
" Lila sayang." Sarah berlari memeluk menantunya. Ia sudah bersiap menyambut Kalila saat Jordi mengatakan mereka akan segera sampai.
Kalila merasa bahagia, ia tak menyangka akan mendapat sambutan sehangat ini. Ia membalas pelukan mertuanya dengan air mata bahagia yang menetes.
" Mama kangen banget sama kamu." Ujar Sarah setelah melerai pelukannya.
" Lila juga ma." Ia kemudian menyalimi ibu mertuanya.
" Apa kabar ma?."
" Mama baik, tapi selalu sedih kalau inget kamu."
" Ayo, kamu harus jelasin semuanya kemama." Sarah menuntun Kalila duduk diruang tamu.
Sedangkan Keenan menggelengkan kepalanya, tak menyangka mamanya akan begitu antusias menyambut Kalila.
Ia bahkan merasa diabaikan, karena mamanya bahkan tak melirik dirinya.
Meski begitu, ia bahagia karena mamanya menerima Kalila. Sepertinya mulai hari ini, dia akan dianak tirikan.
Keenan pun menyusul istri dan mamanya.
" Papa dimana ma?."
" Ada dikamar." Jawab Sarah tanpa meliriknya. Keenan kemudian berjalan kekamar sang ayah.
" Kamu harus jelasin kemama!." Ujar Sarah menuntut penjelasan pada sang menantu.
" Kamu tega ya, buat mama menganggap kamu wanita mura*an. Mama hampir benci sama kamu, kalau anak itu gak jelasin semuanya kemama."
" Maaf ma." Hanya itu yang bisa terucap dibibirnya. Ia terlalu bingung mulai bicara dari mana.
" Kamu tau gak, mama tuh jadi merasa sangat bersalah karena salah paham sama kamu." Ujar Sarah lagi.
Kalila menanggapi dengan senyuman.
" Mama tau anak mama bukan pria yang baik, tapi dia kelihatan menyesal banget setelah kamu pergi."
" Oh ya! Cucu oma apa kabar?." Sarah langsung teringat dengan calon cucunya. Dia melihat perut menantunya.
" Baik oma, bahkan cucu oma ini manja sama ayahnya." Jawab Kalila.
" Manja sama Keenan?."
Kalila mengangguk, ia pun menceritakan bagaimana dia hanya ingin makan masakan mas Joko yang tak lain adalah Keenan.
Awalnya ia heran kenapa anaknya ingin makanan buatan orang tak dikenal. Tapi ternyata ikatan batin memang selalu kuat.
Walau ia tak mengenali Keenan, tapi anaknya mengenali ayahnya.
" Bagus dong, biar dia ngrasain jadi orang tua yang manjain anaknya. Kaya dia yang dulu manja sama mama dan papa." Sarah terkekeh, mengingat sifat manja putranya saat kecil.
" Em... ma?."
" Iya?."
" Lila ingin bertemu dengan papa."
" Ya udah ayo, mama anter."
Merekapun menuju kamar papa Haris.
" Menantuku..." Ucap papa Haris dengan suara lemahnya.
Kalila mendekati papa mertuanya, kemudian menyalimi papa mertuanya.
" Akhirnya kamu kembali nak, papa sangat bahagia." Ucap papa Haris.
Kalila dan Keenan yang duduk disamping papanya saling pandang dengan tersenyum.
" Papa apa kabar?." Tanya Lila sembari tersenyum, ia duduk disamping Keenan.
" Ya, papa lebih baik setelah bertemu denganmu."
Mendengarnya membuat Kalila merasa bersalah, ternyata ada keluarga yang merindukan dirinya setelah ia pergi. Ia tak menyangka, jika kedua mertuanya begitu menyayangi dirinya.
" Papa harus cepat sembuh, untuk menggendong cucu kita." Celetuk Sarah.
Semua yang ada disana tersenyum mendengar Sarah.
...
" Kenapa kau tak memberi tahuku! Kalau aku tau pria bajingan itu membawa Lila, aku pasti akan menghajarnya. Bagaimana bisa kau membiarkannya membawa Kalila." Teriak Aldi marah-marah pada Rita.
Karena istrinya itu mengatakan jika Lila dibawa oleh pria yang menghamili putrinya. Dan tentu saja dia masih ingat, jika pria itu adalah sang pebisnis muda, Keenan Alvaro Pradipta.
Jika ia tau jika Keenan datang kemari, dia tidak akan pernah membiarkan Kalila dibawa pergi.
Namun, Rita yang melihatnya, merasa rencananya untuk membuat Aldi tak banyak bertanya tentang Kalila berhasil.
