My Husband, I Love You

My Husband, I Love You
Berbadan Dua



" Em...nona.." Panggil Keenan saat keduanya terdiam setelah Kalila menerima bunga darinya.


" Iya?." Kalila mendongak setelah menghirup aroma segar mawar putih ditangannya.


" Apa nona ada masalah?." Tanya Keenan. Ia ingin mencoba, siapa tahu saja istrinya itu mau bercerita padanya.


Kalila menggeleng dengan tersenyum tipis.


" Tidak." Jawabnya pendek. Tentu saja ia tak ingin menceritakan masalahnya pada siapapun.


Ayahnya saja tak tahu, apalagi hanya orang yang baginya asing.


" Baiklah kalau begitu, saya permisi dulu nona."


Kalila mengangguk sebagai jawaban, kemudian Keenan pergi dari sana.


' Kau selalu menyembunyikan luka hatimu.' Batin Keenan saat sudah beberapa langkah dari Kalila, ia memandangi Kalika yang masih menghirup aroma mawar putih yang ia berikan.


***


" Dimana Keenan, kenapa kau datang sendiri?." Tanya tuan Haris dengan marah, pada Jordi yang baru sampai dirumah tuan besarnya itu.


Ya, setelah Keenan resmi menjadi satpam, ia kembali keibu kota untuk mengurus perusahaan.


" Tuan muda masih berada dikota B tuan besar." Jawabnya dengan menunduk.


" Untuk apa dia disana, apa ada proyek yang beluk selesai? Tapi bukankah biasanya akan ada yang menangani, kenapa dia harus turun tangan langsung?."


" Sebenarnya, tuan muda tidak sedang mengerjakan proyek perusahaan tuan."


" Maksudmu?."


" Tapi proyek cinta." Jawab Jordi dengan tersenyum. Mengingat penampilan baru tuan mudanya.


" Kau ini bicara apa Jordi? Aku sedang tidak ingin bercanda!!!." Kesal tuan Haris karena tak biasanya sekretaris putranya itu kebanyakan bercanda.


" Saya tidak bercanda tuan, tuan muda sedang berada dimana nona muda berada."


" Nona muda? Maksudmu menantuku Lila?." Tanya tuan Haris dengan terkejut.


" Benar tuan."


Tuan Haris tersenyum bahagia, akhirnya menantunya ditemukan.


" Kenapa dia tidak membawa menantuku kemari?."


" Itu, karena kami masih menyelidiki dengan siapa nona muda tinggal."


" Nona muda menjadi nona majikan disebuah rumah mewah. Saya sudah menyuruh orang menyelidikinya." Lanjut Jordi karena tuan besarnya hanya diam dengan ekspresi bingung.


" Rumah mewah?."


" Iya tuan, itu sebabnya tuan muda tak membawa nona muda pulang langsung. Karena sepertinya nona muda tinggal dirumah keluarganya."


" Begitukah?."


Jordi mengangguk.


" Hah baiklah, biar anak itu mengatasinya sendiri. Kau urus Devan disini!." Titahnya kemudian.


" Lalu bagaimana dengan nona Alin tuan?."


" Aku yang akan mengatasinya, bagaimanapun juga, dia putri sahabatku. Aku akan memutuskan hubungan ini secara baik-baik."


Beberapa hari kemudian, seperti yang diucapkan sebelumnya, tuan Haris memutuskan hubungan Alin dan Keenan secara kekeluargaan.


Tak lupa ia membuat konverensi pers agar tidak ada berita-berita miring nantinya. Biar bagaimanapun juga, Alin adalah putri dari sahabat baiknya yang sudah tiada. Jadi ia tak mau nama sahabat baiknya tercoreng.


Ibu Alin pun tak banyak protes, wanita paruh baya itu sadar betul jika putrinya yang salah. Apalagi tuan Haris sudah menunjukkan semua bukti hubungan Alin dan Devan.


Putrinya tidak dipenjarakan saja, ia merasa sangat bersyukur. Karena Devan divonis penjara seumur hidup atas kasus-kasus kejahatan yang pernah pria itu lakukan.


*


*


*


Sudah satu bulan, Keenan menyamar sebagai satpam dirumah Lila.


Ia juga sudah tau kalau ternyata saat ini ia menjadi satpam dirumah mertuanya.


Ya walaupun saat menikah dengan Kalila dia sudah tau siapa wali bagi wanita itu, tapi ia tak pernah tau wajah ayah mertuanya.


Karena saat itu ia tahu siapa ayah Kalila dari akta kelahiran Kalila yang ditemukan dirumah istrinya itu.


Ia tak pernah menyangka, jika awal pertemuannya dengan sang mertua malah dengan penyamaran seperti ini.


Sedangkan disisi lain, Kalila tengah berbaring diatas tempat tidurnya. Padahal ini sudah siang, tapi Kalila belum juga bangun dari tidurnya.


