My Husband, I Love You

My Husband, I Love You
Awal Yang Baik



Kalila yang sudah mendapatkan pakaian ganti yang pas untuk suaminya berbalik. Ia terkejut, mendapati suaminya sudah keluar dari kamar mandi dengan perut kotak-kotak dan handuk dibawah pusar. Pria itu terlihat begitu gagah, semakin bertambah saat tetesan air menetes dari rambut keleher, kemudian kedada bidangnya.


Kalila terpana, sedetik kemudian ia memalingkan wajah karena malu, wajahnya sudah merah seperti tomat.


Keenan yang melihatnya tersenyum sinis.


' Cih, kau bertingkah seakan kau adalah gadis yang polos, nyatanya kau pasti sengaja berada disini untuk kembali menggodaku. Kau pasti kecewa karena tadi aku tak melanjutkannya ketempat tidur bukan?.' Batinnya penuh dengan prasangka buruk. Andai Kalila bisa membaca isi hatinya, gadis itu pasti akan sakit hati.


" Saya sudah siapkan pakaiannya tuan." Ucap Kalila dengan menunduk menaruh pakaian ditangannya keatas tempat tidur.


Kalila langsung berbalik berniat keluar, tapi Keenan memanggilnya. Ia pun kembali membalikkan badannya menghadap suaminya.


" Bukankah kau ingin menjalankan kewajibanmu sebagai seorang istri?." Tanya Keenan dengan seringai liciknya sembari mendekati Kalila yang tengah menunduk secara perlahan.


" I-iya tuan." Jawab Kalila dengan takut melihat tatapan tak biasa dari pria didepannya.


" Jadi,..." Sengaja ingin menambah ketegangan Kalila.


" Pakaikan pakaian itu padaku!." Titahnya dengan menghentikan langkah, menunjuk pakaian yang ditaruh Kalila tadi dengan dagunya.


" Tapi tuan?..." Kalila merasa aneh, bukankah biasanya istri hanya menyiapkan baju, bukan memakaikannya juga?.


" Kenapa? Bukankah kau sendiri yang meminta ini dariku? Aku hanya mengabulkannya saja." Ujar Keenan santai dengan bersedekap dada.


" Ba-baiklah..." Balas Kalila pasrah, kemudian mendekati ranjang untuk mengambil pakaian.


Dengan perasaan gugup, ia memakaikan kaos santai itu pada Keenan. Keenan hanya diam sembari tersenyum penuh arti.


Setelah selesai memakaikan kaos, Kalila mengambil celananya diranjang.


" Emm...tuan?." Ucap Kalila bingung, ia menyerahkan celana pendek ditangannya pada Keenan.


" Silahkan anda pakai sendiri." Ucapnya malu-malu dan berlari kepintu keluar lalu langsung menutup pintu setelah ia berada diluar.


" Jika aku tak menikah denganmu karena kelicikanmu, aku yakin aku akan menganggapmu gadis yang lugu dan polos." Gumam Keenan.


Sedangkan didepan pintu, Kalila tengah menetralkan debaran jantungnya. Sedari tadi jantungnya itu dag dig dug berada terlalu dekat dengan suaminya.


Bagaimana bisa tuan Keenan memintanya memakaikan baju? Untung saja dia punya keberanian memberikan celana pada Keenan. Jika tidak? Ah...tak tau ia harus bersikap seperti apa setelahnya.


Setelah jantungnya kembali berdetak dengan normal, Kalila turun kelantai dasar. Ia menuju meja makan, dan membawanya kedapur untuk dipanaskan.


Setelah hangat, ia kembali menata dimeja makan, terlepas suaminya sudah makan malam atau belum.


Keenan menuruni tangga, ia bisa melihat makanan dimeja yang menggugah seleranya. Terlebih lagi, ia sampai lupa jika melewatkan makan malam karena menemani Alin.


Keenan duduk dikursi, Kalila yang melihatnya dengan semangat mendekat, mengambilkan nasi.


" Tuan ingin lauk yang mana?." Tanyanya dengan piring nasi ditangannya.


" Itu, itu, dan itu..." Keenan menunjuk tiga jenis lauk, Kalilapun mengambilkannya.


" Silahkan tuan." Ucapnya dengan senyuman lebar menaruh piring yang sudah terisi dihadapan Keenan.


Tanpa berkata apapun, Keenan segera memakannya, ia berusaha menahan agar tak terlihat terlalu lahap. Ia tak ingin Kalila tau ia sangat menyukai masakan gadis itu.


Kalila terus berdiri didepan Keenan, memperhatikan suaminya makan membuatnya sangat senang.


Tak berapa lama, makanan dipiringpun habis tak tersisa.


Keenan meminum air putih dalam gelas, mengelap mulutnya dengan tisu, kemudian bangkit dari duduknya.


" Syukurlah, walau dia tetap bersikap dingin, setidaknya dia tidak menolak perlakuanku padanya." Gumam Kalila menatap Keenan yang menaiki anak tangga.


