
" Hanya bilang Rio untuk kesini saja lama sekali." Gerutu Keenan.
" Maaf tuan." Ucap Kalila.
" Sudahlah, kau boleh pergi. Aku akan menunggu Rio."
Kalila mengangguk hormat, kemudian melenggang pergi keluar dari kamar suami sekaligus majikannya itu.
Tak berapa lama, Dokter Rio sudah berada dikamar Keenan.
" Aku rasa demam-mu tak separah itu sampai harus memanggilku." Ujar Dokter Rio setelah memeriksan Keenan.
" Sudahlah, tak perlu protes, aku memang sedang sakit." Ucap Keenan ketus.
Yah semalam ia memang benar-benar merasa pusing, tapi kini keadaannya sudah jauh lebih membaik.
Senyum tipis terbit dibibirnya, bagaimana Kalila dengan sabar menemani dan merawatnya yang tak mau ditinggal sekalipun.
Sebenarnya memikiran itu membuat Keenan merasa malu. Karena ia bersikap pada Kalila seperti bersikap saat pada mamanya, disaat dirinya sakit.
" Hah, baiklah, aku akan resepkan obat untuk sang tuan muda." Goda dokter Rio membuat Keenan mencebik kesal.
" Kenapa kau sampai tidak masuk kerja? Setauku kau orang yang gila kerja. Sakit begini tidak akan menghentikanmu bukan?." Tanya dokter Rio dengan nada ejekan. Karena biasanya Keenan tak memanggilnya jika dia tak benar-benar tak kuat bangun karena sakit.
" Aku hanya sedang ingin cuti saja. Bukankah itu perusahaanku, suka-sukalah mau berangkat atau tidak."
" Ya...ya...baiklah tuan muda, kalau begitu aku pamit." Dokter Rio berbalik.
" Eh tunggu!." Cegah Keenan.
" Apa?." Tanya Rio dengan malas, tak tau kagi apa yang diinginkan tuan muda itu.
" Jangan katakan pada siapapun jika sakitku ini ringan."
Dokter Rio memicingkan mata, tak mengerti maksud permintaan Keenan.
" Jangan bertanya, tinggal turuti saja perintahku. Atau kau mau aku mengusirmu dari keluarga Pradipta." Ancam Keenan.
" Baiklah, terserah kau saja." Balas dokter Rio memilih menuruti perintah aneh Keenan. Walau ia tau ancaman tentang diusir menjadi dokter keluarga Pradipta hanya bualan belaka.
Dokter Rio keluar, saat ia baru menapaki anak tangga paling bawah, Kalila langsung menodongnya dengan pertanyaan.
" Bagaimana dok? Apa tuan Keenan baik-baik saja? Atau sakitnya parah? Apa perlu dibawa kerumah sakit?."
' Baiklah, mari mulai berbohong.' Batin Rio menghela napas.
" Kondisinya memang tidak perlu dibawa kerumah sakit. Hanya saja dia memang harus banyak beristirahat dengan pola makan teratur dan gizi yang baik. Dan ya, selama masa pemulihan, jangan berikan dia makanan dari daging atau ikan. Berikan saja dia buah dan sayuran yang sehat." Ujar dokter Rio.
Dalam hati ia tersenyum puas, berhasil mengerjai majikan rewelnya dengan mengatakan tak boleh makan daging. Pasti Keenan akan sangat bosan jika menunya hanya sayur mayur.
" Baiklah, kalau begitu saya akan masak sayur saja selama tuan Keenan sakit."
" Tapi masak sayur juga jangan terlalu matang dan jangan terlalu banyak garam dan minyak, itu juga tidak baik untuknya." Tambah dokter Rio. Sungguh dia membuat Keenan harus memakan makanan super tidak enak.
Salah sendiri memintanya tidak mengatakan keadaannya yang sebenarnya.
" Lalu, bagaimana jika tuan Keenan menolak makan. Karena biasanya tuan tak terlalu makan sayur yang ada dihidangan yang saya masak."
" Ah, katakan saja jika itu perlu jika dia ingin cepat sembuh."
Kalila mengangguk paham.
" Aku pergi." Dokter Rio kemudian melenggang pergi dari sana. Sesampainya diluar rumah, ia tertawa terbahak-bahak. Sungguh, ia sangat puas bisa mengerjai si tuan muda.
Sedangkan Kalila yang mendapat pesan dari dokter Rio bersyukur, karena tadi dia hanya memberikan bubur dan sop untuk Keenan. Karena artinya ia tak memberikan makanan yang membahayakan Keenan.
Kalila memutuskan mulai membersihkan rumah, karena ia pikir Keenan pasti tertidur setelah diperiksa dokter Rio.
