My Husband, I Love You

My Husband, I Love You
Bantu Aku Mandi!



" Eh, karena kamu sudah buat bubur, biar bibi buat sop kuah beningnya." Ujar bi Susi mengalihkan pembicaraan.


" Eh, memangnya tuan Keenan suka sop bi?."


" Iya, kalau sedang sakit, tuan muda suka bubur sama sop kuah bening. Waktu masih tinggal sama tuan dan nyonya besar sih, nyonya langsung yang membuatkannya."


Kalila diam, mendengarkan penjelasan bi Susi.


" Tapi, tuan muda sebenarnya jarang sakit, semenjak tinggal disini saja belum pernah sakit, baru sekali ini."


" Terus kalau sakit, tuan muda suka minta ditemenin terus gak boleh ditinggal, itu waktu masih tinggal sama orang tuanya, ditemenin sama nyonya besar. Semalam tuan muda minta kamu temani atau tidak?."


" Iya bi, ternyata emang begitu ya kebiasannya." Jawab Kalila baru tau kenapa semalam suaminya tak mau ia tinggal walau sekejap.


" Ya begitu, apalagi waktu kecil, tuan muda itu termasuk anak yang manja." Ujar bi Susi terkekeh, mengingat masa kecil tuan mudanya.


Kalila tersenyum mendengarnya, ternyata presdir tegas dan berwibawa itu dulunya anak manja.


...


Bubur buatan Kalila sudah siap, begitu pula dengan sop kuah beningnya. Mereka kemudian membawanya kelantai atas dimana kamar Keenan berada.


" Ternyata tuan muda masih tidur, kalau begitu bibi turun dulu ya." Ujar bi Susi melihat Keenan setelah meletakan sop yang dibawanya.


" Iya bi, aku akan tunggu sampai tuan Keenan bangun." Ujar Kalila kemudian duduk disofa setelah bi Susi keluar.


Tak berapa lama, Keenan mengerjapkan matanya, pria itu terbangun.


" Selamat pagi tuan." Sapa Kalila dengan senyum mengembang.


" Hm." Keenan bangkit dari posisi berbaringnya menjadi duduk bersandar.


Kalila dengan sigap memasangkan bantal untuk Keenan bersandar.


" Apa tuan sudah mendingan?."


" Hm." Lagi-lagi pria itu menjawab pendek.


" Saya sudah masakan bubur, bi Susi juga membuatkan sop. Apa tuan mau makan?."


" Tidak." Jawab Keenan.


" Siapkan air hangat untukku!." Titahnya. Kalila mengerti jika Keenan ingin mandi.


" Baik tuan."


Kalila segera masuk kekamar mandi dan menyiapkan air hangat untuk Keenan. Tak lupa dengan aroma terapi yang selalu tersedia disamping bathrob.


" Airnya sudah siap tuan." Ucapnya.


Keenan bangkit dari ranjanya.


" Biar saya bantu tuan." Kalila memapah Keenan menuju kamar mandi.


Sesampainya dikamar mandi, Kalila berniat keluar, namun Keenan mencegahnya.


" Bantu aku mandi!." Titah Keenan. Tanpa rasa malu ia melepas pakaiannya didepan Kalila.


Gadis itu segera memalingkan wajahnya, malu melihat perut kotak-kotak suaminya.


' Bagaimana tuan Keenan tidak malu melepas pakaiannya didepanku. Ah ya, bagaimanapun dia memperlakukan aku, aku tetaplah istrinya.'


Hanya menyisakan boxer, Keenan masuk kedalam bathrob.


" Pijat kepalaku!." Titahnya.


Kalila berjalan menuju belakang suaminya, mulai memijat kepala Keenan.


Kalila memijit Keenan dengan perasaan gugupnya. Ia belum pernah sedekat ini dengan suaminya kecuali saat kejadian dihotel yang membuat mereka sampai menikah.


" Kau ini memijat atau apa, tidak terasa sama sekali." Gerutu Keenan masih memejamkan matanya. Pijatan Kalila terasa sangat pelan baginya.


" Ma-maaf tuan." Ucap Kalila berusaha menetralkan rasa gugupnya.


Ia memijat lebih keras lagi.


" Hei!!!." Teriak Keenan dan langsung beranjak, membuat Kalila terkejut.


" Kau ingin membunuhku Ha!!! Aku ini sedang pusing, dan kau memijat sekeras itu!!!."


" Maaf tuan, tapi tadi..."


" Aku memang memintamu memijat lebih keras, tapi bukan mau memecahkan kepalaku. Kau paham?!." Keenan dengan cepat memotong perkataan Kalila.


Kalila mengangguk takut, pelan salah, keras sedikit katanya sangat keras. Yang ada dirinya yang serba salah.


" Sudah pijat lagi, kali ini, lakukan dengan benar." Ucap Keenan kembali keposisinya tadi.


