My Husband, I Love You

My Husband, I Love You
Pulang



Kalila terbangun dari tidurnya kala cahaya sang surya menyusup lewat gorden yang menerawang.


Ia mengerjapkan matanya perlahan, belum sempat ia benar-benar membuka mata, tiba-tiba rasa mual menghinggapinya.


Dengan segera Kalila berlari kekamar mandi, kemudian memuntahkan makanannya.


...


Kalila tengah duduk dimeja makan bersama kedua orang tuanya. Namun tiba-tiba saja mulutnya terasa bergejolak sesaat setelah menelan makanan.


Ia segera berlari kekamar mandi samping dapur, kamar mandi terdekat saat ini.


Kalila kemudian memuntahkan makanannya, bahkan makanan semalam ikut terbuang.


" Sayang, ada apa denganmu nak? Kenapa kau membuat mama mual begini, apa kau menginginkan sesuatu?." Tanya Kalila sembari mengelus perutnya.


Ia kemudian kembali kemeja makan.


" Apa kau baik-baik saja?." Tanya Rita menunjukan kepeduliannya, padahal itu hanya pencitraan didepan sang suami.


Kalila mengangguk sebagai jawaban.


Kalila kembali duduk dikursinya, namun lagi-lagi setelah menelan makanan, ia merasakan mual.


" Apa kau ingin makanan lain?." Tanya Aldi pada putrinya yang bolak-balik muntah.


Kalila teringat akan Joko, semalam setelah makan masakan Joko, ia tidak memuntahkan makanannya.


Meskipun merasa aneh, mungkin sebaiknya ia meminta dimasakan lagi, toh tidak ada salahnya. Mungkin ini kemauan sidede.


" Boleh aku minta tolong pada Joko?." Tanya Kalila pada sang ayah.


" Kenapa Joko?." Aldi mengernyit heran.


" Em..." Kalila sempat bingung, tapi akhirnya ia menceritakan juga kejadian semalam.


" Benarkah? Bukankah itu terdengar aneh?." Tanya Rita yang juga mewakili Aldi.


" Lila juga tidak tau ma, tapi Lila tidak muntah setelah itu."


" Baiklah, jika masakan Joko yang membuatmu tetap makan, mula sekarang Joko yang akan masak untukmu." Ujar Aldi akhirnya.


" Eh, tidak perlu setiap hari juga yah, jangan menambah tugasnya." Tolak Kalila cepat, walau ia sebenarnya ingin, tapi ia tak mau terus merepotkan, terlebih lagi itu bukanlah tugas seorang satpam.


" Kau tenang saja, ayah akan menggajinya dua kali lipat sebagai ganti."


Mendengarnya membuat Rita mencebik kesal, karena suaminya itu terlalu perhatian pada Kalila.


" Baiklah kalau begitu." Ujar Kalila senang.


' Tapi tunggu, kenapa Kalila ingin masakan Joko, bukankah itu sangat aneh. Sepertinya aku harus menyelidiki satpam itu.' Batin Rita.


...


Seperti yang Kalila inginkan, Keenan tengah berubah menjadi koki Joko. Dengan senang ia memasak untuk istrinya. Terlebih lagi saat mengetahui jika masakannya enak, membuat dirinya semakin percaya diri untuk memasak.


" Silahkan nona." Ucapnya saat menghidangkan nasi goreng dihadapan Kalila.


" Terima kasih mas." Ucap Kalila tersenyum tulus.


" Maaf ya nona, saya hanya bisa membuatkan anda nasi goreng seperti ini." Ujar Keenan.


" Tidak papa, entah kenapa semenjak hamil aku juga menyukai nasi goreng." Balas Kalila dan kemudian mulai menikmati makanan didepannya.


" Bagaimana rasanya nona?." Tanyanya penasaran. Meskipun semalam Kalila mengatakan enak, ia takut itu hanya keberuntungan.


" Enak seperti semalam." Jawab Kalila yang tengah mengunyah makanan.


" Benarkah?."


" Em." Kalila mengangguk.


" Syukurlah, kalau begitu saya permisi nona." Pamit Keenan, Kalila mengangguk.


Keenan kemudian pergi dari sana dan kembali kepos satpamnya.


Saat baru sampai ditempat kerjanya selama beberapa minggu ini, ponsel disakunya berdering.


" Halo."


" Maaf tuan, sepertinya anda harus segera kembali!." Ujar Jordi terdengar panik dari ujung telepon.


" Memangnya ada apa?."


