My Husband, I Love You

My Husband, I Love You
Fotoku Dan Kekasihku



Meskipun ia menggugat Keenan dipengadilan kota S, tetapi dia akan tetap menemui kedua mertua yang sebentar lagi menjadi mantan mertuanya secara langsung.


Dia akan menunjukkan dirinya bukanlah wanita baik-baik. Karena jika mereka masih menganggapnya sebagai menantu, maka mereka tidak akan membiarkan Keenan menandatangani surat perceraian mereka.


Selain itu, dia juga tidak mau meninggalkan kesedihan dihati mereka saat ia dan Keenan berpisah. Biarlah ia dibenci kedua mertuanya, itu akan lebih baik baginya.


Apalagi, saat ia mengingat jika ayah mertuanya memiliki riwayat penyakit jantung.


" Nona muda." Sapa penjaga gerbang membungkuk hormat dan langsung membukakan gerbang untuk Kalila.


Kalila tersenyum manis, meski hatinya tengah merasa sakit.


Merupakan suatu keberuntungan bagi siapa saja yang menjadi istri seorang Keenan Alvaro Pradipta, tak terkecuali dirinya.


Namun takdir berkata lain, pernikahan yang didasari kesalah pahaman itu tak bisa bertahan lebih lama lagi.


Setiap mengingatnya, tak terasa air mata menetes dipipinya.


" Eh kenapa nona muda menangis, apa ada sesuatu?." Tanya penjaga dengan panik.


" Ah tidak ada." Ujar Kalila segera menghapus air matanya.


Ia melangkah memasuki area rumah itu, setelah sampai didepan pintu masuk, ia kembali mendapat perlakuan hormat dari penjaga.


Kalila memencet bel, tak lama kemudian muncullah seorang pelayan.


" Eh nona muda, selamat datang." Sapa pelayan membungkuk hormat.


" Terima kasih, apa papa dan mama ada didalam?."


" Iya nona, kalau begitu silahkan masuk." Pelayan membukakan jalan untuk Kalila.


Kalila melangkah memasuki rumah itu, ia kemudian duduk disofa mewah ruang tamu.


" Saya memanggilkan tuan dan nyonya besar."


Kalila mengangguk.


Tak butuh waktu lama, pelayan itu sudah datang dengan Sarah didepannya. Sedangkan tuan Haris sama sekali tak terlihat.


" Sayang, kau kemari!." Pekik Sarah langsung memeluk Kalila.


Kalilapun langsung membalasnya.


' Aku ingin tetap seperti ini.' Batinnya memejamkan mata dengan air mata yang menetes begitu saja. Dengan cepat ia menghapusnya.


Pelukan hangat itu membuat Kalila trenyuh. Haruskah ia kehilangan kasih sayang orang tua yang didapatkannya dari kedua mertuanya?.


Rasanya dia ingin menjadi lebih egois dengan tetap menjadi istri Keenan. Karena dengan begitu ia akan tetap mendapatkan kasih sayang kedua mertuanya.


Ia tak tau bagaimana perasaan pria itu sekarang. Mungkinkah Keenan hanya menganggapnya wanita pemuas na*su sesaat saja.


Apakah kepera*anannya tidak ada artinya sama sekali?.


Ah bagaimana ia lupa, Keenan punya kekasih yang begitu sempurna sebagai perempuan. Dan dia hanyalah kerikil diantara hubungan Keenan


Lagi-lagi hatinya merasa ngilu, memikirkan jika suaminya tak menganggap dirinya sama sekali.


" Kenapa kau baru datang? Dan kemana kau menghilang beberapa hari ini, apa kau marah pada Keenan? Katakan apa yang membuatmu marah sampai kau pergi begitu saja? Apa kau tau? Kami sangat mengkhawatirkanmu. Papa bahkan sampai sempat drop karena mencemaskanmu."


Sederet pertanyaan terlontar dengan begitu lancar dari mulut Sarah setelah melepaskan pelukannya.


Mendengar kalimat Sarah yang terakhir membuatnya merasa bersalah. Tuan Haris harus drop karena dirinya.


" Maafkan Lila ma, semua ini salah Lila. Mas Keenan tak membuat Lila marah sama sekali." Ujar Kalila mencoba menjelaskan agar mertuanya itu tak menyalahkan Keenan.


" Lalu apa yang terjadi?."


Saat itu, pelayan membawakan minuman untuk mereka dan kembali kebelakang.


" Semua masalah ini berawal dari Lila. Dan Lila akan mengakhirinya sekarang." Ujar Kalila dengan nada tertahan, karena sedang berusaha menahan gejolak dihatinya.


" Apa yang kau maksud sayang, masalah apa yang ingin kau akhiri?." Ujar Sarah masih saja tak mengerti.


