My Husband, I Love You

My Husband, I Love You
Pertolongan Eko



Ia menyimpan foto itu, karena itu akan berguna baginya yang tak melupakan perjanjiannya dengan Keenan sama sekali.


Bukan perjanjian tentang Keenan yang akan memberikannya banyak harta, tapi tentang apa yang diminta Keenan.


Yaitu, meminta orang tua Keenan agar mereka bercerai.


Tapi bukan itu yang akan dia lakukan. Melainkan dia akan langsung menggugat Keenan kepengadilan.


Dia tidak akan menggugat Keenan sebagai korban. Dia justru akan mengatakan pada hakim jika dia berselingkuh dan ia ingin menikah dengan selingkuhannya.


Dan dengan foto inilah ia menguatkan pengaduannya. Dengan begitu, proses perceraiannya dengan Keenan tak perlu terlalu lama.


Biarlah dia sebagai terdakwa disini, karena pernikahan ini juga terjadi karena kecerobohannya.


Jika tidak, mungkin yang menjadi istri Keenan sekarang bukan dirinya. Melainkan model cantik bernama Alin, satu-satunya wanita yang pantas bersanding dengan Keenan. Dan juga wanita yang dicintai suaminya.


Ia juga akan mengirimkan surat perjanjian yang sudah mereka sepakati sebelumnya. Tentu hal itu untuk membuktikan pada Keenan, jika ucapannya untuk tidak kembali pada kehidupan suaminya itu bukanlah bualan belaka.


Dan semua itu, akan dia lakukan dengan berbekal dari uang yang diberikan suaminya.


Biarlah malam ini akan ia kenang selamanya, malam pertama... sekaligus terakhir diantara mereka.


Kalila berjalan terseok menuju pintu, ia kemudian mengingat tasnya. Ia memutari pandangannya keseluruh ruangan.


Ketemu! Tasnya berada didekat nakas.


Ia kemudian meraih tasnya, tak lupa dengan cek yang diberikan suaminya dan juga selembar foto. Karena itulah yang akan sangat ia butuhkan nanti.


Ia membuka pintu dengan perlahan, memastikan tidur pulas Keenan tak terganggu. Setelah merasa aman, ia membuka pintu lebih lebar dan segera keluar dari sana.


Suasanya yang sepi karena memang masih pagi buta, membuatnya leluasa.


Ia segera masuk kedalam lift.


" Semoga ini akan menjadi keputusan yang tepat untukku..."


Lift berhenti dilantai dasar, Kalila langsung keluar dari hotel itu.


Suasana malam larut begini membuatnya tak melihat satupun kendaraan yang lewat. Ia memutuskan untuk berjalan kaki menyusuri jalan. Siapa tau dia akan menemukan kendaraan umum.


Beberapa menit berjalan, tak juga satupun kendaraan yang lewat, mungkin dia akan pesan ojek online saja.


Ah! Bagaimana ia lupa, ini masih terlalu pagi, bahkan masih petang. Mana ada ojek dijam segini.


Tiiin!!! Tiiin!!!


Tiba-tiba sebuah mobil membunyikan klakson. Sontak saja Kalila yang terkejut langsung menoleh. Ia menyilangkan tangannya untuk menghindari silaunya lampu mobil itu.


" Tulip, bagaimana kau bisa ada disini?." Tanya seorang pria yang baru turun dari mobilnya


Tentu saja Kalila menoleh, hanya satu orang yang memanggilnya seperti itu.


" Mas Eko? Mas Eko disini?." Tanyanya setelah berusaha memperbaiki wajahnya yang pasti sembab karena menangis.


" Eh, kamu abis nangis ya? Kamu kenapa?." Eko sangat khawatir begitu melihat keadaan Kalila.


" Enggak kok mas, cuman kelilipan aja." Elak Kalila. Mana mungkin ia menceritakan yang sebenarnya.


" Yakin?." Tanya Eko memastikan.


" Hem." Jawabnya dengan mengangguk menyakinkan.


" Terus gimana kamu bisa ada disini? Dijam segini pula?." Tanya Eko lagi memandang jam ditangannya menunjukkan pukul 01.30 dini hari.


" Em itu..." Harus menjawab apa? Ia bahkan tak punya satu alasanpun yang masuk akal.


" Begini saja, kamu ikut aku dulu, biar nanti kamu bisa cerita sepuasnya." Ujar Eko melihat keraguan Kalila.


