
" BODOH!!! BODOH!!! Dasar wanita tidak berguna!!." Pekikan seorang pria terdengar begitu menggelegar.
Devandra tengah memarahi Alin, tak lupa dengan tangannya yang sudah mendarat berkali-kali dipipi wanita hamil itu.
" Kau benar-benar tidak berguna!!! Lebih baik kau mati!!!."
Devan langsung menarik Alin yang tengah tersungkur dilantai dengan isakannya.
Ia kemudian langsung mencekik leher wanita yang sedang mengandung anaknya itu.
" Wanita bodoh sepertimu harus mati." Geram Devan semakin kencang mencekik Alin.
" Ja-jangan Van, ka-kau masih membutuhkan a-aku..." Ujar Alin berusaha bernapas karena cekikan Devan begitu kuat.
" Cih." Devan langsung melepas cekikannya dan melempar Alin dengan kasar, membuat Alin tersungkur dilantai sembari memegang lehernya yang begitu terasa sakit.
" Apa lagi yang bisa kau lakukan?!. Membuat Keenan menikah denganmu saja kau gagal!. " Teriak Devan penuh amarah dengan dada naik turun. Tangannya mengepal dan meninju tembok berkali-kali, hingga membuat buku tangannya terluka.
" Jika bukan karena tua bangka itu, pasti rencanaku akan berhasil. Yang kita harus lakukan, adalah menyingkirkan tua bangka itu dulu." Ujar Alin dari arah belakang Devan saat napasnya mulai normal.
Ia memang tidak berniat kembali pada Devan karena tempramental pria itu. Tapi, ia juga masih membutuhkan Devan mencapai tujuannya mendapatkan Keenan.
Dan setelah itu, dia akan menyingkirkan Devan dan hidup bahagia menjadi istri seorang Keenan Alvaro Pradipta.
" Kau saja yang ceroboh, sampai tidak tahu tua bangka itu mencari tahu tentangmu!." Sentak Devan.
" Ya aku tau, tapi aku masih punya satu cara untuk melanjutkan rencana kita." Alin bangkit, kemudian mendekati Devan.
" Apa maksudmu?."
" Si Sarah itu tidak tahu apapun soal ini, jika kita berhasil menyingkirkan tua bangka itu, maka kita masih ada peluang lewat wanita itu."
Devan diam, belum mengerti arah rencana Alin.
" Dia bahkan tak tahu kalau aku hamil, jika setelah si Haris mati , aku akan mengatakan soal kehamilanku dan mengatakan ini anak Keenan. Aku yakin dia akan percaya dan memaksa Keenan menikahiku." Jelas Alin penuh percaya diri.
" Kau yakin?." Devan memicingkan matanya. Mungkinkah rencana wanita bodoh seperti Alin akan berhasil?.
" Hem, untuk itulah bagianmu adalah membunuh si Haris."
Devan menyeringai licik, ide Alin tak buruk juga, pikirnya.
" Baiklah, aku akan bergerak malam ini juga."
" Apa itu tidak terlalu cepat?."
" Semakin cepat, semakin baik." Balas Devan dengan senyum iblisnya.
Devan segera keluar dari kamarnya itu, kemudian memanggil semua anak buahnya untuk bergerak. Tak lupa dengan mengenakan pakaian yang menutup seluruh tubuhnya, agar tak dikenali.
Sesampainya dirumah tuan Haris, anak buah Devan segera membekuk penjaga keamanan. Sementara Devan dananak buahnya yang lain terus berjalan mengendap menuju pintu utama.
Dua anak buah yang bersamanya segera membekuk penjaga, dan dengan mudah Devan membuka pintu rumah yang terkunci itu dengan belati yang dibawanya.
Devan melihat sekeliling rumah yang gelap itu dengan tangan mengepal geram.
' Seharusnya semua ini adalah milikku.' Batinnya dengan urat yang begitu jelas dikepalan tangannya.
Dia yang sudah tau dimana kamar tuan Haris dengan segera menaiki lantai dua. Devan membuka pintu dengan senyum mematikan.
" Kau harus mati ditanganku, karena kau kedua orang tuaku harus pergi dari dunia ini." Gumamnya dengan langkah pelan mendekati sisi ranjang tuan Haris.
Devan mengangkat tangannya, bersiap menikam tuan Haris dengan sadis.
Namun, baru berniat mengayunkan lengannya, tiba-tiba sebuah tangan mencekalnya.