Padahal nyatanya, Keenan tengah memeriksa emailnya. Ya, dia tengah bekerja. Sakit seperti ini memang bukan penghalang sama sekali untuknya tetap bekerja. Bahkan, biasanya dia akan tetap berangkat kekantor.
Tapi entahlah, kali ini dia sangat malas saat kondisinya seperti ini. Ia juga tak tau mengapa.
Tok...Tok...Tok...
" Masuk!." Titahnya walau tak tau siapa yang mengetuk pintu. Dengan segera ia menutup laptopnya dan menyembunyikannya dibawah bantal.
" Tuan." Panggil Kalila.
" Ya?."
" Kenapa? Bukankah atasanmu ada disini?." Tanya Keenan kesal.
" Maaf tuan, maksud saya, saya tidak meminta izin kekantor." Jawab Kalila.
" Sudahlah, tugasmu hari ini adalah mengurusku. Jadi jangan pikirkan pekerjaan lain, aku akan bicarakan pada Jordi!." Titah Keenan. Entah kenapa ia tak suka Kalila memikirkan hal lain disaat ia sedang sakit, padahal nyatanya sakitnya tidak separah itu.
" Baik tuan." Ujar Kalila menurut. Toh yang punya perusahaan yang meminta.
Baru saja mau pamit keluar, HP jadulnya berdering.
" Saya_."
" Angkat disini!." Titah Keenan tau Kalila ingin pamit mengangkat telepon.
" Tapi..."
" Memangnya kau punya rahasia apa dariku sampai harus mengangkatnya ditempat lain?." Sentak Keenan marah. Bermaksud menyindir tentang Eko.
" Ten-tentu saja tidak tuan." Kalila segera mengangkat telpon.
" Halo mas."
Panggilan 'mas' dari Kalila untuk pria lain berhasil mengusik Keenan.
' Bisa-bisanya kau memanggil pria lain dengan sebutan semesra itu.'
" Lila, kok hari ini kamu tidak berangkat?." Tanya seorang dari sana tak lain adalah Eko.
" Ah ya maaf, ada hal yang membuatku tidak bisa berangkat hari ini."
" Apa kau sakit?." Tanya Eko khawatir.
" Tentu saja tidak, aku sehat-sehat saja."
" Lalu, ada hal apa sampai kau tidak bisa berangkat. Bahkan kau tak menitipkan izin pada aku atau Eva."
" Em,..."
Keenan langsung merebut HP Kalila.
" Karena dia punya pekerjaan yang lebih penting!." Sentaknya dan langsung memutus telpon.
" Tuan? Kenapa tuan bicara pada mas Eko? Jika dia curiga bagaimana?." Tanya Kalila khawatir.
" Curiga kenapa? Kau takut pacarmu itu tau jika kau sudah punya suami?." Sentak Keenan marah.
" Apa maksud tuan? Saya tidak berpacaran dengannya?." Kalila tak habis pikir, kenapa sampai kesana arah pembicaraan mereka.
Padahal ia hanya khawatir, kalau mas Eko tau ia tinggal serumah dengan bos mereka, apa yang harus dikatakannya nanti. Ah tunggu! Diakan bisa mengatakan jika dirinya pembantu Keenan.
Yah, walau itu kenyataannya, terlepas apapun statusnya yang sebenarnya.
" Aku tau, kalian hanya teman... tapi mesra!." Sinisnya.
" Kenapa anda mengatakan seperti itu tuan? Saya hanya tidak mau ada yang curiga jika saya tinggal serumah dengan anda. Ya, walau jika mas Eko mengenali suara anda, saya akan mengatakan jika saya adalah pembantu tuan." Ujar Kalila menjelaskan maksud kekhawatirannya.
" Hm, karena itu kenyataannya." Gumamnya lirih namun masih terdengar oleh Keenan.
" Jadi maksudmu, kau ingin menjadi istriku yang sesungguhnya? Begitu?!." Pancing Keenan mendengar perkataan Kalila.
" Ten-tentu saja tidak tuan, saya cukup tau diri." Jawab Kalila cepat.
" Huh, baguslah jika kau tau." Keenan melempar HP ke Kalila kemudian berjalan kembali bersandar diatas ranjang dengan kaki selonjor.
Kalila menangkapnya dengan gelagapan, karena Keenan melemparnya sembarangan.
" Pijati aku!."
" Ba-baik tuan." Kalila segera menaruh kembali HPnya dirok dan mendekat kearah Keenan.
Ia duduk bersimpuh disamping ranjang, dan mulai memijat kaki Keenan.
" Apa aku menyuruhmu memijat kaki? Pijat kepalaku!." Protes Keenan.
" Duduk disini!." Keenan menepuk ruang kosong diatas ranjang, tepatnya disampingnya.
***