
" Temukan menantuku, dan kau akan mendapatkan maafku..." Balas tuan Haris.
Keenan mengangguk mantap, karena ia yakin dapat menemukan istrinya.
" Apa kau sudah menangani Alin?." Tanya tuan Haris.
Ya, Keenan menceritakan perihal Alin pada papanya, tapi ia tak menceritakannya pada sang mama. Karena papanya lebih tenang sehingga bisa diminta nasehat, sedangkan mamanya akan panik lebih dulu, dan akhirnya bukannya mendapat solusi, dia hanya akan melihat mamanya kepikiran.
" Saat ini Jordi masih terus menyelidiki siapa saja pria yang berhubungan dengan Alin dan kemungkinan ayah anak dalam kandungannya."
" Papa tau itu bukan putramu." Balas tuan Haris mantap.
Keenan mengernyit heran.
" Bagaimana papa bisa seyakin itu, sampai saat ini aku bahkan belum menemukan satupun bukti?." Tanya Keenan melihat kata-kata papanya memiliki seperti memiliki makna.
" Karena papa sudah mengetahui semuanya."
" Semuanya?."
" Siapa yang berhubungan dengan Alin hingga sekarang, bahkan sebelum kalian dijodohkan."
" Maksud papa?." Keenan benar-benar tak mengerti arti perkataan papanya.
Tuan Haris memandang Keenan, menghela napasnya kemudian menceritakan semuanya pada Keenan.
Saat itu, setelah tuan Haris menerima amanah atau lebih tepatnya wasiat dari sahabatnya yaitu ayah Alin.
Tuan Haris kemudian menyelidiki tentang Alin. Bukan maksud tak percaya akan didikan sahabatnya terhadap Alin, namun diusia Alin yang sudah beranjak dewasa sangat mungkin bukan bila gadis itu sudah memiliki pacar?.
Itu sebabnya dia mengirimkan anak buahnya untuk menyelidiki kehidupan Alin. Dan ia menemukan jika Alin sudah memiliki kekasih, dan itu tidak lain adalah keponakannya sendiri, Devandra Arsalan.
Namun ia ingin tetap melanjutkan perjodohan dengan harapan Alin akan berubah mencintai Keenan, karena itu adalah wasiat sahabatnya.
Meski begitu, penyelidikan tak dihentikan begitu saja, dan akhirnya ia menemukan jika Alin dan Devan bekerja sama untuk menghancurkan keluarganya melalui Keenan.
Dan saat itu ia semakin yakin, jika Alin bukanlah wanita yang tepat untuk mendamping putranya.
Ia juga tau rencana gagal mereka dan berakhir menjadi pernikahan Keenan dan Kalila. Dalam hati ia bersyukur, karena gadis baik seperti Kalila yang akhirnya menikah dengan putranya.
Apalagi mengingat Keenan pernah meminta ijinnya untuk menjalin hubungan dengan Kalila. Namun, karena Keenan masih memiliki ikatan dengan Alin, ia tak bisa melakukan apapun dan terpaksa menentang keinginan Keenan.
Walau karena kesalah pahaman dihotel itu, Keenan menjadi benci pada Kalila. Ia tetap diam dan membiarkannya, karena ia tahu Kalila dapat meluluhkan kebencian Keenan tanpa campur tangannya.
Sebelum Tuan Haris memastikan Kalila benar-benar gadis yang baik, ia juga lebih dulu menyelidiki latar belakang Kalila. Status sosial tak menjadi masalah baginya, dan ia yakin Kalila adalah gadis yang tepat menjadi menantunya setelah mengetahui segala latar belakang Kalila.
Ia sengaja tak memberitahu Keenan langsung, namun ia tetap mengawasi pergerakan Alin dan Devan lewat anak buahnya, sampai ia tahu bahwa Alin akan menipu Keenan dengan anak Devan dalam kandungannya.
Tak lupa dengan foto-foto itu, dia sudah tau semuanya. Dia sengaja pura-pura serangan jantung, agar putranya datang dan ia bisa menjelaskan semuanya
Ia ingin memberitahu Keenan, saat putranya itu sudah menyadari, jika cintanya pada Kalila masih ada, walau ditutupi oleh rasa benci.
Dan ia merasa, inilah saat yang tepat.
Keenan terdiam mendengar segala perkataan papanya, ia tak pernah menyangka, jika papanya mengetahui lebih banyak dari yang ia duga.
Keenan memejamkan matanya, rasa bersalah dihatinya seakan semakin menggunung setelah penjelasan papanya.
Jika ia tahu dari awal, mungkin dia tidak akan tetap berhubungan dengan Alin dan melukai perasaan Kalila.
" Hah, papa bahkan bisa berakting sebaik itu." Ejek Keenan mendengar papanya hanya pura-pura serangan jantung.
" Yah, itu sangat perlu." Jawab tuan Haris santai.
