
Didalam mobil, Kalila meraih HPnya, dan mencancel ojek yang tadi dipesannya. Meskipun begitu, ia akan tetap membayar ongkos lewat transfer.
Kalila menatap Keenan dengan gugup. Suaminya itu terlihat biasa saja, seakan tak ada dirinya disini.
Ia bingung, kenapa Keenan memberinya tumpangan. Padahal biasanya juga Keenan akan berangkat lebih dulu.
Sedangkan Keenan yang sedang asik dengan ponselnya, juga sedang memikirkan hal yang sama dengan Kalila.
Ia sendiri tak tahu kenapa ia memberikan Kalila tumpangan. Apa karena melihat Kalila yang tulus merawatnya selama dia sakit? Apa karena itu ia sedikit bersimpati pada gadis itu.
Entahlah, ia sendiri tak mengerti dengan apa yang diinginkan hatinya.
Suasana didalam mobil benar-benar hening. Pak Gun yang fokus mengemudi, sedangkan sepasang suami istri yang berada dibelakang juga hanya saling diam, larut dalam pikiran masing-masing.
Hanya suara deruan mesin yang terdengar dimana-mana.
Beberapa menit kemudian, mereka telah sampai dipelataran kantor. Kalila segera membuka pintu mobil setelah mobil terparkir sempurna.
" Ada apa denganmu?." Tanya Keenan setelah dirinya keluar dari mobil.
" Saya tidak ingin ada yang melihat kita bersama tuan. Takut terjadi salah paham." Ujar Kalila menjelaskan.
Tanpa mendengar balasan Keenan, Kalila segera berlari memasuki kantor.
Keenan diam memandang Kalila yang semakin jauh. Entah kenapa, ada sesuatu yang mengganggu hatinya saat ini.
Ia merasa tak suka Kalila menyembunyikan sesuatu diantara mereka seperti saat ini.
" Sial! Ada apa denganku?." Gumamnya kesal dan langsung masuk kedalam kantor.
Seperti biasa, semua karyawan akan membungkuk hormat melihat kedatangan atasan mereka.
Keenan tak menanggapi setiap sapaan karyawannya, ia masih memikirkan soal Kalila yang terus mengusik hatinya.
" Tuan muda, anda berangkat, kenapa tak meminta saya kerumah?." Tanya sekretaris Jordi melihat tuannya saat berada didepan ruangan Keenan.
" Tidak papa, kau bisa memulainya besok." Jawab Keenan langsung masuk diikuti oleh sekretaris Jordi.
...
" Eh Lila, kemarin kok kayanya aku dengar suara pak presdir ya pas nelpon kamu?." Tanya Eko.
Saat ini Kalila, Eko dan Eva sedang makan bersama dikedai bakso yang sama saat Keenan ikut makan dan sampai sakit perut.
" Em, sebenernya aku jadi pembantu dirumahnya." Ujar Kalila.
Ia sengaja menjawab dengan kebohongan. Ia tak mungkin jujur, lagipula jika ada yang melihatnya bersama Keenan, mereka tak akan berpikir macam-macam karena mengetahui dia adalah pembantu Keenan.
" Serius?." Tanya Eva.
Kalila mengangguk mengiyakan.
" Terus kenapa pas pertama pak presdir dateng, kamu kaya gak kenal sama dia?." Tanya Eva bingung.
Kalila kelabakan mendengar pertanyaan Eva, bagaimana bisa ia melupakan hal yang satu ini.
" Itu... karena pas waktu itu aku belum kerja disana. Aku baru beberapa hari kerja disana." Jawabnya lagi. Menyembunyikan satu kebohongan dengan kebohongan yang lain.
" Kenapa kamu gak pernah cerita? Kamu gak nganggep aku sahabat?." Tanya Eva dengan bibir mengerucut.
" Eh, bukan gitu, ya... menurut aku itu bukan hal yang terlalu penting. Kita disini sebagai bawahannya, begitupun aku saat dirumah." Ujar Kalila merasa bersalah kepada sahabatnya itu.
" Apa dia baik sama kamu?." Tanya Eko.
" Maksud aku, ya diakan kelihatan dingin banget saat dikantor, apa dia juga seperti itu saat dirumah?."
" Ya sama saja." Jawab Kalila. Meskipun tentu saja, ada beberapa sikap yang berbeda antara dikantor dan rumah.
" Hah syukurlah, kalau kamu gak betah disana, kamu bisa bilang sama aku. Ada beberapa kenalan kalau kamu butuh pekerjaan tambahan."
" Iya makasih."