Kalila menghela napasnya dan memejamkan matanya, berusaha menguatkan hatinya. Setelah itu, ia meraih selembar foto yang akan langsung merubah perasaan kasih sayang kedua mertuanya menjadi benci.


" Lihatlah ini ma, setelah itu, Lila akan menjelaskan semuanya."


Sarah langsung meraih foto dari Kalila. Ia melebarkan mata terkejut. Itu foto menantunya dengan seorang pria.


Jika saja tuan Haris yang melihatnya, mungkin dia akan langsung koma seperti saat melihat Keenan dan Kalila dikamar hotel.


" A-apa maksud foto ini sa-sayang?." Tanya Sarah dengan gemetar.


Ia semakin tak mengerti, kenapa Kalila memberikan foto seperti ini padanya. Ia berusaha mengatur emosinya, sebelum mendengarkan penjelasan lebih lanjut.


" Itu adalah fotoku dan kekasihku."


" Apa yang kau katakan!!!." Bentak Sarah langsung mendengar penuturan Kalila.


Dia tidak percaya, dan sama sekali tak akan percaya. Jika gadis baik-baik yang sudah menjadi menantunya, bisa berbuat seperti itu.


" Itu adalah kenyataannya ma, dia kekasih Lila. Lila berselingkuh dari mas Keenan. Dan itu sebabnya kami bertengkar dan aku pergi dari rumah. Lila sudah mengirimkan surat perceraian kami padanya." Ujar Kalila dengan lantang.


Walau hatinya saat ini benar-benar hancur berkeping-keping.


" TIDAK!!! Mama tidak percaya kau berselingkuh!. Jangan mengada-ada Lila, mama tau kau bukan wanita seperti itu." Teriak Sarah dengan mengguncang tubuh Kalila. Mencengkram bahu menantunya dengan kuat.


Kalila hanya diam membisu, rasanya ia tak sanggup lebih lama bersandiwara.


" Katakan jika kau bercanda! Katakan Lila! KATAKAN!!!." Bentak Sarah langsung melepas cengkraman tangannya dan menangis terisak.


" Hiks....Hiks..."


" Maafkan Lila ma, tapi Lila sama sekali tidak bercanda." Ujar Kalila mengeraskan hatinya agar tetap pada pendiriannya.


" Dasar wanita mura*an, bagaimana bisa kau menipuku. Aku sudah sangat menyayangimu seperti putriku sendiri! Tapi apa yang kau lakukan? Kau membuat kepercayaanku hancur berkeping-keping." Ujar Sarah disela tangisnya.


' Itulah yang aku inginkan, menghancurkan kepercayaan kalian. Dan pergi tanpa meninggalkan kesedihan yang berlarut-larut untuk Kalian.' Batin Kalila.


" Hanya itu yang ingin aku katakan. Terima kasih untuk semua kebaikan mama selama ini. Dan maaf karena sudah mengecewakan mama. Dan tolong, sampaikan salamku pada papa, aku akan pergi dari hidup kalian." Ujar Kalila meraih tangan Sarah berniat menyaliminya.


Namun Sarah menepisnya dengan kasar, membuat Kalila hampir terhuyung.


" Jangan sentuh aku. Aku tak sudi disentuh wanita menjijikan sepertimu." Ujar Sarah yang sudah dipenuhi kebencian pada Kalila.


" Terserah mama eh maksud saya nyonya, terserah nyonya saja. Saya permisi." Kalila berbicara dengan formal lagi. Karena hubungan mereka sudah kembali menjadi asing, bahkan lebih buruk dari itu. Ia kemudian bangkit dari duduknya dan keluar dari rumah itu.


Ia segera berlari setelah melewati pintu keluar dengan linangan air mata. Ia sudah tak tahan menumpahkan rasa sesak didadanya.


Sesampainya ditepi jalan yang tak jauh dari kediaman kedua mertuanya. Kalila langsung menumpahkan segala tangis yang tertahan sejak tadi.


Ia duduk dipinggiran jalan dengan memeluk kedua lututnya.


" Maafkan aku ma, aku menyayangi mama dan papa, tapi aku tak mau terus menjadi duri dalam kehidupan tuan Keenan dan nona Alin." Gumamnya disela tangis.


" Walau setelah ini kalian akan membenciku, percayalah... aku akan selalu mengingat kalian sebagai orang tua yang menyayangiku sepenuh hati."


" Aku mohon maafkan aku....Hiks...Hiks..."


Kalila terus menangis dan menangis untuk beberapa lama, orang-orang yang berkendara melewati jalan itu hanya memandang aneh dirinya.


Tapi Kalila tak peduli, ia hanya ingin menumpahkan segala air matanya.


***