My Husband, I Love You

My Husband, I Love You
Makan Bakso



" Haha, kamu pikir aku percaya, kamu gak punya pacar?." Ucap Eko dengan tawanya.


" Beneran...aku emang gak punya pacar, lagian siapa yang mau sama gadis OB kaya aku." Suamiku sendiri saja tidak menginginkanku. Batinnya.


" Eh bukan gitu maksudnya, aku pikir kamu udah punya pacar." Ucap Eko tak enak hati melihat raut wajah Kalila tak secerah tadi.


" Gak papa kok, kan emang kenyataannya gitu. Aku juga bukan tipe orang yang suka pacaran." Balas Kalila mengembalikan senyumnya.


" Ya udah, aku kesana dulu ya." Tunjuk Kalila pada jalan menuju ruang OB saat sampai dikubikel Eko.


" Iya..." Balas Eko tak tau harus berkata apa.


' Harusnya aku tau dia bukan tipe gadis yang suka pacaran. Sepertinya aku harus buat persiapan yang matang untuk langsung melamarnya.' Batin Eko dengan semangat 45.


Dia memang sudah lama menaruh hati pada Kalila. Bahkan ibunya juga tau dia berusaha menyelesaikan pendidikannya ketingkat tinggi agar bisa layak untuk menjadi suami Kalila.


Bahkan meskipun ia harus bekerja keras untuk bisa sampai kuliah.


Rini, sang ibupun mendukung putranya, karena bagi Rini, Kalila memang perempuan yang baik. Karena Kalilalah, Eko semangat untuk berkuliah dan mencari pekerjaan yang layak, mengubah perekonomian keluarga mereka.


Bahkan, bantuan yang sering Rini berikan pada Kalila adalah uang dari Eko. Rini sengaja masih pura-pura tak mampu seperti dulu didepan Kalila, agar ia tau jika gadis itu benar-benar bukan gadis yang matre seperti gadis pada umumnya. Dan nyatanya, Kalila bukanlah gadis yang matre. Ia sangat mendukung Kalila menjadi menantunya.


Sedangkan disisi lain, Keenan yang sedari tadi berada dibelakang mereka hanya berjarak beberapa langkah, menatap tajam pria yang baru saja bicara dengan istrinya.


' Cih, kau pura-pura ingin mengerjakan tugasmu sebagai seorang istri? Diluar kau bahkan bicara pada pria sedekat itu.' Batinnya tak suka.


Saat Keenan dan sang sekretaris lewat, seperti biasa semua menunduk hormat. Eko yang membelakangi mereka langsung berbalik dengan ekspresi terkejut, tak menyadari atasannya berada dibelakangnya.


Keenan berjalan dengan gagah dengan tangannya disaku celana, walau rasa marah sedang menghinggapi hatinya, ia tetap saja berwibawa.


Ia berusaha menunjukkan, jika dirinya lebih baik dari segi manapun dibandingkan pria yang bicara pada istrinya.


Sekretaris Dewi yang sudah berada didepan ruangan bosnya menunduk hormat.


" Selamat pagi presdir."


" Pagi."


Keenan masuk keruangannya setelah dibukakan oleh Jordi, Sekretaris Jordipun mengikutinya.


" Saya sudah menghubungkan seluruh CCTV perusahaan dengan ipad ini tuan." Ujar sekretaris Jordi menyerahkan ipad ditangannya.


Keenan mengambilnya, ia kemudian langsung membuka rekaman bagian ruang OB. Disana terlihat Kalila sedang mengobrol dengan Eva.


" Bagus." Gumamnya puas. Sekarang ia bisa mengawasi Kalila selama dikantor.


" Jordi, sekarang tugasmu bertambah, selain gadis ceroboh itu, kau juga awasi pria tadi!."


" Baik tuan." Jawab Sekretaris Jordi dengan sigap. Ia paham betul jika yang dimaksud adalah pria yang bicara dengan nona mudanya.


" Oh tunggu, kenapa aku merasa tak pernah melihatnya?." Tanyanya lagi merasa asing dengan wajah Eko.


" Dia dimutasi dari kantor cabang karena kinerjanya bagus."


" Jadi begitu ya, aku ingin kau terus awasi dia tanpa jeda, jika dia melakukan suatu hal yang membuatku marah, aku akan langsung memecatnya."


" Tentu tuan." Anda berusaha mencari celah agar dia dikembalikan kekantor cabang tuan. Lanjutnya dalam hati mengetahui isi hati tuan mudanya.


' Anda sedang cemburu tuan?.' Ingin rasanya ia menanyakannya langsung, tapi ia tak ingin suasana hati tuan mudanya malah tambah memburuk.


Jam makan siang


Kalila tengah menikmat baksonya, dirinya dan Eva sedang berada dikedai bakso disebrang jalan yang selalu ada setiap hari. Jika biasanya mereka akan beli makan dikantin kemudian memakannya diruang OB, kini mereka ingin sesekali suasana baru.


" Baksonya mantep banget mang." Ucap Eva disela menikmati bakso yang penuh saus dan sambal ijo itu.


" Kamu gak pake saus Lil?."


" Ini udah, tapi gak sebanyak kamu yang hampir ngabisin separuh botol." Jawabnya membuat Eva nyengir dan menatap mang bakso.


