
Keenan memperhatikan dokter yang baru saja keluar dari dalam rumah dengan tatapan menyelidik. Jika ada dokter, lalu siapa yang sakit?.
Keenan segera berlari menyusul dokter itu, memanggilnya sebelum sang dokter benar-benar masuk kedalam mobil.
" Dokter!."
Dokter wanita itu menoleh.
" Iya pak?."
Panggilan 'pak' membuatnya tersentak, untungnya Keenan cepat mengingat penampilannya sekarang. Jika tidak, mungkin dia akan memaki wanita dengan jas putih didepannya itu.
" Em...siapa yang sakit dok?."
" Oh itu, tidak ada yang sakit."
" Lalu, kenapa dokter kemari?."
" Saya memeriksa putri tuan Aldi yang pingsan, tapi ternyata membawa kabar bahagia."
" Bahagia?." Keenan masih saja tak mengerti, dokter itu terlalu berbelit-belit sedari tadi.
" Iya, putrinya tuan Aldi sedang hamil muda, tepatnya lima minggu."
" Ha-hamil?."
" Kalau begitu saya permisi pak." Pamit sang dokter kemudian membuka kembali pintu mobilnya dan masuk.
Keenan memandang mobil dokter dengan tatapan kosong. Sampai akhirnya mobil dokter melewati gerbang, barulah ia tersadar.
" Lila... Lilaku ha-hamil... Lilaku sedang hamil. Dia mengandung anakku..." Lirihnya dengan air mata yang mengalir tanpa ia sadari. Sebuah air mata bahagia.
Sebuah senyum tipis terbit dibibirnya.
" Aku berjanji akan memperbaiki semuanya, dan kita akan memulai semuanya dari awal, bersama malaikat kecil dalam perutmu."
Ia menatap bangunan megah didepannya. Ingin rasanya ia berlari masuk dan segera memeluk Lila-nya. Namun sayang seribu sayang, itu semua hanya bisa terwujud dalam angan-angan.
Jika dulu ia merasa Kalila menjebaknya agar hamil anaknya sehingga mereka tidak bercerai, tapi kini ia merasa bahagia.
Karena anak dalam kandungan istrinya itu akan menjadi pengikat hubungan mereka.
" Selamat ya tuan." Ujar sebuah suara dibelakangnya.
Keenan menoleh, ternyata itu adalah Indah. Ya, indah sudah tau siapa dirinya, ia sengaja memberi tahu, agar wanita itu tak mengganggunya jika sedang berusaha bicara dengan Kalila. Lagi pula, dengan Indah tau, itu akan cukup membantunya dalam proses PDKT dengan sang istri.
" Terima kasih."
" Bagaimana keadaannya?." Tanyanya kemudian.
" Nona masih belum sadar tuan, tapi kata dokter tidak ada yang perlu dikhawatirkan."
Keenan menghela napas lega.
" Syukurlah."
" Apa tuan ingin menemui nona?." Tanya Indah yang tau pasti keinginan suami Lila itu.
Awalnya ia tak menyangka, jika satpam cupu berkaca mata itu adalah suami Lila. Ia juga tak menyangka Lila adalah istri dari orang berada.
Awalnya ia merasa sedikit iri, tapi mengingat penderitaan Lila yang Keenan ceritakan, membuatnya bersimpati pada nona majikannya itu.
Namun, meskipun tau Keenan adalah suami Kalila, tentunya Indah tak memberi tahunya pada Kalila.
" Apa bisa?." Tanya Keenan dengan binar bahagia. Tentu saja ia sangat senang jika bisa melihat istrinya yang baru saja dinyatakan hamil.
" Akan saya usahakan."
Indah kemudian pamit kedalam, ingin mengatur pertemuan Keenan dengan Kalila yang masih pingsan.
" Apa yang terjadi? Kenapa ada dokter segala?." Tanya Rita saat melihat Indah.
" Itu nyonya, nona Lila hamil."
" Hamil!!!?." Pekikan terkejut Rita benar-benar kencang, bahkan Indah sampai harus menutup telinganya.
" Bagaimana gadis itu bisa hamil? Apa dia diperkosa? Apa dia menjual tubuhnya pada seorang pria hidung belang? Kemana pria yang sudah menghamilinya itu?." Dengan semangat membara Rita bertanya banyak hal.
Ia menganggap ini adalah kesempatan emas membuat Kalila keluar dari rumah ini.
" Saya tidak tau nyonya." Bohong Indah yang tentu saja memihak Keenan. Karena pria itu menggajinya untuk apa yang dia lakukan.
Indah pergi dari sana dengan perasaan lega. Ia yang tau watak majikan wanitanya itu tahu betul niatan Rita.