" Kesehatan tuan besar memburuk. Tuan besar ingin melihat anda." Jawab Jordi.


Tapi jika mengingat laporan Jordi jika ayahnya akhir-akhir ini kambuh, bahkan sekarang memburuk, membuat harus pulang secepatnya, walau terpaksa.


" Hah, baiklah aku akan pulang." Jawabnya akhirnya. Walau dalam lubuk hatinya tak ingin jauh dari istrinya yang sedang manja terhadapnya dengan meminta dibuatkan nasi goreng.


Keenan menutup telponnya, kemudian beralih menelpon pak Toni dan meminta pria paruh baya itu kembali bekerja.


***


" Permisi tuan, nyonya, nona." Sapa Keenan menghampiri Aldi, Rita dan Kalila yang duduk diruang makan pagi ini.


" Ada apa?."


" Saya mau ijin cuti tuan." Ujarnya sembari melirik istrinya. Sebuah raut terkejut sekaligus kecewa terlihat disana.


' Maafkan aku, aku pasti akan segera kembali.'


" Loh kenapa mendadak?."


" Maaf tuan, ayah saya penyakitnya kambuh, dan beliau ingin sekali melihat saya." Ujar Keenan dengan sejujurnya. Walau yang diajak bicara tak akan tau siapa yang ia bicarakan.


" Saya sudah menghubungi pak Toni untuk kembali bekerja disini." Lanjutnya saat melihat ketiga orang didepannya hanya diam.


" Lalu siapa yang akan memasak untuk Lila. Dia bilang dia tidak muntah jika ia makan masakanmu." Ujar Aldi melirik Kalila yang tengah menikmati nasi goreng buatan Keenan tentunya.


Keenan menatap Kalila dengan ragu. Tentu ia juga tak ingin membuat istrinya harus muntah-muntah setelah makan. Namun ia juga harus menemui sang ayah.


" Lila tidak papa yah. Lagipula ayahnya mas Joko ingin bertemu putranya, dia pasti merindukan mas Joko." Ujar Kalila walau nyatanya ia sendiri tengah berpikir, apa dia tak akan muntah setelah Joko pergi?.


" Terima kasih nona."


' Kau memang wanita yang baik hati. Maafkan aku karena dulu selalu menyakitimu.'


" Baiklah kalau begitu, kapan Toni akan kembali?."


" Pak Toni akan datang nanti siang tuan."


" Hem, baiklah. Aku beri kau izin."


**"


" Ada apa denganku? Kenapa aku sesedih ini hanya karena mas Joko pergi? Hah, sepertinya ada yang salah denganku?." Gumam Kalila menatap pemandangan kota didepannya lewat balkon.


Entah kenapa hatinya terasa gundah gulana, ia benar-benar merasa sepi, padahal baru beberapa jam Joko pergi.


Tanpa ia sadari, itu adalah bawaan anaknya.


" Makan nanti... semoga saja aku tidak akan muntah."


***


" Dimana menantuku?." Tanya Papa Haris dengan suara lirih saat Keenan memasuki kamarnya.


" Maaf pa, Keenan belum berhasil." Ujar Keenan menggenggam tangan papanya. Ia merasa bersalah karena belum bisa membawa Kalila.


" Papa ingin sekali bertemu dengannya. Papa merindukan menantu papa." Lirih Haris dengan terbatuk-batuk.


" Papa jangan khawatir, Keenan akan secepatnya membawa Kalila." Jawab Keenan berusaha menghibur sang ayah.


" Gimana keadaan Lila, apa dia baik-baik saja. Lalu cucu mama?." Tanya Sarah yang duduk disamping suaminya.


" Dia baik ma."


Keenan kemudian bercerita, bagaimana Kalila hanya memakan nasi goreng buatannya, dan jika tidak akan muntah.


" Itu pasti perbuatan putramu." Ujar Haris menyela dengan senyuman tipisnya.


" Putra? Apa papa seyakin itu jika aku akan punya seorang putra?." Tanya Keenan.


" Firasat seorang calon kakek." Jawab Haris dengan terkekeh.


" Mama dan papa sangat merindukan istrimu, mama harap kau bisa segera membawanya kembali." Ujar Sarah menatap penuh harap.


" Aku sedang berusaha, ma."


Keenan melirik Jordi sang sekretaris sekaligus asisten yang berdiri tak jauh darinya.


" Aku pergi dulu, ada sesuatu yang harus ku biacarakan dengan Jordi." Pamit Keenan pada mama dan papa-nya.


" Hem, pergilah."


****