
" Maafkan mama Lila, mama tau mama sudah sangat jahat sama kamu. Tolong maafkan mama...hiks...hiks..." Ucap Rita pada Kalila.
Saat ini ada dirinya, Kalila, Aldi, Keenan, dan Sarah serta Haris. Semua berkumpul diruang keluarga.
Meski malu menjadi bahan tontonan keluarga Pradipta, Rita tetap meminta maaf. Karena bagaimanapun, ia sudah memutuskan untuk menerima Kalila sebagai putrinya, putri dari pria yang sangat ia cintai.
" Lila sudah memaafkan sebelum mama memintanya. Mama sudah mau menerima Lila, itu sudah lebih dari cukup." Ucap Kalila dengan air mata yang menggenang. Ia terharu, sekaligus mengingat sang ibu yang sudah tiada.
" Sungguh? Kau mau memaafkan mama?." Tanya Rita mendongak, ia tak percaya akan mendapatkan maaf semudah itu, setelah apa yang ia lakukan.
" Iya ma."
Dengan bahagia Rita memeluk Kalila, hatinya terasa begitu lega, karena melepaskan iri hati dihatinya. Iri hatinya, pada wanita yang melahirkan putri sambungnya.
" Terima kasih sayang, terima kasih." Ucap Rita disela pelukan mereka.
" Andaikan mama bisa menerimamu lebih awal, pasti hari-hari kita bersama akan terasa sangat menyenangkan. Sayangnya, mama menyia-nyiakan itu karena rasa benci."
" Tidak apa ma, yang sudah berlalu, biarlah berlalu."
Rita menghapus air matanya, tersenyum canggung pada keluarga Pradipta yang sedari tadi menontonnya.
***
" Saya kurang suka deh bu Sarah, saya lebih suka yang ini." Ujar Rita menyuarakan pendapatnya sembari menyentuh gaun pilihannya.
Saat ini, Kalila tengah berada dibutik dengan mama dan mertuanya. Sarah memutuskan untuk langsung memilih dibutik, agar Kalila lebih mudah memilih.
" Aduh bu Rita, tapi menurut saya Lila lebih cantik pakai yang ini, kalem gitu." Ucap Sarah dengan pendapatnya, menunjuk gaun yang ia suka.
Tak jauh dari mereka, Kalila duduk disebuah kursi yang ada disana. Memandangi Rita dan Sarah dengan senyuman.
Sudah lebih dari 30 menit, mereka masih meributkan satu hal, yaitu gaun yang akan ia pakai diacara resepsi.
' Andai ibu ada disini, pasti kebahagiaan ini akan terasa lebih lengkap.' Batinnya.
" Lila, kamu mau yang mana, yang mama atau mertuamu pilih." Ujar Rita membuyarkan lamunan Kalila.
" Em.." Ia bingung, baginya kedua gaun yang dua wanita paruh baya namun tetap cantik itu, semuanya bagus.
Jika disuruh memilih, ia takut salah satunya akan kecewa.
" Katakan saja yang kamu suka atau gak suka. Jangan khawatir kami kecewa, kan ini semuanya juga untuk kamu." Ujar Sarah melihat kegelisahan menantunya.
" Iya sayang, jangan ragu mengutarakan pendapat kamu. Kalau kamu gak suka dua-duanya, kita cari yang lain." Ujar Rita menambahi.
" Dua-duanya bagus ma, tapi Lila gak tau pilih yang mana. Mama Rita sama mama Sarah aja ya yang milih." Ujar Kalila akhirnya. Meskipun kedua mama-nya sudah mengatakan tak akan kecewa, tetap saja ia tak bisa memilih.
Semua ini diluar kapasitas hidupnya yang dulu hanya memakai baju seadanya. Bahkan jika ingin membali sebuah baju, ia akan berpikir ribuan kali.
" Kamu yakin gak mau lihat-lihat. Disini banyak kok pilihannya. Kalau gak ada yang kamu suka, kita bisa pesen aja ya." Ujar Sarah.
" Eh! Jangan ma! Gak perlu pesen, semua gaun ini bagus kok. Lila cuman bingung pilih yang mana." Ucap Lila yang tak ingin membuat semakin repot dengan pesan dadakan.
" Hem, gimana dong..." Sarah dan Rita saling tatap.
" Biar aku saja yang memilihkan gaunnya." Suara seorang pria membuat ketiga wanita menoleh, terlihat Keenan berjalan dengan menaruh kedua tangannya disaku celana.
