
" Makanlah!." Titah Keenan lagi.
Dan untuk kedua kalinya, Kalila tak mengerti maksud suaminya.
" Apa otakmu itu tertinggal dikantor, sampai aku harus menjelaskan setiap perintahku padamu!." Ujar Keenan dengan menatap tajam Kalila, membuat gadis itu ketakutan.
Kalila segera meraih piring dan mengambil lauk serta nasi. Akal sehatnya mengatakan itu maksud suaminya.
Keenan memandang Kalila dengan kesal, ia kembali melanjutkan makanannya.
Kalilapun mulai memakan makanannya dengan susah payah.
Setelah selesai dengan makanannya, Keenan menuju ruang kerjanya. Ia tetap akan mengerjakan pekerjaan kantornya walau dihari libur.
Sedangkan Kalila yang berada dilantai dasar, sudah siap dengan tas belanjanya setelah mencuci piring. Karena stok bahan makanan sudah habis, ia dan bi Susi akan pergi kepasar modern.
Tadinya bi Susi akan pergi dengan pelayan lain, namun Kalila memaksa ikut karena dia jenuh jika terus berada dirumah. Akhirnya bi Susi pun mengijinkan.
" Apa kamu sudah izin tuan muda?." Tanya bi Susi saat mereka sudah berada didepan mobil dengan pak Gun yang sudah sedia dibalik kemudi.
" Ini hanya kepasar bi, lagipula aku tak ingin mengganggu, tuan Keenan pasti sedang sibuk bekerja." Jawabnya yang memang melihat Keenan masuk keruang kerjanya.
" Ah benar juga. Ya sudah ayo kita berangkat."
Mereka berdua masuk kedalam mobil dan pak Gun mulai melajukan mobil menuju pasar.
Hanya butuh waktu 30 menit, mobil sudah terhenti sempurna diarea parkir.
Kalila dan Bi Susi turun, pak Gun juga mengikuti dibelakang. Untuk membawakan belanjaan yang berat-berat.
Mereka terus berjalan dari satu warung kewarung yang lain, membeli setiap kebutuhan yang diperlukan.
" Eh Lil, bibi kesana dulu ya...ada kebutuhan pribadi yang harus bibi beli." Ucap Bi Susi saat mereka bertiga sampai diparkiran, setelah daftar belanjaan mereka sudah selesai dibeli.
" Ya sudah, aku sama pak Gun disini."
Bi Susi mengangguk, kemudian masuk kembali kedalam pasar entah membeli apa.
" Non, saya ketoilet sebentar ya." Izin pak Gun setelah menaruh belanjaan dimobil.
" Eh iya." Kalila tersenyum canggung karena panggilan pak Gun. Ia biasanya hanya bicara dengan bi Susi, ia tidak tau kalau yang memanggilnya dengan nama dirumah hanya bi Susi. Bahkan Keenan sendiri belum pernah menyebut namanya.
" Aduuh, kok aku jadi pengin pipis juga sih." Gumamnya kemudian memutuskan mencari toilet.
Kalila terua celingak-celinguk, mencari dimana toilet. Tanpa ia sadari ia sudah berjalan terlalu jauh dari area pasar.
Seorang pria dengan masker dan juga topi dan penampilan serba hitam yang sedari tadi mengikutinya langsung membekap Kalila saat gadis itu lengah.
Keadaan sekitar yang sepi membuat pria itu lebih leluasa. Kalila sempat memberontak, ia berusaha melepas cekalan pria itu, sayangnya hanya dalam beberapa detik saja, ia sudah pingsan karena bius.
Pria itu langsung membawa Kalila kedalam mobilnya, ia melajukannya menuju tempat yang sudah disiapkan.
Disisi lain, Bi Susi dan Pak Gun sudah kembali ketempat parkir.
" Loh pak Gun non muda dimana?." Tanya bi Susi.
" Loh tadi pas saya mau ketoilet ada disini bi Susi."
" Maksudnya pak Gun ninggalin non muda sendiri?." Tanya bi Susi kesal.
" Ya habis tadi sudah kebelet bi." Balas pak Gun menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
" Aduh...jangan-jangan non muda nyasar." Ujar bi Susi panik.
Walau Keenan tak acuh pada Kalila, ia yakin tuan mudanya itu akan marah. Karena bagaimanapun juga Kalila adalah istri Keenan.
