
" Aku gak bermaksud membela tuan sama sekali. Tapi aku pikir kamu harus tau, kalau tuan selama ini menyesal telah meninggalkan kamu. Dia tetap ada disini, semua itu karena ancaman nyonya." Ucap Indah setelah selesai menceritakan apa yang dia tau.
" Aku harap, keputusan yang kamu ambil adalah keputusan yang tepat." Indah menepuk pelan bahu Kalila, kemudian bangkit dan pergi dari sana.
Seperginya Indah, Kalila termenung sendiri, keputusannya untuk pergi seakan goyah.
" Aku akan tetap pergi dari sini, aku tak peduli dia menyesal atau tidak, tapi yang jelas, aku ingin pergi." Gumamnya mengambil keputusan.
Yang ingin ia lakukan sekarang hanyalah pergi, menjauh dari masalah yang terus berdatangan.
Dia bertekad menanamkan kebencian akan seorang pria, agar ia tak terluka untuk kesekian kalinya. Seketika kenangan buruk aakn tangisan ibunya berputar bagaikan film dibenaknya.
Apakah penderitaan yang selama ibunya alami hanya diberi permintaan maaf. Rasanya itu sungguh tidak adil.
Setelah memantapkan hatinya, Kalila meraih kopernya dan keluar dari sana.
Ia membuka pintu kamar, suasananya cukup sepi seperti mendukungnya.
Memikirkan ayahnya yang tak datang kekamarnya untuk sekedar membujuk, membuat ia yakin jika pria paruh baya itu tak sungguh-sungguh dalam permintaan maafnya.
' Ini yang kau sebut menyesal, kau bahkan tak berusaha membujukku, dan asik dengan istrimu.'
Kalila melangkah dengan cepat, sesampainya didepan pintu, lampu rumah yang tadi padam tiba-tiba menyala.
" Nak." Panggil Ayah Aldi dari belakang Kalila yang masih menghadap pintu dengan tangan memegang handle.
" Tolong jangan pergi, ayah minta maaf untuk semua yang sudah ayah lakukan.." Ayah Aldi mendekati putrinya.
Kalila berbalik, kenapa disaat hatinya hancur seperti ini dia malah merasa seperti maling yang tertangkap basah.
" Jangan halangi aku, aku tak ingin berada disini." Ucapnya dan kembali meraih handle pintu, sayangnya pintu itu terkunci.
" Kunci ini ada pada ayah, berjanjilah kau tidak akan pergi dari sini maka ayah akan dengan senang hati memberikannya." Ujar Ayah Aldi dengan menengadahkan kunci ditangannya.
" Selain suka berkhianat, rupanya kau juga orang yang licik." Ujar Kalila.
" Ayah sudah menyesal, ayah hanya ingin putri ayah yang dulu kembali, putri yang selalu manja, dan suka memeluk ayah saat ingin tidur." Ujar Ayah Aldi dengan mata berkaca-kaca. Raut penyesalan tergambar jelas disana.
Mendengar perkataan ayahnya, membuat Kalila tak dapat menahan air matanya. Kenangan masa kecilnya bersama sang ayah berkelibatan diingatannya.
" Kau meminta putrimu yang dulu, sedangkan kau sendiri sudah menjadi orang lain." Kecam Kalila yang tak ingin terpengaruh perkataan ayahnya, meski hatinya justru berkata ingin memaafkan.
Ia mengepalkan tangannya, berusaha keras menahan isak tangis yang ingin keluar.
" Ayah tau ayah salah, ayah berjanji... jika kau mau memberikan ayah kesempatan, maka ayah tak akan mengulanginya lagi. Mari kita mulai semuanya dari awal." Ucap Ayah Aldi merentangkan tangannya, berharap Kalila akan langsung berlari dan memeluknya.
Tangis Kalila semakin pecah, ia tak sanggup menahan tangisnya terlalu lama. Seberapa kuat ia mempertahankan kebencian dihatinya, tetap saja kerinduan seorang putri pada ayahnya mengalahkan rasa bencinya.
Kalila segera berhambur dalam pelukan sang Ayah, pelukan yang ia rindukan selama ini. Ia memejamkan matanya dengan air mata yang terus mengalir. Mengeratkan pelukannya pada sang ayah tak membiarkan ayahnya pergi lagi.
Saat ini dia bukanlah seorang wanita dewasa, melainkan putri kecil yang begitu merindukan ayahnya.
Sedangkan ayah Aldi merasa bahagia yang luar biasa, kini ia telah mendapatkan maaf dari putrinya.
Ayah Aldi membelai rambut Kalila dengan lembut.
" Ayah menyayangimu, nak..."
" Aku juga menyayangimu, ayah."
Ayah Aldi melepas pelukannya, bahagia mendengar panggilan 'ayah' yang di ucapkan putrinya.
" Kau memanggilku apa nak?." Tanya ayah Aldi menangkup wajah Kalila.
