
Aldi begitu terkejut melihat teriakan penuh emosi dari putrinya. Ia merasa Kalila sudah berubah, putrinya sudah berubah.
Kalila yang dulu adalah gadis yang ceria, ramah, dan murah senyum. Serta seorang putri yang selalu bersikap manja padanya.
Bukan manja tentang materi, tapi manja dalam arti yang sederhana dalam sebuah keluarga miskin yang bahagia. Sebelum dia memilih merantau untuk mengadu nasib agar ekonomi mereka meningkat.
Namun sayangnya, ia tergoda pada Rita yang menjadi majikannya saat itu terlihat begitu cantik dan menggoda dimatanya. Hingga ia tega meninggalkan keluarga kecilnya.
Dan kini, gadis dihadapannya adalah gadis yang beranjak dewasa dengan berbagai emosi akan masalah yang begitu jelas dimatanya.
" A-apa maksudmu nak?." Tanyanya gemetar.
" Ibu sakit karena selalu menangisimu setelah kau pergi, dan karena sakit itu, dia kehilangan nyawanya..." Jawab Kalila yang ingin ayahnya tau, bagaimana menderitanya ia dan ibunya dulu.
Seketika Aldi meneteskan air mata mendengar mantan istrinya telah pergi dari dunia ini. Ia menyesal karena belum sempat meminta maaf atas semua perbuatannya.
Aldi duduk bersimpuh dihadapan Kalila, ia merasa menjadi pria terbrengsek didunia ini. Dia yang harusnya menjadi naungan istri dan anaknya, justru meninggalkan mereka dalam penderitaan.
" Setelah kau pergi, ibu tidak makan dan tidur dengan teratur. Dia hanya menangis dan menangis setiap harinya. Terkadang dia bertanya padaku, mengapa kau meninggalkannya padahal kalian sudah saling mencintai semenjak remaja." Tutur Kalila lagi, menceritakan bagaimana ibunya setelah kepergian ayahnya.
" Yang bisa kulakukan hanya mencoba menghiburnya, aku hanya mengatakan jika jodoh kalian hanya sampai saat itu. Tapi ibu bukanlah wanita yang mudah melupakan cintanya begitu saja seperti dirimu. Dia terus saja berharap kau kembali." Air mata terus saja menetes saat ia berbicara. Bahkan suaranyapun sudah mulai terdengar serak.
" Dia akan menerimamu saat itu juga, tak peduli jika kau tak mengucapkan kata 'maaf' sekalipun. Ibu terus saja berkata seperti itu, ia juga sering menyalahkan dirinya sendiri. Dia mengatakan jika dia bukanlah istri yang baik, itulah sebabnya kau meninggalkannya."
Kalila menatap ayahnya yang masih saja duduk bersimpuh. Yang dia inginkan, ayahnya tau seberapa besar cinta ibunya pada pria seperti ayahnya yang sangat tak layak mendapatkannya.
Ia menghela napas, kemudian melanjutkan perkataannya lagi.
" Tentu saja aku menyanggah perkataannya itu, aku mengatakan dia istri dan ibu terbaik didunia ini. Tapi dia tidak peduli perkataanku, yang dia mau adalah dirimu." Ucapnya dengan senyuman miris. Betapa kacau ibunya hanya untuk seorang Aldi.
" Sampai pada akhirnya, dia mengalami sakit ginjal, dia menjadi sakit-sakitan. Kondisi ekonomi yang sulit membuatku tak bisa membawanya kerumah sakit. Pada akhirnya, aku hanya bisa membeli obat yang diresepkan dokter saat sekali berobat diapotik."
Aldi begitu terkejut setelah mendengar penuturan Kalila. Istrinya mencintainya begitu dalam bahkan sampai sakit separah itu.
Bayang-bayang kehidupan bahagia yang sederhana mereka seketika berkelebatan dibenak dan pikirannya.
" Ibu rutin meminum obat itu. Apa kau tau? Kenapa dia bersedia meminum obat-obat itu?." Tanyanya menatap Aldi lagi, meski ia tahu pria itu tak akan menjawab.
" Dia berharap sembuh, agar saat kau kembali dia tetap sehat. Dia ingin melakukan perawatan untuk kecantikan, dan kau pasti tau apa sebabnya..."
Kalila menjeda kalimatnya, rasanya ia ingin marah, kenapa ibunya harus mencintai pria seperti ayahnya begitu dalam. Namun, itu juga bagian dari takdir. Ia merasa kagum akan kesetiaan yang ibunya bawa hingga akhir hayatnya.
" Dia ingin lebih cantik dari selingkuhanmu." Lanjutnya melirik Rita yang juga diam dengan tajam. Kemudian beralih ke Lisa. Dua wanita yang suka merebut suami orang.
