
Dokter Rio mulai melakukan pemeriksaan pada Keenan yang tengah tertidur.
" Jadi dia sakit perut?." Tanyanya menatap Kalila, memastikan diagnosanya benar.
" Iya."
" Kenapa bisa sampai seperti ini, bukankah Keenan tak terbiasa makan pedas. Melihat Keadaannya seperti ini, dia pasti makan terlalu banyak pedas."
" Saya juga tidak tau pak dokter, saat makan siang, tuan Keenan makan bakso dipinggir jalan dan memberi baksonya banyak saus dan juga sambal."
" Dia makan bakso?." Tanya Rio terkejut.
" I-iya." Jawab Kalila gugup, melihat tatapan Rio seakan tak percaya dengan kata-katanya.
Ya, walau sangat wajar jika tidak akan ada yang percaya, jika seorang presdir makan bakso dipinggir jalan ditambah dengan banyak saus dan sambal.
" Hah, ada apa dengannya, setauku dia tidak suka makan dipinggir jalan?." Dokter Rio menggelengkan kepala. Tak paham dengan tindakan tuan sekaligus temannya itu.
" Baiklah, aku akan resepkan obat untuknya. Berikan padanya saat dia bangun."
Dokter Rio kemudian menuliskan resepnya.
" Aku pamit dulu, jika keadaannya tidak membaik, segera hubungi aku lagi." Dokter Rio kemudian melenggang pergi, diikuti bi Susi yang mengantarnya sampai depan rumah.
Kalila memutuskan membaringkan tubuhnya disofa. Keenan sedang sakit, siapa tau pria itu terbangun malam-malam dan butuh bantuannya.
Waktu menunjukkan pukul 01 dini hari saat Keenan membuka matanya.
Ia mengedarkan pandangan, dan melihat istrinya tengah tertidur disofa.
" Jadi dia tetap disini, aku kira dia pergi setelah aku tertidur." Gumamnya tersenyum, ternyata Kalila peduli padanya.
" Ah tunggu! Apa mungkin dia tetap berada disini karena perintahku? Hah, dia pasti sedang ingin aku kagum karena tindakannya. Dia tidak melakukannya karena benar-benar ikhlas." Lagi-lagi ia berpikiran buruk pada istrinya.
" Ah, kenapa aku lapar sekali?." Gumamnya menyentuh perutnya. Ia baru ingat jika sudah melewatkan makan malam.
Apalagi, saat makan siang dia malah makan bakso yang tak seberapa dengan saus sambal yang membuat perutnya bermasalah.
Karena perutnya benar-benar lapar, Keenan memutuskan untuk bangun. Ia menyibak selimutnya.
' Pasti dia yang menyelimutiku.' Pikirnya karena seingatnya ia tak berselimut saat tertidur.
Keenan beranjak dari ranjangnya, dan menuju pintu. Baru saja ia memegang handle pintu, suara itu bertanya padanya.
" Eh tuan bangun. Apa tuan butuh sesuatu?." Tanya Kalila dengan mengucek matanya. Ia segera bangkit dari sofa menuju tempat Keenan berdiri.
" A-aku hanya ingin keluar sebentar." Jawab Keenan. Ia merasa malu jika harus jujur kalau dia sedang lapar.
Krukk Krukk
" Mau saya masakan makanan yang baru, atau mau menghangatkan makanan untuk makan malam?." Tanya Kalila tersenyum tipis saat mendengar bunyi perut suaminya. Ia tak ingin suaminya malu jika dia tertawa.
Ia merasa jika Keenan benar-benar kekanak-kanakan, hanya untuk berkata sedang lapar dan ingin makan saja tak mau. Untung saja perut pria itu jujur pada waktunya.
" Hangatkan saja makanan untuk makan malam." Ucap Keenan. Dia sudah ketahuan lapar, jadi untuk apa tetap berbohong. Perutnya ini benar-benar membuatnya malu.
" Baiklah." Ucap Kanaya, ia membuka pintu, dan turun menuju dapur.
Keenan menuruni tangga, mengikuti Kalila kedapur. Ia duduk dimeja yang berada didekat dapur, memperhatikan Kalila yang mulai menyalakan kompor.
Sedangkan Kalila sendiri sibuk dengan kegiatannya, tak menyadari jika Keenan tengah memperhatikannya.
