
" Jalan!."
Dengan sigap Jordi langsung kembali menyalakan mobil, kembali mengikuti mobil berwarna putih yang Eko kendarai.
" Sebenarnya mau kemana dia?." Gumam Keenan.
Pasalnya mereka sudah dua jam lebih diperjalanan.
" Mungkin tempat tujuannya jauh tuan."
" Hem."
Mereka terus mengikuti mobil Eko, kehebatan Jordi dalam mengemudi membuat mereka tak kehilangan jejak Eko sedikitpun walau jarak diantara mereka sudah jauh.
Beberapa jam berlalu, akhirnya setelah matahari memutuskan terbenam, akhirnya mobil Eko berhenti, tapi sepertinya bukan tujuan utama, karena Eko keluar dan berjalan menuju toko kue.
" Untuk apa dia membeli kue?."
" Mungkin untuk oleh-oleh tuan." Lagi-lagi Jordi menjawab dengan kemungkinan yang ia pikirkan.
Kali ini Keenan tak menjawab walau sekedar berdehem. Dia terlalu fokus memperhatikan Eko.
Sampai akhirnya, Eko keluar dari toko dengan senyum lebar. Eko kemudian kembali kedalam mobil.
Jordi kembali menyalakan mobil dan mengikuti Eko.
" Sebenarnya dia ini mau kemana sih, kita sudah melewati puluhan kabupaten, tapi dia belum juga sampai." Gerutu Keenan mulai tak sabar.
Setelah beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai disebuah perumahan.
Jordi terus mengikuti, hingga mobil Eko berhenti disebuah pelataran rumah mewah. Jordi menghentikan mobil tak jauh dari tempat Eko.
Eko terlihat bicara dengan satpam, kemudian satpam masuk kedalam seperti memberi tahu majikannya.
Dan setelah beberapa saat, satpam kembali dan membukakan gerbang dengan lebar untuk Eko.
Karena mobil Keenan tak dapat masuk, akhirnya ia memerintah Jordi untuk keluar dan menanyakan rumah siapa itu, pada satpam.
Jordi mengangguk, dan kemudian menghampiri pak satpam yang hampir saja menutup gerbang secara menyeluruh.
" Tunggu pak!." Cegah Jordi.
" Eh iya, ada yang bisa saya bantu?." Tanya pak satpam yang tak lain adalah pak Toni.
" Itu tadi yang masuk, apa benar bernama Eko?." Tanya Jordi memastikan.
" Iya benar mas, kenapa ya?"
" Maaf, kalau boleh tau, nama majikan bapak siapa ya?." Tanya Jordi lagi.
" Oh, ada tuan besar Aldi, Nyonya Rita dan satu putrinya."
" Siapa nama putrinya?."
" Namanya..." Pak Toni berpikir.
" Siapa ya? Saya kurang inget mas, soalnya nona baru beberapa hari disini."
" Loh memangnya kenapa? Apa dia baru pulang dari luar negeri?." Tanya Jordi lagi.
Kali ini pak Toni tak berusaha menjawab, ia menatap Jordi penuh curiga, karena sedari tadi terus bertanya.
" Tenang pak, saya bukan orang jahat." Ujar Jordi yang memahami arti tatapan pak Toni.
" Maaf mas, tapi kenapa mas banyak bertanya tentang majikan saja ya?."
" Sebenarnya, Eko itu karyawan bos saya dikantor, dan dia sudah punya istri." Ucap Jordi mulai mengarang sebuah cerita.
Bagaimanapun juga, dia harus mendapatkan info dari satpam didepannya. Sedangkan pak Toni terlihat terkejut mendengarnya, karena tadi Eko mengaku ingin bertemu nona majikannya.
" Saat dia ijin katanya istrinya melahirkan, kami melihat istrinya yang biasa mengantar makan siang untuknya baik-baik saja. Itu sebabnya kami curiga dan memutuskan mengikutinya. Dan saat tau dia memasuki rumah ini, kami curiga dia berselingkuh dari istrinya." Lanjutnya lagi dengan raut wajah yang meyakinkan, membuat Pak Toni semakin cemas saja. Takut nona majikannya dijadikan selingkuhan oleh si Eko.
" Selama ini, Eko adalah karyawan terbaik kami, jadi kami ingin dia tidak melakukan kesalahan apapun yang bisa mencemarkan perusahaan kami."
Dan berhasil! Pak Toni mempercayai perkataan Jordi 100%.
