
" Wah, yang ini bagus nih. Mama mau kamu pakai gaun yang ini saja." Ujar Sarah pada Kalila.
Mereka tengah memilih aneka model gaun untuk resepsi pernikahan, duduk diruang keluarga. Sedangkan para pria sedang berkumpul diruang kerja Haris, karena hari ini adalah hari minggu.
" Gimana? Kamu suka?." Sarah menunjukkan gambar gaun yang ia suka.
" Terserah mama saja, Lila ikut saja."
" Aduuh, jangan gitu dong. Kamu ini mempelainya, kalau kamu gak suka yang bilang aja."
" Iya." Kalila tersenyum, merasa beruntung memiliki mertua sebaik mama Sarah. Kadang pikirannya kembali menerawang, teringat akan kejadian yang menyebabkannya menikah dengan Keenan.
" Jadi gimana? Gaun ini kamu suka?." Sarah kembali menunjukkan gambar tadi.
" Suka."
Sarah tersenyum lebar, ia kemudian melihat-lihat gambar lainnya, siapa tau ada yang lebih bagus.
" Eh! ayah?." Kalila tersentak melihat ayahnya.
" Lila, ayah mau pulang dulu ya."
" Loh kenapa tidak menunggu acara resepsi?." Tanya Kalila, sedangkan Sarah memilih diam.
" Ayah akan kesini lagi nanti, ayah ingin menyelesaikan urusan dengan mama Rita."
Seketika Kalila berdiri mendengar mama Rita. Ia khawatir ayahnya akan kelepasan emosi pada mama tirinya.
" Ayah..."
" Jangan khawatir, ayah hanya akan menegurnya sedikit." Ucap Aldi mengetahui arti wajah khawatir putrinya.
" Tapi yah..."
Aldi tersenyum.
" Ayah akan segera kembali sebelum resepsi pernikahanmu."
" Baiklah."
" Ayah tidak perlu pulang untuk menemui mama Rita." Ucap Keenan yang tiba-tiba datang.
" Apa maksudmu nak?." Aldi bertanya bingung.
" Ayah cukup temani istriku disini, dia pasti masih merindukan ayah."
" Tapi.."
" Aku yang akan membawa mama Rita kemari."
Baik Kalila maupun Aldi tersentak kaget.
" Apa maksudmu?." Tanya Kalila.
" Mama mu sedang dalam perjalanan kemari, mungkin sebentar lagi akan sampai."
Flash Back On
" Bawa ibu tiri istriku kesini, aku ingin dia meminta maaf pada istriku!." Titah Keenan pada sekretaris Jordi sesaat setelah Kalila tertidur.
Ia tahu, jika ayah mertuanya pasti akan pulang untuk mengurus istrinya yang licik. Dia sengaja membawa Rita, agar wanita itu paham, dengan siapa dia berhadapan.
Dia ingin, Rita menyadari jika sampai berniat menyakiti Kalila lagi, maka Rita akan berhadapan dengan keluarga Pradipta.
" Dan pastikan, kau beri dia peringatan, agar tak lagi mengusik istriku!." Lanjutnya lagi penuh ketegasan, teringat istrinya hampir dilecehkan membuatnya sangat marah.
" Baik tuan."
" Pastikan besok dia sudah sampai disini!." Titahnya kemudian memutuskan telepon sepihak.
Flash Back Off.
Baru saja Keenan selesai berbicara, dari arah pintu utama, sekretaris Jordi berjalan dengan perempuan paruh baya yang tak lain adalah Rita.
Aldi menatap istrinya penuh murka. Jika sekarang ia tidak berada dikediaman besannya, dia pasti sudah lepas kendali.
Rita yang melihat raut wajah suaminya hanya bisa terdiam dengan perasaan yang campur aduk.
Sungguh!
Dia sendiri merasa sangat-sangat terkejut, saat tau Kalila sama sekali tak dibeli oleh pria hidung belang. Tapi justru oleh Keenan Alvaro Pradipta, pria yang katanya adalah ayah dari bayi yang Kalila kandung.
Tapi jika teringat kekuasaan keluarga Pradipta, ia kemudian memahami hal itu. Keenan akan dengan mudah mengetahui segalanya. Walau ia sendiri tak mengira, jika ternyata Keenan mencintai anak sambungnya.
Sungguh!
Ia menyesali kecerobohannya.
" Maaf..." Satu kata itu akhirnya terucap, setelah Rita menyiapkan mentalnya.
Selain karena sekarang dia adalah orang yang bersalah, dia juga gugup berhadapan dengan keluarga terpandang.
Keluarga yang sebelumnya ia tahu hanya lewat media berita, seperti tv, koran, ataupun media sosial.