Kalila tersenyum mendengarnya.
" Ayah... aku sangat menyayangimu." Ucapnya dan kembali kepelukan ayahnya.
Kebencian yang ia lepaskan sungguh membuat hatinya terasa amat lega. Ia bahagia, kembali bersama sang ayah.
" Lalu bagaimana dengan nyonya Rita, Yah...?" Tanyanya dengan menengadah menghadap wajah ayahnya.
" Jangan memanggilnya seperti itu, dia bukan lagi majikanmu, tapi ibumu. Panggil dia ibu."
Memanggil ibu? Rasanya ia tak rela panggilan itu diberikan kepada orang lain.
" Jika kau tak nyaman, panggil dia mama, intinya mulai sekarang, jangan anggap dia majikan. Kau mengerti?." Ucap ayah Aldi memahami isi hati putrinya.
" Hem, baiklah ayah." Kalila mengangguk dengan senyum tipis.
" Dia pasti akan menerimamu, selama ini hidup kami sepi tanpa kehadiran seorang anak. Dia juga yang tadi menenangkan ayah untuk memberimu waktu berpikir, makanya ayah tak menyusulmu kekamar." Jelas ayah Aldi.
Kalila memicingkan matanya, entah kenapa ia tak bisa percaya begitu saja jika Rita menerimanya sebagai anak sambung, sedangkam sebelumnya statusnya adalah pembantu.
" Tapi ayah tidak tenang, dan memutuskan mengunci pintu takut kau kabur. Dan untungnya ayah sudah siap setelah dugaan ayah terbukti benar." Lanjut ayah.
" Ya sudah, kalau begitu, ayo ayah antar kekamarmu." Ujar ayah Aldi merangkul pundak putrinya.
" Loh kita mau kemana yah?." Tanya Kalila, pasalnya ayahnya berjalan tak kearah kamarnya berada.
" Kekamarmu nak."
" Kan kamarku ada disana." Kalila menunjuk kamar pembantunya.
" Kau putriku, bukan pembantu, tentu saja kau akan berada dikamar yang seharusnya."
Kalila merasa terharu, ia tak terpikir sampai kesana.
" Tapi, bukankah ayah dan..." Ia merasa canggung memanggil nyonya Rita dengan sebutan 'mama', tapi bukankah sekarang nyonya Rita memang sudah menjadi mamanya.
" Mama tidak punya anak, lalu kamar mana yang akan ayah tunjukkan?."
" Mamamu sempat melahirkan dulu, kami sudah menyiapkan kamar untuk adikmu itu. Tapi... sayangnya Tuhan berkehendak lain."
Ayah Aldi menghela napasnya, kemudian tersenyum lembut pada Kalila.
" Mungkin ini karma untuk ayah karena dulu meninggalkan kalian." Ujarnya lagi.
" Aku sudah memaafkan ayah, jangan ungkit lagi masalah itu. Kita mulai semuanya dari awal, mengganti banyak waktu yang terbuang." Ucap Kalila menyemangati ayahnya.
" Terima kasih nak, terima kasih karena sudah memaafkan ayah setelah apa yang ayah lakukan. Ayah janji ayah akan membahagiakanmu." Ujar ayah Aldi.
" Ayah sudah mengatakannya berulang kali tadi." Ejek Kalila yang ingin suasana sedikit cair.
" Ya sudah, ayo kita lanjutkan kekamar barumu." Balas ayah Aldi.
Ayah Aldi berjalan dengan menuntun Kalila, mereka menaiki anak tangga hingga sampailah dikamar yang dituju.
Ayah Aldi membuka pintu, Kalila tercengang melihat kamar didepannya. Belum pernah ia tinggal dikamar sebagus ini.
" Karena adikmu laki-laki, jadi semuanya juga bernuansa laki-laki. Tapi kau tenang saja, ayah akan menggantinya." Ujar ayah Aldi sembari masuk diikuti Kalila.
" Tidak perlu repot ayah, ini sudah lebih dari cukup." Tolak Kalila halus.
" Hei! Ayah tak ingin kau mengatakan itu lagi, ayah akan melakukan apapun untuk putri ayah, jadi jangan menganggap jika ayah repot." Ujar ayah Aldi.
Kalila hanya mengangguk sembari tersenyum, ayahnya benar-benar telah kembali.
" Kau istirahatlah, ini sudah malam." Ujar ayah Aldi kemudian mengecup kening putrinya.
Kalila mengangguk lagi, kemudian ayah Aldi keluar dari kamar lalu menutup pintu.
" Ibu, andaikan saat ini ibu masih hidup, sungguh kebahagiaanku pasti akan lengkap." Gumamnya dengan air menggenang dipelupuk mata.
Tubuhnya yang sudah lelah, membuatnya dengan segera merebahakan diri diatas ranjang. Tak butuh waktu lama, iapun tertidur dan berpindah kealam mimpi.
***