" Maaf mas, saya gak tau itu. Pokoknya mas Eko itu datang kesini mau menemui nona. Saya sih gak tau hubungan pasti mereka. Bahkan mas Eko saja baru pertama kali kesini."
" Siapa yah...?." Pak Toni masih saja tak bisa mengingatnya. Usianya yang sudah tak lagi muda membuatnya susah mengingat.
Padahal, tadi saat Eko meminta bertamu dan menyebutkan nama nonanya, ia langsung ingat.
" Apa namanya Kalila?." Tebak Jordi langsung.
" Eh iya mas benar." Jawab pak Toni antusias karena akhirnya mengingatnya.
" Loh kok mas tau?." Tanyanya bingung.
" Cuman asal nebak aja sih pak." Jawab Jordi berusaha berakting sebaik mungkin.
" Ya sudah kalau begitu, saya permisi ya pak. Terima kasih atas informasinya." Ucap Jordi dengan senyum terbaiknya dan pergi dari sana kembali kemobil.
" Bagaimana?." Tanya Keenan tak sabar.
" Ada wanita bernama Kalila disini tuan."
Seketika mata Keenan berbinar bahagia.
" Akhirnya...aku menemukan istriku." Gumamnya penuh kebahagiaan.
" Tapi untuk kepastiannya, akan saya selidiki lebih lanjut."
" Apa maksudmu, sudah jelas itu adalah istriku. Memangnya berapa banyak Kalila yang pria itu kenal." Ketus Keenan karena merasa Jordi ingin membuatnya jangan berharap dulu.
" Ah iya, maaf tuan." Balas Jordi nyengir.
" Lalu sekarang bagaimana tuan?."
" Cari hotel!."
" Baik tuan." Jordi kemudian melajukan mobil untuk mencari hotel terdekat.
...
Sedangkan disisi lain, Eko tengah duduk bersama dengan ayah Aldi dan juga Rita. Sementara Kalila tengah berada didapur untuk menyiapkan minum.
" Aku tidak pernah menyangka akan kembali bertemu dengan ayah." Ujar Eko.
" Ayah juga begitu, ayah senang kau masih setia menunggu Lila." Ujar ayah Aldi yang tau betul perasaan Eko pada putrinya. Namun, karena hubungan yang sempat rusak, membuatnya tak sempat mengatakannya pada Kalila.
Apalagi, saat itu putrinya masih bersekolah.
" Aku akan menunggu Kalila sampai kapanpun. Jika bukan karena dia, aku mungkin tak akan sesemangat itu untuk meraih gelar sarjana dan akhirnya mendapatkan pekerjaan yang layak seperti sekarang." Ujar Eko.
" Apa Lila sudah tau perasaanmu?." Tanya ayah Aldi.
Eko menggeleng lesu.
" Untuk saat ini belum." Jawabnya sembari teringat akan status pernikahan Kalila saat ini. Walau Kalila sudah pergi dari sisi atasannya itu, tapi tetap saja, status mereka secara agama maupun hukum tetap saja masih sah.
" Hei! Kenapa kau terlihat lesu begitu, Lila pasti akan langsung menerima jika kau melamarnya." Ujar ayah Aldi.
Belum sempat Eko menjawab, Kalila datang dengan 3 cangkir teh dinampan yang ia bawa.
" Harusnya kau minta Indah yang bawa sayang." Ujar Rita dengan sandiwaranya.
Ia merasa sudah memiliki cara menyingkirkan Kalila, yaitu dengan segera menikahkannya dengan Eko.
" Tidak papa ma, aku senang melakukannya." Balas Kalila kemudian menaruh 3 cangkir teh hangat itu dihadapan Eko, ayah Aldi, dan Rita. Setelah itu, dia duduk disamping ayahnya.
" Kalau begitu, ayah dan mama kedalam dulu ya." Ujar ayah Aldi bermaksud agar Eko menyampaikan niatnya.
Ia dan Rita kemudian bangkit dari sana.
' Cepat menikahlah, dan pergi dari rumahku.' Batin Rita sembari berjalan dengan suaminya.
" Terima kasih karena mas sudah mau jauh-jauh datang kemari." Ujar Kalila.
" Jangan berkata seperti itu, kau berkata seakan mas repot. Mas sangat senang bisa bertemu lagi denganmu."
" Mas nih ada-ada aja, padahal aku baru pergi beberapa hari." Balas Kalila dengan senyum kecil membuat Eko merasa semakin jatuh cinta dengan kecantikan alami gadis didepannya.
***