
Mendengar Keenan memesan hotel, makin berdebarlah jantung Kalila. Bahkan ia tak berdiri dengan baik karena gemetaran.
Tak butuh waktu lama, pegawai tadi kembali dengan sebuah card lock.
Ia kemudian masuk kedalam lift, menuju lantai dimana kamarnya berada.
" Masuklah!." Titahnya saat sudah membuka kamar VIPnya itu.
Kalila menurut, bukan hanya raut gugup, rona malupun kini muncul diwajahnya, membayangkan hal apa yang akan terjadi selanjutnya.
" Eh tuan mau kemana?." Tanpa sadar ia berani bertanya saat melihat Keenan berbalik pergi.
" Ada urusan yang harus ku selesaikan." Jawabnya.
" Mereka akan membantumu bersiap." Ujarnya lagi menunjuk seorang dua pelayan wanita dengan salah satunta memegang nampan berisi minuman ditangannya.
Setelah mengucapkan kalimat ambigu itu, Keenan pergi entah kemana.
" Mari nona, saya akan membantu anda bersiap." Ujar pelayan dengan sopan setelah menaruh nampannya.
" Bersiap?." Kalila mengenyit tak paham. Tadi siang ia baru saja dimake over selama dua jam disalon. Lalu kenapa harus bersiap? Memangnya akan kemana lagi mereka.
" Kami hanya menjalankan perintah, mohon kerjasamanya." Ujar pelayan yang satunya karena mereka memang tak tau maksud Keenan memerintah.
" Hah, baiklah..." Kalila pasrah.
" Kalau begitu, pertama anda mandi dulu, biar kami bantu."
" Eh gak usah, aku bisa mandi sendiri!." Cegah Kalila. Memang sesama perempuan, tapi ia tetap saja malu telanjang didepan orang lain.
" Tidak papa nona, itu memang tugas kami." Timpal yang satunya.
" Tidak...tidak...aku bisa sendiri." Keukeuhnya dan menuju kamar mandi disana.
" Yang benar saja mandi saja dibantuin, emangnya bayi apa." Gerutunya dibalik pintu kamar mandi merasa tak habis pikir.
Kalila segera memulai mandinya, ada bagusnya juga dia disuruh bersiap. Tubuhnya memang sudah lengket karena keringat.
Hanya butuh 15 menit, Kalila sudah selesai dengan mandinya.
" Silahkan memakai baju ini nona." Ujar pelayan memberinya sebuah pakaian.
" Baik." Kalila menurut tanpa bertanya. Toh mereka hanya akan menjawab hanya melaksanakan perintah.
Kalila kembali kekamar mandi untuk memakai pakaian disana.
" Hah! Yang benar saja...apa aku benar-benar harus memakai pakaian ini." Pekiknya terkejut. Pasalnya pakaian yang diberikan padanya seperti jaring laba-laba. Sangat tipis dan terkesan transparan. Ditambah lagi warnanta merah menyala.
Sungguh, ini bukan tipe pakaian yang ingin dia pakai!.
Ia segera membuka pintu kamar mandi, kepalanya melongok keluar, dilihatnya dua pelayan tadi yang berdiri didepan kamar mandi.
" Apa aku sungguh harus memakai pakaian ini. Atau jangan-jangan kalian salah memberiku pakaian?." Tanya dengan nada putus asa menunjukan kain rombeng itu ditangannya.
" Iya nona, anda memang harus memakainya, kami tidak salah mengambilkan. Karena itu perintah langsung dari tuan Keenan."
Dengan kesal ia kembali menutup pintu.
' Kalau pakaiannya seperti ini sih, artinya tuan Keenan tak berniat mengajakku kemanapun. Tapi kenapa harus repot siap-siap.' Batinnya masih memandang lekat gaun ditangannya.
" Ah tunggu!." Tiba-tiba ia terpikir sesuatu.
Keenan membawanya kehotel, mungkin suaminya itu akan meminta haknya. Dan kenapa dia harus bersiap, tentu saja agar sempurna di....
Malam pertama mereka...
Seketika wajahnya merah layaknya tomat, ia malu luar biasa.
Seketika iapun semangat mengenakan jaring laba-laba itu.
Ia pun keluar dengan melipat tangannya didada, karena bagian itu benar-benar terekspos.
Setelah selesai merias Kalila, dua pelayan pamit pergi.
Kini Kalila tengah duduk disofa kamar itu. Jantungnya sungguh berada ditingkat tertinggi dalam berdebar. Kalau punya riwayat jantung, mungkin dia sudah kena serangan jantung sekarang.