Sarah memang meminta pria itu menyusul kebutik setelah pulang kantor. Itu sebabnya Keenan keluar dari kantor sebelum jam pulang.
" Keenan, mama tak yakin pilihanmu bagus." Cibir Sarah dengan bercanda.
" Tenang saja, aku akan pilihkan gaun terbaik untuk istriku tercinta." Ucap Keenan menatap Kalila yang tengah tersenyum padanya.
" Ya sudah kalau begitu, biar kami tunggu disini, kami ingin lihat pilihanmu." Ujar Sarah menatap Rita, yang diangguki oleh wanita itu. Mereka berdua duduk dikursi yang ada disana.
Kalila menyambutnya dengan senyuman dan bangkit dari duduknya.
Keenan kemudian mengajak Kalila untuk menemui pegawai butik, yang akan menunjukkan gaun yang ada.
Pegawai mulai menjelaskan setiap gaun yang mereka lihat.
" Katakan saja yang kau suka."
" Eh, bukankah tadi kau bilang kau yang akan memilihkannya?." Tanya Kalila heran.
" Aku bisa saja memilihnya, tapi aku ingin kau mengutarakan keinginanmu dulu, sayang."
Kalila merasa tersipu karena panggilan Keenan, kemudian ia menjawab.
" Hem, baiklah." Kalila kemudian berjalan kesebuah gaun yang tadi mereka lewati.
" Aku ingin yang ini." Ucapnya sembari menyentuh gaun pilihannya.
Sebuah gaun sederhana berwarna peach dengan renda dibagian atas dan bawahnya. Tidak terlalu glamor, namun terkesan elegan.
Keenan memperhatikan gaun pilihan istrinya.
" Terserah kau saja, apapun yang kau pakai, akan terlihat cantik karena kau yang memakainya." Ucapnya mengecup pelan bibir sang istri, membuat si empunya terlonjak.
Kalila menunduk dengan tersipu malu, karena disana juga ada pegawai butik. Entah wanita itu melihatnya atau tidak, yang jelas Kalila merasa malu.
" Bantu istriku mencobanya!." Titah Keenan pada pegawai.
Pegawai itu mengangguk, kemudian menuntun Kalila keruang ganti.
" Apa Lila sudah mendapat gaunnya?." Tanya Sarah melihat Keenan kembali.
" Sudah, dia sedang mencobanya sekarang." Jawab Keenan dengan tatapan datar. Sejujurnya, ia masih merasa muak melihat wajah mertuanya. Rita selalu membuatnya mengingat, jika istrinya dijual kepria hidung belang.
Namun, demi menghargai istrinya juga keluarganya, ia memilih menyembunyikan rasa muaknya.
" Keenan!." Sarah memperingati putranya. Ia bisa melihat ketidak sukaan putranya pada Rita.
" Tidak masalah bu." Rita memegang bahu Sarah yang ingin menegur Keenan. Ia memaklumi sikap menantunya itu.
Itu sebabnya mendapatkan maaf dari Kalila adalah sebuah keberuntungan baginya, setelah apa yang dia lakukan. Karena tidak semua orang memiliki hati yang lapang seperti anak sambungnya itu.
Tiba-tiba Kalila datang dengan gaun pilihannya, membuat suasana yang sempat tegang sedikit mencair.
" Wah, kau cantik sekali sayang." Pekik Sarah melihat menantunya. Begitupun Rita dan Keenan yang terpukau melihat penampilan Kalila.
" Aduuh, menantu mama ini emang paling cantik sejagad raya pokoknya." Sarah menangkup wajah Kalila dengan gemas.
Sedangkan Keenan hanya diam saja, ia terlalu terpesona dengan penampilan istrinya.
Gaun pilihan Kalila, benar-benar terlihat pas ditubuh istrinya. Membuat matanya memandang tanpa kedip walau sedetik. Membuat Kalila lagi-lagi tersipu malu.
" Keenan, pilihan kamu emang bagus, mama suka!" Ucap Sarah membuat Keenan tersadar.
Kalila dan Keenan saling pandang, mama Sarah pasti mengira gaun itu pilihan Keenan, karena ucapan Keenan tadi.
" Ok, karena mempelai wanitanya sudah cantik, sekarang mempelai prianya dong. Sana! Kamu cari jas buat resepsi." Ujar Sarah kemudian.
Keenan mengangguk, ia berjalan mengikuti pegawai.
***