminta ijin pada suaminya itu.
" Jangan lama-lama." Perintah Keenan memberikan ijin.
Ia sebenarnya tau apa yang akan mereka bicarakan, karena semua bukti tentang siapa dalang dibalik malam itu sudah terkuak.
Termasuk pelayan suruhan Alin yang membawa obat perangsang, yang tak lain adalah Siska, sahabat istrinya.
Mungkin, jika ia tahu ini dulu, ia akan segera menggeret Siska kehadapan orang tuanya, agar ia tak dipaksa menikahi Kalila.
Tapi kini, ia merasa berterima kasih, karena secara tak langsung, Siska membuatnya menikah dengan istri tercintanya.
" Baiklah." Kalila menurut pada perintah suaminya, kemudian berjalan bersama Siska menjauhi aula dan duduk dikursi yang berada ditepi ruangan.
" Apa yang kau ingin bicarakan?."
Siska menghela napas sejenak, dan akhirnya memberanikan diri menceritakan segalanya.
Bagaimana dia mendapat bayaran dari Alin setelah mengantar minuman yang ia tahu jika itu obat perangsang.
Ia juga menceritakan jika waktu itu dia sangat membutuhkan uang untuk pengobatan ayahnya. Meski kini, ayahnya sudah pulang kepangkuan ilahi. Membuat ia menyesal, kenapa harus menerima uang dari Alin dan mengakibatkan kesalah pahaman yang besar.
Dia tidak menyangka, jika semua itu berimbas pada Kalila, hingga terjadi kesalah pahaman yang besar. Jika tidak ada berita lewat media tv dan lain-lain, mungkin dia tidak akan mendengar berita ini.
Karena setelah memberikan minum, ia langsung diminta oleh Alin untuk pergi sejauh-jauhnya.
Kalila terdiam mendengar cerita sahabatnya, ia merasa tertegun untuk sejenak. Hingga akhirnya, ia menyadari, jika itulah jalan takdir yang author ciptakan untuknya.
Karena tanpa kesalah pahaman itu, dia tidak akan mungkin, bisa menikah dengan pria yang ia cintai dan akhirnya mencintainya.
" Aku turut berduka untuk ayahmu. Maafkan aku karena tak ada disaat kau berduka."
Siska tersenyum tipis.
" Dan... terima kasih."
Siska terkejut mendengar kata yang ia dengar, ia memeriksa telinganya, siapa tahu ia salah dengar. Bukannya marah, sahabatnya itu malah berterima kasih.
" Terima kasih?."
" Ya, karena berkat dirimu, aku mengenal arti kata sabar. Sabar menghadapi sikap benci dari orang yang kita cintai."
Siska tersenyum mendengarnya.
" Mungkin, jika tidak ada kesalah pahaman itu, aku tak akan tau rasanya bersabar dengan rasa sakit. Apa kau tau? Sebenarnya dia sudah mulai menyukaiku sebelum kejadian itu."
" Sungguh?."
" Hem, dia yang mengatakannya. Jika tidak ada kesalah pahaman itu, mungkin kami tak akan menikah, dan tak akan pernah membuka perasaan satu sama lain, terutama aku. Aku yang hanya seorang OB, bisa menikah dengan presdir, sebuah keajaiban yang aku rasakan." Ucap Kalila dengan tersenyum.
" Jadi, jangan salahkan dirimu, untuk sesuatu yang memang bukan salahmu." Lanjutnya membuat Siska merasa terharu.
" Setidaknya aku mengenal arti bahagia yang sesungguhnya karena itu. Karena manisnya kebahagian baru akan dirasakan setelah pahitnya kepedihan." Balas Kalila.
*
*
*
" Jangan dekat-dekat dengan pria manapun, aku tidak suka." Ucap Keenan dengan lembut pada Kalila.
Saat ini, mereka tengah berada dikamar hotel tempat diadakannya resepsi. Sedangkan kedua orang tua mereka dan juga Rey telah kembali kerumah utama.
" Apa seorang tuan Pradipta tidak tahu jika istrinya tak pernah dekat dengan pria manapun seumur hidupnya." Canda Kalila dengan nada sindiran.
" Aku tau, gadis polos dan cerobohku memang hanya milikku. Tapi aku hanya ingin memberitahumu, aku tak suka kau dekat dengan pria manapun." Sahut Keenan.
Kalila hanya menggelengkan kepalanya, tak menyangka jika tuan presdir rupanya sangat cemburuan.
Tiba-tiba, sebuah ide jahil muncul.
" Bagaimana kalau dengan Rey?." Tanyanya sembari menatap sang suami yang memeluknya erat.
" Hei! Jangan pernah dekati anak nakal itu, itu tidak baik untuk anak kita." Ketus Keenan.
" Eh kenapa begitu? Dia itu pamannya anak kita, apa salahnya jika aku dekat dengannya. Supaya dia bisa punya selera humor seperti pamannya itu."
" Maksudmu, aku tidak punya selera humor?." Tanya Keenan tak suka, tanpa bisa menyembunyikan nada cemburunya.
" Hem, menurutmu?." Kalila menaik turunkan alisnya.
Keenan menghela napas kasar.
" Hah, baiklah. Mulai sekarang aku akan jadi komedian sejati, jadi kau tak perlu dekat dengan anak itu." Keenan menjawab malas.
" Sungguh?." Kalila bertanya dengan nada menantang.
" Hem."
" Aku butuh bukti, bukan janji."