Padahal biasanya ia selalu sigap bersama Indah walau statusnya adalah nona.


" Dimana nona?." Tanya ayah Aldi saat Indah menghidangkan sarapan. Pasalnya biasanya putrinya itu yang menyiapkan makanan untuknya.


" Sepertinya masih dikamar tuan." Jawab Indah.


" Kau yakin?."


" Iya tuan."


" Tidak biasanya jam segini dia belum keluar kamar." Gumam ayah Aldi melihat arloji ditangannya menunjukkan pukul 7 pagi dengan perasaan khawatir.


" Tolong kau cek kekamarnya!."


" Baik tuan."


Tok


Tok


Tok


" Lila!."


Tok


Tok


Tok


" Lila!." Panggil Indah lagi, namun masih tak ada jawaban.


" Apa aku buka saja ya, takutnya ada apa-apa." Gumamnya meyakinkan diri.


" Ah sebaiknya aku bilang dulu deh sama tuan."


Indah kemudian kembali menuju meja makan.


" Bagaimana?."


" Itu tuan, saya panggil-panggil tak ada suara. Pintunya dikunci dari dalam, jadi saya gak bisa masuk." Ujar Indah.


" Ada apa dengannya?."


Ayah Aldi segera menuju kamar Kalila, diikuti oleh Indah.


' Sebenarnya apa yang gadis itu lakukan?.' Batin Rita yang sendirian dimeja makan dengan kesal. Ya, walau sudah satu bulan Kalila berstatus putri sambungnya, ia tetap saja tak bisa menerima gadis itu.


Ayah Aldi sudah sampai didepan kamar Kalila, ia mengetuk pintu dan memanggil putrinya. Namun hasilnya tetap sama.


" Ambil kunci cadangan dikamarku!." Ayah Aldi memerintah Indah.


" Baik tuan."


Setelah beberapa lama, Indah kembali dengan kunci ditangannya.


" Ini tuan."


Ayah Aldi segera memasukan kunci itu dan kemudian pintu kamar terbuka.


Ia masuk kekamar Kalila, matanya terbelalak saat melihat putrinya itu tengah terkapar dilantai.


" LILA!!!." Teriaknya panik dan langsung berlari ketempat Kalila.


" Cepat panggil dokter!." Perintahnya pada Indah yang juga terkejut sama sepertinya.


" Ba-baik tuan."


Sekitar 15 menit, Indah kembali dengan seorang dokter perempuan.


Ayah Aldi menyingkir dari putrinya yang sudah terbaring diranjang, untuk memberi ruang pada sang dokter.


Dokter wanita itupun mulai memeriksa Kalila.


" Bagaimana keadaan putri saya dok?."


" Bapak tidak usah khawatir, putri bapak baik-baik saja." Ujar dokter menjelaskan membuat ayah Aldi bernapas lega.


" Lalu, kenapa dia bisa pingsan dok. Maksud saya, apa alasannya?."


" Selamat, bapak akan menjadi seorang kakek."


Deg.


" Apa ma-maksud anda dokter?." Tanyanya dengan gemetar, merasa pendengarannya sudah tak sehat lagi.


" Putri anda sedang hamil." Jawab sang dokter tersenyum.


Jeduar!!!


Bagai disambar petir disiang bolong, Aldi merasa kaget bukan kepalang. Kali ini ia yakin, jika pendengarannya tidak salah.


" Ha-hamil?."


" Benar pak, usia kandungannya memasuki minggu kelima."


" Saya akan resepkan vitamin untuknya." Dokter kemudian menuliskan resep vitamin, dan diterima oleh Indah.


Sang dokter kemudian pergi dari sana dengan diantar Indah keluar.


Aldi menatap putrinya dengan tatapan hampa. Ia yang selalu dipenuhi rasa bersalah, kini benar-benar merasa gagal menjadi seorang ayah.


" Apa yang terjadi padamu, nak..." Lirihnya dengan air mata yang luruh dari pipinya.


Ia tak menyangka, jika putrinya yang ia anggap belum mengenal pria, justru tengah berbadan dua.


" Siapa laki-laki itu nak? Siapa ayah dari cucuku dalam kandunganmu...?"


" Apa ini alasanmu menolak Eko?." Gumamnya penuh tanya dibenaknya.


Apakah putrinya diperkosa? Atau...Kalila memberikan dirinya sukarela pada seorang pria? Tidak! Untuk yang itu sangat tidak mungkin.


Mungkin dia ayah yang buruk, tapi ia tahu jika istri pertamanya adalah ibu yang baik. Ia yakin Kalila tak akan melakukan hal seperti itu.


Lalu, jika Kalila diperkosa, siapa pria beja* itu?


Dengan air mata yang menetes, Aldi mengepalkan tangannya. Rasanya jika pria itu didepannya, ingin sekali dia memukul pria itu secara brutal.


***