My Husband, I Love You

My Husband, I Love You
Siapa Lila Sebenarnya?



" Sedangkan yang saya tau, nona muda hanya mencintai anda." Lanjutnya lagi karena sepertinya otak tuannya tiba-tiba tak bisa berpikir dengan cepat.


" Mencintaiku?." Gumam Keenan dengan senyuman tipis yang terbit dibibirnya.


" Kenapa kau menyimpulkan jika dia mencintaiku?."


" Saya rasa, anda lebih mengetahuinya tuan." Jawab Jordi.


Keenan berusaha berpikir keras karena kalimat pendek yang dilontarkan sekretarisnya. Kemudian ia teringat akan perkataan papanya.


' Kau itu seorang presdir dari Angkasa Group, bagaimana seorang presdir tak bisa melihat cinta yang tulus dari istrinya.'


" Benar, dia mencintaiku." Gumamnya merasa bahagia.


" Anda masih banyak kesempatan untuk meminta maaf pada nona tuan."


" Kau benar... Tapi, setelah semua yang kulakukan padanya, apakah dia masih mencintaiku?." Tanyanya dengan nada putus asa.


" Cinta yang tulus tidak akan mudah menghilang begitu saja tuan. Kalaupun nona muda marah pada anda, pasti itu hanya sesaat saja." Tutur Jordi yang tiba-tiba menjadi guru cinta untuk tuan mudanya itu.


" Aku tak yakin..."


" Eh itu, nona masuk tuan!." Jordi menunjuk Kalila yang masuk kedalam rumah.


" Bagaimana caranya aku mendekatinya, sedangkan..." Tiba-tiba saat Keenan memandangi Kalila dengan tatapan putus asa, ia teringat sesuatu.


" Bukankah tadi kau bilang, Eko kesini mau menemui nona majikannya?." Tanya Keenan menunjuk pak Toni yang berada dipos satpam dengan dagunya.


Ia teringat cerita Jordi saat dihotel, bagaimana Jordi bisa mencari tau siapa yang ditemui Eko.


" Benar tuan, lalu?."


" Itu artinya..."


Mereka berdua saling pandang, kemudian dalam beberapa detik membulatkan mata tak percaya.


" Nona muda adalah nona majikan yang dimaksud satpam itu!." Sambung Jordi yang baru menyadarinya.


" Tepat sekali! Tapi, bagaimana bisa Lilaku menjadi nona muda disini?." Tanya Keenan tak mengerti.


" Kalau begitu, saya akan segera menyelidikinya tuan." Ujar Jordi cepat.


" Hah, siapa Lila sebenarnya...?"


" Saya punya ide tuan!." Ujar Jordi dengan antusias menemukan sebuah ide berlian.


" Apa itu?."


Jordi kemudian membisikkan sesuatu pada tuan mudanya itu.


" Tapi bagaimana caranya?." Tanya Keenan tak mengerti setelah Jordi membisikkan idenya.


" Biar itu jadi tugas saya tuan." Jawab Jordi percaya diri.


" Anda kembalilah kemobil, biar saya kerjakan bagian ini." Lanjutnya lagi.


" Hem, baiklah..." Keenanpun berjalan menuju mobilnya yang tak jauh dari rumah Kalila.


Sedangkan Jordi memulai aksinya.


" Pak!." Panggilnya pada pak Toni, namun pria paruh baya itu tak mendengar membuat Jordi harus berteriak lebih keras.


" Pak satpam!."


Dan akhirnya, pak Toni mendengarnya dan menghampiri Jordi yang masih berada diluar pagar.


" Loh, mas yang tadi sorekan?." Pak Toni memastikan. Pak Toni kemudian membuka pagar sedikit.


" Iya pak."


Jordi meraih sebuah dompet dari sakunya, mengeluarkan sepuluh lembaran merah dari sana dan menyodorkannya pada pak Toni.


" Ini apa maksudnya mas?."


Jordi kemudian membisikkan rencananya pada pak Toni.


" Aduh mas saya gak berani, kalau saya ketahuan gimana, nanti yang ada saya dipecat mas..." Ujar pak Toni yang takut setelah mendengar ide Jordi.


" Udah bapak tenang aja, saya yang jamin bapak gak bakal kena pecat. Saya akan berikan uang lebih dari ini, jadi bapak gak usah khawatir." Jordi berusaha meyakinkan.


" Tapi mas...


" Udah terima aja pak..." Tanpa persetujuan, Jordi meraih tangan pak Toni, menaruh uang satu juta itu diatasnya.


" Ya sudah deh mas, tapi beneran ya, mas bakal ngasih lagi setelah ini?." Pak Toni memastikan janji Jordi tadi.


" Iya...iya...bapak tenang aja."


" Terus saya harus mulainya kapan ini mas?." Tanya pak Toni perihal misinya.


" Ya sudah kalau begitu." Pak Toni mengangguk patuh.


Jordipun tersenyum puas, ia kemudian pergi dari sana dan menghampiri tuannya.


" Gimana?."