Kalila mulai menyentuh kepala suaminya, sebisa mungkin ia memijat sesuai keinginan suaminya.


" Hah, kenapa tak seperti ini dari tadi." Ujar Keenan yang merasa pijatan Kalila sudah pas.


Padahal nyatanya, tak beda jauh dengan yang pertama.


Sedangkan Kalila bernapas lega, karena pijatannya sudah sesuai keinginan suaminya.


Tanpa berkata apapun lagi, Kalila memindahkan tangannya memijat bahu kekar suaminya.


Kali ini Keenan tak banyak protes, mungkin pijatan Kalila sudah pas.


" Hem, sudah cukup acara memijatnya, kau mandikan aku!."


" Ta-tapi..."


" Tapi apa?!." Tanya Keenan mengancam.


Kalila menggelengkan kepala, ia mulai memberikan sabun ditubuh Keenan, kemudian menggosoknya pelan.


Setelah tubuh Keenan sudah diberi sabun, ia beralih menaruh shampo dikepala Keenan.


Keenan menikmati setiap sentuhan Kalila, entah karena berniat mengerjai atau apa, yang jelas dia begitu menyukainya.


Bahkan setiap sentuhan Kalila memberikan gelenyar aneh ditubuhnya. Ah bukan, juniornya mulai menegang.


' Sial.' Rutuknya dalam hati.


" Sudah, kau boleh keluar!." Titahnya kemudian karena panas ditubuhnya semakin tak terkendali.


Kalila mengangguk patuh.


' Untung dia tak memintaku menyabuni...ah, kenapa aku jadi berpikiran mesum begini sih.' Batin Kalila kemudian keluar dari kamar mandi.


Seperginya Kalila, Keenan sibuk menidurkan juniornya yang sangat tegang itu.


' Bodoh! Bodoh! Masa disentuh begitu saja aku sudah...' Gerutunya dan dengan terpaksa bermain solo.


Kalila tengah berdiri dipinggir ranjang saat Keenan memakai bajunya diruang ganti. Suaminya tak memintanya keluar, jadi dia tetap berada disana.


Tok...Tok...Tok...


Kalila membuka pintu.


" Lila, ada tuan Jordi dibawah. Apa tuan Keenan hari ini libur?." Tanya bi Susi.


" Aku tidak tau bi."


Keenan keluar dari ruang ganti.


" Tuan muda, ada tuan Jordi dibawah." Ujar Bi Susi.


" Katakan jika aku tidak berangkat. Minta dia yang menghandle pekerjaan."


" Ah, baik tuan. Permisi." Bi Susi berlalu dari sana.


" Suapi aku!." Titah Keenan yang sudah berada diatas ranjang lagi, dengan setelan kasualnya.


" Em, akan saya hangatkan dulu_."


" Tidak perlu, aku sudah lapar." Ujar Keenan memotong perkataan Kalila.


" Ba-baik."


Kalila duduk disisi ranjang, kemudian meraih bubur diatas nakas yang mulai dingin. Kalila menyendokkan bubur dan menyodorkannya pada Keenan. Tanpa penolakan, pria itu langsung membuka mulutnya.


" Tambahkan kuah sopnya!."


" Ah, i-iya." Kalila melupakan jika Keenan makan bubur dengan kuah sop. Ia kemudian menuangkan sedikit kuah diatas bubur, dan mulai menyendokannya lagi pada Keenan.


Suap demi suap bubur terus masuk kemulut Keenan dan berpindah keperut. Kalila seperti ibu yang tengah menyuapi anaknya yang sakit.


Setelah semangkok bubur tandas, Kalila menyodorkan gelas air putih. Namun lagi-lagi pria itu ingin dia yang meminumkannya.


" Minta Rio kemari!." Titah Keenan.


" Tapi, saya tidak punya nomornya tuan."


" Ada disana!." Tunjuk Keenan dengan dagunya pada sebuah buku kecil dinakas yang lain.


Kalila mengambil buku itu, ternyata itu adalah call book. Semua daftar kontak berada disana.


Kalila segera mencari yang berinisial R, kemudian menemukan nama Rio.


Ia kemudian meraih ponsel jadul yang selalu berada diroknya. Entahlah, dijaman para balita sudah bisa bermain gadget, dia tetap setia dengan ponsel jadul alias jaman dulu itu.


Ia segera menelpon nomor dokter Rio.


" Halo, siapa ini?." Tanya suara pria yang tak lain adalah Rio. Tentu saja karena nomornya baru diponsel pria itu.


" Ha-halo dok, ini saya Kalila, bisakah dokter kemari? tuan Keenan membutuhkan anda."


" Apa obat yang semalam tak berpengaruh?."


" Sakit perutnya sudah sembuh, tapi sekarang tuan Keenan demam."


" Kaya anak kecil aja demam, baiklah aku akan segera kesana." Rio langsung memutus telepon.


***