My Husband, I Love You

My Husband, I Love You
Perjanjian, Lagi



Bukannya meraih gaun yang disodorkan Keenan. Justru Kalila menatap Keenan dengan penuh kebencian. Tatapan yang tak pernah diberikannya pada siapapun, apalagi pria yang ia cintai.


" Kenapa anda memberikan gaun itu, bukankah anda menganggap saya wanita mura*an. Seorang wanita penggoda, wanita malam, wanita penghibur, seorang ja*ang, dan... Ah! rasanya saya tidak bisa menyebutkan satu persatu." Ucap Kalila tersenyum miris dengan lelehan air mata yang membasahi pipinya.


Membiarkan tangan Keenan yang mengulurkan gaun menggantung diudara.


Keenan Alvaro Pardipta, seorang presdir yang begitu sempurna dimatanya. Seorang pria sial yang menikah dengan gadis penuh kekurangan seperti dirinya.


Tapi kenapa bisa begitu tega menjualnya sebagai wanita penghibur. Menjual dirinya seenaknya.


Dia miskin, tapi ia masih punya harga diri. Dia bukan wanita mura*an yang menjajakan tubuhnya kepada banyak pria. Dia bukan wanita yang suka mengobralkan tubuhnya secara suka rela.


Bagaimana seorang cerdas seperti Keenan, bisa berpikir sepicik itu. Bagaimana Keenan bisa berpikir hal yang sangat jauh dari realita.


" Maaf." Hanya itu yang bisa Keenan ucapkan, karena nyatanya semua ini berawal dari rencananya. Walau rencananya gagal total.


Padahal ia sendiri bingung, kenapa Kalila harus marah? Bukankah wanita itu sudah terbiasa bergonta-ganti pria? Dan mungkin yang ada dalam foto hanyalah salah satunya.


" Maaf? Anda tidak perlu minta maaf tuan Keenan yang terhormat. Bukankah anda sendiri yang sudah menjual saya kepada pria itu? Kenapa anda tak biarkan saja dia berlaku sesuai keinginannya."


Keenan mengernyit bingung, mendengar kata menjual yang dilontarkan Kalila.


" Siapa yang menjualmu?."


" Tentu saja seorang majikan yang berstatus suami saya, siapa lagi?." Jawab Kalila santai, walau hatinya tengah teriris oleh kata-katanya sendiri.


" Aku tak pernah menjualmu!." Sanggah Keenan. Karena itu memang kenyataannya.


" Benarkah? Lalu bagaimana ceritanya anda meminta saya memakai pakaian seperti ini." Ujarnya dengan menurunkan selimutnya.


Menunjukkan tubuhnya yang hanya dibalut linger seksi yang sama saja mengekspos tubuhnya.


" Pakai kembali selimutmu!." Titah Keenan. ia merasa tak nyaman dengan tingkah Kalila.


" Kenapa? Anda sendiri yang meminta saya memakai ini bukan? Untuk menjual saya pada pria tadi?." Ujar Kalila lagi.


Setiap kata yang ia keluarkan diucapkan dengan lantang, namun hatinya tengah hancur bagaikan kepingan kaca yang tak bisa kembali utuh.


" Aku tak pernah menjualmu!."


" Berhentilah mengelak tuan. Jelas-jelas pria tadi yang mengatakannya. Memang apa untungnya baginya jika dia berbohong."


' Sial, apa yang sibrengsek itu katakan.' Batin Keenan dengan tangan yang mengepal mengingat Devandra.


" Hah, sayang sekali tadi anda datang, jika tidak, kami pasti sedang bersenang-senang." Ujar Kalila memainkan kuku jari jempol dan jari kelingkingnya. Seakan dia benar-benar terganggu dengan kedatangan Keenan.


" Dasar wanita mura*an!."


Seketika tumpah sudah air mata yang sedari berusaha Kalila tahan, saat mendengar hinaan dari mulut suaminya sendiri.


" Yah, saya memang wanita mura*an, dan wanita mura*an ini adalah istri anda sendiri."


" Cih istri, kita tidak akan menikah jika kau tak menjebakku." Sinis Keenan.


" Hmm, bukankah saya hebat, berhasil menjebak seorang tuan Keenan yang terhormat." Ujar Kalila meladeni perkataan ngawur suaminya.


Toh, mencoba menjelaskan jika dirinya bukan wanita mura*an pada Keenan hanyalah hal yang sia-sia.


" Yah, kau memang wanita yang sangat licik." Ujar Keenan. Meskipun kini ia sedikit bingung dengan tingkah Kalila.


Mungkinkah ini sifat asli gadis ceroboh yang dikenalnya.


" Bagaimana jika kita buat perjanjian?." Tawar Keenan memikirkan sebuah ide.


