My Husband, I Love You

My Husband, I Love You
Tidak Akan Pernah Bercerai



" Dia wanita yang baik, dan akan selalu seperti itu, aku bahkan sangat menyesali kenapa aku dulu salah paham padanya."


Keenan kemudian menceritakan secara lebih detail bagaimana ia menjadi salah paham pada Kalila, yaitu karena obat perangsang.


Dia juga menceritakan bagaimana ia berusaha menjebak Kalila, dengan seorang pria gay yang berakhir, dengan dia tahu jika Kalila adalah wanita baik -baik. Dan keperawa*an Kalila saat ia meniduri wanita itu adalah bukti nyata.


" Lalu, kenapa dia mengatakan kebohongan itu. Dan siapa yang berada dalam foto-foto itu?." Tanya Sarah setelah mendengar penjelasan putranya.


" Itulah yang tak aku mengerti, kenapa dia berusaha membuat mama dan papa membencinya. Dan soal foto itu, aku yakin itu semua hanya rekayasa seseorang. Walau wanita itu sungguh Kalila, aku sudah membuktikan sendiri jika dia tak pernah berhubungan dengan siapapun sebelum aku."


" Ya Tuhan... mama merasa bersalah sudah menuduhnya yang tidak-tidak." Ujar Sarah mulai terisak karena sudah salah paham.


" Tenanglah ma, ini semua bukan salah mama. Mama tenang saja, aku dan dia tidak akan pernah bercerai." Ujar Keenan memeluk mamanya.


" Lalu, bagaimana dengan Alin, bukankah kalian tetap bersama walau kau sudah menikah?." Tanya Sarah mendongak memandang putranya seraya mengusap air mata dipipinya.


Mendengar pertanyaan mamanya, Keenan menjadi dibuat bimbang. Karena sekarang Alim sedang mengandung anaknya.


Apa yang harus ia lakukan?.


" Kenapa kau diam saja Keenan, jawab mama!."


" Aku akan mengurusnya, mama tenang saja." Ujar Keenan sengaja berbohong. Emosi mamanya yang sedang kurang stabil membuat ia belum bisa mengatakan yang sebenarnya.


" Ya sudah kalau begitu, kita lihat kondisi papamu."


Merekapun keluar dari sana, menuju kamar tuan Haris.


" Bagaimana keadaan papa?." Tanya Keenan.


" Om Haris memang sempat drop, tapi sekarang sudah jauh lebih baik. Sebaiknya, jangan katakan apapun yang membuatnya kembali shok. Atau keadaannya akan lebih parah dari ini, dan kemungkinan besar akan koma seperti waktu lalu." Jelas Dokter Rio yang memang memanggil dengan sebutan akrab pada keluarga Pradipta.


Sarah dan Keenan secara serentak menghela napas lega.


" Syukurlah."


Dokter Rio dan rekannya kemudian undur diri dari sana.


Setelah dokter pergi, Sarah duduk disisi ranjang tepat disamping suaminya. Sedangkan Keenan berdiri disampingnya.


" Maafkan mama pa, jika mama tidak gegabah mengatakan tentang Lila, papa pasti tidak akan seperti ini." Ujar Sarah menggenggam erat tangan suaminya.


" Ternyata menantu kita tetaplah wanita yang baik. Dia mengatakan kebohongan pada mama." Lanjutnya lagi kemudian menatap putranya.


" Keenan, cepatlah cari Lila, mama ingin meminta maaf padanya. Papamu juga pasti akan cepat sembuh dengan melihatnya." Ujarnya.


" Baiklah kalau begitu, tolong kabari aku jika papa sudah sadar." Balas Keenan.


Ia kemudian mengecup tangan mamanya dan keluar dari sana.


***


Disisi lain, Kalila sudah siap dengan kopernya. Hanya sedikit pakaian yang ia bawa, karena sebagian besar pakaiannya sudah dibawa kerumah Keenan.


Untung saja, saat kepindahannya kerumah Keenan, tak semua pakaian dibawa. Dan itu sangat berguna saat ini.


Dia tidak berani kesana walau hanya mengambil pakaian, dia takut sakit hati saat melihat kebencian dimata Keenan.


Dia akan pergi jauh dari kota ini, dan dia pastikan, kali ini Keenan tak akan bisa mencarinya. Yah, itupun jika suaminya berniat mencarinya.


Namun karena kota pelariannya sebelumnya sudah diketahui Keenan, ia memutuskan mencari kota tujuan baru.


Kalila yang sudah siap langsung menaiki ojek yang sudah dipesannya. Ia akan menuju keterminal.


