
" Ya sudah kalau kau belum mau bercerita, mama keluar dulu ya." Ucap Rita dan kemudian pergi dari sana.
Kalila berniat bangun dari posisi berbaringnya, Indah yang mleihatnya segera membantunya. Kalila duduk bersandar diranjang.
" Aku saja." Ucap Kalila saat Indah menyodorkan sendok untuk menyuapinya.
" Kau kan sedang lemah, jadi aku akan melakukannya untukmu." Balas Indah tanpa embel-embel 'nona'. Dia memanggil Kalila dengan nama hanya saat mereka sedang berdua.
" Aku bisa melakukannya sendiri."
" Sudah jangan membantah, tinggal buka mulutmu dan makan." Indah tetap menyodorkan sesendok nasi padanya.
Kalila hanya tersenyum, kemudian membuka mulutnya untuk makan.
Dibalik pintu kamar yang terbuka sedikit, Keenan tengah tersenyum bahagia. Ia merasa terharu jika mengingat dirinya akan menjadi seorang ayah.
' Terima kasih karena mau mengandung anakku.'
Keenan kemudian pergi dari sana, namun tiba-tiba...
" Hoek!!! Hoek!!!." Suara itu membuatnya kembali membalikkan tubuhnya dan reflek membuka pintu.
" Ada apa dengannya?." Tanya Keenan panik mendengar suara Kalila yang muntah-muntah dikamar mandi, pada Indah yang berada didepan kamar mandi.
" Itu, nona Lila muntah setelah makan beberapa suap."
Setelah mendengar perkataan Indah, Keenan langsung masuk kekamar mandi. Ia menatap wajah pucat lewat cermin didepan wastafel.
" Hoek!!! Hoek!!!." Kalila terus saja memuntahkan makanan yang baru saja masuk ketubuhnya. Ia bahkan tak menyadari siapa yang berdiri dibelakangnya.
Tanpa rasa jijik atau apapun, Keenan memegang tengkuk Kalila, memijitnya perlahan agar Kalila lebih mudah muntah, dan dengan begitu akan cepat lega.
Kalila yang mengira itu adalah tangan Indah hanya diam saja. Lagipula itu sangat membantunya. Walau akal sehatnya agak bingung, kenapa tangan Indah terasa begitu berotot dan juga besar, seperti tangan laki-laki.
" Hah, makasih ya." Ujar Kalila yang sudah memuntahkan semua makanannya. Ia kemudian berkumur dan membasuh wajahnya.
Tatapannya terpaku pada cermin didepannya, melihat bayangan pria disana.
" Loh, kok kamu ada disini?." Tanyanya pada Keenan yang ia kenali sebagai Joko.
Ia kemudian berbalik dan menatap Keenan dengan aneh.
" M-maaf nona, tadi saya lagi lewat sini, terus lihat nona muntah jadi saya..."
" Terima kasih." Kalila segera memotong perkataan Keenan.
Ia segera keluar dari kamar mandi dan melihat Indah berdiri diluar pintu.
" Saya permisi nona." Ucap Keenan dan keluar dari kamar.
" Kenapa kau membiarkannya masuk?." Tanya Kalila pada Indah setelah Keenan keluar.
" Em, ya aku...kaget aja liat dia masukdan bantuin kamu. Karena liat kamu gak nolak aku pikir dia melakukan hal yang benar." Ujar Indah berusaha mencari alasan terbaik.
" Oh ya, kau tadi sudah memuntahkan isi perutmu, apa kau mau makan lagi?." Tanta Indah mengalihkan perhatian.
" Tidak, aku tidak berselera untuk makan." Jawab Kalila.
" Tapi nanti perutmu kosong, kau harus makan demi bayimu."
" Tidak papa, aku akan mengatakan jika aku ingin makan."
" Ya sudah kalau begitu, aku kebawah dulu ya."
Kalila mengangguk sebagai jawaban.
' Ada apa denganku, kenapa aku merasa mengenali sentuhan itu...' Batin Kalila teringat tadi.
" Hah, ada apa denganku? Apa ini bawaan hamil? Aku seakan merasakan kehadirannya disini." Gumamnya menghela napas mengingat ayah dari bayinya.
" Nak, kamu jadi anak yang baik ya sayang. Walau papa tidak ada disini, tapi masih ada mama yang sangat menyayangi kamu." Ucapnya sembari mengelus perut ratanya dengan buliran bening yang menggenang dipelupuk mata.
