My Husband, I Love You

My Husband, I Love You
Aku Sudah Menikah



" Aku tidak mau! Bagaimana bisa kau menggunakan anak kita sebagai alat balas dendammu." Ujar Alin mencoba melawan dengan deraian air mata membasahi pipinya.


" Apa kau bilang!!!." Ujar Devan kembali emosi mendengar penolakan Alin.


" Aku tak butuh penolakan. Jika kau tak mau melakukannya, maka aku akan membunuh anak itu detik ini juga." Ancam Devan mengambil sebuah pisau dilaci nakas kamarnya dan mengarahkannya keperut Alin.


Kamar yang sama saat ia menculik Kalila.


" Tidak!." Alin membulatkan mata terkejut. Ia gemetar ketakutan melihat pisau yang bisa menyobek perutnya kapan saja.


" Baiklah, aku akan melakukannya." Ucap Alin pasrah. Ia tak mau calon anaknya kenapa-napa.


" Bagus." Ujar Devan tersenyum puas, memainkan pisau ditangannya.


" Obati wajahmu itu, jangan sampai Keenan tau kau habis dipukul." Ujar Devan tanpa perasaan. Ia segera keluar dari kamarnya meninggalkan Alin dalam keputus asa'an.


Alin memandang punggung Devan yang hilang dibalik pintu. Segurat kebencian sangat kentara diwajahnya.


Sikap Devan yang semakin kejam padanya membuat ia merasa membenci pria itu. Bahkan dengan teganya Devan meminta anaknya untuk ajang balas dendam pria itu.


" Sampai kapanpun aku pastikan kau tak akan mendapatkan apa yang kau mau. Keluargamu jatuh miskin itu bukan salah Om Haris, itu karena kalian saja yang bodoh mengelola harta." Gumamnya yang memang tau betul apa yang terjadi antara Devan dan keluarga Pradipta.


Alin berniat mengubah rencana Devan. Dia tidak akan membuat Devan berhasil menghancurkan Keenan.


Dia sudah memutuskan untuk mencintai Keenan. Pria itu jelas lebih baik dari Devan. Walau saat ini ia masih mencintai Devan, tapi tingkah Devan yang semakin menyiksanya membuat kebencian tumbuh dihatinya.


Ia akan meminta Keenan untuk melindunginya dari Devan. Tentu dengan versi cerita yang berbeda.


***


Sementara itu, Kalila tengah disibukan dengan aktifitasnya membersihkan rumah dinas Eko. Maklum saja, seorang pria yang tinggal sendiri pasti tak akan terlalu memikirkan kebersihan dan kerapian tempat tinggal.


Sejenak Kalila melupakan masalahnya, kesibukannya mengalihkan perhatiannya.


" Hah sebaiknya sekarang aku segera kepengadilan. Semakin cepat akan semakin baik bukan?." Gumam Kalila menghela napasnya. Sungguh, ini adalah keputusan terberat dalam hidupnya.


Ya, walaupun pernikahan mereka dirahasiakan, bagaimanapun juga, pernikahan mereka sah dimata hukum. Maka dari itu ia harus mengajukan gugatan.


Karena memang sudah selesai membereskan rumah langsung masuk kekamarnya. Ia meraih tasnya yang berisi cek.


Karena ia tak punya pengacara atau semacamnya, maka dia akan langsung mengajukan gugatan tanpa surat apapun.


Kalila segera memesan taksi, namun sebelum kepangadilan, ia akan lebih dulu bank untuk mencairkan uang pemberian Keenan.


Setelahnya ia menuju salah satu toko pakaian. Ia sudah berhari-hari memakai gaun yang sama. Jadi ia harus menggantinya bukan?.


Kalila langsung mengganti bajunya ditoko tersebut. Meskipun begitu, ia menaruh gaun yang dibelikan Keenan didalam tasnya, ia akan menyimpannya sebagai kenangan.


Karena bagaimanapun juga, ini adalah gaun pertama yang belikan Keenan, dan yang terakhir adalah gaun malam yang membuatnya terlihat seperti wanita mura*an.


Memikirkan itu membuatnya kembali merasa kecewa. Hanya karena sebuah foto, Keenan menjadikannya wanita mura*an.


Bicara tentang foto, ia menjadi terpikir, dari mana Keenan mendapatkan foto-foto itu? Apalagi ia benar-benar tak ingat apapun soal itu. Keenan juga tak pernah membahasnya.


