My Husband, I Love You

My Husband, I Love You
Berharap Keajaiban



" Aku gak peduli! Yang aku mau kamu nikahin aku secepatnya!."


" Jika kau tetap melakukannya, kau tau betul keluargamulah yang akan hancur!!!." Tegas Keenan dengan penuh penekanan. Membuat nyali Alin menciut seketika.


" Baiklah... jika aku tidak bisa melakukan itu, maka aku akan melompat dari gedung ini bersama anak kita." Ancam Alin yang merasa kehilangan segala cara agar Keenan menikahinya.


Setelah mengatakan itu, Alin keluar dari ruangan Keenan, dan menuju atap gedung.


Keenan yang mulai cemas langsung mengejarnya, ia memang tak mencintai Alin, tapi ia tak ingin menjadi penyebab kematian dua nyawa sekaligus.


Keenan segera menaiki lift, sesampainya diatap gedung, ia melihat Alin yang sudah berdiri dipinggiran gedung. Satu langkah saja, wanita itu benar-benar akan jatuh.


Keenan segera berlari, menarik tangan Alin menjauhi tempatnya berdiri agar lebih aman.


" Apa yang kau lakukan!!! Lepaskan aku!!! Aku tak mau hidup jika kau menikahiku!!!." Teriak Alin berusaha memberontak.


Keenan memeluk wanita itu dengan erat, tak membiarkan celah sedikitpun untuk lepas.


" Tenanglah..." Ujarnya sembari mengelus rambut Alin, berharap bumil itu bisa lebih terkendali.


" Tidak!!! Aku lebih baik mati jika kau menolakku!!." Ujar Alin dengan isakan yang dibuat-buat.


Ia sudah menduga jika Keenan akan mengikutinya dan mencegahnya. Ia harus berakting sebaik mungkin agar Keenan menurutinya.


" Dengarkan aku!." Ucap Keenan melepas pelukannya.


" Tolong beri aku waktu, aku akan menikahimu jika itu yang kau mau. Jangan bahayakan anak dalam kandunganmu seperti ini." Ujar Keenan mengalah.


" Sungguh? Kau sungguh akan menikahiku?." Tanya Alin dengan bahagia, ia tak mengira akan semudah ini.


" Ya, tapi beri aku waktu."


' Sampai aku memastikan jika itu anakku, dan saat aku menemukan istri tercintaku.' Lanjut Keenan dalam hati.


Kini ia diliputi perasaan bersalah semakin dalam pada Kalila, ia bersama wanita lain, disaat istrinya entah bagaimana keadaannya.


" Baiklah, asal kau memenuhi janjimu." Ujar Alin kembali memeluk Keenan. Sebuah senyum licik muncul dibibirnya, merasa jika dirinya telah menang.


Merekapun pergi dari sana, menuju kembali keruangan Keenan.


Sedangkan disisi lain, Kalila tengah menikmati kehidupan barunya. Ia merasa nyaman tinggal ditempat yang baru baginya.


Namun, meskipun begitu, ada hal yang masih mengganjal dihatinya, yaitu sosok Aldi Hermawan. Karena sampai saat ini, ia tidak pernah melihat tuan majikannya itu. Karena ternyata tuan Aldi sedang berada di luar kota untuk pekerjaan bisnis.


Saat masih asik dengan pekerjaannya, HP yang setia berada disaku roknya bergetar.


Kalilapun meraihnya, sebuah panggilan dari Eko.


" Mas Eko... dia pasti sedang kebingungan karena aku tidak berada dirumah. Dia sudah tahu masalahku, mungkin tidak akan jadi masalah jika dia tahu keberadaanku." Gumam Kalila dan akhirnya mengangkat telepon.


" Halo."


" Lila, kamu dimana? Kenapa tidak telpon mas? Apa kamu baik-baik saja? Kenapa tidak masuk kantor? Apa kau sedang berada dirumah tuan Keenan?." Sederet pertanyaanpun terlontar tanpa jeda, ia begitu mengkhawatirkan wanita yang ia cintai.


Kalila tersenyum mendengar sederet pertanyaan itu. Ia bahagia karena masih ada orang yang mengkhawatirkannya.


" Ini aku jawab yang mana dulu mas? Mas Eko ini kaya wartawan aja." Ujarnya dengan terkekeh.


" Kamu ini! Mas khawatir sama kamu, jawab pertanyaan mas satu persatu." Ujar Eko masih dengan nada cemasnya.


