
Beberapa menit berlalu, Kalila menghentikan tangisnya. Dadanya sudah sedikit lega karena sudah mengeluarkan segala beban dan unek-uneknya melalui air mata.
Ia kemudian bangkit dan berjalan sembari melihat-lihat taksi atau ojek yang bisa membawanya cepat kerumahnya.
***
" Kenapa kau melakukan ini?." Gumam Keenan penuh emosi setelah membaca gugatan cerai dari Kalila.
Ia meremas surat itu hingga tak berbentuk.
" Sayang! Apa yang kau lakukan? Kenapa kau meremasnya seperti itu?. Nanti bisa rusak." Ujar Alin yang sedang berada dikamar Keenan. Dialah yang memberikannya langsung saat Keenan baru masuk kekamar sepulangnya dari kantor.
Keenan tak menjawab, ia memilih merobek-robek surat itu dan membuangnya sembarangan.
" Keenan! Kenapa kau malah merobeknya?." Tanya Alin dengan panik dan juga kesal.
Lagi-lagi Keenan tak menjawab. Tubuhnya yang lelah seharian dikantor membuatnya dengan mudah emosi melihat surat cerai itu.
Tanpa mandi atau apapun, Keenan keluar dari rumahnya, tak lupa meminta sekretaris Jordi menuju kepengadilan agama untuk membatalkan gugatan Kalila.
Saar baru berniat menyalakan mobilnya, ponsel disakunya bergetar, sebuah panggilan dari seseorang.
Karena ia pikir itu adalah sekretaris Jordi, Keenan segera mengangkatnya.
" Bagaimana? Apa kau sudah mengurusnya?."
" Apa yang kau katakan Keenan?." Tanya balik orang yang menelpon yaitu Sarah.
" Mama?." Keenan mengecek layar ponselnya, ternyata memang mamanya yang menelpon.
" Ada apa mama menelponku?." Tanyanya tak sabaran karena ia punya urusan penting.
" Papamu Keenan, papamu kembali drop setelah mama mengatakan tentang Kalila."
" Kalila?." Bukannya mengkhawatirkan kondisi papanya, Keenan justru terfokus nama Kalila.
Bahkan tanpa sadar, itu adalah pertama kalinya ia menyebut nama istrinya.
" Iya. Cepat kemari! Mama akan jelaskan semuanya." Sarah langsung menutup telepon.
Keenan yang sudah mendengar nama Kalila, langsung saja menyalakan mobil. Melajukannya dengan cepat kerumah orang tuanya.
Keenan melajukan mobilnya bak pembalap profefesional. Ia membelokkan mobilnya dengan lihai menyalip setiap kendaraan didepannya.
Tak butuh waktu lama, ia sudah sampai didepan rumah orang tuanya.
Ia langsung keluar dari mobil dan memasuki rumah, ia berjalan dengan cepat menuju kamar papanya.
" Ma!." Panggilnya melihat Sarah tengah terisak dengan tuan Haris yang terbaring lemah. Dokter Rio dan satu dokter lainnya terus memeriksa kondisi tuan Haris.
Sembari menunggu hasil pemeriksaan, Keenan mengajak mamanya untuk keluar. Ia ingin mamanya menjelaskan apa yang terjadi.
" Apa yang dikatakan Kalila sampai papa shok seperti itu ma?." Tanya Keenan setelah mereka duduk dikamarnya. Kamar yang bersebelahan langsung dengan kamar papanya.
" Lila...Lila bukan wanita yang baik Keenan. Mama sangat kecewa padanya, Hiks...Hiks..." Ujar Sarah masih berlinangan air mata.
" Apa maksud mama? Kenapa mama tiba-tiba mengatakan itu? Bukankah mama sangat menyayanginya?."
" Itu karena Lila sendiri yang mengatakannya."
" Apa maksud mama?." Lagi-lagi Keenan dibuat bingung dengan perkataan mamanya.
" Dia datang kemari, dia mengatakan jika dia sudah berselingkuh darimu."
" APA!!!."
" Apa maksud mama? Mana mungkin dia mengatakan hal itu?." Keenan tak habis pikir, apa mamanya itu berhalusinasi?.
" Iya, dan aku sudah merobeknya." Ujar Keenan mengepalkan tangannya, kembali emosi mengingat gugatan Kalila.
" Kenapa kau merobeknya Keenan?. Seharusnya kau langsung tanda tangani saja. Untuk apa mempertahankan wanita murahan seperti dirinya."
" Itu karena dia bukanlah wanita murahan." Jawab Keenan dengan lirih. Menyadari kesalahannya yang selama ini salah paham pada istrinya.