Ia tidak tahu, siapa yang membawa anak tirinya. Yang dia tau, Aldi percaya omongannya.
" Aku harus segera menyusul kesana." Gumam Aldi yang tau betul kota pebisnis terkenal itu.
Mendengarnya membuat Rita mengernyitkan dahi. Apa maksud suaminya? Kenapa bilang menyusul? Dia bahkan tidak memberi tau nama pria karangannya?.
" Apa maksudmu mas?."
" Tentu saja aku harus menyusul Lila. Membawa kembali putriku kesini." Jawab Aldi dan langsung menuju kamarnya, ia akan berangkat malam ini juga.
" Memangnya kau tau siapa yang membawa Lila?." Tanya Rita sembari mengikuti langkah suaminya.
" Apa maksudmu, kau sendiri yang mengatakan yang membawa Lila adalah pria yang menghamili Lilakan?." Aldi bertanya dengan heran, sembari mulai menata beberapa barang yang perlu ia siapkan. Karena kota yang akan ia tuju cukup jauh.
" I-iya, maksudku...aku kan belum mengatakan siapa namanya. Tapi kau bersikap seakan sudah tau." Ujar Rita dengan grogi.
" Ya, aku sudah tau. Lila yang menceritakannya."
" Benarkah? Siapa namanya?." Tanya Rita dengan antusias, membuat Aldi curiga.
" Kenapa kau bertanya, kau bilang melihat sendiri pria itu membawa Lila. Kau tak mungkin tak mengenal pria berpengaruh seperti dia kan?."
" Pria berpengaruh?." Rita merasa bingung, ternyata pria yang menghamili Kalila adalah pria berpengaruh.
Itu artinya, dia akan mendapat masalah jika Aldi pergi kesana karena provokasinya.
" Sudahlah, aku harus segera berangkat." Aldi meraih tas yang berisi keperluannya, kemudian melenggang keluar dari kamar
" Eh tunggu." Rita berusaha mengejar Aldi, namun terlambat, suaminya sudah masuk dan melajukan mobilnya.
" Aduuh, kalau sampai mas Aldi gak nemuin Kalila disana gimana. Kalau tau mas Aldi sudah tau siapa pria itu, harusnya aku cari karangan lain saja." Gerutunya dengan panik, ia benar-benar tak tau harus berbuat apa sekarang.
***
" Keenan." Panggil Kalila pada sang suami.
Kini mereka tengah duduk diranjang bersama dengan posisi Kalila yang menyandar.
" Iya?."
" Aku ingin bertemu nona Alin."
Reflek Keenan menoleh pada istrinya, kenapa tiba-tiba istrinya itu menanyakan Alin?.
" Kenapa?." Tanya Keenan dengan tak suka.
" Aku ingin berdamai dengannya."
" Itu tidak perlu! Aku tak ingin kau bertemu dengannya. Aku tidak ingin pandangan anak kita dalam kandunganmu tercemar."
" Apa maksudmu, wajah nona Alin itu bukan sampah!. Tercemar, kau ini ada-ada saja." Kalila terkekeh karena ucapan suaminya.
" Tetap saja, kau tidak perlu bertemu dengannya."
" Aku hanya ingin bertemu dengan wanita yang menguatkan cintaku padamu. Apa itu salah?."
" Menguatkan cinta apanya? Justru dia yang berusaha menghalangi cinta kita." Ketus Keenan.
" Justru itu, semakin banyak halangan dan rintangan yang kita hadapi, disitulah cinta kita diuji. Akan menghilang, atau justru bertambah kuat." Ucap Kalila membuat Keenan terdiam, karena yang Kalila katakan benar.
" Dan aku merasakan, karena rintangan yang kita hadapi, rasa cintaku padamu semakin besar. Itu sebabnya, aku harus berterima kasih pada nona Alin." Lanjutnya.
" Kau ini... mana ada orang yang berterima kasih pada musuhnya."
" Dia bukan musuhku, dia hanya memperebutkan cinta pria yang sama denganku."
" Tidak! Dia tidak mencintaiku."
" Apa maksudmu?." Kalila bertanya dengan terkejut. Apa maksud suaminya?
" Ya, dia mendekatiku hanya karena ingin hartaku."
Keenanpun akhirnya mengatakan apa yang terjadi pada Kalila, tentang Alin dan Devan yang berusaha mengambil hartanya.
" Aku tidak menyangka nona Alin seperti itu." Ujar Kalila setelah Keenan bercerita.
Ia tidak menyangka, jika wanita sempurna yang pernah menjadi tunangan suaminya itu memiliki niat jahat pada Keenan.
" Hem, tapi itulah kebenarannya."
" Tapi, Devan itu siapa?."
***