My Husband, I Love You

My Husband, I Love You
Cerita Dari Indah



" BERANI BERANINYA KAU MASUK KEKAMARKU!!!." Teriak Keenan membuat Alin yang sedang duduk didepan meja rias terkejut bukan main. Rasanya jantung serasa mencolos dari tempatnya.


" Ke-Keenan, kenapa kau mendobrak pintu? Kau bisa membukanya perlahan, lagian pintunya gak dikunci." Tanya Alin seraya bangkit dan menghampiri Keenan dengen takut, ia melihat amarah Keenan dengan jelas.


" Berhenti berpura-pura, kau tidak lebih dari ular berbisa." Geram Keenan dan berdecih dengan kasar.


" A-apa maksudmu sayang, apa yang kau katakan?." Alin berusaha menyentuh lengan Keenan, namun langsung ditepis dengan kasar.


Keenan tersenyum sinis, ia melempar bukti-bukti hubungan Alin dan Devan yang ia dapat dari ayahnya tadi.


Nafas Alin serasa tercekat, ia seperti kehilangan napasnya saat melihat foto yang berserakan dilantai itu.


Bagaimana bisa Keenan mendapatkan foto-foto itu? Padahal selama ini ia yakin jika Keenan tak tahu apapun tentang ia dan Devan.


" Keenan...?"


" APA?! Kau pasti terkejut bukan? Kau pasti tak mengira aku mengetahui kebusukanmu!."


Seperti tersadar dari rasa terkejutnya, Alin segera menyanggah semua foto itu.


" Keenan, ini tidak seperti yang kau pikirkan, semua foto ini hanya editan. Jangan percaya pada semua ini. Bukankah kau tau aku tak pernah berhubungan dengan siapapun selain kamu." Ujar Alin.


" Cih, kau masih saja tak mau mengakuinya, jika saja papa tak memberi tahuku, mungkin sampai saat ini aku masih termakan kebohonganmu."


' Sial, jadi tua bangka itu yang memberi tahu Keenan. Dari mana dia mendapatkan semua ini...' Rutuk Alin dalam hati.


" Pergi dari sini, dan jangan pernah kembali! Jika kau masih nekat, aku tak segan melaporkanmu kepolisi tanpa peduli dengan kondisimu yang sedang mengandung." Ujar Keenan menunjuk pintu yang masih terbuka.


Ia bisa saja langsung melaporkan Alin atas kasus penipuan, namun ia masih berbaik hati mengingat Alin adalah putri almarhum sahabat ayahnya.


Dan juga, wanita itu tengah mengandung, ia ingin Alin menyadari kesalahannya tanpa harus melahirkan dipenjara.


Alin yang merasa tak bisa lagi mengelak, terpaksa keluar dari sana dengan segala emosinya.


Seperginya Alin, Keenan mengatur napasnya, menstablikan dadanya yang naik turun karena emosi.


' Bagaimana bisa aku bisa tertipu oleh wanita itu.' Batinnya sembari memejamkan matanya, menyesali segala kebodohannya


***


Kalila baru saja selesai mengemasi kopernya. Mata sembabnya akibat menangis benar-benar tak bisa disembunyikan.


Harusnya hari ini adalah hari paling membahagiakan dalam hidupnya. Setelah kurang lebih tiga tahun berpisah, akhirnya ia kembali bertemu sang ayah.


Tapi melihat bagaimana ayahnya lagi dan lagi ingin menikah, membuatnya yakin jika ayahnya sama sekali tak pernah berubah.


' Dengan atau tanpa ijin darimu, aku akan tetap menikah dengan Lisa, dia pasti bisa memberikan aku keturunan.'


Kalila tersenyum sinis mengingat perkataan ayahnya saat berdebat dengan istrinya Rita.


' Kenapa itu kau jadikan alasan, bahkan dulu kau meninggalkan ibuku yang jelas-jelas sudah melahirkanku. Kau tetap meninggalkan kami, padahal ada aku diantara kalian...'


Kalila duduk diatas ranjang dengan memeluk kedua lututnya. Sungguh sakit mengingat pengkhianatan sang ayah.


' Tidak ada pria yang bisa bertahan hanya pada satu wanita. Mulai hari ini aku berjanji, tak akan membuka hatiku untuk pria manapun.' Batinnya memutuskan.


Jika ayahnya saja yang menikah dengan sang ibu atas dasar saling cinta saja bisa berkhianat. Apalagi pria yang hanya dicintainya dalam diam...


Ceklek...


Pintu yang tak terkunci itu terbuka, menampilkan seorang wanita yang tak lain adalah Indah. Wanita yang menjadi perantaranya bertemu dengan pria yang tak pantas disebut ayah.