" Beres tuan, tinggal cari perlengkapannya..." Jawab Jordi dan langsung masuk kemobil.


" Perlengkapan?."


" Ya tentu saja tuan, tuan perlu perlengkapan untuk menjalankan misi bukan? Apa tuan akan tetap seperti ini?." Jordi menunjuk penampilan Keenan.


" Ya tentu saja, kan memang aku biasa seperti ini." Ujar Keenan yang belum paham maksud Jordi.


" Tuan, anda ini akan mulai menjalankan misi mendekati nona muda dengan menyamar sebagai satpam. Apa seorang satpam memakai setelan jas?." Tanya Jordi tak habis pikir.


Sepertinya untuk masalah cinta, otak tuannya itu selalu lelet.


Ya, rencana yang dibuat Jordi adalah Keenan menyamar sebagai satpam, menggantikan pak Toni.


" Ah kau benar, tapi bukankah untuk seragam satpamnya milik pak Toni?."


" Itu benar tuan, tapi apa tuan juga bisa punya kumis tebal seperti pak Toni?."


" Hah!!! Jadi maksudmu aku harus memakai kumis?." Pekik Keenan terkejut, ia langsung melotot kearah Jordi.


" Tentu saja tuan, kumis adalah alat penyamaran yang bagus. Bahkan ada juga perlu memakai tompel, dan juga..."


" Tidak! Tidak! Cukup kumis saja, kenapa harus tompel juga?!." Protes Keenan cepat.


Apa sekretarisnya mau mengubah wajahnya yang tampan jadi buruk rupa?.


" Eh tuan, kalau nona muda sampa mengenali anda bagaimana?." Pancing Jordi agar tuannya itu menurut. Entah kenapa ini adalah saat yang tepat mengerjai tuannya yang dingin itu.


Keenan terlihat berpikir akan perkataan Jordi. Rasa takut akan penolakan Kalila membuatnya merasa usul Jordi harus dilakukan.


" Baiklah, aku akan memakai tompel juga." Ujarnya dengan lesu. Tak bisa membayangkan akan bagaimana wajahnya nanti.


" Begitu dong tuan."


" Jadi itu artinya, saya tidak perlu menyelidiki apapun kan tuan? Karena tuan sendiri yang mengawasi nona muda secara langsung." Lanjutnya teringat tentang identitas Kalila yang belum mereka ketahui.


" Heh!!! Kau pikir aku mau jadi tukang gosip?! Tidak! Kau tetap harus menyelidikinya!." Kesal Keenan karena Jordi beniat lepas tanggung jawab.


" Tapi, bukankah tuan yang stand by disana, masa masih meminta saya mencair tau?."


" Aku berada disana untuk pendekatan dengan istriku, bukan yang lain."


" Ya baiklah, terserah anda saja tuan." Jordi menghela napas. Yang namanya bawahan memang tak bisa memerintah bos.


...


" Kenapa kamu menolak Eko nak?." Tanya ayah Aldi pada putrinya. Kini mereka dan Rita duduk diruang keluarga.


" Maaf yah...tapi Lila tak mencintai mas Eko." Jawab Kalila dengan menundukkan wajahnya, takut melihat wajah sang ayah yang ia tahu tengah kecewa.


" Apa ini semua karena ayah?."


Kalila segera mendongak, memahami maksud ayahnya.


" Apa ayah yang membuatmu trauma pada pria?." Tanya ayah Aldi lagi, dengan raut bersalahnya.


Ia berpikir, Kalila menolak Eko karena trauma akan dikhianati seperti ibunya.


" Tidak yah, ini semua bukan karena ayah, sungguh!." Kalila berusaha meyakinkan, jika ini tak ada hubungannya dengan ayahnya.


" Lalu kenapa kau menolaknya sayang, bukankah Eko pria yang baik?." Tanya Rita dengan tutur kata selembut mungkin.


Padahal dihatinya ia menyimpan amarah yang besar.


" Lila tidak mencintainya ma."


" Apa hatimu sudah untuk seseorang?." Tanya ayah.


Kalila yang mendapat pertanyaan itu terkejut, apa mungkin ia harus jujur pada ayahnya?


Tapi, bukannya bahagia, yang ada ayahnya pasti akan merasa sedih, karena pernikahannya berada diujung tanduk. Bahkan meski belum sah, gugatan cerai sudah ia kirimkan.


" Siapa pria itu nak, ayah pasti bahagia jika kau menikah dengan pria yang kau cintai?." Tanya ayah Aldi lagi.


Baginya, tak apa jika Kalila tak mau menikah dengan Eko. Jika putrinya itu punya tambatan hati lain, demi kebahagiaan Kalila, dia akan memberi restu.


" Ayo katakan sayang?." Tanya Rita tak sabar.


" Ti-tidak ada yah, tidak ada pria yang sudah Kalila cintai." Jawabnya yang akhirnya terpaksa berbohong. Mana mungkin ia mengaku mencintai pria yang tidak mencintainya, bahkan tak menganggapnya sebagai istri.


***