
" Bagaimana dengan Devan dan Alin?." Tanya Keenan saat sudah berada diruang kerjanya jika dirumah orang tuanya.
" Tuan Devan sudah mendekam dipenjara dengan hukuman seumur hidup tuan. Sedangkan nona Alin juga sudah menerima semuanya, bahkan nona Alin menitipkan permintaan maaf untuk anda dan nona muda." Jelas Jordi.
Keenan menghela napas lega.
" Lalu bagaimana dengan si Eko Eko itu?." Tanyanya dengan raut wajah tak suka.
" Dia selalu diberi banyak pekerjaan, jadi tidak ada waktu untuk mengunjungi nona muda."
" Bagus. Jangan memberinya ijin jika dia memintanya, aku tak ingin dia menemui istriku." Titah Keenan dengan tegasnya dengan raut cemburu yang tak bisa disembunyikan membuat Jordi tertawa geli dalam hati.
' Rupanya anda sudah bucin pada nona muda, tuan.'
" Kenapa kau tersenyum, ada yang lucu?." Sentak Keenan melihat Jordi terlihat menahan tawa.
" Ti-tidak tuan, saya hanya mengingat sebuah hal yang lucu saja." Jawab Jordi menundukan kepala melihat raut tajam tuannya.
***
Satu hari kemudian.
" Lila sayang." Panggil Rita pada Kalila yang tengah duduk ditaman.
Kalila menoleh, tersenyum pada ibu tiri yang ia anggap baik hati itu.
" Hari ini, mama mau ngajak kamu jalan-jalan. Kamu mau ya?."
" Tapi Lila merasa lemas ma." Jawab Kalila yang memang tubuhnya sedang sangat lemas karena tidak ada nasi atau makanan pokok sejenisnya yang masuk ketubuhnya.
" Makanya itu mama mau ngajak kamu jalan-jalan, biar ibu hamil kaya kamu gak suntuk dirumah terus." Rita memaksa, pasalnya dia merencanakan sesuatu untuk anak tirinya itu.
Akhirnya Kalila mengangguk, ia pikir apa yang dikatakan mama Rita ada benarnya. Selama disini, ia belum pernah pergi kemanapun.
" Ya udah kalau gitu, yuk mama bantu siap-siap." Ujar Rita bersemangat. Rencananya pasti akan berhasil.
" Eh gak usah ma, Lila bisa sendiri."
" Udah gak papa."
" Oh ya, kamu minum obat ini ya." Rita menyodorkan sebutir tablet.
" Untuk apa ma?."
" Ini obat pereda mual untuk ibu hamil. Biar nanti mual kamu gak kumat pas kita jalan-jalan."
" Ooh."
Beberapa saat kemudian.
" Kita mau kemana ma?." Tanya Kalila saat mereka sudah dalam perjalanan.
" Kamu liat aja nanti, pasti kamu suka." Rita menjawab dengan senyum lebar.
Tiba-tiba Kalila teringat kejadian dimana Keenan membawanya keluar kantor. Pria itu tak mengatakan akan kemana, dan berakhir dengan malam dimana menjadi alasan adanya janin dirahimnya.
Mengingatnya membuat Kalila merasa was-was, berusaha menerka-nerka kemana mama Rita membawanya.
Beberapa menit kemudian, Rita menghentikan mobilnya didepan sebuah hotel.
Ia menatap Kalila yang tertidur pulas dengan menyeringai. Berkat obat tidur yang ia berikan, kini gadis itu akan terlelap sampai ia berhasil dengan rencananya.
Dia memanggil anak buah dari pria hidung belang yang akan membeli Kalila.
Ya, dia menjual anak tirinya pada pria hidung belang. Menjadikan Kalila seperti seorang ja****.
Selain tak perlu lagi menahan kesal karena melihat Kalila dirumahnya, ia juga akan mendapat uang yang banyak.
" Setidaknya kau berguna setelah lama menumpang hidup dirumahku." Gumamnya sinis.
Tak lama kemudian, yang ditunggu akhirnya datang. Seorang pria berbaju serba hitam dengan wajah yang tertutup masker dan kaca mata.
Pria membawa Kalila masuk kedalam hotel, dengan Rita yang mengikuti.
Tentu saja urusannya belum selesai, sebelum ia menerima uang yang dijanjikan sihidung belang.
' Hanya pengawal saja pakai masker dan kaca mata segala.' batin Rita.