" Tapi papa membuat mama kami semua panik , apalagi mama, dia sangat sedih karena ini." Ujar Keenan dengan tak suka.
" Jika papa memberitahunya, belum tentu dia bisa berakting seperti papakan? Jadi papa tak ingin rencana papa gagal."
" Huh, papa bisa menelponku jika hanya agar aku datang." Keenan mencebik, tapi tuan Haris hanya menanggapi dengan senyuman.
" Kenapa papa tak memberitahukannya sejak awal?." Tanya Keenan frustasi dengan mengusap wajahnya teringat dengan topik utama dari cerita papanya.
" Aku bahkan hampir membuatnya diperk*sa lelaki brengsek itu." Lanjutnya teringat kejadian dihotel.
Ia mengira adanya Devan disana hanya sebuah kebetulan, ia tak menyangka pria itu sudah lama berencana jahat padanya. Bahkan saat itu, Kalila hampir saja menjadi korban.
" Mencintaiku?." Tanya Keenan dengan wajah bingungnya. Wajah yang tak pantas untuk seorang presdir.
Tuan Haris tertawa pelan melihat wajah bingung putranya.
" Kau itu seorang presdir dari Angkasa Group, bagaimana seorang presdir tak bisa melihat cinta yang tulus dari istrinya." Jawab tuan Haris santai.
Keenan meresapi jawaban papanya, membenarkan perkataan bijak ayahnya itu.
Ingatan demi ingatan akan sikap Kalila padanya membuatnya semakin merasa bodoh. Karena ia tak bisa melihat semua ketulusan Kalila dan hanya menganggap istrinya itu hanya akting belaka.
" Selama ini papa mengetahui banyak hal yang tidak aku tahu. Apa papa juga tau dimana keberadaan Kalila sekarang?." Tanya Keenan dengan pandangan menyelidik.
Tuan Haris menghela napas pelan.
" Tidak, papa tidak mengetahuinya..."
" Papa tidak berbohongkan?." Sungguh Keenan berharap jika papanya bohong, dan akan jujur dimana keberadaan istrinya.
Tuan Haris menggelang pelan, ia tak berbohong sedikitpun.
" Lalu bagaimana dengan Devan dan Alin, apa yang harus aku lakukan?." Tanyanya mengingat penyebab masalah dihidupnya dan kebenciannya pada wanita yang dia cintai.
" Papa akan memberikan bukti kejahatan Devan mulai dari penjualan barang terlarang, penjualan manusia dan kejahatan lainnya. Sedangkan kau akan menunjukkan bukti perselingkuhan Alin pada wanita itu, sehingga dia tidak menolak saat kau memutuskan hubungan kalian."
" Baiklah, terima kasih atas semuanya, Pa..."
" Kau putraku, dan aku ingin kau mendapatkan yang terbaik. Setelah masalah Devan dan Alin selesai, terus fokuslah mencari istrimu. Papa yakin dia juga menderita jauh darimu."
" Tentu Pa."
Setelah bicara dengan ayahnya, Keenan pergi dari sana untuk kembali kerumahnya.
" Keenan, kenapa tidak tidur disini saja, lagipula kau sendirian dirumah." Ujar Sarah saat Keenan menyaliminya untuk pamit.
" Aku pulang saja ma, aku akan kesini lagi besok."
" Tapi ini sudah waktunya makan malam, kenapa tak sekalian saja."
" Tidak papa, aku akan makan malam disini lain kali."
" Ya sudah terserah kau saja."
Keenan keluar dari rumah orang tuanya, ia kembali kerumahnya.
Sesampainya didepan rumah, ia segera masuk kedalam rumahnya, disambut oleh pak Ujang dan Bi Susi.
" Selamat malam tuan. " Sapa keduanya dengan raut wajah yang membuat Keenan merasa aneh. Mereka terlihat ketakutan.
" Malam."
" Kenapa kalian seperti ketakutan begitu?."
Pak Ujang dan Bi Susi saling lirik, bingung harus jujur atau tidak.
" I-itu tuan muda, ada nona Alin didalam..." Jawab Bi Susi dengan takut.
" Alin?." Alis Keenan menukik tajam menunjukan ketidak sukaan.
" I-iya, sekarang nona Alin ada dikamar tuan muda." Jelas Bi Susi lagi.
" Dikamarku?!!!."
Keenan segera menuju kekamarnya dengan penuh amarah. Tangannya mengepal geram, rahangnya mengetat pertanda ia sungguh marah sekarang.
Ia mengingat kembali segala perkataan ayahnya, membuat darahnya bagai mendidih seketika.
Braakkkk!!!!
" BERANI BERANINYA KAU MASUK KEKAMARKU!!!." Teriak Keenan membuat Alin yang sedang duduk didepan meja rias terkejut bukan main. Rasanya jantung serasa mencolos dari tempatnya.
***