
" Saya ingin nak Keenan dan Lila menikah lagi." Ujar Aldi saat keluarga tengah berkumpul setelah makan malam.
" Ya, saya mengerti. Saat pernikahan pertama mereka, anda tidak ada, padahal anda adalah walinya." Sahut Haris yang diangguki dengan senyuman oleh Aldi.
" Maafkan ayah nak, karena tidak bisa menjadi wali saat pernikahanmu dulu." Ujar Aldi pada putrinya yang duduk berdampingan dengan menantunya.
" Jangan ingat kenangan pahit yang dulu yah. Kita buat saja kenangan baru yang penuh dengan kebahagiaan."
" Ya sudah, kalau begitu, acara ijab kobul akan diadakan saat pagi, dan malamnya resepsi. Bagaimana?." Usul Sarah yang diangguki oleh semua.
***
" Saya terima nikah dan kawinnya Kalila Wulandari binti Aldi Hermawan dengan seperangkat alat sholat dibayar tunai!."
" Bagaimana para saksi?."
" SAH!." Teriakan penuh suka cita dari para undangan yang hadir membuat suasana haru menjadi meriah.
Memang tak ada orang luar yang datang, tapi sudah membuat suasana begitu meriah.
Sarah memang sengaja hanya mengundang seluruh keluarganya dan sang suami, agar mereka tahu Kalila adalah menantunya. Biarlah dia akan mengundang lebih banyak orang saat acara resespi.
Kalila meneteskan air matanya, dia sudah sah menjadi istri dari pria yang ia cintai, dan juga mencintainya. Tak seperti sebelumnya, yang tanpa cinta sedikitpun dari Keenan.
Kalila mencium tangan Keenan dengan haru, kemudian Keenan membalas dengan mengecup kening Kalila penuh cinta.
Kini...pernikahan yang menjadi impiannya, benar-benar terwujud.
" My Husband, I Love You..." Bisik Kalila pelan saat berpandangan dengan Keenan yang telah mengecup keningnya.
Keenan tersenyum mendengarnya.
" I Love You More, My Wife..." Balasnya lembut. Andaikan mereka sedang tak berada dikamar, ingin rasanya Keenan mengecup bibir istrinya, kemudian mel*matnya, dan... ah! Dia malah teringat malam pertama mereka...
" Dikamar aja..." Celetuk seseorang dibelakang Keenan, membuat Keenan terkejut.
" Hai..." Sapa pria yang lebih muda dari Keenan itu dengan santai, dengan menaik turunkan alisnya.
" Eh! Sejak kapan kau disini?." Tanya Keenan pada pria itu kemudian beralih menatap istrinya yang kebingungan.
" Hai kakak ipar." Sapa pria itu pada Kalila tanpa menghiraukan Keenan, membuat wanita bergaun putih tulang itu mengernyit heran.
" Kakak ipar?." Ia bingung, karena ia tak pernah tau suaminya punya adik. Ia memperhatikan wajah pria asing itu, memang cukup mirip dengan suaminya.
" Ya, kau ini kakak iparku, karena aku ini adik kandung suamimu." Ucap pria itu terkekeh.
" Ayolah kakak, kenalkan aku pada kakak ipar. Kenapa kau malah diam saja?." Ucapnya lagi menepuk bahu Keenan.
" Hei anak nakal! Jangan mengganggu kakakmu." Ujar Sarah menghampiri.
" Aku tidak mengganggunya ma, aku hanya ingin berkenalan dengan kakak ipar, itu saja."
" Ah sayang, kenalkan, dia adiknya Keenan." Sarah berucap pada Kalila.
" Kenalkan, aku Sunarto.., Auwh!." Adik Keenan memekik tajam, saat lengannya mendapat cubitan dari sang mama.
" Sejak kapan namamu jadi Sunarto? Ha!." Ujar Sarah dengan menggebu.
" Hehe, iya iya maaf. Kenalkan, Reynaldi Alvaro Pradipta, putra kedua dari pasangan Haris Pradipta dan Sarah Ayuningtiyas. Adik tertampan dari Keenan Alvaro Pradipta." Ujar Rey mengulurkan tangan pada iparnya, namum langsung ditepis sang kakak.
" Kau ini sedang kenalan, atau kampanye pilkada!." Sentak Keenan tak suka, tepatnya tak suka jika sampai Kalila berpegangan tangan dengan pria lain termasuk adiknya.
" Kau ini sensitif sekali." Gerutu Rey.
" Sudah-sudah, jangan bertengkar terus. Kalian ini sudah dewasa, jangan kaya anak kecil terus."
