
Kalila menghela napasnya, berusaha merelakan perpisahannya dengan Keenan.
Ia kembali memfokuskan dirinya memasak untuk sarapannya dan Eko.
Tak lama kemudian, masakan yang dibuatnya sudah siap.
" Eh Lila, kok kamu yang masak?." Tanya Eko setibanya didapur. Ia terkejut melihat apa yang Kalila lakukan.
" Gak papa mas, udah kebiasaan aja."
" Kebiasaan?." Tanya Eko tak mengerti.
" Maksudnya kebiasaan buat sarapan setelah mandi." Ujar Kalila menjelaskan. Ia hampir keceplosan mengatakan kebiasaan memasak untuk sarapan orang lain, tepatnya suami sekaligus majikannya, Keenan.
" Ooh... Ya udah deh, kalau begitu aku mau mandi dulu ya." Ujar Eko dengan menguap menahan kantuk karena semalam bekerja lembur.
Ekopun berlalu kekamar mandi.
Kalila kembali melanjutkan masaknya, setelah selesai, ia menghidangkannya dimeja makan yang berada didekat dapur.
" Wah, kelihatannya enak nih." Ujar Eko sudah selesai dengan mandinya. Ia mendekati meja makan, melihat aneka hidangan dimeja.
Tidak biasanya meja makan ini dipenuhi oleh makanan.
Kalila tersenyum menanggapinya, lagi-lagi ia teringat Keenan. Bagaimana pria itu selalu bersikap acuh padanya, tanpa ada kata pujian untuk dirinya seperti yang dilakukan Eko. Walau ia tahu betul Keenan menyukai masakannya.
" Eh mau kemana?." Tanya Eko melihat Kalila berbalik untuk melangkah pergi.
" Kebelakang mas, beresin sisa masak tadi."
" Udah gampang, itu nanti aja, sekarang kamu duduk, kita sarapan bareng." Ujar Eko sembari mengisyaratkan tangannya.
" Tapi..." Kalila merasa ragu, karena kebiasaannya saat bersama Keenan adalah pergi setelah menghidangkan makanan. Yah, kecuali saat sarapan waktu itu.
" Udah duduk, jika kau tak mau duduk, maka aku tak akan makan." Ancam Eko dengan nada ngambek.
" Baiklah." Kalila kemudian duduk disalah satu dari empat kursi dimeja makan itu.
Sebelum mengambil makanan untuk dirinya, ia mengambilkan terlebih dulu untuk Eko. Entah kenapa dia ingin melakukannya, bayang-bayang Keenan terus berputar dipikirannya.
" Terima kasih." Ucap Eko setelah menerima makanan yang diambilkan Kalila.
' Rasanya seperti mimpi kau mengambilkan makanan untukku layaknya istri pada suaminya.' Batin Eko bahagia.
" Seharusnya aku yang berterima kasih, karena mas Eko sudah menolongku." Balas Kalila tulus. Jika tidak ada Eko, mungkin. dia masih lantang-lantung tak jelas dijalanan.
" Hei! Kau ini bersikap seakan aku ini orang asing saja, memang sudah seharusnya aku membantumu bukan?." Ujar Eko santai.
Didalam hatinya ia merasa bahagia, menjadi penolong bagi wanita yang dia cintai. Ia akan giat bekerja, dan mengumpulkan gajinya untuk melamar Kalila.
Walau keluarganya sekarang terbilang cukup karena usahanya, tetap saja ia butuh banyak uang untuk resepsi pernikahannya dan Kalila.
Mereka kemudian mulai menikmati sarapan masing-masing.
" Em, kau memang pandai memasak." Puji Eko merasakan lezatnya makanan Kalila.
" Mas bisa saja." Ujar Kalila merasa tersipu, ia sangat jarang dipuji tentang masakannya.
" Jika kau tidak keberatan, selama kau tinggal disini, maukah kau yang memasak?." Tanya Eko.
" Tentu saja tidak masalah."
' Aku sudah terbiasa memasak untuk tuan Keenan.' Lanjutnya dalam hati.
" Sungguh?." Tanya Eko memastikan dengan wajah antusiasnya.
Kalila mengangguk.
" Wah, aku pasti akan cepat gemuk jika begini." Ujar Eko menggembungkan pipinya membuat Kalila tertawa.
" Ha...Ha...Ha...kau ini ada-ada saja mas, masa makan beberapa kali saja langsung gemuk." Ujar Kalila dengan tawa lepasnya. Mungkin ini adalah tawanya yang pertama setelah menikah.
Eko yang melihatnya tersenyum tipis, ia senang membuat Kalila tertawa.
Apapun masalah yang sedang gadis itu alami, ia akan berada disisi Kalila sebagai penyemangat dan jika ia bisa, ia akan melakukan apapun untuk membantu gadis yang ia cintai itu.
