
" Tapi ngomong-ngomong, bagaimana mas bisa mendapat ijin?." Tanya Kalila.
" Em itu, awalnya sih aku ijin gak dikasih, eh pas lagi lanjutin kerja malahan pak manager datang dan bilang ngasih aku ijin." Jawab Eko.
" Em...Lila." Ucap Eko dengan tangan mengepal. Berusaha mengumpulkan keberanian untuk mengutarakan niatnya.
" Iya mas."
" Aku mau mengatakan sesuatu sama kamu." Ujarnya membuat Kalila mengernyit heran, karena tak biasanya Eko bersikap seserius ini.
" Katakan saja mas, jangan ragu."
" Sebenarnya...aku mencintaimu."
Deg
Apa dia salah dengar? Mas Eko yang ia anggap sebagai kakak justru mencintainya?.
" Apa maksudmu mas?."
" Aku mencintaimu, sejak dulu. Kita berteman sejak kecil, dan aku menyadari jika aku mencintaimu sejak aku beranjak dewasa, dan kau beranjak remaja. Saat itu aku tak langsung menyatakan perasaanku karena kau masih sekolah. Apalagi saat itu aku juga baru memulai bekerja, jadi aku menunggu saat yang tepat untuk mengatakan ini." Ujar Eko menjelaskan.
" Tapi...mas, aku hanya menganggap mas sebagai kakakku..." Ujar Kalila dengan nada selembut mungkin.
Seketika harapan Eko seakan luruh seketika, gadis yang ia cintai dan membuatnya bersemangat ternyata hanya menganggapnya seorang kakak, tidak lebih.
" Maaf mas, tapi bukankah mas tau, bagaimana statusku sekarang. Bahkan hingga saat ini, aku masih sah menjadi istri tuan Keenan." Ujar Kalila teringat jika perceraiannya belum sampai dipengadilan.
Ia bingung, kenapa itu bisa terjadi? Apakah Keenan tak menandatangani surat itu? Ah dia tak mau pusing soal itu, karena yang terpenting ia sudah pergi dari kehidupan suaminya yang tak pernah menganggapnya istri.
" Ya, mas tau, itu sebabnya mas masih berani mengatakan perasaan mas sama kamu. Karena pernikahan kamu dengan tuan Keenan akan segera berakhir." Ujar Eko.
Sakit...
Entah kenapa perasaan itu muncul dihati Kalila, saat orang lain menyatakan perpisahannya dengan suaminya, padahal itulah kenyataannya.
Melihat raut wajah sedih Kalila, seketika membuat Eko merasa bersalah.
" Maaf, mas tidak bermaksud..."
" Tidak papa mas, mas tidak perlu meminta maaf." Potong Kalila cepat dengan memasang senyumnya.
" Boleh aku bertanya sesuatu?." Tanya Eko.
" Apa?."
" Apa kau mencintai suamimu?." Eko menanyakan sesuatu yang mengganggu pikirannya.
Seketika Kalila terdiam, pertanyaan itu seolah memintanya memastikan perasaannya. Dan tentu saja jawabannya adalah 'iya'.
Tapi, haruskah dia jujur pada Eko?.
" Maaf, karena aku lancang menyatakan perasaanku. Diammu adalah jawaban..." Ujar Eko dengan lesu.
Kini ia tahu, untuk siapa hati wanita yang ia cintai sejak lama.
" Mas.." Kalila merasa bersalah, tapi hatinya tak bisa berdusta. Ia masih mencintai suaminya, walau dia memilih pergi.
" Tidak masalah, harusnya aku bisa memahami perasaanmu, harusnya aku tak menyatakan perasaanku secepat ini. Bahkan kau belum sah bercerai dengan tuan Keenan. Aku akan menunggumu..." Ujar Eko dengan senyumnya yang meneduhkan.
" Jangan menunggu aku mas, mas pantas mendapatkan yang lebih baik dariku." Balas Kalila tak ingin memberikan harapan palsu pada Eko.
Apalagi ia tak tahu, apa perasaan cintanya pada Keenan akan menghilang, atau justru semakin bertambah.
" Tidak Lila! Mas sudah bertahun-tahun menyimpan perasaan ini. Bukan masalah jika mas harus menunggu lebih lama."
Kalila segera menggeleng.
" Jangan mas, aku mohon..."
" Baiklah, anggap saja aku tak akan menunggumu. Setelah ini, kita akan tetap menjadi...teman kan?." Ujar Eko akhirnya.
" Tentu mas, terima kasih atas pengertiannya." Kalila merasa lega.
" Kalau begitu, aku akan pulang."