' Mungkin aku akan membutuhkannya setelah bercerai dengan tuan Keenan.' Batin Kalila miris.
" Oh ya, kok kamu diijinin kerja dikantor juga?." Tanya Eva.
" Yah karena dia tau aku salah satu OB dikantor. Lagipula kan sama-sama dia yang gaji." Ujar Kalila sekenanya.
Mereka kembali memakan bakso masing-masing, dengan sesekali diselingi obrolan ringan.
...
" Jadi dia benar-benar mengatakan jika dia adalah pembantuku." Gumam Keenan setelah mendapat laporan dari anak buah yang diutus Jordi untuk mengawasi Kalila.
Lagi dan lagi, entah kenapa ia merasa terusik Kalila menyembunyikan hubungan mereka yang sebenarnya. Padahal ia tahu betul jika hubungan mereka tak boleh diketahui oleh siapapun.
Keenan yang baru saja menyelesaikan makan siangnya didalam ruangannya itu hanya memandang setumpuk berkas dihadapannya dengan hampa.
Ada apa dengan hatinya? Tak seharusnya ia seperti ini, bukan?.
Pikirannya segera tersadar akan sesuatu. Ia segera meraih telpon kantor dan menghubungi sekretaris sekaligus asisten andalannya. Ia meminta Jordi keruangannya.
" Jordi, aku ingin kau menyelidiki lebih lanjut tentang kejadian dihotel. Kali ini aku ingin kau lebih teliti, jangan sampai ada yang terlewat." Titah Keenan setelah sekretaris Jordi masuk.
" Maksud tuan, kejadian anda dan nona muda?." Tanya sekretaris Jordi memastikan.
" Iya. Dan kali ini, pastikan jika tak ada satu detailpun yang terlewat. Aku tak akan membatasi waktunya, yang jelas, tidak ada hal yang boleh terlewatkan walau sekecil apapun itu."
" Tapi, kenapa anda ingin menyelidikinya lagi tuan?."
" Ada sesuatu yang harus aku pastikan."
' Lebih tepatnya perkataan papa.' Lanjutnya dalam hati.
" Baiklah, akan saya laksanakan." Ujar sekretaris Jordi tak bertanya lagi. Walau jawaban tuan mudanya sama sekali tak memuaskan.
***
Hari ini adalah hari minggu, Kalila tengah berkutat dengan peralatan dapurnya seperti biasa.
Setelah selesai, ia menghidangkannya dimeja makan. Tentunya karena Keenan sudah sembuh.
Tak berapa lama, Keenan terlihat menuruni anak tangga, dan duduk dimeja makan.
Keenan yang melihat makanan dimeja makan tersenyum sumringah. Baru sehari dia makan seperti orang vegetarian, sudah membuatnya benar-benar bosan.
Dan kini, didepannya bukan hanya sayur, ada juga daging dan makanan berbumbu lainnya. Ia tahu itu semua makanan Kalila.
Tapi entah sejak kapan, ia tak melarang walau Kalila yang memasak. Bahkan ia sangat menikmati setiap makanan yang Kalila buat. Mungkin lidahnya memang sudah sangat terbiasa dengan masakan buatan istrinya itu.
" Bibi!." Panggil Keenan melihat salah seorang pelayan.
" Iya tuan?."
" Panggilkan dia kemari!." Titahnya tanpa menyebut siapa yang dimaksud. Keenan benar-benar memaksa semua orang mengerti pikirannya.
" Nona muda." Ujarnya lagi dengan malas melihat pelayan yang masih saja berpikir.
Bahkan tanpa sengaja ia mengakui Kalila sebagai istrinya dengan memanggilnya nona muda didepan pelayannya.
" Baik."
Pelayan itu langsung pergi dari sana setelah membungkuk hormat.
Tak butuh waktu lama, Kalila sudah berada dihadapan suami sekaligus majikannya itu.
" Duduk!." Titah Keenan tanpa menoleh.
Kalila yang mendengarnya tak mengerti sama sekali. Duduk dimana yang dimaksud oleh Keenan.
" Apa kau tuli? Aku memerintahkanmu untuk duduk." Titah Keenan lagi dengan nada tegasnya. Melihat Kalila masih berdiri ditempatnya.
" Maksud tuan disini?." Tanya Kalila memastikan sembari memegang salah satu kursi disana.
" Hmm." Keenan menjawab dengan kesal. Ia tak suka banyak bicara untuk menjelaskan perintahnya.
Kalila duduk dengan ragu, masih tak mengerti maksud suaminya memintanya untuk duduk.
" Makanlah!." Titah Keenan lagi.
***