Merekapun kembali makan dengan tenang, tak berapa lama merekapun selesai sarapan.
" Aku berangkat kerja dulu ya, jika kau membutuhkan sesuatu, telpon saja aku." Ujar Eko saat sudah siap berangkat bekerja.
Ekopun berlalu menuju mobilnya didepan rumah.
" Aku berangkat ya, Bye." Eko melambaikan tangannya pada Kalila.
Kalila hanya tersenyum sembari melambaikan tangannya juga membalas Eko.
Sikap Eko memberinya ketenangan, seakan ia mendapat naungan seorang kakak laki-laki.
Padahal nyatanya, laki-laki yang ia anggap kakak, justru menganggapnya calon istri...
...
Sedangkan disisi lain, Keenan baru saja terbangun dari tidurnya. Ia meraba tempat disampingnya.
Kosong...
Dengan cepat Keenan duduk, mengucek matanya sembari mengumpulkan nyawanya.
" Dimana dia?." Gumamnya melihat tak ada Klaila disana.
Tiba-tiba Keenan teringat dengan kejadian semalam. Ia menoleh ketengah ranjang, dan benar saja, sebuah noda merah yang sudah mengering tercetak jelas disana.
Hanya ada satu arti dari noda itu, Kalila istrinya masih perawan.
Rasanya ia benar-benar tak mempercayainya, wanita yang selama ini ia anggap wanita murahan adalah wanita baik-baik.
Kalila sama sekali belum pernah berhubungan dengan siapapun.
Dan dia, adalah yang pertama bagi wanita itu. Apakah Kalila meminta berhubungan dengannya agar ia tau kebenarannya? Rasanya ia benar-benar menyesali segala pemikiran bodohnya selama ini.
Itu artinya, semua perkataan ayahnya adalah benar, jika semua bukti yang didapatnya hanya separuh, sedangkan bukti yang lainnya belum ia dapatkan.
Lalu bagaimana dengan foto-foto yang ia dapatkan tempo hari? Apakah itu hanya sebuah kepalsuan?
Itu artinya, ada seseorang yang ingin menghancurkan hubungannya dengan Kalila dengan cara memprovokasi dirinya.
Tapi siapa? Dan apa untungnya orang itu menghancurkan pernikahannya?
Ia benar-benar bingung dengan segala teka-teki ini.
Keenan segera tersadar dari pikirannya, ia tak punya banyak waktu untuk sekedar berpikir. Yang ia harus lakukan sekarang adalah mencari Kalila.
Keenan segera meraih pakaiannya yang berserakan dilantai.
" Foto-foto sialan!." Gumamnya memandang penuh kegeraman foto yang membuatnya sempat terbakar emosi, dan berakhir dengan berhubungan dengan istrinya.
Secara sepontan, Keenan menaruh foto-foto itu disaku jasnya.
Ia segera keluar dari hotel, tak lupa ia meminta seorang pelayan hotel membereskan kamarnya.
" Kemana kau pergi setelah membuatku dipenuhi rasa bersalah." Gumam Keenan saat tengah mengendarai mobilnya. Ia menjambak rambutnya dengan frustasi.
Keenan melajukan mobilnya tak tentu arah. Ia benar-benar tak tau kemana harus mencari istrinya.
Rasa bersalah benar-benar memenuhi hati dan pikirannya. Ia ingin segera bertemu dengan Kalila dan meminta maaf atas segala perlakuannya selama ini.
Ada sesuatu dihatinya, ia merasa sangat bahagia mengetahui kebenaran ini. Kebenaran jika istrinya masih bersih, tapi ia sendiri tak tahu kenapa.
Keenan melajukan mobilnya berjam-jam, hingga ia menyadari tingkah bodohnya.
Ia segera kembali kehotelnya, setelah sampai dikamarnya yang sudah dibereskan, ia segera menelpon sekretaris Jordi.
" Aku ingin kau mencari nona muda."
Seperti biasa, Keenan akan langsung memutuskan telpon sepihak tanpa mendengar jawaban.
Sekretaris Jordi yang memang baru bangun karena telpon dari Keenan hanya menggerutu kesal. Pasalnya ia baru tidur saat menjelang pagi, karena harus mengurus Devandra.
" Ada apa tuan memintaku mencari nona muda? Bukankah seharusnya mereka sedang bersama. Sebenarnya apa lagi yang terjadi?." Gumamnya bingung.
Meskipun begitu ia melangkah kekamar mandi untuk membersihkan diri sebelum menjalankan tugas dari tuannya.
Setelah menelpon sekretarisnya, Keenan tak tinggal diam, ia memutuskan mencari Kalila sendiri.
***