" Apa maksudmu Keenan? Jelas-jelas dia sendiri yang mengatakannya. Dia bahkan membawa bukti jika dia memang berselingkuh." Ujar Sarah.
" Bukti?."
" Ya bukti, sebuah foto dirinya dan seorang pria tidur seranjang "
Mendengar perkataan mamanya, Keenan mengernyit heran. Ia mengingat foto itu, sebuah foto yang membuatnya semakin menganggap Kalila wanita mura*an.
Tapi nyatanya, setelah dia tahu sendiri jika Kalila bukanlah wanita seperti itu. Seketika kesalah pahamannya menghilang seketika.
Yang ia percaya adalah, foto-foto itu semua palsu.
Walau ia merasa bersalah karena salah paham pada Kalila. Tapi disisi lain ia merasa bahagia, karena berkat kesalah pahaman itu, ia akhirnya tau, jika gadis ceroboh dan polos itu tak pernah berubah.
Gadis yang ia cintai karena rasa kasihan, tetaplah gadis baik-baik.
Tapi, dari mana Kalila mendapatkan foto itu? Bukankah ia menyimpan foto itu disaku jasnya?
Ah tunggu! Saat dia memakai jasnya waktu itu, ia teringat akan foto-foto yang berserakan itu. Kemudian ia menaruhnya kembali kesaku.
Apa Kalila mengambil salah satu foto itu untuk mengatakan dia selingkuh? Tapi untuk apa? Kenapa Kalila memfitnah dirinya sendiri? Bukankah itu akan membuat keluarganya membenci Kalila?
Atau... Kalila melakukan ini, agar orang tuanya meminta ia menandatangani surat cerai itu?
Tapi kenapa?
Lagi-lagi semua itu menjadi teka-teki bagi dirinya.
Keenan kemudian mengambil ponsel disakunya, ia mencari Galery dan menunjukan foto itu pada mamanya.
" Apa foto semacam ini?." Tanyanya.
" Iya, bahkan foto yang ditunjukan Lila sama persis seperti ini. Bagaimana bisa foto itu ada diponselmu?!." Tanya Sarah terkejut.
" Itu karena akulah yang mencetak foto-foto ini. Dan foto yang diberikannya pada mama, juga salah satu dari foto yang ku cetak."
" Maksudmu, sebelum Lila, kau lebih dulu memiliki foto ini?."
" Iya."
" Lalu kenapa kau tak menggugat cerai dia Keenan?. Mama memang pernah menyayanginya, tapi itu sebelum mama tau siapa dia sebenarnya."
" Kalila yang selama ini mama sayangi, memanglah Kalila yang sebenarnya. Dan semua yang dia katakan, hanyalah karangan semata." Ujar Keenan dengan kebingungan masih memenuhi kepalanya. Kenapa Kalila ingin keluarganya membenci gadis itu.
" Apa maksudmu, mama kan sudah bilang, dia yang mengatakannya sendiri. Kau bahkan memiliki bukti perselingkuhannya. Mama tau kau pernah mencintainya, tapi sekarang kau membencinya. Jika kau mempertahankan dia hanya demi kami, terutama papamu, kau tidak perlu melakukannya lagi. Kau bisa menceraikannya jika kau mau." Ujar Sarah panjang lebar.
" Tidak ma, aku bukan 'pernah mencintainya', tapi aku sangat mencintainya dan akan selalu seperti itu. Dan aku tidak akan pernah menceraikannya sampai kapanpun." Ujar Keenan terdengar ambigu ditelinga Sarah.
" Nak, jangan tahan perasaanmu seperti itu, mama tau kau terpaksa menikahinya karena mama dan papa. Dulu kami memaksamu karena kami kira dia wanita baik-baik dan kejadian dihotel hanya salah paham. Tapi setelah melihat foto itu dan juga pengakuannya, mama menjadi membencinya."
" Itu memang kesalah pahaman ma, tapi aku pastikan kita akan tau yang sebenarnya." Ujar Keenan yang memang sudah memerintah sekretaris Jordi menyelidiki lebih lanjut.
" Kenapa kau ini keras kepala Keenan! Dia datang sendiri dan mengakui semuanya!!." Ujar Sarah setengah berteriak.
" Apa mama pikir, wanita mura*an akan melakukan itu. Jika dia benar-benar wanita seperti itu, dia tidak akan mengakuinya. Dia justru akan bersikap baik seperti serigala berbulu domba. Dia akan memanfaatkan kasih sayang mama, dan menusuk kita dari belakang. Tapi dia tidak melakukan itu, dia justru berbicara terang-terangan. Apa mama pikir wanita murahan akan bertindak seperti itu?."
Sarah diam, ia merasa ucapan anaknya masih akal.
***