
" Ti-tidak ada yah, tidak ada pria yang sudah Kalila cintai."
" Lalu apa alasanmu menolak Eko?." Tanya Rita yang mulai kesal.
" Em, Lila hanya belum siap menjalin hubungan dengan siapapun." Lirihnya.
Ayah Aldi menghela napas, ia cukup sadar diri untuk tidak memaksakan kehendaknya. Putrinya pasti menderita karena dirinya, biarlah dia membebaskan Kalila untuk masalah hati, yang ia sendiri memiliki nilai buruk soal itu.
" Baiklah. Ini sudah malam, sebaiknya kau tidur." Ujar ayah Aldi.
Kalila mengangguk sembari tersenyum, ia memandang Rita untuk meminta ijin, kemudian melangkah menuju kamarnya.
Seperginya Kalila, Rita memandang suaminya dengan kesal.
" Kenapa mas tidak memaksanya menerima Eko? Eko pria yang baik untuk Lila." Ujarnya berusaha bicara dengan nada selembut mungkin, padahal hatinya sedang sangat kesal.
" Aku tak ingin memaksakan kehendakku. Sebagai ayah yang pernah menyakitinya, aku terlalu malu melakukannya." Jawab Aldi pada istrinya.
Rita hanya diam, sepertinya ia harus memikirkan cara lain untuk mengeluarkan anak tirinya dari rumah ini.
" Maaf tuan, nyonya." Ucap seorang pria yang tak lain adalah pak Toni disaat keduanya terdiam. Ia menghampiri kedua majikannya yang tengah memandangnya dengan tatapan bingung.
" Ada apa pak?." Tanya Aldi.
" Em itu tuan...saya mau ijin cuti beberapa hari." Ujar pak Toni yang memulai aksinya.
" Ijin? Memangnya kenapa bapak tiba-tiba minta ijin?." Tanya Aldi.
" Anu...itu..tuan... keluarga saya dikampung ada yang meninggal." Ujar pak Toni.
' Gustiii...semoga ini gak jadi do'a.' Batinnya takut.
" Innalilahi... turut berduka cita ya pak! Ya sudah, bapak saya beri cuti." Ujar Aldi akhirnya.
" Tapi apa bapak sudah mencari pengganti?."
" Sudah tuan, ada anaknya temen saya besok dia datang."
" Oh ya sudah..."
" Kalau begitu saya permisi, tuan, nyonya."
Setelah itu, pak Toni pergi dari sana.
.
.
.
Seperti yang sudah direncanakan, hari ini Keenan tengah bersiap dengan kostum barunya.
Seragam satpam yang warnanya sama seperti polisi, dan juga sebuah kumis tebal yang menghiasi wajahnya.
" Nah, ini yang terakhir tuan." Ujar Jordi menyodorkan sebuah tompel.
" Ah tidak, aku tidak mau memakainya!." Tolak Keenan cepat. Ia tak mau wajahnya semakin buruk rupa.
" Hah, kalau cuman ditutupi kumis, saya yakin nona muda akan dengan mudah mengenali anda tuan."
" Ya, apa saja asal jangan tompel!."
" Ah aku tau! Kaca mata." Ujar Keenan menemukan sebuah ide.
" Kaca mata?." Tanya Jordi merasa ide bosnya itu kurang bagus.
" Sudah cepat, carikan aku kaca mata. Tapi ingat! Jangan kaca mata min, yang ada nanti mataku rusak!." Titah Keenan sembari terus memperhatikan wajah dan penampilannya dicermin.
" Baiklah tuan." Ucap Jordi akhirnya.
Ia kembali mematut dirinya dicermin, rasa-rasanya ia benar-benar asing dengan wajah didepannya.
Wajah putih mulus dengan rahang tegas serta jambang tipis. Kini berganti menjadi pria berkumis tebal khas bapak-bapak buncit beristri banyak, sungguh menjijikan.
' Hah, aku tidak pernah mengira akan melakukan ini demi seorang wanita.' Batinnya menghela napas, lucu.
Namun kemudian ia tersenyum tipis, bahagia mengingat akan kembali dekat dengan wanita yang dia cintai.
Saat semuanya sudah siap, mereka menuju rumah Kalila, dimana pak Toni sudah menunggu dipos satpam.
Pak Toni kemudian membawa Keenan kedalam.
" Selamat pagi tuan, nyonya, nona." Sapanya pada ketiga majikannya.
Sedangkan Keenan yang berdiri dibelakangnya dengan penampilan barunya itu terdiam. Rasa bahagia menyeruak kedalam dada kala melihat wajah yang telah lama ia rindukan.