" Apa aku harus menunjukkan siapa diriku padamu? Tapi jika aku melakukannya, apa kau mau memaafkanku?." Gumam Keenan.
***
" Siapa ayah dari cucuku, nak?." Tanya Ayah pada putrinya. Ia langsung menghampiri Kalila setelah pulang dari kantor.
Kalila yang duduk disofa ruang keluarga didepan ayahnya, hanya bisa menunduk sembari menggenggam erat pakaian yang ia kenakan.
" Kau tidak perlu takut, ayah tidak akan marah padamu. Ayah akan mencari pria itu, dan memintanya bertanggung jawab atas apa yang dia perbuat padamu." Ujar Ayah lagi dengan penuh kelembutan. Berharap agar putrinya tak ragu untuk bercerita padanya.
" Maafkan Lila yah."
" Kau tidak perlu meminta maaf nak, apa yang terjadi padamu bukanlah kemauanmu. Katakanlah... siapa pria itu?."
Tubuh Kalila mulai bergoncang kecil, menandakan wanita itu tengah menahan isaknya.
Ayah Aldi mendekat, dan duduk disamping Kalila. Ayah meraih kepala Kalila, agar putrinya itu bisa bersandar di bahunya.
" Maafkan ayah yang tak bisa menjadi ayah yang baik untukmu. Kau harus menghadapi banyak masalah karena ayah." Ujarnya dengan membelai rambut putrinya dengan lembut.
" Yang ayah ingin, kau mengatakan siapa pria itu. Setidaknya pria yang tak berguna ini bisa sedikit berguna untukmu." Lanjutnya lagi.
" Jangan katakan itu yah, ayah adalah ayah terbaik didunia. Semua yang terjadi adalah bagian dari takdir. Jangan menyalahkan diri ayah seperti itu." Ucap Kalila masih bersandar dibahu ayahnya.
" Kalau begitu, katakan... siapa ayah dari anakmu." Ayah Aldi memegang bahu Kalila, agar putrinya itu menghadap padanya.
" Lila tidak bisa mengatakannya, yah." Lirih Kalila.
" Tapi kenapa?." Tanya Ayah Aldi tak mengerti.
" Dia orang kaya, jikapun ayah meminta pertanggung jawabannya, aku yakin yang ayah dapat hanya rasa malu."
" Kenapa kau seyakin itu Lila, bisa saja ternyata dia mencarimu dan menyesali perbuatannya."
" Tidak yah, dia sudah punya kekasih, mungkin mereka sedang merencanakan pesta pernikahan." Jawab Kalila berusaha agar ayahnya jangan mencari Keenan.
Ia yakin, pria itu tidak akan mencarinya. Terlebih lagi, hamilnya dia juga atas permintaannya. Mungkin jika saat itu dia tidak menjadi Kalila yang berbeda dengan meminta hal seperti itu, dia tidak akan hamil sekarang.
Apalagi, saat itu ia mengatakan pada Keenan jika dia akan meminum pil kontrasepsi. Ia yakin pria itu tak akan berusaha mencarinya karena yakin dirinya tak akan mengandung.
" Ayah akan tetap berusaha mencari keadilan untukmu Lil, katakan saja nama pria itu!."
Kalila menggeleng, ia sungguh tak berniat mengatakan apapun.
" Jika kau tak mau mengatakannya pada pria tua ini, itu artinya kau tidak menganggapku sebagai ayah!."
Kalila langsung menatap ayahnya mendengar hal itu.
" Tolong jangan katakan itu yah..."
" Kalau begitu, katakan!."
Kalila menghela napas, sepertinya ia memang harus menceritakan semua pada sang ayah.
Mungkin jika ayahnya sudah mendengar nama Keenan, ayahnya akan berhenti bersikukuh seperti ini. Ia yakin ayahnya mengenal siapa itu keluarga Pradipta dan juga Angkasa Group.
Aldi terdiam mendengar perkataan putrinya, ia tidak pernah menyangka jika pria yang menjadi ayah dari cucunya adalah pria dari keluarga terpandang.
Bahkan bukan hanya terpandang, tapi keluarga paling tersohor dinegri.
Dan ternyata, putrinya itu tidak diperkosa, tapi berstatus istri yang sah secara agama dan hukum.
Walau pernikahan dari putra keluarga terpandang itu, tertutup rapat sehingga tak ada publik yang tau.
Ia benar-benar bingung sekarang...
***