" Kau baik-baik saja?." Indah bertanya dengan khawatir. Ia langsung duduk diranjang didepan Kalila.


" Aku tak pernah menyangka majikanku adalah ayahmu. Maaf membuatmu mengingat luka lama." Indah merasa bersalah, jika bukan karena dia, Kalila tak akan bertemu ayahnya.


Suara perdebatan yang tadi dilihatnya begitu terdengar jelas, jadi ia tahu betul apa yang terjadi.


" Kau tidak bersalah, jangan menyalahkan dirimu sendiri. Takdir membawaku bertemu denganmu dan datang kemari, aku percaya ini semua sudah jalannya." Ucap Kalila menatap Indah dengan wajah sembabnya. Ia tak ingin Indah merasa bersalah untuk apa yang terjadi.


Ia kemudian mensejajarkan kakinya duduk seperti Indah.


Indah memeluk Kalila, menjadi teman bersandar yang bisa Kalila andalkan saat ini. Walau mereka baru bertemu beberapa hari, tapi sifat Kalila membuatnya dengan cepat menyukai wanita itu.


" Lalu, apa yang akan kau lakukan sekarang?." Tanya Indah setelah pelukan keduanya terlepas.


Kalila menghela napas pelan.


" Aku akan pergi dari sini..." Jawabnya lirih.


" Apa kau yakin? Dari yang aku lihat tadi, aku yakin jika tuan Aldi sudah menyesali perbuatannya. Kau bahkan melihat dia memutuskan hubungan dengan pacarnya kan?."


" Hem, aku melihatnya... tapi itu tak membuatku merasa dia telah berubah. Waktu tiga tahun adalah waktu yang lama, tapi dia masih saja suka menyakiti hati istrinya."


" Tapi aku sudah lama bekerja dirumah ini, dan selama ini aku tak pernah melihat keharmonisan antara nyonya dan tuan." Indah mulai bercerita.


" Ya... mungkin kecuali saat nyonya Rita mengandung 9 bulan, tepatnya aku baru kerja. Yang aku lihat, tuan begitu menyayangi nyonya, mereka benar-benar romantis. Apalagi menunggu jagoan kecil yang sebentar lagi datang diantara mereka."


Mendengar akan punya adik, ada rasa bahagia dihati Kalila, walau itu tak jadi terjadi.


" Tapi semua itu berubah setelah anak yang baru beberapa hari dilahirkan nyonya diculik, belum lagi setelah melahirkan rahim nyonya diangkat. Mereka jadi sering bertengkar masalah anak dan anak."


" Setelah itu, pasangan romantis yang aku lihat sebelumnya menghilang. Yang ada hanya bertengkar dan bertengkar tiap harinya. Hah, mungkin kalau aku dapat kerja ditempat lain, aku akan keluar dari sini karena pusing dengerin pertengkaran mereka."


" Terkadang mereka juga membahas jika saja dia tidak meninggalkan anak dan istrinya demi nyonya, mungkin sekarang dia masih bahagia. Dan ternyata yang dimaksud adalah kamu dan ibumu."


" Tuan juga sempat ingin kembali kekalian, tapi myonya Rita mengancamnya akan bunuh diri jika tuan tetap pergi. Nyonya juga mengancam akan memenjarakan tuan atas kasus tabrak lari yang hanya diketahui mereka. Tuan tak bisa berkutik, karena semua buktipun ada ditangan nyonya."


" Mungkin karena itu, tuan juga jadi sering pergi keluar kota, kadang beberapa hari, minggu, bahkan bulan. Dan paling lama itu lima bulan. Mungkin ingin menghidar dari nyonya."


" Meskipun begitu, nyonya tetap berusaha memasang wajah ceria sebaik mungkin saat tuan pulang. Karena ia sadar ialah yang memiliki kekurangan, nyonya tak ingin tuan sampai berpaling, walau dengan cara apapun."


" Sampai dihari ini, tuan pulang dan malah membawa pacar. Mungkin jika tidak ada kamu, tuan akan benar-benar menikahi pacarnya dan menceraikan nyonya."


" Dari situ aku paham, kalau apa yang tadi tuan katakan itu berasal dari dalam hatinya. Dia ingin menikah lagi, karena ingin memiliki keturunan. Dia merasa menyesal karena telah meninggalkan kalian..."


Mendengar semua perkataan Indah membuatnya merasa prihatin, ternyata kehidupan ayahnya setelah meninggalkannya dan sang ibu tak semulus yang ia bayangkan.


***