" Maaf katamu!." Aldi berucap dengan tak terima.
Kalila segera meraih lengan ayahnya saat Aldi berniat mendekati Rita.
Ia menggelang, tanda tak ingin ayahnya emosi.
Aldi hanya bisa menghela napas, berharap ia bisa melakukan apa yang putrinya inginkan.
Sarah dan Keenan yang melihat sikap Kalila tersenyum, merasa bangga karena memiliki menantu dan juga istri yang sebaik Kalila.
" Boleh ayah bicara berdua dengannya?." Tanya Aldi pada Keenan, sekaligus pada putrinya dan juga besannya.
" Silahkan. Ayah bisa memakai ruang kerjaku."
Aldi mengangguk kemudian berterima kasih. Ia kemudian menarik paksa lengan istrinya menuju ruang kerja Keenan, yang ia ketahui saat mengobrol dengan menantunya.
" Kenapa kau tega melakukan ini pada Kalila?!. Dia putriku! Jika kau tidak menyukainya, katakan padaku! Jangan bersikap sok baik, tapi kau berusaha menyingkirkannya dari kehidupanku!." Teriak Aldi penuh emosi. Ia bebas mengeluarkan unek-uneknya sekarang, karena ia tau ruang kerja menantunya itu kedap suara.
" Maaf." Lagi-lagi hanya kata itu yang terucap dari bibir Rita.
" Kalila adalah putriku, kau tahu itu! Mungkin dulu, saat aku memutuskan meninggalkannya dan Nilam, aku merasa tak menyayanginya. Tapi sekarang, aku sadar, jika aku sangat menyayanginya. Dia putriku, satu-satunya anak kandungku." Suara Aldi terdengar lemah, sebuah rasa bersalah lagi-lagi muncul. Jika saja ia tak menikah lagi, Kalila tak akan mendapat ibu tiri seperti Rita.
" Aku sungguh minta maaf, aku tidak pernah menyangka jika Kalila..."
" Kau hanya meminta maaf karena kau tau Kalila adalah istri tuan Keenan? Iya? Karena dia diterima oleh keluarga terhormat!." Potong Aldi dengan cepat.
Rita menunduk diam, karena yang Aldi katakan 60 persen benar.
" Apa itu artinya, jika pria yang menjadi ayah cucuku bukan tuan Keenan, kau tak akan meminta maaf?." Kecam Aldi lagi dengan perasaan kecewa.
" Bukan begitu, tapi..."
" Tapi apa! Kau mau bilang kau berniat minta maaf setelah membuat Kalila dilecehkan pria hidung belang? Aku yakin, kau sangat marah karena rencanamu gagalkan?."
" Oh tidak! Rencanamu tak sepenuhnya gagal, karena kau tetap mendapat uang yang kau mau!." Lanjutnya dengan sinis.
" Aku mohon maafkan aku, aku sungguh menyesal mas..." Ucap Rita yang mulai terisak, mendengar bentakan demi bentakan yang Aldi lontarkan.
" Jika Lila tak diselamatkan tuan Keenan, aku tak bisa lagi membayangkan apa yang akan terjadi padanya." Lirih Aldi dengan pandangan kosong, perasaan kecewa akan sikap istrinya begitu besar.
Rasa bersalah akan pengkhianatannya pada sang istri pertamapun kini bertambah.
" Aku tau mas, maafkan aku...hiks...hiks.."
" Kau mungkin hanya ibu tiri, tapi bisakah kau tidak seperti ibu tiri kebanyakan yang membenci anak tirinya? Apa karena kau tak tau rasanya jadi ibu? Itu sebabnya kau tega pada Lila."
Rita yang semula menunduk dengan tangis seketika mendongak, ia menatap suaminya dengan sedih.
" Apa kau lupa mas? Aku pernah menjadi seorang ibu. Walau hanya beberapa hari, aku juga seorang ibu. Aku merasa kehilangan setelah anak kita hilang. Aku seorang ibu mas!." Pekik Rita tak terima mendengar Aldi mengatakan ia tak tahu rasanya menjadi ibu.
" Cih! Itulah yang ku maksud. Kau pernah menjadi seorang ibu, seharusnya kau punya sedikit hati nurani untuk menerima putriku, walau hanya sebagai ibu tiri." Aldi menyindir Rita dengan telak.
Wanita itu diam tak berkutik. Ia menyadari kesalahannya. Hanya karena rasa cemburu butanya pada istri pertama suaminya yang bahkan sudah tiada, dia sudah melukai putrinya. Ya, Kalila adalah putrinya, walau sekedar....tiri.
" Aku ingin kau minta maaf pada Lila." Ucap Aldi kemudian.
" Akan aku lakukan mas."
***