" Apa yang kau ingin aku lakukan?." Tanya Keenan.
" Em..." Kalila berpikir sejenak, kira-kira hal apa yag harus ia minta. Ia merasa, ini adalah kesempatan yang tepat membuat seorang Keenan Alvaro Pradipta menurut padanya.
" Aku ingin kau jadi badut. Bagaimana?." Tanyanya dengan antusias.
Sontak perkataan Kalila membuat Keenan membulatkan matanya, tidak percaya dengan perkataan istrinya.
Apa mungkin seorang Keenan Alvaro Pradipta harus menjadi badut, hanya agar istrinya tak dekat dengan pria lain?.
***
EPILOG
Kalia menarik napas dalam, kemudian menghembuskannya perlahan. Ia terus melakukannya berulang-ulang, sesuai arahan dokter.
Keenan berdiri disamping sang istri, merelakan jemari tangannya digenggam erat, bahkan juga dicakar. Ia sadar, sakit yang Kalila rasakan, tak sebanding dengan cakaran ditangannya.
" Ayo terus bu, tarik napas, hembuskan, tarik napas, hembuskan." Sang bidan terus mengarahkan pasiennya.
Peluh keringat sudah membasahi wajah Kalila, wanita itu terus melakukan arahan sang dokter, hingga...
" Eeaaa...Eeaaa..."
Kalila, Keenan serta sang bidan bernapas lega, saat sang bayi sudah terlahir kedunia.
" Selamat, bayi anda perempuan, cantik sekali." Ucap sang bidan.
Kalila dan Keenan saling pandang dengan wajah bahagia. Keenan mengecup pelan kening sang istri yang baru saja berjuang diambang kematian.
" Terima kasih telah melahirkan anakku." Lirihnya pelan.
Bidanpun kemudian membersihkan tubuh bayi merah itu. Tak berapa lama, sang bayi diberikan pada Keenan. Sebagai ayah, dia kemudian mengazani anaknya.
Setelah beberapa menit kemudian, seluruh keluarga yang menunggu diluarpun masuk. Haris, Sarah, Aldi dan juga Rita langsung melihat sang cucu yang anteng dalam pelukan ibunya.
" Ya ampuun...cucuku cantik banget, persis kaya ibunya." Ucap Sarah.
" Walau perempuan, genku juga ada ditubuhnya, dia juga punya kemiripan denganku." Keenan dengan sifat arogansinya, membuat semua orang terkekeh, termasuk Kalila.
" Mau dikasih nama siapa sayang?." Aldi bertanya pada putrinya.
" Alviana Pradipta." Jawab Keenan dengan angkuh. Entahlah, sampai sekarang dia tak bisa menerima ayah mertuanya dengan baik.
" Nama yang bagus." Ucap Aldi.
Sarah menginjak pelan kaki putra sulungnya itu, Keenan benar-benar keterlaluan menurutnya.
Kalila hanya diam melihatnya, karena ia tahu, sikap Keenan yang seperti itu, karena sangat mencintainya. Hingga pria itu membenci, seseorang yang pernah membuatnya terluka.
Ia teringat saat dirinya meminta sang suami menjadi badut, ternyata Keenan mengambulkannya, menjadi badut dalam sehari.
Seisi rumah menertawakan Keenan, namun suaminya itu acuh tak acuh. Bahkan saat Rey sang adik terang-terangan mengejek, lagi-lagi Keenan hanya acuh.
Teringat pula saat Alin datang dengan perut buncitnya, ia menerima permintaan maaf Alin dengan baik. Sedangkan Keenan, bahkan tak sekedar menoleh pada Alin yang juga meminta maaf pada suaminya itu.
" Nama yang bagus. Panggilannya siapa?." Tanya Rita yang tak ingin suaminya kembali merasa bersalah. Apalagi dia juga terlibat dalam kesalahan suaminya.
" Anna, aku ingin memanggilnya Anna." Kalila menjawab dengan senyuman. Karena nama yang Keenan sebutkan, adalah nama yang mereka sepakati berdua.
" Anna, nenek harap. Kau menjadi seperti ibumu ya. Yang memiliki kesabaran yang luar biasa." Sarah mencium pipi gembul sang cucu.
Setelah cukup lama mengobrol, para nenek dan kakekpun keluar, karena suster meminta mereka membiarkan ruang untuk sang cucu yang baru lahir.
" Terima kasih, terima kasih telah menjadi ibu dari anakku." Keenan berkata dengan lembut pada sang istri.
" Kau sudah mengatakannya tadi." Ucap Kalila terkekeh.
" Aku tau, tapi ucapan terima kasihku tak akan mampu membayar semua perjuanganmu tadi. Kau luar biasa." Ucap Keenan sembari mengecup pipi Anna.
" Terima kasih juga, telah menerimaku yang penuh kekurangan ini. Aku mencintaimu, suamiku, ayah dari putriku."
" Aku lebih mencintaimu, istriku tercinta, ibu dari putriku, seorang wanita yang luar biasa..."
-------------------TAMAT--------------------
Oke, kisah Kalila dan Keenan sampai disini ya... maaf apabila ending yang author ciptakan kurang memuaskan, karena author hanya manusia yang tak luput dari kekurangan π.
Author mohon maaf sebanyak-banyaknya, bila ada cerita yang kurang berkenan πππβΊοΈ.
Terima kasih atas dukungan para readers yang memberikan semangat untuk author.
LOVE You All πππ