
" HA!!!." Teriakan keterkejutan begitu terdengar jelas. Membuat telinga Kalila panas rasanya.
" Apa mas tidak salah dengar? Kamu ketemu sama ayah kamu? Ayah Aldi?." Tanya Eko dengan tidak percaya.
" Iya, aku ketemu sama ayah Aldi, ayah yang selama ini aku rindukan..." Jawab Kalila dengan senyum tipis walau Eko tak melihatnya.
" Kamu harus jelaskan semua sama mas, mas akan ketempat kamu sekarang juga. Kasih tau dimana alamat kamu." Pinta Eko dengan memaksa.
" Tapi..."
" Tidak mungkin kan, kalau ayah Aldi melarang mas bertemu kamu?." Tanya Eko dengan panggilan 'ayah', itulah panggilannya pada ayah Aldi sejak dulu.
" Tentu saja tidak, tapi..."
Tut.
Telepon terputus sepihak, sebuah notif pesan masuk.
" Kirimkan alamat kamu sekarang juga!." Tulis Eko.
Kalila hanya menggeleng karena tingkah Eko, terlihat seperti anak kecil yang pemaksa, padahal selama ini Eko tak pernah bersikap seperti itu.
Dengan senyum yang masih menghiasi sudut bibirnya, Kalila menuliskan alamat...
Eh tunggu, dia sendiri tidak tau pasti dimana alamatnya sekarang. Sebaiknya ia bertanya pada Indah.
" Ndah." Panggilnya membuat Indah yang sedang mengelap meja menoleh.
" Kita ini tinggal dimana ya?."
" Ha? Apa maksudnya? Ya kita tinggal dirumah orang tua kamu, sekaligus majikan aku." Jawab Indah yang belum mengerti.
" Kalau itu sih jelas, maksudnya nama alamat kita tinggal sekarang. Kaya Jalan apa, no berapa, gitu." Jelas Kalila.
" Oooh itu... Jln. Merpati No. 921, Blok B." Jawab Indah.
" Oh Ok, makasih ya." Kalila berlalu meninggalkan Indah yang masih tak mengerti kenapa Kalila menanyakan alamat.
Kalila sendiri tengah mengetikkan alamat yang disebutkan Indah. Tentu saja dengan alamat yang lebih rinci.
" Ok, aku OTW kesana." Balas Eko setelah membaca pesan darinya. Setelah itu, statusnya langsung off.
" Eh tunggu, bukannya ini masih jam kerja." Pikir Kalila, karena Eko mengatakan akan OTW, bukannya ini masih jam kantor.
...
Dikantor diibu kota, Eko tengah membereskan pekerjaannya. Keinginan bertemu gadis pujaannya membuatnya ingin langsung bertemu, bahkan tak peduli jam kantor.
Ia akan meminta ijin pada atasannya, semoga saja ia mendapat ijin.
Diruangan lain, tepatnya dilantai tertinggi kantor, sebuah ruangan presdir. Keenan tengah memperhatikan gelagat Eko yang terlihat aneh baginya.
Ya, walau sampai saat ini ia belum juga bertemu dengan Kalila. Tapi CCTV kantor yang terbubung keponselnya tetap ia gunakan, tepatnya untuk memperhatikan gerak-gerik Eko dan Eva. Dua orang yang dekat dengan istrinya.
Ia melihat Eko yang berjalan keruang manager. Lalu tak lama kemudian keluar dengan wajah murung.
Keenan langsung meminta sang manager kantornya datang keruangannya.
" Selamat pagi menjelang siang presdir." Sapa seorang pria paruh baya yang tak lain adalah manager saat memasuki ruangan Keenan. Tentunya setelah mengetuk pintu.
" Duduklah." Titah Keenan dengan pandangan dingin dan datarnya, membuat manager yang tak tahu apa-apa itu merasa sudah membuat kesalahan.
Manager langsung menurut, dan duduk dikursi yang bersebrangan dengan Keenan.
" Apa tadi ada karyawan bernama Eko datang keruanganmu?." Tanya Keenan tanpa basa-basi.
" Benar pak." Jawab manager dengan anggukkan walau ia tak mengerti kenapa Keenan menanyakan karyawan biasa padanya.
" Apa yang dilakukannya?."
" Dia meminta ijin untuk pulang lebih dulu."
" Apa alasannya?." Tanya Keenan lagi dengan mengernyitkan dahi.
" Katanya ada urusan mendadak, saat saya tanyakan urusan apa itu, dia menolak menjelaskan, itu sebabnya saya tidak menerima ijinnya." Jelas manager.