" Kau tak bisa menghentikanku." Geram Devan dengan suara tertahan, ia berusaha melepas cekalan tangan penjaga itu. Namun penjaga yang sudah menanamkan kesetiaan pada keluarga Pradipta tak mudah dikalahkan begitu saja.
Dengan sekuat tenaga, penjaga itu mengambil belati ditangan Devan dan membuangnya kesembarang arah.
Mereka kemudian berkelahi, walau sudah penuh luka, tapi penjaga itu adalah salah satu penjaga yang tangguh sehingga tidak mudah dikalahkan.
" Dasar bedebah sialan! Kau sudah mengganggu rencanaku!." Teriak Devan dengan murka.
Suaranya berhasil mengusik tidur tenang sepasang paruh baya diatas ranjang.
Baik tuan Haris maupun Sarah sama-sama terbelalak. Mereka tak menyangka akan melihat perkelahian dikamar mereka ditengah malam begini.
" Aaakhh." Teriak Sarah panik dengan menutup mulutnya. Sedangkan tuan Haris terpaku disampingnya.
" Tuan... nyonya... sebaiknya anda berdua segera pergi dari sini." Ujar Penjaga yang sedang beradu dengan Devan.
Tapi karena keterkejutan yang teramat sangat, tuan Haris dan Sarah tidak bergeming sedikitpun.
" Akkhh." Teriak penjaga saat Devan berhasil mengalahkannya dan membuatnya tersungkur dilantai.
Devan menyeringai puas dan langsung berbalik pada tuan Haris dan Sarah.
" Tua bangka sialan, kau harus mati ditanganku...!!!." Teriak Devan dan dengan cepat mengambil pisau yang tergeletak.
Devan baru saja siap menikam tuan Haris, saat lagi-lagi ada sebuah tangan yang mencekalnya.
" Jika kau berani menyentuh mereka sedikit saja, maka kau tak akan aku ampuni." Suara dingin dengan penuh ketegasan dan ancaman.
Devan langsung berbalik, dan terkejut mendapati Keenan yang tengah menatapnya dengan tatapan tajam.
Ya, Keenan langsung datang kemari saat seorang pelayan yang terbangun dirumah orang tuanya menelponnya, menghubunginya jika sepupu yang dari dulu memusuhi keluarganya berniat mencelakai orang tuanya.
Untungnya dia datang disaat yang tepat, jika terlambat sedikit saja, maka mama dan papanya pasti sudah tertusuk belati tajam itu.
Keenan langsung menghempas tangan Devan dan membuat belati yang tergenggam kembali terjatuh.
" Cih, kau pikir aku takut dengan ancamanmu? TIDAK!!!." Balas Devan dan melepas tangannya dari genggaman Keenan.
Tanpa basa-basi, Devan langsung mengarahkan tinjunya pada Keenan. Dengan cepat Keenan menghalaunya dan memutar tangan Devan membuat pria itu memekik.
Namun Devan tak tinggal diam, ia kembali melawan dan akhirnya terjadilah perkelahian diantara mereka.
" Tuan, nyonya, sebaiknya anda berdua keluar sekarang, biar saya akan membantu tuan muda." Ujar pengawal yang baru saja masuk dan langsung mendekati kedua majikannya. Pengawal bayangan yang akan beraksi disaat genting yang tadi datang bersama Keenan.
" Bagaimana keadaan diluar?." Tanya tuan Haris.
" Para penjahat sudah berhasil dikalahkan, mereka sudah diatasi oleh yang lain." Jawab penjaga itu.
Tuan Haris dan Sarah saling tatap, kemudian tatapan mereka tertuju pada Keenan. Akhirnya mereka terpaksa setuju untuk keluar dari sana.
Jika mereka tetap berada disana, bukannya membantu yang ada malah bisa-bisa menyusahkan Keenan.
Akhirnya pengawal mengantar mereka keluar dikamar lain yang aman.
Setelah mengantar majikannya, pengawal kembali kekamar dimana Keenan masih saja adu jotos dengan Devan.
Terlihat Keenan tengah berdiri dengan napas terengah-engah dan kepalan tangannya. Sedangkan Devan sudah jatuh tersungkur dengan luka lebam diwajah dan tubuhnya.
" Bawa dia!." Titah Keenan pada pengawal. Devan yang sudah lemah tak berdaya.
***