" Makan malam sudah siap, sebaiknya kau makan dulu. Kau sudah jauh-jauh datang kemari, setidaknya kami bisa mengenyangkan perutmu." Lanjutnya lagi.
Eko memandang Kalila yang kemudian mengangguk, meminta Eko bersedia ikut makan malam.
" Baiklah."
Mereka bertiga pun menuju meja makan, Eko duduk dikursi yang berhadapan dengan Kalila yang duduk disamping Rita. Sedangkan ayah Aldi duduk dikursi utama.
" Mama sangat berharap kalian menikah." Celetuk Rita disela makan, membuat Kalila tersedak makanannya.
Uhuk...Uhuk...
" Kalila, minumlah." Ujar Eko menyodorkan gelas didepan Kalila.
Kalila segera menerimanya dan meminumnya.
" Kenapa kamu bisa tersedak begitu? Hati-hati dong kalau makan." Ujar Rita berpura-pura khawatir dengan menepuk punggung Kalila.
" Enggak papa Ma." Kalila menjawab setelah napasnya mulai teratur.
" Jadi gimana, kalian ada rencana nikahkan?." Tanya Rita lagi membuat Eko dan Kalila saling pandang.
Rita begitu antusias untuk membuat Kalila segera menikah dengan Eko. Karena ia ingin anak tirinya itu segera pergi dari rumahnya.
" Em, begini ma...sebenarnya, kami tak memiliki hubungan apa-apa." Jawab Kalila dengan lirih.
Jawaban Kalila membuat kacau perasaan tiga orang. Eko yang merasakan sakit hati karena cintanya tak terbalas, Rita yang merasakan kesal karena rencananya menikahkan Kalila sepertinya akan lebih sulit.
Dan ayah Aldi yang kecewa karena ternyata putrinya tak menerima Eko, pria yang menurutnya pantas untuk Kalila.
" Em, ayah...tante, saya permisi pulang." Ujar Eko setelah makanannya habis. Dia tidak tahan membuat Kalila tersudut.
Biarlah dia akan berjuang lebih keras lagi, agar Kalila dapat mencintainya tanpa paksaan dari siapapun.
" Eh jangan buru-buru dong, kan nak Eko sudah jauh-jauh kemari, sebaiknya menginap saja disini malam ini." Ujar Rita.
" Sebelumnya terima kasih, tapi itu tidak perlu tante, lagipula besok saya tetap harus bekerja." Tolak Eko halus.
" Kenapa tidak minta ijin buat cuti saja. Perjalanan dari ibukota kesini kan jauh." Ujar Rita lagi.
" Tidak papa tante, saya pulang saja."
Akhirnya Rita tak dapat menahan Eko lebih lama. Ayah Aldi juga memilih diam, karena ia tak bisa memaksakan perasaan putrinya.
Eko kemudian menyalimi tangan ayah Aldi, Rita, kemudian juga bersalaman dengan Kalila. Kalila mengantarkannya sampai kedepan rumah.
" Maaf ya mas." Ujar Kalila merujuk kepenolakannya tadi.
" Tidak papa, mas mengerti." Balas Eko kemudian menuju mobilnya yang berada dipelataran rumah.
Seperginya Eko, Kalila menghela napas. Merasa sangat bersalah karena telah melukai hati pria baik seperti Eko. Tapi mau bagaimana lagi, hatinya masih terpaut dengan satu nama, Keenan.
Tanpa sepengetahuannya, Keenan tengah memperhatikannya dari celah gerbang. Ya, pria itu kembali setelah cukup beristirahat dihotel. Ia ingin tau, bagaimana pertemuan istrinya dan Eko.
" Kenapa dia murung begitu?." Gumamnya melihat raut wajah Kalila yang murung.
" Sepertinya sesuai dengan keinginan anda tuan." Jordi yang mengikuti tuannya segera menjawab.
" Maksudmu?."
" Sepertinya nona muda menolak pernyataan cinta Eko."
" Bagaimana kau bisa berpikir begitu?." Tanya Keenan lagi. Sungguh wajah presdir yang cerdas dan pintar terlihat seperti seorang bocah bodoh.
' Apa otak anda sudah mulai lelet tuan.' Batin Jordi.
" Ya tentu saja, seorang pria berkunjung kerumah seorang wanita, dan saat pria itu pulang wanita terlihat murung. Tentu saja artinya sesuatu yang terjadi bukanlah hal yang baik. Kalau nona muda menerima perasaan Eko, pasti nona muda sekarang sangat bahagia bukan?."
" Sedangkan yang saya tau, nona muda hanya mencintai anda." Lanjutnya lagi karena sepertinya otak tuannya tiba-tiba tak bisa berpikir dengan cepat.
***