My Husband, I Love You

My Husband, I Love You
Kemana Kau Pergi?



" Baiklah, kau boleh bekerja disini." Ucapnya setelah beberapa lama membuat Kalila mendongak dengan mata berbinar penuh kebahagian.


" Indah! Kamu training dia, ajari tugas-tugasnya. Jangan berhenti sampai dia benar-benar bisa bekerja sendiri." Ujarnya pada Indah.


" Baik nyonya." Balas Indah yang tak kalah senang, karena ia berhasil membantu Kalila.


Setelah itu, nyonya itupun pergi dari sana entah kemana.


" Terima kasih banyak ya mba, mba udah bantu aku mendapat pekerjaan, aku gak akan lupain jas mba." Ujar Kalila pada Indah.


" Ih kamu ini apaan sih, berlebihan tau gak. Eh ngomong-ngomong jangan panggil mba ya, kitakan seumuran, panggil nama aja ya."


" Ya sudah." Jawab Kalila tersenyum.


Sangat-sangat bahagia mendapat bantuan dikota baru.


" Ya udah yuk, aku tunjukin kamar kamu. Eh maksudnya kamar kita." Ujar Indah.


Merekapun berjalan menuju kamar pembantu.


" Ini kamar kita, itu ada lemari kosong bisa kamu pakai buat naruh pakaian kamu." Ujar Indah.


" Kamu disini sendirian ya, kok sepi?." Tanya Kalila. Kalila kemudian mendekati lemari yang ditunjuk, dan menata pakaiannya disana.


" Enggaklah, kan sekarang ada kamu. Sebelumnya emang aku sendirian pembantu disini. Adanya satpam, tukang kebun, sama sopir. Ya aku perempuan sendiri." Jelas Indah.


" Memangnya kamu gak kewalahan sendiri aja?." Tanya Kalila masih menata pakaiannya.


" Enggak, soalnya cuman ada tuan dan nyonya, jadi soal masak sedikit. Ya, walau rumahnya besar, tapi karena udah biasa, ya terasa ringan. Apalagi gajinya juga besar."


" Tuan dan nyonya cuman berdua, apa anak-anaknya lagi diluar negri?."


" Hem kalau itu sih..." Indah terlihat ragu.


" Sebenernya tuan dan nyonya gak punya keturunan."


" Ah maaf, aku gak berniat menyinggung." Ujar Kalila merasa bersalah.


" Gak papa, kamu tenang aja. Tadinya tuan dan nyonya memang punya satu anak laki-laki, tapi waktu masih bayi hilang diculik orang."


" Diculik?."


" Hem, jadi pas waktu masih bayi, ada yang nyulik anak nyonya dan tuan. Sampai sekarang belum juga ketemu. Sedangkan nyonya setelah melahirkan rahimnya diangkat karena mengalami pendarahan hebat."


" Ya Tuhan." Pekik Kalila pelan.


' Ternyata hidup orang kaya tidak selalu bahagia.'


" Oh ya hampir lupa, nama tuan dan nyonya siapa? Masa kerja gak tau nama majikannya." Tanya Kalila teringat hal penting itu.


" Eh iya, namanya nyonya, nyonya Rita , kalau tuan, tuan Aldi Hermawan."


DEG!!!


Aldi Hermawan? Apakah ia salah dengar? Itu adalah nama ayahnya.


Nama yang sudah dilupakannya sejak lama, karena perpisahan mereka.


Laki-laki yang dengan teganya meninggalkan dirinya dan sang ibu hanya demi perempuan lain. Bahkan membuat ibunya sakit, dan akhirnya meninggal.


Tidak! Dia pasti sudah salah paham, bukan hanya ayahnya yang memiliki nama itu. Kata 'Aldi' dan juga 'Hermawan' tak hanya dimiliki satu orang.


Orang yang sedang ia pikirkan dan yang dimaksud Indah pasti orang yang berbeda.


Ia mungkin terlalu berharap bertemu ayahnya sampai ia langsung mengingat pria itu hanya karena mendengar nama yang sama.


" Eh Kalila, kenapa diam aja?." Tanya Indah mengembalikan Kalila kealam nyata.


" Eh enggak kok, gak papa."


" Ya udah kalau begitu, aku mau mulai kerja dulu." Ujar Indah keluar dari sana.


" Eh tunggu! Aku ikut kamu, akukan juga perlu latihan seperti yang dikatakan nyonya." Ujar Kalila.


" Baiklah. Ayo!."


***


" Apa kau sudah mendapatkan bukti apa yang terjadi malam itu?." Tanya Keenan pada sekretaris Jordi. Saat ini, mereka sedang berada diruangan Keenan.


" Saya menemukan jika nona muda berbicara dengan seorang wanita muda. Sepertinya wanita itulah yang memberikan perintah untuk membawakan makanan itu."