Setelah sudah hangat, Kalila menaruhnya dipiring, lengkap nasi beserta lauknya. Kemudian tak lupa ia juga menyiapkan air minum. Ia membawanya dengan nampan, ia berbalik, berniat kembali kekamar mengira Keenan tak turun.
Ia terkejut melihat Keenan sudah duduk manis dimeja makan yang ada didekat dapur. Dimana ia biasanya makan setelah suaminya kenyang.
" Saya kira tuan masih ada dikamar." Ucapnya menaruh nampan didepan Keenan.
Keenan tak menjawab, ia lebih fokus dengan aroma harum makanan didepannya.
Tak berapa lama, makanan dipiring sudah berpindah keperut.
" Anda mau lagi tuan?."
" Tidak." Jawab Keenan kemudian meneguk minumnya dan kembali kekamar.
Kalila membereskan meja setelah Keenan pergi.
" Aku kekamar tuan Keenan lagi, atau kekamarku saja ya? Sepertinya dia sudah baikan." Gumam Kalila tak tau harus kemana.
" Ah, aku akan coba kekamarnya dulu, jika dia sudah tertidur, aku akan kembali kekamar."
Tok...Tok...Tok...
" Tuan?." Panggilnya dari pintu yang tertutup.
" Ah, tidak menjawab, mungkin saja dia sedang tidur." Gumamnya berniat kembali kekamarnya. Namun sebuah suara mengejutkannya.
Prankk
Suara seperti kaca yang pecah. Kalila segera membuka pintu yang memang tak terkunci.
" Tuan!!!." Pekiknya terkejut melihat Keenan tergeletak dilantai dengan setengah sadar.
Pecahan gelas yang dibawanya berserakan dilantai. Mungkin pria itu ingin meraih gelas, tapi karena lemas tak sengaja menjatuhkannya hingga pecah.
Kalila segera mendekat, menaruh kepala Keenan dipahanya. Ia menyentuh dahi Keenan.
" Ya ampun, tuan Keenan demam." Gumamnya panik merasakan dahi Keenan panas.
Tak tau harus membangunkan siapa ditengah malam seperti ini, Kalila berusaha memindahkan Keenan keranjang dengan sekuat tenaga. Untungnya pria itu tak benar-benar pingsan, jadi Kalila tak bersusah payah membawanya.
" Tadi malam sakit perut, sekarang demam, kenapa anda jadi mudah sakit begini tuan." Gumamnya khawatir. Ia segera menyelimuti Keenan setelah pria itu terbaring sempurna diranjang.
" Jangan pergi..." Lirih Keenan lagi-lagi meraih tangannya saat ia berniat pergi.
" Anda tenang saja, saya hanya akan membuat air kompresan dulu, setelah itu saya akan kembali kemari." Ucap Kalila memberi pengertian.
" Tapi..."
" Hanya sebentar." Balas Kalila melepas pegangan tangan Keenan kemudian segera turun menyiapkan kompresan.
Tak berapa lama, ia kembali masuk kekamar. Kalila duduk disisi ranjang, kemudian mulai menaruh handuk kecil yang sudah dicelupkan keair hangat kedahi Keenan dengan hati-hati.
" Tetaplah disini..." Pinta Keenan masih setengah sadar.
" Anda tenanglah, saya akan tetap disini."
...
Keesokan harinya, Kalila sudah berada didapur. Ia sedang membuat bubur untuk suaminya yang sedang sakit.
" Eh Lila, kamu lagi buat apa? Tumben sepagi ini sudah masak?." Tanya Bi Susi yang baru keluar dari kamarnya.
" Ini bi, aku lagi buat bubur buat tuan Keenan. Dia sedang sakit, semalam saja tubuhnya sangat panas, jadi aku pikir untuk membuat bubur."
" Jadi tuan muda demam?." Tanya bi Susi terkejut.
" Iya, semalam tiba-tiba badannya panas, tapi aku sudah mengompresnya. Sepertinya sudah baikan, karena dia terlelap sampai sekarang."
" Ah syukurlah kalau begitu, bibi lega dengernya. Kamu memang istri yang baik." Ujar bi Susi membuat Kalila merasa miris. Statusnya adalah istri, tapi tidak dengan suaminya yang menganggapnya tak lebih dari seorang pelayan.
" Maaf ya Lil." Ujar bi Susi melihat raut wajah Kalila.
" Kenapa minta maaf? Aku gak papa kok." Ujar Kalila langsung merubah ekspresi wajahnya seratus delapan puluh derajat.
***