
" Bagaimana bisa kau menikah dengan orang berpengaruh seperti dia?." Tanya Eko tak habis pikir.
" Semua itu terjadi karena kesalah pahaman."
Kalila kemudian menceritakan bagaimana ia menikah dengan Keenan serta perjanjian yang mereka sepakati.
Eko hanya semakin termangu karena penjelasan Kalila. Ia tak pernah menyangka jika wanita yang ia cintai, ternyata sudah menikah. Dan itu dengan seorang presdir dari perusahaan besar Angkasa Group.
Itu artinya, selama ini dia sedang mengharapkan istri orang.
Meski begitu, ia merasa kasihan pada Kalila. Karena pernikahan itu tak terjadi atas keinginan gadis itu. Ia yakin Kalila tersiksa dalam pernikahannya.
Sedangkan Kalila merasa lega, menceritakan masalahnya pada Eko membuat bebannya seakan berkurang.
" Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?." Tanya Eko.
" Aku sudah menggugat cerai tuan Keenan, meskipun ini belum satu tahun, tapi kami juga pada akhirnya akan segera bercerai."
" Aku tak pernah mengira kau akan terlibat pernikahan seperti itu. Apa temanmu Eva sudah tau tentang ini?."
Kalila menggeleng.
" Hanya mas yang tau tentang ini. Aku harap mas Eko bisa menjaga ini tetap rahasia." Pinta Kalila.
" Tentu saja, kau bisa percaya padaku." Jawab Eko mantap.
Mereka terdiam setelahnya.
" Lalu, apa kau akan tetap ikut bersamaku kembali. Jika kau mau, mas akan mencarikan kontarakan untukmu." Tanya Eko setelah hening beberapa saat
" Tidak perlu, aku akan ikut kembali dengan mas saja, tapi tentunya kerumahku sendiri."
" Bukankah jika kau kesana, tuan Keenan bisa saja menemukanmu?."
" Tuan Keenan tidak akan mencariku, dan jika itu benar, tentu saja aku akan menghindar."
" Baiklah jika itu keputusanmu, aku akan selalu mendukungmu." Ujar Eko yang masih diliputi rasa kecewa.
Meski begitu, yang Kalila butuhkan saat ini adalah dukungannya, bukan yang lain.
***
Beberapa hari berlalu, Keenan tak juga menemukan Kalila.
Bahkan saat ini ia sudah kembali keibu kota karena berpikir Kalila berada disini. Namun nyatanya, ia tak melihat tanda-tanda istrinya itu sama sekali.
Ia juga sudah mencari Kalila dirumahnya, tapi hasilnya masih sama, nihil.
Bahkan ia tak memikirkan laporan Jordi jika pria yang berusaha melecehkan istrinya, yaitu Devan sudah kabur entah kemana. Karena yang berada dipikirannya sekarang, hanyalah dimana keberadaan istrinya.
Saat ia masih termenung diruangan kantornya, tiba-tiba seseorang mengetuk pintu.
" Masuk!."
" Maaf tuan, diluar ada nona Alin ingin bertemu dengan anda." Ujar Dewi salah satu sekretarisnya.
" Alin?."
' Kapan dia pulang?.' Batinnya heran
" Biarkan dia masuk!." Titah Keenan pada Dewi.
" Baik tuan." Sekretaris Dewi kembali keluar dan menutup pintu
Tak lama pintu terbuka menampilkan seorang wanita dengan paras cantiknya. Alin memang sengaja datang beberapa hari setelah mendapat perintah dari Devan.
Karena jika Keenan melihat wajah lebamnya, yang ada rencananya malah berantakan.
" Hai sayang!." Ujar Alin langsung memeluk Keenan yang masih duduk dikursinya, dengan senyum cerianya. Seakan tak ada beban dihidupnya.
" Kau sudah pulang? Mengapa tak mengabariku?." Tanya Keenan.
" Tentu saja aku ingin memberimu kejutan sayang."
" Kau senangkan aku pulang? Aku juga tak menyangka akan pulang lebih cepat." Ujar Alin, kemudian menarik Keenan duduk disofa panjang diruangan itu.
" Apa pemotretannya memang sudah selesai?." Tanya Keenan.
Pikirannya sedang tertuju hanya pada Kalila dan itu membuatnya malas menghadapi Alin.
Apa itu semua karena ia sudah tau jika Kalila wanita yang ia adalah wanita baik-baik.
" Hemm, itu sebabnya aku pulang." Jawab Alin dengan bergelayut manja dilengan kekar Keenan.
' Aku akan membuatmu benar-benar menjadi milikku.' Batin Alin dengan seringai liciknya.