' Aku akan memulai kembali semuanya dari awal.'
Menyadari pria dibelakangnya hanya diam saja, pak Toni langsung menyikut Keenan dan berhasil membuat pria itu tersentak.
" Se-selamat pagi." Sapanya karena gugup.
Sungguh! Seumur hidupnya, baru kali ini seorang Keenan Alvaro Pradipta merasakan kegugupan.
Bahkan saat baru pertama kali menggantikan ayahnya diperusahaan saja, ia tidak gugup sama sekali.
Tapi kali ini, ia seperti bocah yang suka demam panggung. Keringat dingin muncul didahi dan telapak tangannya.
Sedangkan Kalila sendiri mengernyitkan dahinya, entah kenapa suara itu tak asing ditelinganya. Ah tidak! Bukan tak asing, tapi sangat familiar...
Itu... adalah suara pria yang dia cintai.
' Apa aku sedang berhalusinasi?.' Batinnya kemudian pandangannya menelisik pria asing didepannya. Postur tubuh dan wajahnya juga mirip dengan Keenan.
' Aku pasti terlalu merindukannya, postur tubuh dan wajahkan bisa saja sama.' Batinnya berusah meyakinkan diri sendiri.
" Ini... Joko tuan, dia yang akan menggantikan saya disini." Ujar pak Toni yang menyebut nama seceplosnya saja.
Mendengar nama yang dibuat pak Toni sembarangan, membuat Keenan naik pitam. Bisa-bisanya seorang satpam memberi nama pada seorang presdir seperti dirinya, dengan nama sejelek itu.
' Sial.'
" Baiklah kalau begitu, bapak tunjukan dulu tugas-tugasnya, setelah itu bapak bisa pulang." Ujar ayah Aldi.
" Baik tuan."
Pak Tonipun mengajak Joko alias Keenan pergi dari sana.
...
Kalila tengah duduk di bangku taman yang masih dalam area rumah ayahnya. Ia tengah memandangi hamparan bunga yang bermekaran didepannya.
" Tuan... sedang apa kau sekarang? Apa tuan sudah bahagia bersama nona Alin? Saya rasa begitu. Pasti anda merasa sangat bahagia karena benalu seperti saya sudah pergi dari hidup anda." Ucapnya entah pada siapa, yang ia inginkan hanyalah mengeluarkan segala unek-uneknya.
Rita sedang keluar seperti biasa, sedangkan Indah sedang sibuk dengan pekerjaannya. Jika biasanya dia akan membantu indah walau sedikit, kali ini ia ingin duduk ditaman.
Menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. sekaligus menghilangkan kegundahan hatinya yang entah akan berakhir kapan.
" Kenapa wanita buruk rupa seperti saya harus mencintai anda... pria yang jelas-jelas sempurna, bahkan sudah memiliki kekasih yang juga sempurna..." Gumamnya lagi dengan senyuman tipis menghiasi bibirnya, meski buliran bening mengalir dipipinya.
Ia segera mengusapnya cepat, tak ingin terlihat lemah, bahkan oleh semut yang lewat sekalipun.
Tanpa ia sadari, Keenan tengah berdiri tak jauh darinya. Hatinya terasa sakit melihat wanita yang ia cintai meneteskan air mata karena ulahnya.
" Tidak, kau bukan wanita buruk rupa. Kau adalah wanita tercantik yang pernah aku temui. Bukan hanya cantik fisik, tapi juga hati."
" Aku akan memperbaiki semuanya, aku pastikan kau tak akan menangisi apapun lagi selain tangis kebahagiaan." Gumamnya.
Rasanya ia ingin sekali mendekat dan langsung mendekap Kalila dalam pelukannya. Namun ia sadar, ia harus menahan diri untuk saat ini.
Tiba-tiba terbesit sebuah cara diotaknya, agar dapat mendekati sang istri.
Keenan memetik sebuah bunga mawar putih didekatnya, kemudian berjalan menuju Kalila.
" Mungkin mawar putih ini bisa mengobati kesedihan anda, nona." Ucapnya seraya menyodorkan mawar itu pada Kalila yang tengah menunduk menangis.
Kalila langsung mendongak, mendengar suara itu lagi, membuatnya teringat satu nama.
" Te-terima kasih." Ujar Kalila langsung menghapus sisa air matanya.
" Sama-sama." Keenan menjawab lirih, serta sebuah senyuman yang tak disadari Kalila.
***