
Bila dikamar, suasana ayah dan anak sangatlah tegang. Berbeda dangan dilantai bawah, Sarah tengah mengajak menantunya mengobrol dengan senangnya.
" Apa Keenan bersikap baik padamu?." Tanyanya, ingin memastikan lagi jika putranya tak berbuat yang macam-macam.
Walau ia sudah pernah menanyakannya saat berkunjung ketika Keenan keluar kota.
" Iya ma." Jawab Kalila.
" Oh ya, kenapa kamu pakai pakaian seperti ini? Apa Keenan tak membelikanmu pakaian baru?." Tanya Sarah melihat baju yang dikenakan Kalila.
Kalila melirik baju sederhananya, ia menghela napas lega. Karena hari ini ia tak memakai pakaian pelayannya.
Jika mertuanya itu melihatnya dengan pakaian pelayan, maka masalah besar pasti akan terjadi.
" Em itu ma, Lila hanya tak ingin dibelikan. Sebenarnya mas Keenan mau membelikan tapi Lila mencegahnya karena pakaian yang layak masih banyak."
" Hah, kamu ini jangan seperti itu. Mama tau baju kamu masih layak. Tapi kamu itu punya Keenan. Jika kamu mau beli yang baru, katakan saja padanya."
" Baiklah ma."
" Ah tunggu, bagaimana kalau Keenan sudah sembuh mama ajak kamu jalan-jalan. Ke mall, beli baju atau yang lainnya buat kamu." Ujar Sarah memikirkan ide cemerlang.
" Tidak perlu ma, sungguh!!!." Cegah Kalila, ia tak ingin merepotkan mertuanya.
Terlebih lagi, kebencian Keenan padanya akan semakin bertambah. Karena menganggapnya memanfaatkan kedua mertuanya.
" Gak papa, kita kan belum pernah kemall bareng." Ucap Sarah keukeuh.
Kalila hanya tersenyum pasrah, penolakannya sama sekali tak dihiraukan.
Saat masih asik mengobrol, tuan Haris menuruni anak tangga. Menghampiri istri dan menantunya.
" Ya sudah, kalau begitu kami pulang dulu ya." Ujar Sarah tau kalau urusan suami dan putranya sudah selesai.
" Apa papa dan mama tidak menginap disini saja, ini sudah malam?." Tawar Kalila.
" Tidak nak, lagi pula kami percaya kau akan menjaga anak itu dengan baik."
Kalila kemudian menyalimi Sarah, juga tuan Haris yang sudah berada disamping istrinya.
Ia kemudian mengantarkan mereka sampai kedepan pintu. Setelah kedua mertuanya masuk kedalam mobil, Kalila kembali masuk kedalam.
Ia kemudian masuk kedalam kamar Keenan, memastikan suaminya itu tak membutuhkan sesuatu.
" Tuan." Panggilnya setelah membuka pintu.
Keenan yang sudah berbaring, menoleh sekejap
" Apa tuan butuh sesuatu?." Tanyanya lagi.
" Tidak."
" Baiklah, kalau begitu saya akan kembali kekamar." Pamit Kalila kemudian kembalu menutup pintu setelah ia keluar.
Keenan hanya memandang pintu tempat Kalila tadi dengan pandangan kosong. Pikirannya tengah berkecamuk karena perkataan ayahnya.
Sejauh ia tinggal bersama Kalila dalam beberapa bulan ini, ia memang tak merasa Kalila sebagai wanita matrealistis.
Kalila tak pernah bersikap macam-macam atau seenaknya. Apalagi setiap ia tak sengaja melihat Kalila berbicara dengan bi Susi atau para pelayan.
Tak ada kata yang menunjukan jika dirinya menyombongkan diri sebagai istrinya. Kalila berbicara dengan ramah pada setiap orang yang berada dirumahnya.
Apakah yang dikatakan oleh ayahnya memang benar? Bahwa bukti-bukti yang didapatkan memanglah belum sepenuhnya?.
Itu artinya, ia harus menyelidiki semuanya lebih lanjut. Untuk menemukan seluruh kebenarannya.
...
Keesokan harinya, seperti biasa Kalila tengah berkutat dengan peralatannya didapur. Memasak makanan untuk Keenan.
Hari ini, dia kembali membuat bubur dengan sayur sop kuah bening. Setelah makanan siap, ia mengantarnya kedalam kamar Keenan.
Tok...
Tok...
Tok...
" Masuk!."
Ceklek..
Kalila membuka pintu, dilihatnya Keenan yang baru keluar dari kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk sebatas pinggang.
Kalila langsung menutup mata, kemudian membalikkan tubuhnya.
Keenan yang melihatnya hanya acuh, dengan santai ia berganti pakaian.