Mata sembab gadis itu pasti bukan karena kelilipan, melainkan menangis. Ia akan bertanya pelan-pelan, mungkin Kalila masih tak ingin terbuka padanya.


Apalagi, ini masih ditepi jalan juga malam-malam.


" Ikut kemana mas?."


Kalila menurut, ia berjalan dan masuk kedalam mobil.


Setelah Kalila masuk, Eko langsung menutup pintu, kemudian ia menuju kursi kemudinya.


" Mas disini tinggal dimana?." Tanya Kalila saat mereka sudah berada didalam mobil.


" Tinggal dirumah dinas. Inikan kota tempat mas tinggal sebelum pindah kekantor pusat." Jelas Eko..


" Benarkah? Terus kenapa mas kesini lagi?."


" Pak manager minta mas meninjau kemajuan perusahaan disini."


" Sepertinya mas Eko mendapat banyak kepercayaan ya..." Ujar Kalila kagum.


" Yah, seperti itulah."


Setelah mengobrol, hanya deruan mesin yang terdengar. Eko menunggu waktu yang tepat alasan kenapa Kalila berada dikota ini, terlebih lagi sedang menangis.


Tak berapa lama, mereka sampai dirumah dinas yang Eko tempati.


Eko berjalan lebih dulu, Kalila mengikutinya dari belakang.


" Kau bisa gunakan kamar ini untuk beristirahat." Ujar Eko didepan sebuah kamar yang pintunya ia buka.


" Lalu mas?."


" Aku ada kamar lain."


" Hemm, terima kasih banyak mas."


" Sama-sama."


Kalilapun masuk kedalam kamar yang dimaksud Eko. Ia segera merebahkan dirinya diatas ranjang itu. Karena ia benar-benar lelah sekarang, bukan hanya tubuhnya, tapi juga hatinya. Lagipula, ini baru jam 2 dini hari, dilihat dari jam dinding dikamar Eko itu.


Keesokan paginya, Kalila terbangun dari tidurnya karena cahaya yang menelusup lewat celah gorden.


Ia tersadar dimana ia berada, dengan segera ia menuju keluar. Mencari letak kamar mandi. Karena ini bukanlah rumah Keenan, dimana kamar mandi ada didalam kamar tidur.


Kalila terus celingak-celinguk, hingga akhirnya ia menemukan pintu khas kamar mandi.


Kalila masuk kedalamnya, dan membersihkan dirinya.


Seketika Kalila teringat dengan kejadian semalam, dimana ia sudah memberikan mahkotanya pada pria yang memang berhak atas itu, yaitu suaminya.


Ia teringat bagaimana Keenan memperlakukannya semalam. Begitu lembut seakan penuh perasaan. Seakan mereka adalah pengantin yang sesungguhnya.


Namun, siapa sangka jika hubungan itu terjadi karena sebuah kesepakatan jika mereka akan berpisah.


Perpisahan yang seharusnya terjadi beberapa bulan lagi, jika menunggu satu tahun sesuai perjanjian mereka sebelumnya.


Tak terasa air matanya menetes, memikirkan perpisahan yang akan terjadi diantara mereka.


Mungkin memang inilah yang seharusnya terjadi, karena dari awal, pernikahan inipun tak seharusnya ada.


Harapannya sekarang hanya adalah seorang bayi yang akan tumbuh dirahimnya. Memberinya hidup baru dengan semua kenangan bersama Keenan. Pria yang menjadi cinta pertamanya hingga sekarang, bahkan mungkin untuk selamanya.


Kalila segera menghapus air matanya, menyelesaikan mandinya dan memakai kembali pakaiannya, karena ia tak memiliki baju ganti.


Kalila keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang segar, meskipun masih mengenakan gaun yang sama sejak kemarin.


Kalila berjalan untuk mencari dapur, ia terus menyusuri setiap sudut rumah, hingga akhirnya tempat yang dicaripun ketemu.


Kalila mulai berkutat dengan pekerjaannya. Ia terdiam sejenak, pikirannya tiba-tiba teringat akan kebiasaannya menyiapkan makanan untuk Keenan.


' Sekarang, saya tak bisa lagi memasak untuk. anda. Saya harap anda tetap makan dengan teratur.' Batinnya merasa ngilu.


Mengingat semua kenangan yang dilaluinya bersama Keenan. Memang tak ada kenangan indah didalamnya, tapi setidaknya, ia pernah merasa begitu dekat dengan pria yang ia cintai.


***