" Kau ingin mengatakan sesuatu?." Tanya Keenan melihat raut wajah Alin.
" Ya, ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu, dan ini sangatlah penting." Ujar Alin memulai rencananya.
" Ada apa? Apa ada masalah dengan pekerjaanmu?."
" Tidak, ini bukan soal pekerjaan, tapi ini soal kita."
" Soal kita?."
Alin mengangguk.
" Aku hamil."
DEG!!!
Seketika Keenan terdiam seketika mendengar perkataan Alin. Jantungnya berpacu dengan cepat begitu saja.
" Apa yang kau katakan?." Tanya Keenan setelah menetralkan rasa terkejutnya.
" Iya sayang, aku hamil, dan ini anakmu." Ujar Alin.
" Tapi bagaimana bisa?." Tanya Keenan bingung, pasalnya ia merasa tak pernah menyentuh Alin sama sekali.
" Tentu saja bisa dong sayang, kau kan pernah melakukannya padaku." Ujar Alin dengan memaksakan air mata yang tak ingin keluar menetes dipipinya.
" Ta-tapi aku merasa tak pernah menyentuhmu sama sekali?."
" Apa kau tidak ingat, saat kau waktu itu pergi keluar kota bersama denganku." Ujar Alin mengingatkan.
" Maksudmu saat aku pergi untuk perjalanan bisnis, dan kau meminta ikut?." Tanya Keenan setelah mengingat-ingat.
" Iya."
" Waktu itu kamu minum sampai mabuk, terus tanpa kamu sadari, kamu memaksaku melakukannya." Ujar Alin dengan isakan tangis yang dibuat-buat.
Keenan memaksa otaknya bekerja dengan cepat, ia memutar memori tentang kejadian yang Alin maksud.
Namun seberapa keras mencoba, ia tak mengingat jika ia mabuk bahkan sampai melakukan hal itu pada Alin.
Bahkan ia ingat betul jika ia tidak minum sama sekali.
" Aku yakin aku tak minum sama sekali, lalu bagaimana aku bisa mabuk. Kumohon berhentilah bercanda." Ujar Keenan ketus.
" Aku tidak bercanda sayang, jika kau tidak percaya lihatlah ini." Ujar Alin berusaha meyakinkan.
Walau akan sulit karena ia dan Keenan memang jarang tidur bersama.
Ia segera membuka tasnya, meraih selembar kertas berlogo rumah sakit dan memberikannya pada Keenan.
" Apa ini?." Tanya Keenan menerima lembaran kertas itu.
" Bacalah."
Keenanpun membuka lembaran yang terlipat itu, seketika ia semakin terkejut melihat kalimat POSITIF yang tercetak jelas disana.
Dan surat itu memang atas nama Alin Sasmita, yang artinya memang milik Alin.
" Ba-bagaimana bisa?."
" Aku tau kau tidak akan pernah mengingatnya, karena setelah berhubungan, aku langsung memakai kembali pakaianku dan juga memakaikan pakaian padamu yang saat itu langsung terkapar karena alkohol. Setelah itu aku langsung keluar dari kamarmu dan kembali kekamarku." Ujar Alin mencari alasan yang masuk akal.
" Tentu saja kau akan mengira tak terjadi apa-apa diantara kita." Lanjutnya lagi.
Pikiran Keenan menjadi kacau mendengar semua penjelasan Alin. Hati dan pikirannya sama sekali tak mau menerima jika ia sudah menghamili Alin.
Ditambah lagi dengan kenyataan jika Kalila masih bersih saat ia menyentuhnya. Ia merasa, cintanya yang dulu pernah ada, kini kembali lagi.
Itu artinya, saat ia berhubungan dengan Kalila, dirinya sudah tak perjaka seperti yang diminta wanita itu.
Tapi apa yang terjadi sekarang membuatnya dilanda kegelisahan.
Disatu sisi, ia berusaha mencari Kalila dan meminta maaf pada istrinya itu. Dan dia juga berniat mengutarakan perasaan cintanya yang terkubur benci karena kesalah pahaman.
Namun disisi lain, dia juga masih bersama Alin. Bahkan sekarang wanita itu mengandung anaknya.
Apa yang harus ia lakukan sekarang?.
" Kenapa? Apa kau tak senang aku hamil anakmu? Bukankah kita bisa segera menikah?." Tanya Alin yang tak mengerti dengan respon Keenan.
Mungkinkah pria itu sudah mencintai gadis OB yang berstatus istrinya. Karena Keenan juga tak terlihat senang karena kedatangannya kesini.
***