
" Apa kalian berdua baik-baik saja?." Tanya Keenan pada kedua orang tuanya saat baru masuk. Papanya sedang duduk diranjang, sedangkan mamanya duduk disofa.
" Ya kami baik-baik saja, bagaimana denganmu?." Tanya Sarah langsung bangkit dan mendekati putranya. Memeriksa setiap jengkal tubuh Keenan, memastikan Keenan tak terluka.
" Tenanglah, aku baik-baik saja." Keenan meraih tangan mamanya yang sibuk memeriksanya, mengecup tangan itu dengan lembut.
Keenan kemudian menuntun mamanya kembali duduk disofa.
" Bagaimana Devan bisa masuk kemari?." Tanyanya pada mama dan papanya.
" Kami tidak tau Keenan, tiba-tiba kami sudah melihatnya sedang bertarung dengan penjaga saat kami terbangun." Sarah menjawab.
" Kenapa dia tiba-tiba kembali?." Tanyanya lagi lebih kediri sendiri, namun ucapannya terdengar sang ayah.
" Dia memang sudah lama mengincar keluarga kita." Lirih tuan Haris membuat Keenan dan Sarah sama-sama menoleh dengan mata terbelalak.
Mendengar ucapan papanya, membuat Keenan teringat ucapan papanya waktu itu, jika Alin mengandung anak Devan, dan mereka berdua berusaha menghancurkan keluarganya.
Ia juga teringat bagaimana Devan hampir memperkosa Kalila.
" Sial! Bagaimana bisa aku sebodoh ini." Gumamnya mengusap wajah kasar, merasa benar-benar bodoh karena tak melakukan penjagaan pada papa dan mamanya.
" Ini semua sudah terjadi, kau tidak perlu menyalahkan dirimu sendiri." Lirih papa Haris.
Sedangkan Sarah dibuat bingung mendengar perkataan suami dan putranya.
" Tunggu! Kenapa papa bilang jika Devan sudah lama mengincar kita? Bukankah dia sudah lama menghilang?." Tanyanya tak dapat menahan rasa penasaran.
" Sebenarnya, selama ini Devan berhubungan dengan Alin." Jawab Keenan.
" Apa maksudmu?." Tanya Sarah menoleh pada putranya.
Keenan hanya bisa menghela napas, akhirnya mamanya itu harus tau semuanya. Kemudian ia menceritakan semua yang dikatakan ayahnya, tak lupa hubungannya yang sempat kacau karena ulah Alin dan Devan, tepatnya karena foto-foto itu.
Sarah menutup mulut tak percaya, jika Alin sang calon menantu yang dianggapnya wanita yang baik, adalah wanita jahat. Dan bahkan bekerja sama dengan keponakan iparnya yang dendam pada mereka.
" Kau harus segera mengurus Devan, jika tidak dia bisa saja melakukan hal yang lebih nekat." Ujar papa Haris pada Keenan.
" Tentu pa."
" Sekarang mama makin merasa bersalah pada Kalila." Ujar Sarah dengan wajah sendunya.
" Pokoknya mama gak mau tahu, kamu harus segera menemukannya, Keenan!." Lanjutnya.
" Mama tenang saja, Kalila pasti akan kembali pada kita." Balas Keenan mengusap bahu Sarah agar mamanya itu lebih tenang. Padahal ia sendiri belum ada kepastian dimana keberadaan Kalila.
***
" Ayah senang sekali, akhirnya kita bisa berkumpul lagi." Ujar ayah Aldi saat Kalila tengah menyiapkan sarapan dimeja makan, sedangkan dirinya dan sang istri duduk.
Kalila memaksa tetap memasak, bukan sebagai pembantu, melainkan sebagai seorang putri yang memasak untuk ayahnya.
" Aku juga senang yah." Balas Kalila tersenyum manis dan kemudian duduk dikursinya, berhadapan dengan mama tirinya yaitu Rita. Sedangkan ayah Aldi duduk dikursi tunggal.
Kalila kemudian mengambilkan ayahnya makanan. Aldi menerimanya dengan senyum cerah. Sedangkan Rita hanya bisa memaksakan senyumnya saat Kalila melakukan hal yang sama padanya.
Setelah itu, mereka kemudian makan dengan saling bercengkrama. Tepatnya pembicaraan ayah dan anak yang didengarkan dengan malas oleh Rita.
Acara sarapanpun selesai, kemudian baik Rita maupun Kalila mengantarkan Aldi yang akan berangkat kerja sampai kedepan.