Tunggu! Apa itu foto saat ia dibekap oleh seseorang, dan saat ia sadar, dia merasa sangat tidak enak badan.


Ya, dia mengingat bagaimana sikap Keenan yang tadinya lebih baik setelah permintaannya waktu itu, menjadi kembali dingin.


Bahkan pria itu tetap memintanya bekerja disaat ia tak enak badan.


Itu artinya, seseorang yang membekapnya tak menginginkan apapun darinya. Melainkan kesalah pahaman antara dirinya dan Keenan.


Tapi, siapa yang melakukan itu? Dan untuk apa? Pertanyaannya hanya menemukan jalan buntu tanpa sebuah jawaban.


' Ada atau tidaknya foto itu, aku dan tuan Keenan juga akan berpisah. Mau satu tahun, atau beberapa bulan saja, sama saja. Kami akan tetap berpisah, karena tuan Keenan sudah memiliki tambatan hati lain yaitu nona Alin.' Batin Kalila tak ingin ambil pusing, mungkin sejatinya ia dan Keenan memang tak ditakdirkan bersama.


Kalila yang sudah rapi dengan gaun sederhana yang baru dibelinya segera menaiki taksi yang memang diminta untuk menunggunya.


Ia akan menuju tempat selanjutnya, pengadilan agama.


Tak butuh waktu lama, Kalila sudah berada didepan gedung itu. Sebuah gedung yang menjadi saksi perpisahan pasangan suami istri.


Kalila memantapkan hatinya untuk tetap kuat. Lagipula, perpisahan ini memang seharusnya terjadi.


Ia memasuki gedung itu, dan kemudian mengajukan gugatan cerainya. Tak lupa fotonya dengan seorang pria agar pengadilan yakin dia yang berselingkuh.


Setelah selesai dari sana, Kalila memutuskan untuk kembali kerumah Eko. Ia akan pergi dari sana setelah berpamitan dengan Eko. Karena ia juga tak mungkin terus merepotkan pria itu.


...


Keesokan harinya, Kalila sudah selesai sarapan dengan Eko. Ia yang sedang menata piring heran melihat Eko masih santai dan tak memakai setelan kantor.


" Eh mas, kok gak pakai pakaian kantor?." Tanyanya.


" Hari ini aku akan kembali keibu kota, pekerjaanku disini sudah selesai. Apa kau ikut?."


Kalila terdiam mendengar pertanyaan Eko, ia merasa belum siap kembali kekota itu, tapi ia juga tak mungkin tetap berada disini saat Eko tak disini.


" Baiklah, aku akan ikut." Ujar Kalila pasrah.


" Hei! Kenapa kau murung begitu? Apa ada yang kau pikirkan?."


Bukannya menjawab, Kalila justru meneteskan air mata. Teringat kembali akan perpisahannya dengan Keenan yang akan terjadi sebentar lagi.


" Tulip, kenapa kau menangis? Apa kau baik-baik saja?." Tanya Eko yang menjadi panik karena melihat Kalila menangis.


Ia segera mendekati Kalila.


" Aku tau kau sedang mengalami masalah, jika kau mau, aku akan siap menjadi pendengar yang baik."


Eko kemudian menuntun keruang tengah, Kalila yang sedang sedih hanya menurut.


" Kau bisa cerita jika kau mau." Tawar Eko lagi melihat Kalila masih menangis. Ia mengusap lembut pundak Kalila, berharap wanita itu tenang.


Kalila yang mendengarnya berpikir ingin bercerita dengan Eko. Karena mungkin dengan itu akan sedikit meringankan beban dihati dan pikirannya yang selama ini hanya ia pendam sendiri.


" Sebenarnya... aku sudah menikah." Lirihnya saat tangisnya mulai mereda.


Namun itu berhasil membuat Eko terkejut bukan main.


" Apa!!! Kau sudah menikah?." Tanya Eko memastikan pendengarannya.


" Iya, aku tak menceritakannya pada siapapun karena ini memang pernikahan yang dirahasiakan."


" Maksudmu?."


" Aku... aku istri tuan Keenan."


" Tuan Keenan!!!." Lagi-lagi Eko dibuat terkejut oleh perkataan lirih Kalila.


" Apa yang kau maksud adalah presdir Angkasa Group?."


Kalila mengangguk lemah.


Eko melepaskan tangannya yang sedari tadi mengelus pundak Kalila. Terkejut, sangat-sangat terkejut.


***