" Baiklah, aku baik-baik saja, aku tidak sedang berada dirumah tuan Keenan. Dan soal tidak berangkat bekerja, tentu saja untuk pergi dari kehidupan tuan Keenan."


" Apa pria itu benar-benar membuangmu setelah membuatmu menderita?." Ujar Eko yang merasa geram.


" Tidak, mas jangan menyalahkan tuan Keenan. Memang sejak awal aku yang salah dengan masuk kedalam hidupnya. Lagipula dia tidak membuangku, aku yang memilih pergi darinya." Ujar Kalila tak ingin orang lain membenci Keenan karena dirinya.


" Jadi kau pergi dari kota ini?."


" Iya, dan aku sudah mendapat tempat tinggal disini, tepatnya dirumah majikan baruku." Jawab Kalila.


" Kau ada dikota mana, aku ingin sesekali mengunjungimu agar kau tak merasa terlalu kesepian." Ujar Eko ingin tau keberadaan Kalila.


" Mas tenang saja, aku mendapat seorang teman disini, jadi tak akan kesepian." Ujar Kalila membuat Eko merasa Kalila tak ingin ia mengetahui keberadaan wanita itu.


" Baiklah, aku akan segera mengatur waktu untuk kesana."


" Eh jangan terburu-buru mas, lagipula aku juga harus meminta ijin dulu. Aku akan menghubungi mas Eko jika akan bertemu."


" Ya sudah terserah kau saja." Balas Eko mengalah, mengetahui keberadaan Kalila saja sudah membuatnya senang.


" Kalau begitu sudah dulu ya mas."


" Iya."


Tut...


telepon terputus.


Kalila kembali memulai pekerjaannya, tiba-tiba Indah memanggilnya.


" Kalila!." Panggil Indah sembari mendekati Kalila.


" Nanti malam tuan akan pulang bersama rekan bisnisnya, jadi kita diminta membuat hidangan untuk tamu itu." Ujar Indah lagi.


" Ya sudah kalau begitu, sebaiknya kita pergi belanja bahan-bahan yang diperlukan yang tidak ada dikulkas."


" Itu sih gampang, tapi masalahnya..."


" Masalahnya apa?." Tanyanya melihat raut gelisah diwajah Indah.


" Aku gak biasa masak yang banyak bumbu, soalnya biasanya tuan dan nyonya cuman minta disiapkan roti dan selai. Jadi aku gak bisa masak makanan berat." Ujar Indah dengan wajah ditekuk.


Kalila menggelengkan kepala sambil tersenyum, karena apa yang Indah katakan bukan masalah untuknya.


" Kalau itu kamu gak usah khawatir, aku bisa masak."


" Beneran?!."


" Iya, kalau kamu gak percaya, biar nanti aku masak kamu cobain deh."


" Ah syukurlah, aku kira kamu juga gak bisa masak kaya aku, ternyata bisa." Ucap Indah cengengesan.


Kalila menanggapi dengan senyuman, rasa tak sabar muncul dihatinya ingin melihat sosok tuan majikannya. Apakah dia pria yang sama, yang selama ini dibenci sekaligus dirindukannya.


' Apakah salah, jika aku berharap keajaiban mempertemukan aku kembali bertemu ayah.' Batinnya dengan setetes air mata yang membasahi pipi.


" Loh kok kamu nangis?." Tanya Indah terkejut.


" Eh gak papa, cuman kelilipan aja kayanya." Jawab Kalila segera mengucek matanya seakan ia benar-benar kelilipan.


" Beneran?."


" Iya. Ya udah yuk, kita belanja sekarang, nanti keburu sore." Ajak Kalila mengalihkan pembicaraan.


" Ya udah."


Setelah keduanya bersiap, mereka pergi dengan berjalan kaki menuju swalayan terdekat.


***


" Apa kau menemukan menantuku?." Tanya tuan Haris dengan suaranya yang masih lemah.


Saat ini, Keenan tengah berada dikamar ayahnya sepulangnya dari kantor.


" Belum, tapi aku pastikan tidak akan lama lagi."


" Papa sangat menyesali perilakumu yang tidak mendengarku. Jika saja kau lebih percaya pada istrimu dibandingkan sebuah foto, papa yakin sekarang hubungan kalian sudah membaik." Ujar tuan Haris dengan tatapan menerawang.


" Maafkan aku..."


" Temukan menantuku, dan kau akan mendapatkan maafku..." Balas tuan Haris.


***