" Mama juga mau pergi ya..." Ujar Rita dengan senyum manisnya setelah mobil suaminya tak terlihat lagi.
" Iya ma." Jawab Kalila dan kemudian Ritapun langsung pergi dari sana.
Rita hanya bisa bersandiwara jika dia benar-benar menerima Kalila sebagai anak sambungnya. Karena jika dia melakukan hal yang buruk pada Kalila, bisa saja gadis itu mengadu pada suaminya.
Sedangkan Kalila yang tak tau apa yang dipikirkan ibu tirinya itu merasa sangat bahagia. Ia tak menyangka akan mendapatkan ibu tiri yang baik, dan tidak seperti dongeng Cinderella atau kenyataan yang banyak terjadi. Jika ibu tiri itu selalu jahat.
' Terima kasih Tuhan, telah mempertemukan aku kembali dengan ayah. Terima kasih juga karena atas kehendak-Mu, mama Rita mau menerimaku.'
Ia kemudian kembali kedalam, menghampiri Indah karena ingin melakukan aktivitasnya seperti biasa.
" Eh jangan non, nanti saya dimarahin sama tuan." Ujar Indah dengan meledek.
" Hei! Kok kamu manggil aku gitu sih?." Pekik Kalila tak suka dengan panggilan yang diberikan Indah. Ia sungguh tak nyaman mendengarnya.
" Kamu itu udah jadi nona muda, jadi jangan lakuin pekerjaan pembantu lagi." Ujar Indah yang kembali pada panggilan biasanya.
" Ih apaan sih, kalau kamu manggil aku kaya gitu, aku bakal kesepian dang ngrasa gak punya temen." Ujar Kalila pura-pura ngembek.
" Iya...iya deh..." Ucap Indah kemudian tertawa.
" Aku seneng akhirnya kamu ketemu lagi sama ayah kamu." Lanjutnya lagi setelah tawanya reda.
" Yah, aku juga gak nyangka, pertemuan kita membawaku pada ayah." Ujar Kalila dengan tatapan kedepan. Teringat kejadian kemarin malam.
" Tadinya aku sempet ngerasa bersalah karena kamu jadi sedih. Tapi setelah kalian berdua baikan, aku malah ngerasa jadi pahlawan nih." Ucap Indah dengan nada bangga sembari membusungkan dada.
" Iya...iya...pahlawanku...." Balas Kalila langsung memeluk Indah dengan bahagia.
" Eh ini gimana, jadi gak selesai-selesai kan." Gerutu Indah menatap cucian piring didepannya setelah pelukan keduanya terlepas.
" Tenang aja, aku bantu." Ucap Kalila.
" Eh jangan, walau pertemanan kita gak berubah, kamu tetep majikan aku. Kalau tuan dan nyonya marah gimana?."
" Enggak tenang aja, lagian gak ada hal lain yang bisa aku lakuin selain pekerjaan rumah tangga." Balas Kalila.
" Aku yakin ayah dan mama gak akan marah." Lanjutnya lagi.
" Hah baiklah...terserah kau saja, tapi kau bertanggung jawab jika tuan dan nyonya sampai marah padaku. Oke..."
" Siip." Kalila menunjukkan ibu jarinya.
Merekapun akhirnya melanjutkan pekerjaan yang tertunda dengan sesekali bercanda.
Tiba-tiba, hp Kalila yang berada disaku roknya berbunyi.
" Eh ada yang nelpon tuh." Ujar Indah karena Kalila tak ada tanda-tanda berniat mengangkat telepon.
" Iya bentar lagi, cuciannya naggung nih." Balas Kalila yang tengah menyabuni piring.
Dering HPnya terus berbunyi, membuat Indah memaksa Kalila mengangkatnya. Setelah perdebatan kecil itu, akhirnya Kalila mencuci tangannya yang penuh busa dan mengangkat telepon.
" Halo."
" Lila, mas sudah menunggu kamu buat nelpon. Eh gak taunya sepi..." Balas Eko dari sebrang telepon dengan ketus.
" Eh iya mas, maaf. Lagian aku belum nemu waktu yang pas."
" Hem, iya sih. Buat meminta ijin ke majikan kamukan? Maaf ya, karena mas tidak sabaran." Ujar Eko dengan nada bersalah.
" Em bukan itu sih mas. Sebenarnya..."
" Aku udah ketemu ayah...."
" HA!!!." Teriakan keterkejutan begitu terdengar jelas. Membuat telinga Kalila panas rasanya.
***