Kalila pun menurut, ia berbalik dan melanjutkan langkahnya menaruh nampan diatas nakas.
" Apa tuan akan berangkat kekantor?." Tanya Kalila melihat setelan jas yang dipakai Keenan.
" Hemm."
" Syukurlah kalau begitu." Ucap Kalila tersenyum senang, karena itu artinya suaminya sudah sembuh.
Keenan yang sedang menggunakan dasinya hanya melirik sebentar. Ia tahu arti senyum Kalila.
Tentu saja dia hari ini berangkat, lagipula ia sudah benar-benar fit sekarang. Jika ia terus tinggal dirumah dan berbaring dikamar, yang ada dia harus makan makanan hambar setiap hari karena ulah dokter Rio.
" Karena tuan sudah sehat dan berangkat bekerja. Apa saya juga boleh berangkat hari ini tuan?." Tanya Kalila.
" Hemm."
" Terima kasih banyak, kalau begitu ini sarapan tuan. Saya permisi mau siap-siap." Ujar Kalila dengan senyuman lebar.
Membuat Keenan berpikir Kalila bahagia karena bisa kembali bertemu dengan yang namanya Eko.
" Tunggu!." Cegah Keenan. Kalila kembali berbalik menghadap suaminya.
" Aku meringankan tugasmu dengan memakai pakaian sendiri. Apa kau lupa harus menyuapi aku!." Ketus Keenan dan duduk disofa yang berada dikamarnya.
" Tapi...bukankah tuan sudah sehat?." Tanya Kalila heran.
" Hmm, tapi kau tetap harus menyuapi aku, lagipula setelah ini aku sudah makan dimeja makan. Bukankah kau sendiri yang meminta agar bisa melayaniku sebagai...istri?." Ujar Keenan mengingatkan permintaan Kalila tempo hari.
" Ba-baiklah." Kalila meraih bubur diatas nakas. Ia duduk bersimpuh dihadapan Keenan yang duduk disofa. Ia tak punya keberanian duduk disamping suaminya.
" Hei! Jika kau duduk disitu, aku harus menunduk untuk makan. Naik!." Titah Keenan menunjuk tempat disampingnya.
Kalila menurut, karena memang akan sulit jika ia menyuapi Keenan jika duduk dibawah.
Kalila mulai menyuapi Keenan.
" Saat makan malam nanti, ganti menunya seperti sebelumnya!." Titah Keenan setelah menyelesaikan makanannya.
" Baik tuan."
" Kau boleh pergi!."
Kalila kemudian membawa perlengkapan makan tadi keluar dan menaruhnya didapur. Setelah itu, ia menuju kamarnya sendiri untuk bersiap-siap.
Keenan yang sudah rapi langsung menuju keluar.
" Pak Gun, tolong siapkan mobil, aku akan berangkat!." Titahnya pada sang sopir.
" Baik tuan."
Tak lama kemudian, mobil dikeluarkan dari garasi, kini terparkir sempurna didepan rumah.
Keenan kemudian masuk kedalam mobilnya.
" Tunggu." Titahnya saat pak Gun baru menancap gas. Sontak saja mobil berhenti mendadak.
" Ada apa tuan muda? Apa ada yang tertinggal?." Tanya pak Gun bingung.
" Tidak, kita akan menunggunya." Ucap Keenan.
Pak Gun mencoba berpikir, siapa yang dimaksud tuan mudanya. Ia kemudian teringat jika nona mudanya juga bekerja dikantor yang sama, hanya saja mereka sebelumnya tak pernah berangkat bersama.
Beberapa menit berlalu, Kalila keluar dari rumah dengan seragam yang kemarin tak ia pakai.
" Eh." Kalila tersentak saat menyadari mobil Keenan masih terparkir sempurna. Ia kira Keenan sudah berangkat dari tadi.
Pak Gun yang memang tadi keluar dari mobil, segera membukakan pintu mobil untuk Kalila. Tepat disamping Keenan yang masih terlihat acuh.
" Silahkan nona muda."
" Loh pak, kan saya biasanya naik ojek?." Tanya Kalila mengernyitkan dahinya.
" Masuk!." Keenan segera menuturkan titahnya, membuat Kalila makin bingung saja.
" Tapi saya sudah pesan ojek tuan." Ujarnya pada Keenan yang masih menatap kearah depan.
" Cancel ojeknya, dan masuk!." Titah Keenan lagi.
Kalila menghela napas, berdebat dengan sang tuan muda hanyalah sia-sia.
Ia kemudian masuk kedalam mobil, setelah Kalila masuk, pak Gun segera menutupnya. Kemudian menuju kursi kemudinya dan melajukan mobil menuju kantor.
***