Ia diminta Keenan mengawasi Rita, agar tak berbuat macam-macam pada Kalila.
Indahpun berjalan kekamar Kalila dilantai atas.
" Tuan." Panggilnya membuat Aldi yang masih setia menunggu putrinya sadar menoleh.
" Biar saya saja yang menjaga nona, bukankah tuan harus bekerja?."
" Hah! Kau benar, tapi saya tidak ingin meninggalkannya dulu." Jawab Aldi memandang wajah Kalila.
" Anda tidak perlu khawatir tuan, saya ada disini untuk menjaga nona." Indah berusaha meyakinkan Aldi, agar dia bisa mencari kesempatan agar Keenan bisa kemari.
Aldi kemudian berpikir sejenak, ia memang tak mungkin tidak masuk kantor, apalagi mengingat jika hari ini ada pertemuan dengan klien penting.
" Baiklah kalau begitu, segera hubungi saya jika Lila sudah sadar."
" Tentu tuan."
Aldi keluar dari sana dan menuju kamarnya yang tak jauh dari kamar Kalila. Indah terus memperhatikan pintu kamar majikannya, sampai terlihatlah Aldi yang keluar dari kamar dengan tas kantornya.
" Indah!." Panggil Aldi membuat Indah yang sedari tadi mengawasinya tersentak.
" I-iya tuan?." Balas Indah dengan tergagap.
" Lila belum sarapan. Kau siapkan makanan agar saat dia sadar dia bisa langsung sarapan."
" Baik tuan."
Aldi kemudian berlalu dari sana, dan kemudian keluar dari rumah.
" Eh, nyonya mau kemana?." Tanya Indah melihat Rita berjalan kearahnya. Padahal ia berharap penghuni rumah ini segera pergi agar Keenan bisa menemui nona-nya.
" Tentu saja melihat putriku. Apalagi?." Ketus Rita yang langsung masuk kekamar Kalila.
' Sebenarnya siapa pria itu? Kau harus jujur padaku agar aku bisa mengeluarkanmu dari rumah ini.' Batin Rita menatap Kalila.
' Aduuh...kalau nyonya ada disini, gimana tuan Keenan kesini. Kalau kelamaan yang ada Lila keburu bangun.' Batin Indah resah.
Ia memilih pergi dari sana, mengatakan pada Keenan jika ada Rita dikamar Kalila sehingga Keenan tak bisa menemui Kalila.
" Bagaimana?." Tanya Keenan antusias saat Indah menghampirinya dipost satpam.
" Itu tuan, nyonya Rita masuk kekamar nona Kalila, jadi tuan tidak bisa menemui nona."
" Wanita licik itu? Untuk apa dia kekamar Kalila?."
" Saya tidak tau tuan."
" Tidak masalah aku tidak bisa menemui Lila. Tapi kau harus tetap mengawasi wanita itu!."
" Baik tuan."
Indahpun kembali kekamar dimana Kalila berada, ia harus memastikan nyonya-nya tak melukai Kalila.
" Siapa pria itu?." Rita bertanya pada Kalila dengan lembut. Seakan dia merasa iba akan nasib putri sambungnya. Padahal nyatanya, ia hanya ingin menemukan cara agar Kalila pergi dari rumahnya.
" Maaf ma, Lila tidak bisa mengatakannya." Jawab Kalila dengan lirih.
Saat Rita menjelaskan kalau ia hamil, terkejut, sedih, dan bahagia menjadi satu.
Disatu sisi ia bahagia benar-benar mengandung anak pria yang dia cintai. Tapi, disisi lain ia merasa sedih, memikirkan anaknya yang harus hidup tanpa sosok seorang ayah.
" Kau jangan takut Lila, mama akan membantumu meminta pertanggung jawaban dari pria itu. Bisa-bisanya dia meninggalkanmu setelah mengambil kehormatanmu." Ujar Rita dengan ekspresi yang dibuat-buat. Ia benar,-benar harus tau siapa pria yang menghamili Kalila.
" Maaf ma, tapi Lila belum siap mengatakannya." Ujar Kalila dengan lirih.
" Pemisi nona, nyonya." Ujar Indah yang membuka pintu dengan sebuah nampan makanan ditangannya.
" Ini nona, saya bawakan sarapan." Ujar Indah lagi menaruh makanan diatas nakas.
Rita melirik Indah dengan kesal, karena pembantu itu mengganggunya yang sedang mengintrogasi Kalila.
" Apa mau saya suapi nona?." Tawar Indah dengan melirik Rita, berharap wanita paruh baya itu pergi.
" Ya sudah kalau kau belum mau bercerita, mama keluar dulu ya." Ucap Rita dan kemudian pergi dari sana.
***