Semua bayangan pikiran buruk bersliweran dikepalanya. Ia benar-benar gelisah.
" Terus ini gimana pak Gun?."
" Ya sudah, kita kelilingin pasar dulu, siapa tau non muda kaya bibi, cari sesuatu dipasar." Ujar Pak Gun yang masih sedikit tenang. Walau ia juga sangat khawatir sekaligus takut.
Bagaimanapun dia pria yang membawa nona mudanya pergi, dan ia bertanggung jawab jika nonanya kenapa-napa.
" Ah benar juga." Bi Susi sedikit tenang mendengar perkataan pak Gun.
Mereka memutuskan kembali masuk kedalam pasar untuk mencari Kalila.
Satu jam kemudian, mereka keluar dari pasar dengan putus asa, mereka sudah berkeliling pasar, namun belum juga menemukan tanda-tanda Kalila.
" Gimana ini pak Gun?." Bi Susi panik. Pak Gun tidak menjawab karena dia juga tak tau harus bagaimana.
" Apa kita pulang dulu saja ya pak Gun? ini sudah hampir waktunya tuan muda makan siang. Karena ini libur, tuan muda makan siangnya dirumah." Lanjutnya lagi.
" Tapi kita beri penjelasan apa kalau tuan tanya nona muda ya?." Tanya Bi Susi tak tau harus mencari alasan apa.
" Kita jujur sajalah Bi, biar tuan Keenan bisa memerintahkan orang untuk mencari nona muda." Jawab pak Gun yang memang tak berani berbohong pada tuan mudanya.
" Ya sudah." Bi Susi pasrah.
Mereka masuk kedalam mobil, selama perjalanan keduanya dirundung rasa yang bercampur aduk. Khawatir, takut, cemas dan lainnya menjadi satu.
Bi Susi sendiri yang paling merasa bersalah, andai saja dia tidak mengijinkan Kalila ikut kepasar, mungkin hal seperti ini tak akan pernah terjadi.
' Ya Tuhan, lindungilah nona muda dimanapun dia berada.' Batin bi Susi. Ia tak hentinya merapal doa.
Sesampainya dirumah, Bi Susi masuk kedalam dan menuju dapur untuk membuatkan makan siang. Sedangkan pak Gun memarkirkan mobil kebagasi.
Bi Susi memasak dengan perasaan cemas yang tak kunjung hilang. Hingga tibalah saat makan siang.
Keenan menuruni tangga, bi Susi yang melihatnya semakin gugup saja. Padahal Keenan masih belum mengetahui semuanya, ia benar-benar tak tau bagaimana reaksi tuan mudanya setelah tau istrinya menghilang.
" Eh tunggu! Minta gadis itu kesini!." Titah Keenan tanpa menoleh. Entah kenapa ia ingin makan bersama lagi dengan Kalila.
Bi Susi yang sedang memang menunggu pertanyaan itu begitu gugup tak karuan. Tadinya ia kira bisa membicarakannya baik-baik setelah tuan mudanya kenyang.
Nyatanya, Keenan malah memintanya memanggil Kalila.
" Ada apa bi? Kenapa bibi diam saja disana? Aku minta bibi panggilkan gadis itu, bibi taukan siapa yang aku maksud?."
Desakan dari Keenan membuat bi susi terpaksa menjawab, dengan takut-takut iapun akhirnya mengatakan kebenarannya.
" Non...nona muda hi-hilang tuan." Ucap bi Susi dengan suara bergetar dan memejamkan mata. Tak siap melihat kemarahan tuan mudanya.
" APA!!!."
" Apa yang bibi katakan!!! Jangan mengada-ada?." Tanyanya dengan suara yang lebih rendah. Ia berpikir sudah salah dengar
" Ta-tadi nona muda ikut bibi kepasar tuan, sepertinya nona kesasar."
" Kepasar? Kenapa kepasar tak meminta ijinku?." Tekan Keenan dengan amarah yang menggebu.
" Maaf tuan, kata nona muda tuan sedang sibuk bekerja saat kami akan berangkat, jadi nona muda tak ingin mengganggu hanya untuk pergi kepasar sebentar."
***
**Aduuh gawat nih 😳, kira-kira siapa yang nyulik Kalila?
Jangan lupa tekan like, komen dan vote nya ya 🤗**