
Kalila terus saja menangis dan menangis, bahkan pria asing yang berada diluar pintu mulai jengah.
" Baiklah, karena kau tak mau keluar juga, maka aku akan mendobraknya!!!." Ucapnya yang sudah tak sabar menunggu.
Pria itu mengambil ancang-ancang, hingga...
Brakkk!!!
Pintu kamar mandi terbuka seketika, kunci yang dipaksa dibukapun menjadi rusak.
Pria itu masuk kekamar mandi, sedangkan Kalila duduk gemetar ketakutan dipojokan.
" Kenapa kau takut begitu, bukankah kau memakai pakaian itu untuk menyambutku?." Tanyanya menyeringai.
" Ti-tidak tuan, saya bukan wanita seperti itu..."
" Ha...Ha...Ha...Kau pikir aku percaya. Mana anda perempuan baik-baik yang mau berdandan seperti itu saat akan dijual oleh suaminya..."
" Ti-tidak tuan... saya bukan wanita seperti itu..." Lirihnya gemetaran berusaha mencegah hal buruk terjadi.
" Sudahlah cantik, malam ini... kau adalah milikku."
Pria itu semakin mendekat dan mendekat, memandangi Kalila penuh dengan tatapan *****, sungguh Kalila berharap seseorang membantunya.
Detik berikutnya, pria itu memeluk Kalila kedalam dekapannya. Kalila berusaha memberontak, namun pria itu justru semakin kuat memeluknya.
Tangan pria itu tak tinggal diam, semakin menjalar kemana-mana.
Plakkk!!!
Kalila menampar pipi pria itu dengan sekuat tenaga. Pria itu terhenyak, hingga ia melepaskan pelukannya.
" Dasar tidak tahu diri!!!." Teriaknya penuh amarah. Rahangnya mengetat, wajahnya memerah, dia mencekik Kalila dengan kuat.
Wajah Kalila memerah kekurangan oksigen.
" Kenapa kau memberontak, jelas-jelas suamimu sendiri yang menjualmu. Harusnya kau patuh padaku, karena aku adalah tuanmu...!" Ujarnya kemudian melepaskan cekikannya dari leher Kalila. Telapak tangannya tercetak jelas dileher Kalila saking kuatnya.
" Uhuk.... Uhuk.... Uhuk...."
Kalila terbatuk, lehernya begitu sakit.
Pria itu kemudian menjambak Kalila, menyeret gadis malang yang sudah lemas karena cekikannya itu keluar kamar mandi. Kemudian melempar Kalila dengan kasar diatas ranjang.
" Aku sudah membelimu, seharusnya kau patuh padaku..." Lirihnya merangkak naik keatas Kalila.
" Ti-tidak tuan... saya mohon lepaskan saya... " Kalila memohon dengan sangat.
Sungguh, rasa cinta yang pernah ada dihatinya untuk Keenan perlahan sirna. Suaminya sangat tega karena menjualnya pada pria asing.
Rasa marahnya pada pria didepannya tak ada apa-apa dibandingkan rasa bencinya pada suaminya yang telah tega menjualnya.
" Aku tidak peduli, malam ini... kau adalah milikku..."
Pria itu kembali menyentuh Kalila, tangannya berusaha melepas gaun Kalila.
BRAKKK!!!
Pintu terbuka dengan keras, menampilkan sosok pria dengan wajahnya yang memerah karena amarah.
Keenan mendekat dan langsung menarik pria asing itu.
Bug...
Dia meninju pria itu diperutnya dengan membabi buta.
" Kurang ajar kau... Brengsek... Bajingan..."
Keenan seperti orang yang kalap, ia benar-benar menyerang pria itu dengan brutal.
Sedangkan Kalila yang masih berada diatas ranjang langsung menutupi tubuhnya dengan selimut.
Ia menatap Keenan dengan penuh kebencian...
Keenan terus saja adu tinju dengan pria itu, karena pria itu tak tinggal diam. Mereka saling menyerang beberapa lama.
Hingga sekretaris Jordi datang dengan beberapa penjaga keamanan.
" Bawa dia!." Tunjuknya pada pria asing yang tengah saling pukul dengan Keenan.
Dua penjaga itu langsung menyekal pria itu.
Keenan diam tak berkutik.
" Apa bedanya aku, atau pria lain yang melakukannya? Bukankah sama saja, yang penting kau bisa menceraikannya.." Ujarnya lagi, karena Keenan tak menjawabnya.
" Cepat bawa dia!." Titah sekretaris Jordi yang paham situasi tuan mudanya.
Pria asing itu menyeringai puas, padahal dia tidak belum melakukannya pada Kalila. Tapi setidaknya ia berhasil menyulut api diantara pasangan suami istri itu.