Dengan hati riang, ia membereskan meja makan. Karena memang belum makan, ia memakan makanan yang tersisa.


" Hari ini berjalan dengan baik, semoga kedepannya, tuan Keenan bisa sedikit lebih hangat." Gumam Kalila yang tengah berbaring miring dikamarnya. Ini adalah malam pertamanya tidur dengan hati bahagia setelah menikah.


....


Seperti yang sudah disepakati, Kalila tengah menyiapkan pakaian kerja suaminya. Tentu saja ia mengetuk pintu lebih dulu dan membangunkan suaminya untuk mandi. Kemudian baru menyiapkan pakaian.


Keenan keluar dari kamar mandi, seperti semalam, hari ini dia juga meminta Kalila memakaikannya atasan, tentu saja ia memakai bawahannya sendiri.


Lagi-lagi Kalila dibuat sport jantung, ia sangat gugup berhadapan dengan suaminya. Meskipun begitu, ia berhasil memakaikan kemaja, dasi dan kemudian jas.


Ah, bawahannya saja belum dipakai, atasannya sudah rapi. Gerutunya dalam hati.


Kalila kemudian keluar setelah selesai memakaikan atasan.


Keenan keluar setelah selesai bersiap, dia duduk dimeja makan untuk sarapan.


Seusai sarapan, Kalila mengantar suaminya sampai didepan pintu mobil.


" Tuan!." Panggilnya saat Keenan akan masuk mobil.


Keenan menoleh, Kalila segera meraih tangan suaminya dan mengecupnya.


Keenan tertegun, seharusnya dia ingat ini adalah bagian dari tugas seorang istri.


Bukankah seharusnya dia mengecup kening Kalila setelah istrinya itu menyecup tangannya?.


Tapi, ah sudahlah, dia juga sudah bilang tak akan merubah sikapnya karena permintaan Kalila.


Sedangkan sekretaris Jordi yang tengah memegang pintu tersenyum samar.


' Semoga hubungan mereka bisa membaik.'


Setelah Kalila menyaliminya, Keenan masuk kemobilnya.


Kalila memandang mobil yang kian menjauh dengan senyuman. Sungguh, hal-hal kecil yang dilakukannya sejak semalam membuatnya merasa sangat bahagia.


Walau Keenan tak mengecup keningnya, ia sudah puas, karena Keenan tak menolak saat ia meraih tangan suaminya itu. Ini semua merupakan awal yang baik untuk hubungan mereka.


Walau ia menyadari, Keenan menerima semuanya dengan terpaksa.


' Tak apalah, yang penting aku merasa bahagia.'


Kalila segera masuk kedalam, segera mengambil tasnya dan berangkat kekantor yang sama dengan suaminya.


Kalila langsung menaiki ojek online yang sebelumnya sudah ia pesan.


Motor melewati pagar rumah mewah tempatnya tinggal, melaju membelah ramainya jalan dipagi hari.


Motor berhenti saat sampai didepan lampu merah, Kalila mengibas-kibaskan telapak tangannya pada wajah yang ditutupi helm yang membuatnya sangat gerah.


Tanpa ia sadari, disampingnya adalah mobil mewah suaminya. Keenan memperhatikan Kalila dengan seksama. Ia sedikit kasihan melihat istrinya kepanasan.


" Jordi!." Panggilnya pada sang sekretatis yang tengah merangkap sopir itu.


" Iya tuan?."


" Minta pak Gun menjemputnya mulai sekarang, suruh dia pakai mobil yang jarang kupakai, lalu jemput gadis itu." Titahnya karena tau Jordi juga melihat Kalila.


Ia sengaja meminta pak Gun memakai mobil yang jarang dipakai, karena tak ingin ada yang tau jika mobilnya yang menjemput Kalila.


' Anda semakin perhatian pada nona.'


" Baik tuan."


Lampu berubah hijau, Kalila yang menaiki motor melaju lebih dulu. Sedangkan mobil Keenan menyusul.


....


" Hai Tulip." Sapa Eko yang berada diparkiran melihat kedatangan Kalila. Ia juga baru saja datang.


" Eh, rajin banget jam segini ada dikantor mas?." Tanya Kalila sembari melepas helmnya dan membayar ongkos.


" Kamu juga tuh." Ujar Eko mendekat.


" Ya aku kan OB, jadi harus lebih rajin buat bersihin kantor."


Mereka berjalan bersama dari parkiran menuju lobi.


" Dari kemarin aku telpon kok gak aktif, sengaja dimatiin ya HPnya?."


Kalila menepuk dahinya.


" Maaf ya, kayanya HP aku lobet, belum sempat dicargher, jadi gak tau deh kalau ada yang nelpon."


" Yakin lobet?."


" Ya iyalah, emang apa lagi?."


" Ya kali aja kamu sibuk sama pacar kamu, terus sengaja matiin HP biar gak ada yang ganggu."


" Ya enggak lah, akukan gak punya pacar." Yang aku punya malah suami, lanjutnya dalam hati.


***