" Itu karena dia tidak pernah berubah." Ucap Keenan dan Rey serempak. Keduanya langsung saling tatap dan bersedekap dada.
Kalila yang sedari tadi diam langsung tertawa pelan, melihat kekompakan kedua adik kakak itu setelah berdebat.
Mendengar tawa Kalila membuat Keenan, Rey dan Sarah menatapnya.
" Maaf." Kalila menjadi salah tingkah karena mendapat tatapan orang didepannya.
Belum sempat Keenan atau Sarah membuka mulut menjawab Kalila, sebuah suara terdengar.
Rita menghampiri bersama Aldi yang setelah menjadi wali tadi pergi sebentar, wanita itu langsung memeluk Kalila dengan bahagia.
" Selamat ya sayang, meskipun ini pernikahan keduamu, tapi ini pertama kalinya mama melihatnya. Mama harap kau selalu bahagia, dan pernikahanmu selalu langgeng sampai mau memisahkan."
" Amiin." Semua yang berada didekat sana kompak mengamini.
" Loh, dia siapa bu Sarah?." Tanya Rita melihat Rey.
" Dia Rey, adiknya Keenan. Dia memang tinggal diluar negri karena kuliah. Jadi gak pernah kelihatan. Tapi kemarin saya memaksanya pulang." Jelas Sarah.
" Ooh."
Rey yang melihat tak ada kesempatan menjahili kakaknya memilih pergi dari sana.
" Nak, selamat untuk pernikahanmu. Jadilah istri yang baik untuk suamimu, layani dia dengan baik. Dengarkan apa perintah dan apa yang dia larang, kecuali jika itu salah." Ujar Aldi mendekati putrinya.
Kalila mengangguk patuh mendengar petuah sang ayah.
" Dan kau nak, ayah titipkan putri ayah satu-satunya padamu. Jangan sakiti dia, jaga dan lindungi dia. Jangan biarkan dia merasakan kesedihan lagi, seperti yang dulu ayah berikan padanya. Ayah percaya padamu." Ujar Aldi menepuk pelan bahu menantunya.
" Tentu ayah, aku akan menjaganya dengan seluruh kemampuanku." Jawab Keenan mantap.
***
" Hah, aku sangat lelah..." Gumam Kalila berbaring dikamarnya, ia sungguh lelah walau hanya ijab kobul. Dan nanti malam dia akan lebih lelah karena acara resepsi.
" Maaf membuatmu lelah." Ucap Keenan yang baru membuka pintu melihat istrinya.
" Ini bukan salahmu, kenapa harus meminta maaf?."
" Apa dia baik disana?." Tanya Keenan menyentuh perut istrinya, tanpa menjawab pertanyaan Kalila.
" Ya, dia baik." Kalila menaruh telapak tangannya diatas tangan suaminya.
" Terima kasih karena sudah menjadi istriku, dan ibu dari anakku." Ucap Keenan duduk disamping sang istri yang merebahkan tubuhnya dengan lembut. Tak lupa mengecup kening Kalila.
" Terima kasih juga telah menjadi suami dan ayah dari anakku." Balas Kalila tersenyum menatap wajah sang suami.
" Terkadang aku berpikir jika ini adalah mimpi." Lirih Kalila dengan tatapan menerawang.
" Kenapa?."
" Karena upik abu sepertiku, bisa menikah dengan seorang pangeran yang rupawan sepertimu."
" Jangan berkata seperti itu, kau adalah tuan putri tercantik, dan aku adalah seorang pria yang beruntung mendapatkan hatimu. Kau tidak hanya cantik fisik, namun juga hati."
" Terima kasih."
*
*
*
" Aku gak pernah nyangka kalau kamu ternyata istrinya tuan Keenan. Kamu jahat tau gak." Eva yang sedang bersalaman dengan pengantin memberenggut kesal.
Ia merasa tidak dihargai karena Kalila sama sekali tak mengatakan apapun padanya. Tapi disisi lain ia sadar, posisi sahabatnya begitu sulit.
" Maaf ya. Tapikan sekarang kamu udah tau." Ucap Kalila terkekeh.
" Untung kamu inget nama aku didaftar undangan, kalau enggak, aku bakal lebih marah dari ini."
" Iya-iya, sekali lagi maaf ya..."
Eva tersenyum kecil, kemudian memeluk sahabatnya erat.
" Aku seneng banget, kamu mendapatkan kebahagiaan kamu." Ucap Eva yang masih memeluk erat.
" Kamu berhutang banyak penjelasan sama aku." Eva pura-pura menatap tajam setelah pelukan terlerai, karena masih banyak tamu dibelakangnya, yang ingin bersalaman pada pengantin.
" Iya."
***