" Maafkan ayah nak, ayah tak pernah menyangka ibumu begitu mencintai ayah yang brengsek ini. Andai waktu bisa kembali, ayah tak akan pernah meninggalkan kalian. Ayah sungguh menyesal." Ujar Aldi kemudian bangkit dari posisinya. Menatap dalam putrinya.
" Penyesalan memang selalu datang diakhir. Saat semuanya sudah terlambat..." Lirih Kalila tanpa menatap ayahnya yang memandangnya.
" Sudahlah sayang, kenapa kau membahas masa lalumu dengan mantan istrimu yang sudah meninggal. Sebaiknya kau menikahiku secepatnya." Ujar Lisa tiba-tiba menyela. Ia tak ingin Aldi berubah pikiran untuk menikahinya.
" Maaf Lisa, tapi aku tidak bisa menikahimu." Ujar Aldi langsung membuat Lisa melotot, sedangkan Rita tersenyum lebar.
" APA!!! Aku tidak mau! Pokoknya kau harus menikahiku!." Teriak Lisa dengan kesal.
" Kau tidak berhak memaksanya, mas Aldi masih suamiku!." Kecam Rita.
" Tidak! Aku tidak peduli!."
" Mas, kau sudah berjanji akan menikahiku, jangan melanggar janjimu mas..." Lisa berusaha membujuk.
Yah, Lisa merupakan sekretarisnya yang bisa ia pecat kapan saja.
Ia mengelola perusahaan Rita sejak mereka menikah, setelah Rita mendapat warisan perusahaan dari orang tuanya.
" Tapi mas..." Lisa semakin putus asa.
Aldi menatapnya dengan tajam.
" Baiklah..." Lisa menghentakkan kakinya kesal. Ia melangkah keluar dari sana.
" Terima kasih karena mas tidak jadi menikah dengannya." Ujar Rita mendekati suaminya.
" Aku tidak melakukannya untukmu, aku melakukannya untuk putriku." Jawab Aldi tersenyum penuh kasih sayang pada Kalila yang masih diam ditempatnya.
Rita melirik Kalila dengan kesal, meski ia mengakui jika Kalila yang merubah keputusan suaminya secara tak langsung.
" Apapun alasanmu, aku sangat berterima kasih."
" Jika kau masih ingin pernikahan kita berlanjut, maka kau harus menerima Kalila."
" Tentu sa..."
Belum selesai Rita menjawab, Kalila kembali menyela.
" Aku tidak berniat berada disini lebih lama. Secepatnya aku akan membereskan barang-barangku dan pergi dari rumah ini." Ujar Kalila berbalil berniat pergi, namun Aldi segera menahannya.
" Tidak nak, jangan seperti itu. Ini rumah ayah, jadi otomatis rumahmu juga." Ujar Aldi.
Walau ia tahu betul Kalila belum memaafkannya, setidaknya akan lebih mudah mendapatkannya saat Kalila berada dirumahnya.
" Aku sudah tidak menganggapmu ayah, sejak kau juga tak menganggap aku dan ibuku. Jika saja aku tau ini adalah rumahmu, aku tak akan pernah masuk kemari meski sangat membutuhkan pekerjaan." Ujar Kalila lagi , melepas pegangan Aldi dilengannya, dan melanjutkan langkahnya.
Aldi bermaksud kembali mencegah Kalila, namun Rita mencegahnya.
" Kenapa kau mencegahku, aku ingin bicara dengan putriku!." Ucapnya marah dan melepas tangan Rita.
" Biarkan dia tenang dulu, saat ini dia suasana hatinya pasti sedang sangat sedih. Bicaralah saat dia sudah mulai tenang. Kita bisa meminta satpam menutup gerbang dan menghalanginya jika dia benar-benar pergi." Ucap Rita.
Aldi menghela napas, ia merasa ucapan Rita ada benarnya.
" Kau benar, aku akan memberinya waktu." Ucap Aldi dan melangkah menuju kamarnya.
" Ternyata gadis itu berguna juga untukku, jika dia tidak ada disini, mas Aldi pasti akan langsung menikahi wanita sialan itu." Gumam Rita memandang Aldi yang semakin menjauh dengan menyeringai lebar.
" Hah, aku harus pikirkan cara untuk menyingkirkannya perlahan." Gumamnya lagi.
Rita memang tak berniat menerima Kalila walau gadis itu sudah membuat Aldi tak jadi menikahi Lisa.
Karena baginya, Kalila membuat Aldi mengingat Nilam, istri pertama suaminya itu, dan itu membuatnya merasa terancam akan tersingkirkan dari hati suaminya.
Walau ia tahu hubungan mereka memang memburuk karena masalah anak, tetap saja egonya mengatakan harus menyingkirkan Kalila.
Meskipun untuk beberapa waktu ini, dia harus menerima keberadaan Kalila dirumahnya sebagai anak tirinya.
***