Dia adalah Devan, sepupu Keenan yang sangat membenci Keenan.
Setelah hari itu menculik Kalila, ia merasa sedikit tertarik dengan gadis itu. Ia mulai menguntit Kalila secara langsung.
Betapa bahagianya saat mendapat kesempatan mendapatkan Kalila. Dia membayar lebih tinggi pria gay yang dibayar Keenan.
Namun, meskipun rencananya untuk memiliki Kalila seutuhnya gagal. Setidaknya ia sudah menanam kebencian dihati gadis itu untuk Keenan.
Dengan mengatakan jika Keenan menjual Kalila padanya. Padahal nyatanya tidaklah seperti itu.
Dua penjaga langsung membawa Devandra keluar.
" Keluar!." Titah Keenan pada Jordi kemudian.
Sekretaris Jordi mengangguk patuh, ia keluar dari sana kemudian tak lupa mengunci pintu.
Keenan menatap Kalila penuh rasa bersalah, karena kebenciannya, dia sampai merencanakan pelecehan terhadap istrinya sendiri.
Flash Back On
Saat tengah menunggu Kalila keruangannya, Keenan memikirkan suatu cara untuk bisa menceraikan Kalila sebelum waktu yang sudah dibuatnya yaitu satu tahun.
Karena dia tidak mau punya istri seorang wanita murahan lebih lama lagi.
Dia meminta sekretaris Jordi membelikan gaun bagus dan juga hak tinggi. Membawa Kalila kerestoran untuk menyenangkan hati wanita itu sebelum menyiksanya.
Dia berencana meminta Kalila berdandan layaknya wanita malam pada umumnya. Dia akan meminta seorang pria gay pura-pura melecehkan Kalila.
Karena jika ia meminta pria normal, kemungkinan benar-benar melecehkan sangatlah besar.
Karena setelah melihat foto-foto itu, dia yakin jika Kalila memang wanita mura*an. Dan ia yakin Kalila akan senang saat melihat seorang pria menginginkannya.
Dia akan meminta keluarganya datang agar bisa melihat sendiri jika Kalila bukan gadis baik-baik seperti pemikiran orang tuanya.
Saat melihat pria yang dimintanya pura-pura melecehkan Kalila justru tengah makan malam di restoran dalam hotelnya, Keenan segera mendekatinya.
Ternyata pria itu sudah dibayar lebih tinggi oleh pria lain yang sungguh menginginkan Kalila. Tentu saja pria yang diperintahkannya itu memilih uang yang lebih banyak, karena ia menuruti perintah Keenan juga demi uang.
Keenan panik, ia segera kembali kekamarnya. Namun tiba-tiba ada pelayan yang menabraknya, menyisakan noda makanan dibajunya.
Dengan terpaksa ia mengganti baju dulu. Sebelum melanjutkan kekamarnya, Keenan menelpon Sekretaris Jordi dan meminta agar membawa dua penjaga hotel kekamarnya.
Saat sudah sampai dikamarnya, Keenan langsung mendobrak pintu. Ia sampai lupa jika ia punya Card Lock kamarnya sendiri.
Ia langsung terkejut, tangannya mengepal melihat pria yang tak asing baginya tengah berusaja benar-benar melecehkan Kalila.
Tanpa aba-aba, ia langsung menarik pria itu dan menghajarnya.
Flash Back Off.
Ia benar-benar tidak menyangka, ia hanya berencana menciptakan situasi seakan Kalila tengah berhubungan dengan pria lain.
Tapi yang ia dapati justru Kalila tengah benar-benar dilecehkan. Karena dari melihat keadaan Kalila saat ini, ia yakin Kalila berusaha memberontak.
Ia sangat beruntung, karena saat menelpon keluarganya, mereka belum sampai mengangkat.
Jadi mereka tak perlu tau apa yang terjadi.
Tapi kenapa Kalila memberontak? Bukankah harusnya Kalila senang? Dia adalah wanita mura*an bukan? Harusnya Kalila menyukai pria yang menginginkannya.
Kalila memandang Keenan dengan segala kebencian dihatinya.
Dia melihat sebuah gaun yang dikenakannya saat berada disalon berada diatas sofa. Ia harus mengganti bajunya. Dia bukan wanita mura*an yang menyukai pakaian seperti yang sedang ia pakai.
Kalila bangkit dari ranjang dengan selimut membalut tubuhnya.
Keenan yang melihatnya mengikuti arah pandangan Kalila. Ia segera mengambilkan gaun warna peach yang ia belikan itu.
" Ini." Ucapnya memberikan gaun itu dengan perasaan bersalah.
***