Sesampainya diterminal, ia duduk terlebih dulu karena bus tujuan kota B belum akan berangkat.


Beberapa menit kemudian, bus siap berangkat. Kalila segera masuk dan duduk dikursi bagian belakang. Bus melaju, untuk kedua kalinya ia meninggalkan kota kelahirannya.


Kalila yang merasa kelelahan, memilih memejamkan matanya, apalagi hari juga sudah malam.


Beberapa jam berlalu, kini ia sudah sampai dikota B. Cahaya matahari yang muncul dengan malu-malu menunjukkan hari sudah pagi. Karena ibu kota memang cukup jauh dari kota dimana ia berada sekarang. Sehingga perjalanannya cukup lama.


Kalila membuka matanya saat merasakan bus berhenti. Ia segera turun dari bus.


Ia duduk diam saat orang-orang yang satu bus dengannya sibuk menuju tujuan masing-masing. Sedangkan dirinya hanya asal ikut, padahal dirinya tak punya tempat tujuan disini.


" Em bukan mbak."


" Terus?."


" Sebenarnya saya belum punya tujuan disini."


" Loh, kok nggak punya tujuan ikut kesini?."


Kalila tak menjawab, mana mungkin ia menceritakan masalahnya pada orang asing.


" Eh gimana kalau mba ikut saya aja!." Ujar wanita berkacamata itu.


" Kemana mbak?." Tanya Kalila.


" Saya kesini mau kerumah majikan saya. Saya sempet ambil cuti, dan sekarang baru mau mulai kerja lagi."


" Memangnya majikan mba butuh pembantu lagi?." Tanya Kalila dengan antusias. Ia juga tidak melihat hal aneh atau mencurigakan pda wanita itu.


" Ya sebenernya sih kayanya enggak, tapi siapa tau aja kan." Ujar wanita itu merasa bersalah memberikan harapan yang tidak pasti.


Kalila berusaha tak menunjukan wajah kecewanya, tapi benar juga kata wanita didepannya, 'siapa tau aja kan'.


" Ya sudah, kalau begitu saya ikut mba."


" Ok. Sekarang kita kenalan dulu dong. Namaku Indah." Ujar wanita bernama Indah itu mengulurkan tangan.


" Kalila." Kalila membalas menjabat tangan Indah.


" Ok Kalila, sekarang kita jalan kaki aja ya, rumahnya udah deket kok dari sini." Ujar Indah menunjuk sebuah arah.


" Iya."


Kalila berjalan mengikuti Indah. Ia merasa Tuhan berbaik hati padanya dengan mengirimkam Indah padanya. Sehingga dia tidak perlu terlantang-lantung terlalu lama dikota asing ini.


Sekitar 10 menit kemudian, mereka sudah berdiri didepan sebuah gedung megah. Namun tetap saja tak mengalahkan kemegahan rumah Keenan.


" Mbak Indah sudah dateng." Sapa seorang satpam.


" Iya nih pak Toni."


" Itu siapa mbak." Pak Toni menunjuk Kalila.


" Ini Kalila pak, dia lagi butuh pekerjaan, jadi aku bawa aja kesini." Ujar Indah memperkenalkan Kalila.


Kalila tersenyum sembari membungkuk tanda perkenalan.


" Emangnya tuan dan nyonya butuh pembantu baru?." Tanya pak Toni heran.


" Gak tau juga, tapi siapa tahukan."


Indah kemudian mengajak Kalila memasuki gerbang. Dan kemudian langsung disuguhkan rumah bercat putih bertingkat dua yang berdiri kokoh.


Mereka berdua masuk kedalam, Kalila sesekali mengedarkan pandangannya mengabsen setiap sudut.


" Selamat siang nyonya." Ujar Indah pada wanita paruh baya yang tengah duduk disofa ruang tengah dengan majalah ditangannya.


" Indah! Kamu sudah dateng." Ujar wanita itu.


Saat pandangannya melihat Kalila, ia langsung menautkan alisnya.


" Dia siapa In?."


" Oh dia, namanya Kalila. Tadi saya ketemu dia pas turun dari bus. Dia gak punya tujuan disini, jadi saya bawa aja kemari." Ujar Indah menjelaskan.


" Hem, kamu bisa nyuci? Masak? Atau pekerjaan lainnya?." Tanya wanita itu mendekati Kalila yang menundukkan kepalanya.


" Saya bisa nyonya, saya sudah biasa bekerja seperti itu." Jawabnya mantap.


Wanita itu manggut-manggut.


***