' Urusan mendadak apa yang dia maksud.' Batin Keenan.
" Ijinkan dia!." Titahnya kemudian.
" Ma-maksud bapak?." Tanya manager tak mengerti.
" Berikan dia ijin."
' Aku ingin tau urusan apa yang dia maksud.' Batinnya yang entah mengapa ia merasa ini ada hubungannya dengan sang istri.
" Tapi..."
" Baik pak." Sang manager mengangguk patuh.
" Kau boleh keluar!."
Pak manager membungkuk hormat, kemudian keluar dari ruangan atasannya untuk melaksanakan titah Keenan.
' Aku harus tau apa yang akan dilakukannya.'
" Jordi, siapkan mobil!." Titahnya saat tersambung dengan sang sekretaris.
Belum sempat Jordi menjawab, seperti biasa ia langsung memutus panggilan sepihak.
Masih direkaman CCTV tempat kubikel Eko, ia melihat manager tadi mengatakan perintahnya, dan itu membuat Eko langsung tersenyum lebar.
Dan semua itu membuatnya semakin yakin, jika apa yang akan Eko lakukan adalah hal yang penting.
Apalagi, selama ini Eko adalah karyawan yang disiplin, cerdas dan berintegritas. Jadi saat karyawan seperti itu meminta ijin, alasannya pasti sesuatu yang sangat kuat.
Tok
Tok
Tok
" Masuk!."
" Mobil sudah siap tuan." Ucap sekretaris Jordi.
" Hem." Keenan langsung berdiri, kemudian dengan cepat ia berjalan keluar ruangannya dengan diikuti oleh sekretaris Jordi.
" Sebenarnya kita mau kemana tuan, bukankah hari ini tidak ada jadwal rapat dengan perusahaan manapun?." Tanya Jordi sembari mengikuti tuannya yang berjalan dengan tergesa.
Sungguh, ia tak bisa menahan rasa penasarannya. Apalagi tuannya itu terlihat begitu bersemangat.
" Ada sesuatu yang harus aku selidiki sendiri." Jawab Keenan sembari terus berjalan penuh wibawa.
" Maksud tuan?."
" Kita akan mengikuti pria itu." Ujarnya yang sangat malas menyebutkan nama rivalnya.
" Tapi kenapa tuan?." Tanya Jordi yang langsung mengerti siapa pria yang tuannya maksud.
" Sejak kapan kau ini lelet Jordi?." Tanya Keenan yang mulai kesal karena Jordi terus saja bertanya.
" Bukankah aku memintamu mengawasi pria itu, harusnya kau tau lebih dulu dibandingkan aku." Lanjutnya denagn ketus melihat wajah bodoh Jordi.
" Ya tentu tuan, dia meminta ijin untuk keluar pada manager, dan manager mengijinkannya. Padahal alasannya ijin belum jelas."
" Dan itulah yang ingin aku ketahui."
Kini Jordi mengerti, pasti tuan mudanya itu merasa ijinnya pria bernama Eko ada hubungannya dengan nona muda. Dan alasan manager mengijinkan juga pasti atas perintah tuannya itu.
Kini mereka sudah sampai diarea parkir kantor, Keenan segera masuk kedalam mobil setelah dibukakan pintu oleh Jordi. Setelah itu, Jordi pun masuk kebagian kemudi.
" Kita tunggu dia keluar."
Tak butuh waktu lama, yang mereka tunggu akhirnya datang juga. Eko keluar dari kantor dan memasuki mobilnya yang tak jauh dari tempat Keenan sekarang.
Tanpa menunggu perintah, Jordi menyalakan mobilnya dan mulai mengikuti mobil Eko yang sudah melaju lebih dulu.
Tak berapa lama, mobil Eko berhenti disebuah rumah yang tak lain adalah rumah Eko sendiri.
" Kenapa dia berhenti disini?." Gumam Keenan namun masih terdengar oleh Jordi.
" Itu rumahnya tuan, sepertinya dia tengah bersiap-siap sebelum perjalanan lebih jauh." Jawab Jordi yang tau betul rumah Eko.
Perintah tuannya yang memintanya menguntit nona mudanya dan Eko membuatnya tau betul letak rumah rival bosnya itu.
" Hem." Keenan hanya manggut-manggut.
30 menit berlalu, membuat Keenan dibuat jengah.
" Ah sial! Jangan-jangan urusan yang dia maksud ada dirumahnya." Gumam Keenan frustasi karena merasa perkiraannya salah.
" Mungkin dia membersihkan diri tuan.
" Itu dia tuan!." Ucap Jordi melihat Eko keluar dari rumahnya dan menuju mobil.
***