" Tenang mang, nanti uangnya saya lebihin."


" Gak papa Neng, santai aja." Balas mang bakso ramah.


Mereka kembali menikmati bakso masing-masing.


" Hai!." Panggil seseorang sembari menggebrak meja dengan pelan. Kalila dan Eva mendongak, dengan mulut penuh dengan bakso.


" Sini duduk." Ujarnya menepuk bangku disebelahnya.


Sedangkan Eva langsung memasang senyum semanis mungkin, saat Kalila menyebut nama Eko.


' Orangnya ganteng banget.' Batinnya terpana.


" Sini aja." Ucap Eko duduk berhadapan Kalila, meja menjadi penengahnya.


Kalila yang menyadari jika sahabatnya itu sedang caper, hanya menggelengkan kepala melihat senyum-senyum tak jelas Eva.


" Mas mau makan bakso juga?." Tanya Kalila pada Eko.


" Ya iyalah, masa kesini mau makan martabak." Canda Eko sembari tersenyum. Membuat Eva lagi-lagi meleleh dibuatnya.


Nyatanya, Eko sengaja mengikuti Kalila saat melihatnya keluar, ia ingin mendekati Kalila perlahan.


" Mang, baksonya satu." Pesan Eko pada mang bakso sembari mengangkat tangannya setengah tinggi.


" Eh kenalin, ini Eva, sahabat aku satu-satunya disini. Eva, ini mas Eko tetanggaku." Ucap Kalila memperkenalkan keduanya satu sama lain.


" Eko."


" Eva."


Mereka saling berjabat tangan.


' Aduh, namanya aja awalannya udah sama. Sama-sama 'E', yakin deh ini jodoh aku.' Batinnya tanpa sadar menggenggam erat tangan Eko yang berusaha dilepas oleh sang empunya.


Kalila yang melihatnya langsung menyikut Eva, membuat temannya itu tersadar dan langsung melepas tangan Eko dengan malu-malu.


" Baksonya mas." Mang bakso membawakan pesanan Eko.


" Eh iya, makasih."


Mereka kembali menikmati makanan, sesekali Eva bertanya pada Eko untuk sekedar berbasa-basi.


Sedangkan Eko hanya menjawab seadanya, karena ia fokus menatap Kalila yang tak menyadari sedang ditatap.


" Eh." Ucap mereka bertiga kompak.


Mereka membulatkan mata terkejut, bagaimana tidak? Presdir mereka tiba-tiba langsung duduk disamping Eko, tepatnya menggeser Eko untuk duduk berhadapan dengan Kalila. Kemudian memesan Bakso tanpa menghiraukan ekspresi heran para karyawannya.


Tadinya ia ingin makan dikantor, namun setelah melihat CCTV jika Kalila pergi keluar dengan temannya, ditambah seorang laki-laki yang menjadi rivalnya, ia langsung menyusul mereka.


Tak peduli ia yang biasa makan ditempat mewah, tak peduli pula dengan steril atau tidaknya makanan dipinggir jalan, ia hanya tak suka melihat pria lain memandang gadis yang berstatus istrinya berlebihan.


Suasana yang tadinya santai menjadi canggung, tak tau harus bersikap bagaimana didepan atasan tertinggi mereka. Karena untuk langsung berhadapan saja mereka jarang.


" Kenapa kalian diam saja, lanjutkan makan kalian!." Titah Keenan dengan santai melihat ketiga orang dihadapannya diam tanpa gerak dan suara. Seakan berada didepan harimau yang akan langsung menerkam jika mereka bergerak atau bersuara sedikit saja.


" Ah iya." Ucap Kalila, saling bersitatap dengan Eva dan Eko. Ia tak habis pikir, mengapa atasan sekaligus suaminya itu makan disini.


' Kenapa pak presdir makan ditempat seperti ini?.' Itulah arti dari isyarat mata mereka, kemudian mereka mengangkat bahu, menjawab sendiri pertanyaan mereka.


" Mang, minta saus, disini habis!." Teriak Eko pada mang bakso. Ia sedang lapar, jadi memberanikan diri kembali bersikap biasa.


" Ia nih, dihabisin sama Eva." Celetuk Kalila juga tak ingin suasana terus canggung.


Setelah mang bakso memberikan saus, Eko langsung menyirami baksonya dengan saus sebanyak mungkin. Tak lupa dengan sambal ijo yang ada dimangkuk mini dimeja.


" Eh mas gak kepedesan tuh?." Tanya Kalila pada Eko membuat pria yang berhadapan dengannya dilanda api kemarahan. Tak suka melihat gadis yang berstatus istrinya memperhatikan pria lain, itupun dihadapannya.


Keenan menggenggam sendoknya erat, bahkan sesendok kuahpun belum ia cicipi. Ia sibuk melihat interaksi Kalila dan Eko.


" Enggak tenang aja, aku udah biasa."


" Wah sama dong." Ucap Eva senang karena selera pedasnya sama dengan pria pujaan.


Sepertinya mereka mulai melupakan keberadaan orang nomor satu ditempat mereka bekerja yang masih dengan wajah tegas dan tatapan tajamnya.


***


What!, **kayaknya ada percikan api nih😁, yuk beri like, komen dan votenya.


Apa yang akan terjadi ya... adu tinju, atau...🤔 Hem tunggu dibab selanjutnya**...