" Katakan!." Ujar Kalila dengan angkuhnya, ia duduk dispfa yang berada disana, kemudian menyilangkan kakinya.


' Kau benar-benar berbeda.' Batin Keenan melihat cara bicara dan gaya Kalila. Ia hampir tak mengenali wanita didepannya.


Sedangkan Kalila yang menyadari arti tatapan Keenan tak ambil pusing. Harga dirinya sudah direndahkan oleh suaminya sendiri dengan dijual kepria lain. Lalu, apa lagi yang harus ia pertahankan?.


Keenan kemudian duduk disisi ranjang, posisi yang berhadapan dengan Kalila.


" Aku akan memberikan sebuah kompensasi padamu, jika kau mau meminta pada kedua orang tuaku untuk bercerai dariku."


DEG!!!


' Anda benar-benar ingin lepas dari saya tuan.'


" Hmm, sebuah kesepakatan ya? Kompensasi apa itu?." Tanya Kalila, ia sudah tak peduli dengan apapun lagi. Bahkan sebuah reputasi keluargapun tak ada, jadi kenapa harus takut untuk melakukan sesuatu?.


" Apapun yang kau mau, uang, rumah, bahkan jika kau mau, aku akan memberikan cabang perusahaanku padamu." Ujar Keenan dengan penuh keyakinan.


" Penawaran yang menarik, jika saya meminta hal lain lagi, apa anda akan menyanggupinya?." Tanya Kalila menantang.


" Katakan!."


" Aku ingin anda memberikan keperjakaan anda pada saya." Ujarnya santai dengan mamainkan kuku jarinya.


Sementara Keenan membulatkan mata terkejut.


" Kau pasti gila, apa kau pikir aku sudi menyentuhmu yang sudah dijamah puluhan pria!." Pekik Keenan marah, tak lupa dengan hinaan yang begitu menyakiti hati Kalila.


" Tidak! Atau... anda sudah tidak perjaka? Itu sebabnya anda marah. Ah sayang sekali, aku bukan wanita yang beruntung." Ujar Kalila setelah berusaha keras mengendalikan tangisnya yang ingin pecah saat itu juga.


" Apa maksudmu? Kau pasti ingin mengandung anakku bukan? Agar kau tetap bisa menjadi istriku untuk selamanya. Benar-benar tak-tik yang hebat." Cecar Keenan.


Yah, itu memang alasan Kalila meminta berhubungan dengan Keenan, dugaan Keenan sungguh tepat sasaran. Dia sudah membenci pria itu sejak kata menjual yang dilontarkan pria asing yang hampir menodainya.


Tapi, tak dapat ia pungkiri, masih ada rasa cinta lubuk hatinya yang terdalam.


Dia tak berniat menjadi istri Keenan lebih lama. Ia hanya ingin, jika suatu hari ia benar-benar harus pergi dari sisi pria itu, setidaknya, ada keturunan dari pria yang ia cintai dalam rahimnya.


Ia akan mengenang Keenan lewat anak itu. Walau tidak bisa bersama pria yang ia cintai, setidaknya ia tetap memiliki alasan untuk tetap ingin hidup.


Dia sudah tak punya siapa-siapa lagi, setelah bercerai dengan Keenan, ia akan kembali sendiri, tanpa hubungan keluarga dengan siapapun


Setidaknya, anak itu bisa menjadi penyemangat dalam hidupnya. Bisa menjadi anggota keluarganya yang mewarnai hari-harinya yang penuh dengan kesepian.


" Anda tenang saja, setelah anda memberikan apa yang saya minta tadi, saya akan pergi. Em, tentunya dengan segala penawaran yang tadi anda katakan selain perusahaan. Karena saya tak berminat dalam hal itu." Kalila masih bicara dengan santai, seakan dia adalah wanita yang tak memiliki hati.


" Apa jaminannya?."


" Buat surat perjanjian diatas materai, jika saya melanggar janji saya, anda bisa memenjarakan saya saat itu juga." Jawab Kalila lantang, ia yakin, ia tak akan kembali kehidup Keenan, karena dia akan pergi sejauh mungkin.


Keenan mengagguk, jawaban dari Kalila membuatnya puas.


" Lalu, bagaimana jika kau langsung hamil?." Pertanyaan yang juga mengganggunya.


" Anda tenang saja, hanya dalam sekali tak mungkin langsung jadi bukan?." Ujar Kalila dengan tawa yang dibuat-buat.


Sungguh bertolak belakang dengan hatinya yang tengah menjerit tangis.


" Jika aku melakukannya berkali-kali, bagaimana?."


***


Kuy beri like dan komennya, biar besok author crazy Up 😊