Detik berganti menit... menit berganti jam... tak terasa sudah dua jam ia duduk diam dalam kamar. Untungnya ia makan siang agak sore, jadi ia belum terlalu lapar sekarang. Karena jika ia makan siang tepat waktu, pasti dia sudah sangat kelaparan sekarang.
Kalila mengusap-usap tubuhnya, ia merasa kedinginan karena baju tipisnya. Ia juga tak melihat remot AC yang terus menyala.
" Tadi disuruh bersiap, sekarang malah belum kembali. Apa aku yang berharap terlalu cepat ya... lalu untuk apa semua ini." Gerutunya menatap dirinya sendiri yang sudah seperti wanita malam karena gaun laba-laba dengan warna merah menyala yang ia kenakan.
Sebuah langkah kaki terdengar, mungkin itu adalah Keenan, seketika wajahnya ceria, ia berdiri bersiap menyambut suaminya...
Ceklek
Pintu terbuka...menampilkan seorang laki-laki.
DEG!!!
Laki-laki yang masuk kekamarnya bukanlah Keenan, suaminya. Melainkan pria lain yang wajahnya sangat asing bagi Kalila.
" Kenapa anda masuk kekamar saya, anda siapa?." Tanya sembari melangkah mundur, karena pria asing itu semakin mendekat padanya.
" Kau tidak perlu tau siapa aku, yang jelas, aku kemari karena perintah suamimu..." Ujarnya dengan tatapan mesum, memandangi setiap lekuk tubuh Kalila yang begitu jelas. Kemudian menutup pintu dengan rapat.
Kalila yang menyadarinya segera berlari kekamar mandi, masuk kesana dan segera menguncinya.
Ia gemetar ketakutan, bagaimana bisa ada pria asing masuk kekamarnya, tepatnya kamar suaminya.
Bukankah seharusnya ini kamar VIP dimana tak sembarang orang bisa masuk, apalagi tanpa ijin?
Seketika Kalila menangis tersedu, mungkinkah yang dikatakan pria asing tadi benar? Jika Keenan suaminyalah yang meminta pria itu kemari.
Inikah alasan kenapa Keenan bersikap baik padanya sejak keluar kantor?. Pergi kesalon, restoran, dan sekarang ia memakai pakaian jaring ini karena perintah Keenan.
Apakah ini maksud kejutan sesungguhnya yang Keenan katakan saat direstoran. Inilah hukuman yang sebenarnya karena ia sudah memecahkan vas kantor?.
Kalila luruh dengan bersandar pada pintu, ia tak menyangka, benar-benar tak menyangka jika suaminya begitu tega padanya.
Pantas saja ia disuruh memakai pakaian layaknya wanita malam. Karena suaminya memang akan menjadikannya wanita malam untuk pria asing itu.
" Hiks...Hiks...Hiks..., kenapa anda sekejam ini pada saya tuan... walau pernikahan kita karena kesalah pahaman itu, bukan berarti saya adalah wanita seperti itu...." Lirihnya disela tangis. Ternyata suaminya sendiri menganggapnya wanita mura*an.
Sedangkan pria yang berada diluar mengetatkan rahangnya marah.
" Hei! Keluar kau! Kenapa kau malah bersembunyi? Bukankah kau memakai linger itu karena ingin menyambutku? Cepat keluar!." Teriak pria itu sembari menggedor pintu.
Tak ada kata yang didengarnya selain isakan tangis.
" Kenapa kau menangis? Harusnya kau sudah siap bukan? Bukankah suamimu sendiri yang memintamu berdandan? Jangan salah paham... dia tak berniat menyentuhmu, dia memintamu bersiap agar aku puas menikmatimu. Ha...Ha...Ha.." Tawa pria itu menggelegar memenuhi kamar. Sayangnya kamar VIP itu kedap suara, jadi tidak ada yang tau apa yang terjadi.
" Cepat buka pintunya!!! Atau aku akan mendobraknya dengan paksa."
Kalila tidak memperdulikah segala perintah tak jelas pria itu, ia terlalu sakit hati mendengar jika suaminya sendiri yang memberikannya pada pria lain. Kini pemikirannya semakin dibenarkan...
" Anda kejam tuan!... anda kejam!... saya bukan wanita seperti itu... saya bukan wanita yang memberikan tubuhnya pada pria yang bukan suaminya..." Lirihnya entah pada siapa. Karena pria yang berada diluarpun tak mendengarnya.
***
Selamat tahun baru readers semua 🎉🎉🎉
Semoga ditahun yang baru ini, segala keinginan dan cita-cita kita yang belum tercapai segera terwujud.
Dan kita menjadi manusia yang lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya.
Dan jangan lupa untuk tekan like, komen dan vote nya ya...
LOVE YOU ALL 😘😘😘