
Setelah sarapan, Keenan bangkit untuk berangkat kekantor. Seperti biasa, sekretaris Jordi sudah sedia didepan rumahnya.
" Tuan!." Panggil Kalila yang muncul dengan seragam OBnya.
Keenan menoleh tanpa suara.
Kalila segera meraih tangan suaminya dan kemudian mengecupnya.
" Jangan bersikap seperti istri yang baik!!!." Keenan tiba-tiba membentak Kalila dengan menghempaskan tanganya. Membuat gadis itu serta sekretaris Jordi terkejut.
" A-apa maksud tuan? Bukankah anda sudah mengijinkan saya melakukannya?." Tanya Kalila dengan gemetar.
" Cih, kau benar-benar pandai berakting, kau pikir aku bodoh. HA!!!."
" Sa-saya benar-benar tak mengerti maksud tuan." Lirih Kalila dengan menunduk. Air matanya sudah mengalir karena kemarahan tak berdasar dari suaminya.
" Hentikan sandiwaramu. AKU MUAK!!!." Teriak Keenan dan langsung masuk kedalam mobil.
" Jordi!!!." Panggilnya.
Dengan sigap sekretaris Jordi langsung menuju kursi kemudinya dan melajukan mobil keluar area rumah.
" Pak Gun tak perlu menjemputnya. Kau mintalah orang-orang yang selalu mengawasinya agar dia tak bisa pulang atau berangkat dengan kendaraan. Aku ingin dia berjalan kaki setiap hari!." Ujarnya mengingat pernah meminta sekretaris Jordi menyuruh pak Gun mengantar jemput Kalila.
" Ah tunggu, ganti orang-orangmu itu. Gadis itu hilang saja mereka tidak tahu." Ketusnya mengingat ia sampai kecolongan. Walau ia merasa Kalila memang pintar untuk berusaha pergi saat akan menjual tubuhnya.
" Akan saya laksanakan, tapi kenapa anda melakukan itu tuan?." Sekretaris Jordi tak bisa menahan rasa penasarannya.
" Aku ingin dia tersiksa, karena berani mengusik ketenangan Keenan Alvaro Pradipta." Jawab Keenan dengan ekspresi dinginnya.
" Mengusik?." Lagi-lagi sekretaris Jordi bertanya, karena sebelumnya hubungan tuan dan nona mudanya membaik. Lalu kenapa tiba-tiba kembali memburuk?.
Keenan menatap tajam lewat kaca spion didepan sekretaris Jordi seolah mengatakan.
' Kenapa kau ini cerewet sekali. Bukankah kau sudah tau aku tak tak suka banyak pertanyaan. kecuali masalah bisnis.'
" Maaf tuan." Ujar sekretaris Jordi, meski rasa penasarannya benar-benar tak terjawab.
Saat ia bertanya pada orang-orang yang mengawasi nona mudanya, mereka juga tak tau apa-apa. Sungguh tidak berguna.
" Kenapa anda tiba-tiba marah tuan? Apa salah saya." Ucap Kalila duduk bersimpuh menatap mobil yang kian menjauh.
" Bukankah anda sudah mengijinkan saya melakukan tugas-tugas sebagai seorang istri tanpa menolaknya? Lalu kenapa anda semarah itu tuan." Lirihnya disela tangis.
Ia mengusap air matanya dengan kasar kemudian bangkit.
" Apapun alasan anda bersikap seperti tadi, saya akan tetap berusaha menjadi istri yang baik." Gumamnya optimis.
Kalila kemudian memesan ojek untuk berangkat. Tak berselang lama, ojekpun datang.
Kalila sampai dipelataran kantor, ia masuk dan langsung menuju tempat OB.
" Cih, kau tetap bersikap biasa setelah menjual tubuhmu. Dasar tidak tahu malu!." Cibir Keenan yang tengah mengawasi Kalila lewat CCTV ponselnya.
Ia melihat Kalila berinteraksi seperti biasa dengan teman-temannya.
Kalila memulai pekerjaannya seperti biasa.
" Lil!." Panggil Eva.
Kalila menoleh.
" Kemarin kamu gak berangkat kenapa? Kamu sakit?."
" Enggak kok, cuman ada urusan pribadi aja."
" Terus kenapa pucet gitu, kamu pasti sakit ya, terus kenapa hari ini tetep masuk kerja. Kan kamu bisa titip izin ke aku."
" Aku gak papa, nanti dibawa kerja juga mendingan." Jawab Kalila tak ingin Eva khawatir.
" Yakin?."
" Iya...iya...tenang aja."
' Aku akan berusaha kuat, untuk meluluhkan hati tuan Keenan.'
" Ya udah deh." Eva kembali mengerjakan tugasnya.
...
Waktu hampir menunjukkan jam makan siang saat Kalila tengah mengelap meja. Pusing dikepalanya yang sedari pagi ia tahan semakin sakit saja.
Prankk!!!
Tanpa sengaja Kalila memecahkan vas bunga dimeja yang ia bersihkan.
" Hei! Kalau kerja yang bener dong." Ujar salah seorang Office Girl padanya.
" Maaf..." Lirihnya dengan memegang kepala. Rasanya ia tak memikirkan apapun karena rasa sakitnya.