" Dan dari yang saya dapatkan, wanita itu meminta nona muda untuk mengantarkan pada ibunya. Wanita itu bernama Elma, dan saat itu nona muda menyebutkan nama Ema. Itulah sebabnya penyelidikan sedikit sulit. Sepertinya, karena perbedaan satu angka diantara kamar ibu wanita itu dan kamar tuan, membuat nona muda lupa, dan akhirnya masuk kekamar tuan." Lanjut sekretaris Jordi.


" Lalu, bagaimana dengan obat perangsang dikamarku?."


" Seorang pelayan membawa minuman itu kedalam kamar tuan, saat penjaga lengah. Kemungkinan besar, mereka membuat penjaga pergi sebelum pelayan itu memasuk kamar."


" Siapa yang menyuruhnya?."


" Untuk itu masih dalam penyelidikan tuan, karena ada yang menyabotase CCTV sehingga ini semakin sulit. Saya juga mendapatkan info ini, dari salah seorang tamu yang menjadi saksi."


" Terus selidiki sampai tuntas, jangan biarkan orang itu bernapas lega setelah membuat kekacauan yang besar!." Titah Keenan.


" Pastikan kau menemukan pelayan itu dan membuatnya mengatakan siapa yang menyuruhnya!. Aku yakin orang yang menyuruhnya langsung memintanya pergi agar tidak ada yang curiga." Lanjutnya.


" Baik tuan."


" Apa kau sudah mendapatkan kabar tentang nona muda?."


" Untuk saat ini belum tuan."


" Apa kau sudah mencari dikota pelariannya sebelumnya?." Tanya Keenan mengingat kepergian Kalila pertama kali.


" Sudah tuan, nona muda tidak ada disana."


" Terus cari dia!."


" Tentu tuan."


Sekretaris Jordi kemudian membungkuk hormat, dan pergi daru sana untuk menjalankan tugas dari tuannya.


" Kemana kau pergi?." Gumam Keenan bersandar dikursi kerjanya sembari memejamkan mata.


Ceklek...


Pintu terbuka.


" Sayang!." Panggil Alin langsung bergelayut manja pada Keenan membuat pria itu terlonjak.


" Kau disini?."


" Hem." Alin mengangguk.


" Jadi kapan kau akan menikahiku? Aku tidak ingin kita menikah saat perutku sudah besar. Bisa malu nanti." Ujar Alin dengan cemberut.


" Aku akan menikahimu, setelah aku menemukan istriku!." Ujar Keenan tegas. Karena sejujurnya, ia meyakini itu bukan anaknya, tapi ia juga tak punya bukti apa-apa, jadi ia tidak akan gegabah.


Ia juga selama ini tak melihat Alin dengan lelaki manapun. Jadi ia tak bisa menuduh Alin, jadi ia meminta tenggang waktu sampai menemukan Kalila.


" Apa maksudmu sayang, bukankah aku sudah mengakui jika ini anakmu. Kenapa kau tega mengatakan hal menyakitkan itu. Anakmu pasti akan sangat sakit mendengarnya." Ujar Alin dengan air mata palsunya.


" Maafkan aku, kau tau betul aku sudah menikah. Aku harap kau mengerti." Ujar Keenan yang sebenarnya malas menghadapi Alin. Tapi kebenaran anak siapa dirahim wanita itu belum pasti.


" Sejak kapan kau menganggapnya istri? Bukankah kau menikah dengannya karena terpaksa. Seharusnya saat dia memintamu menandatangani surat cerai, kau langsung melakukannya. Dan kita bisa langsung menikah." Ujar Alin kesal karena Keenan memikirkan seorang gadis OB.


Keenan diam, ia tak ingin lebih menyakiti hati Alin dengan mengatakan perasaannya yang sebenarnya. Jika ia tak pernah mencintai Alin dan justru mencintai Kalila bahkan sebelum mereka menikah.


Karena bagaimanapun juga, Alin adalah wanita yang masih berstatus kekasihnya.


" Kenapa kau diam, apa kau menyukainya. Iya!." Tanya Alin.


' Ya, aku mencintainya, sangat-sangat mencintainya. Karena sikapku dulu hanya karena kesalah pahaman.'


" Pokoknya aku gak mau tau, kamu harus nikahin aku sebelum perutku membesar. Kalau enggak? Aku akan umumin berita ini kepublik!." Ancam Alin karena merasakan jika Keenan benar-benar mencintai Kalila. Dan itu bisa membuat rencananya gagal.


Ia pikir, selama ini Keenan belum berpaling darinya, ia tak pernah menyangka, jika gadis OB bisa menggantikan posisinya dihati Keenan.


" Apa yang kau katakan?! Jangan paksa aku melakukannya!." Tegas Keenan.


" Aku gak peduli! Yang aku mau kamu nikahin aku secepatnya!."


***


Jangan lupa beri like dan komennya ya..😊


Yang mau kasih krisan, juga author terima kasih banget.