" Akan saya hubungi."
Pria itu menjauh dan menelpon bosnya.
" Bos saya sudah mentransfer uangnya." Ucap pria itu setelah menutup telepon.
Rita yang mendengarnya langsung sumringah. Dia mengecek m-bankingnya dan melihat angka delapan angka 0 yang ada direkeningnya.
' Lumayan, laku seratus juta." Gumamnya puas.
Dia mendekati Kalila yang masih terlelap diatas ranjang.
" Selamat tinggal anak tiriku sayang... ibu akan pergi dari sini. Jadi anak yang baik ya, layani majikanmu dengan benar." Ujarnya dengan wajah sedih yang dibuat-buat, tak lupa dengan seringaian diakhir kalimatnya.
Setelah puas, dia pergi dari kamar hotel itu.
Setelah Rita pergi, seorang pria berjas dari arah balkon masuk kedalam kamar.
" Keluar!." Titahnya pada pria tadi membawa Kalila yang merupakan anak buahnya.
" Baik tuan."
" Aku memaafkanmu sudah menyentuh Lila-ku. Jangan ulangi kesalahanmu."
Pria berbaju hitam yang tak lain adalah Jordi menghela napas. Dia juga membawa nona-nya atas perintah tuannya. Lalu kenapa dia yang disalahkan?.
" Tentu tuan." Hanya itu jawaban yang keluar dari mulutnya. Kemudian membungkuk hormat meninggalkan tuan dan nona mudanya.
Keenan memandang Kalila dengan lekat, dia tidak menyangka Rita akan melakukan hal sejahat ini.
Andai dia tidak mendapat pesan dari Indah, dia tidak akan bisa menyelamatkan Kalila dari keserakahan ibu tiri istrinya itu.
Flash Back
Keenan yang memang sedang dalam perjalanan kembali kekota B, mendapat telepon dari Indah.
Jika mertua tirinya membawa Kalila. Dia yang memang meminta Jordi untuk ikut, meminta asistennya itu segera menyabotase rencana Rita.
Jordi membawa pria yang berniat membeli Kalila, kemudian membawanya kehadapan Keenan.
Jordi yang dengan cepat mengetahui semua tentang pria itu, membuat Keenan dengan mudah mengancam akan membeberkan semua skandal pria itu yang terlibat narkoba dan korupsi.
Dengan begitu, pria itu dengan mudah menurut untuk bekerja sama dengannya.
Flash Back Off
Hingga disinilah Keenan berada, menjadi suami yang membeli istrinya sendiri dari mertua tirinya.
Tapi tentu saja dia tidak akan tinggal diam dengan apa yang Rita lakukan.
Dia sudah merekam semua adegan dikamar hotel yang membuktikan Rita menjual Kalila.
" Aku akan membawamu kembali kerumah, bertemu mama dan papa." Ucapnya kemudian duduk disamping Kalila yang tertidur.
" Apa kau tau? Mereka sangat merindukanmu, tak sabar ingin segera bertemu. Mereka sangat bahagia, saat mendengar jika mereka akan segera menjadi opa dan oma." Ucapnya lagi.
" Maafkan aku, maafkan aku yang selama ini menyakitimu. Ijinkan aku memperbaiki semuanya dan memulai hubungan kita dari awal. Aku akan berusaha, menjadi suami sekaligus ayah yang baik untuk kalian." Keenan mengelus perut rata istrinya, kemudian mengecupnya penuh sayang.
" Aku memang manusia bodoh, yang tak mau mengakui rasa cintaku. Aku terlalu bodoh sampai percaya jika wanita yang aku cintai adalah wanita murahan." Keenan membelai rambut Kalila.
" Tapi aku sudah sadar, Lila-ku tak pernah menjadi wanita murahan. Lila-ku adalah wanita yang terhormat, ceria, ramah, dan rendah hati."
" Aku mencintaimu... istriku, calon ibu dari anakku, Kalila Alvaro Pradipta." Gumamnya lirih dengan air mata yang menetes.
Ia kemudian mengecup kening istrinya penuh cinta.
Keenan kemudian meminta Jordi menyiapkan mobil, untuk segera kembali keibu kota. Dia tidak bisa menunda lebih lama untuk membawa istrinya.
Dia akan mengurus tentang ayah mertuanya nanti, dan tentu saja sang ibu mertua tiri.
Tanpa Keenan sadari, Kalila mendengar setiap perkataannya.
***