" Maaf! Maaf! Ini gimana, ini milik perusahaan, kamu mau kita kena masalah karena kamu?!." Office Girl itu terus saja mencercanya.
" Ada apa ini?." Tanya bu Tati.
" Ya ampun Lila, kamu ini bisa gak sih sekali-kali jangan buat masalah. Kamu itu beruntung karena sering cuti tanpa ijin tapi masih dipekerjakan. Harusnya kamu lebih hati-hati dalam bekerja!!!." Omel bu Tati.
" Ma-maaf bu..."
" Ada apa ribut-ribut?." Tanya sebuah suara bariton dari arah belakang bu Tati.
Dia adalah Keenan yang berniat makan siang dengan kliennya. Diikuti sekretaris Dewi dibelakangnya.
" I-ini pak, Kalila memecahkan vas." Ujar bu Tati menunduk. Dia adalah kepala OB, ia bisa kena dampak jika ada salah satu anggotanya yang teledor.
' Sampai kapan wanita murahan sepertimu akan bertindak ceroboh.'
" Benarkah? Kalau begitu minta dia ikut saya!." Titahnya menatap Kalila yang masih saja memegangi kepalanya. Ia tak sadar dengan keadaan yang sedang terjadi.
" Baik pak."
Keenan melangkah menuju lift khususnya untuk kembali keruangannya diikuti oleh sekretaris Dewi.
" Pergilah, kau handle makan siang dengan perusahaan X!." Titahnya pada sekretaris Dewi.
Sementara itu...
" Hei! Kenapa kau masih ada disini, kau mau saya dipecat!."Ujar bu Tati karena Kalila masih diam ditempatnya.
" Memangnya saya harus kemana bu?." Tanyanya bingung. Sakit kepala membuatnya tak jelas mendengar.
" Keruangan pak presdir." Ujar bu Tati sudah malas menghadapi salah satu anggotanya yang banyak membuat masalah itu.
" Ruangan Presdir?."
" Ayolah Lila, jangan banyak bertanya atau saya akan benar-benar dipecat gara-gara kamu." Ujar bu Tati greget.
" Ba-baiklah."
Kalila masuk kedalam lift karyawan dan menuju ruangan suaminya.
Tok...Tok...Tok...
" Masuk!."
" Untuk kemari saja kau butuh satu abad." Cibir Keenan yang memang sudah lama menunggu."
" Maaf tuan." Pusing dikepalanya tidak berkurang, tapi untungnya dia tidak cepat pingsan seperti biasa.
" Karena kau sudah memecahkan vas perusahaan, maka kau harus diberi hukuman." Ujar Keenan dingin bersandar pada kursi kerjanya menatap tajam Kalila.
" Maaf tuan, tapi saya sungguh tidak sengaja..."
" Sengaja tidak sengaja, kau tetap sudah membuat kesalahan. Maka aku akan tetap menghukummu." Ujar Keenan dengan seringai licik.
Kalila hanya pasrah, pusing dikepalanya membuatnya tak punya banyak tenaga untuk bicara.
" Ikut aku!." Titahnya dan melangkah keluar ruangan. Kalilapun mengikutinya.
Mereka berjalan melewati para staf yang berniat makan siang. Semua saling berbisik, merasa ada hubungan tak biasa dari presdir dan OB yang sering membuat masalah itu.
" Eh tunggu pak, tas saya masih ada didalam." Ucap Kalila saat diparkiran.
" Ya sudah, 5 menit." Ujar Keenan.
Kalila segera masuk kembali kedalam kantor, beberapa menit saja dia sudah kembali dengan napas ngos-ngosan karena mengejar waktu.
Ia segera masuk kedalam mobil dimana Keenan sudah siap dikursi kemudi. Karena Keenan menyuruhnya duduk didepan , ia menurut saja.
Keenan melajukan sendiri mobilnya menuju suatu tempat yang sudah ia siapkan untuk Kalila.
Hanya butuh waktu beberapa menit saja, mereka sudah sampai ditempat yang dituju. Sebuah salon kecantikan.
' Kenapa tuan Keenan membawaku kesini, sebenarnya apa hubungannya dengan memberiku hukuman?.' Batin Kalila bertanya-tanya.
" Turun!." Titah Keenan. Ia turun dari mobil dan masuk kedalam salon, begitupun Kalila.
Keenan membawa sebuah paper bag ditangannya, sebelum Kalila masuk keruangannya, ia meminta sekretaris Jordi membawakannya sebuah gaun dan juga heels kemudian menaruhnya dimobil. Tentu saja bagian penting dari rencananya.
" Urus dia! Dan ini pakaiannya!."Titahnya pada pegawai salon memberikan paper bagnya.
" Tentu tuan, kami akan memberikan pelayanan terbaik." Ujar pegawai yang memang sangat mengenal siapa pria gagah didepannya.
Karena Keenan dulu sering mengantar sang mama kemari, mereka menjadi pelanggan VVIP. Namun, semenjak menikah, ia tak pernah melakukannya lagi.
Walau pegawai itu bingung, kenapa wanita yang bersama Keenan adalah wanita berseragam OB.
" Tuan?."
" Kau tinggal menurut saja, atau kau akan aku tinggal disini!." Ancam Keenan saat Kalila menanyakan tindakannya.
Kalila diam seribu kata, kemudian melangkah mengikuti pegawai yang menuntunnya memulai make over.
***