
Selesai dimake over, Kalila keluar menghampiri Keenan yang masih setia duduk menunggunya yang baru selesai setelah dua jam.
" Tuan..." Lirihnya.
Keenan yang sedang memainkan ponselnya menoleh. Tatapannya seakan beku, ia terpana melihat kecantikan Kalila yang terpancar setelah didandani.
Sebuah gaun berwarna peach dengan tali ditengah, serta riasan natural. Anak rambut yang tergerai disisi kanan kiri wajah Kalila membuatnya terkesan imut. Tatanan rambut yang rapi benar-benar membuatnya terlihat lebih berbeda.
Dia terlihat lebih cantik dan elegan, ditambah high heels warna hitam yang pas dikulit putihnya.
Kalila yang dipandangi seperti itu merasa malu. Biasanya Keenan hanya akan menatapnya dengan tajam, namun kali ini pria itu menatapnya kagum. Entahlah, atau mungkin dia yang kegeeran sendiri. Karena ini pertama kalinya ia berdandan sebaik ini.
' Kau memang pantas menjadi wanita penggoda.' Batinnya yang sudah tersadar dari tatapan terpesonanya.
Keenan bangkit dari duduknya, kembali dengan ekspresi dingin seperti biasa.
" Ikut aku!." Titahnya setelah membayar pada pegawai dibelakang Kalila.
Tanpa menjawab, Kalila membuntut dibelakang Keenan, tak lupa meraih tas yang berada disamping Keenan tadi duduk. Ia kemudian masuk kedalam mobil. Tentu saja disebelah Keenan. Pria itu tak mau seperti sopir.
Ia sebenarnya sedikit susah berjalan, karena ia tak terbiasa memakai hak tinggi.
" Ayo cepat, kenapa kau lamban sekali!." Gerutu Keenan yang sudah berada dikursinya.
" Maaf tuan..." Hanya itu yang bisa dikatakannya. Toh jika dia mengatakan tentang hak tinggi, Keenan tak akan peduli.
" Ki-kita akan kemana tuan?." Tanyanya dengan gugup saat sudah duduk.
Ia menggenggam erat tasnya, merasa sangat gugup karena ini pertama kalinya mereka jalan berdua. Ditambah lagi ia berdandan seperti ini.
" Kau akan tau nanti. Yang jelas, kau pasti akan sangat senang." Jawab Keenan dengan seringai diwajahnya. Kemudian melajukan mobil menuju tempat selanjutnya.
Mendengarnya membuat hati Kalila berbunga-bunga. Apakah Keenan akan memberinya sebuah kejutan?. Seketika pusing yang sedari tadi bersarang dikepalanya seakan lenyap tiba-tiba.
Berganti dengan rasa senang yang luar biasa.
Keenan akan memberinya sebuah kejutan. Artinya suaminya itu sudah menerimanya bukan? Sudah menerima pernikahan mereka? Apakah kemarahan Keenan tadi pagi karena ingin memberinya kebahagiaan yang luar biasa? Jadi Keenan ingin mengujinya terlebih dulu sebelum memberinya banyak kebahagian.
Ia tak dapat menyembunyikan perasaan bahagianya. Rona berbinar diwajahnya sangat terlihat. Bahkan jantungnya memompa dengan cepat. Genggaman tangannya bahkan sampai basah oleh keringat saking gugupnya.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai disebuah restoran bintang lima.
Keenan langsung turun saat mobil terparkir sempurna. Begitupun Kalila.
Ternyata suaminya mendandaninya seperti ini karena ingin mengajaknya makan siang, bukankah begitu? Memangnya apalagi yang dilakukan orang jika kesebuah restoran?.
Keenan melangkah masuk kedalam restoran, Kalila sedia mengikutinya dari belakang.
Para pelayan yang melihatnya seperti tergesa memanggil seseorang. Tak berapa lama munculah wanita yang sepertinya adalah manager mereka dilihat dari pakaiannya yang lebih rapi.
" Selamat siang tuan Keenan, suatu kehormatan orang terhormat seperti anda datang kerestoran kami." Ujar wanita itu membungkuk hormat dengan senyuman lebarnya pada Keenan yang sudah duduk diruang VVIPnya direstoran ini.
" Hmm, bawakan makanan terbaik disini!." Titahnya tanpa menjawab sapaan basa-basi.
" Tentu saja tuan, kami akan memberikan anda pelayanan terbaik." Ujar si manager. Kemudian pamit kebelakang, ia mulai sibuk memerintah bawahannya untuk memberikan pelayanan terbaik pada orang terkaya yang berkunjung kerestoran mereka.
" Hei! Kenapa kau diam saja, duduklah!." Titah Keenan pada Kalila yang sedari tadi berdiri disamping mejanya.
Tentu saja karena Kalila merasa tak pantas duduk diruang VVIP sebuah restoran bintang lima.
Kalila segera duduk setelah Keenan memberi perintah.
Tak butuh waktu lama, berbagai hidangan terbaik direstoran itu disajikan.
" Tentu, aku akan lihat seberapa enak masakan disini!." Balas Keenan dengan wajah coolnya.
Koki itu mulai menjelaskan masakan-masakannya, mulai dari bahan-bahan yang berkualitas, cara memasak yang spesial, serta ketelitian mereka dalam setiap detail komponen makanan.
" Kau boleh pergi!." Titah Keenan setelah koki menjelaskan panjang lebar. Sebenarnya dia malas, tapi karena ingin bersikap bijak, ia bersedia mendengarkan.
" Makanlah!." Titah Keenan pada Kalila yang sedari tadi seperti tak terlihat disana.
" Be-benarkah ini tuan?." Tanyanya memastikan. Rasanya ia tak bisa percaya, jika suaminya yang selama ini membencinya mengajaknya makan direstoran bintang lima dengan pelayanan VVIP.
" Tentu saja, kau pikir aku bisa menghabiskan semua makanan ini sendiri. Aku yakin kau juga pasti lapar, ini sudah kelewat beberapa jam dari jam makan siang." Jawab Keenan santai melirik makanan dimeja.
" Te-terima kasih tuan..." Lirihnya dengan mata yang berkaca-kaca.
Walau cara Keenan bicara masih saja dingin, tapi dengan tindakannya yang seperti ini membuat Kalila yakin jika suaminya memang sudah menerimanya.
Kalila mulai menikmati makanan satu persatu.
" Ini hanya kejutan kecil, sebelum kejutan yang sesungguhnya." Gumam Keenan dengan segala rencana diotaknya.
Kalila yang mendengar gumaman Keenan menoleh.
" Maksud tuan?."
" Kau akan lihat nanti, nikmati saja dulu makananmu." Jawab Keenan kemudian mulai memakan makanannya.
' Kenapa cara bicara tuan Keenan seakan ada maksud tertentu ya... Tapi apa? Ah sebaiknya aku tidak usah berpikiran buruk, tuan Keenan kan memang seperti itu. Mungkin saja aku yang terlalu berlebihan.' Batin Kalila yang memperhatikan raut suaminya, ia merasa sedikit curiga dengan senyum aneh diwajah Keenan.
Tak berapa lama, merekapun selesai makan. Keenan memanggil pelayan untuk membayar. Saat akan pulang, manager, koki serta pelayan membungkuk hormat.
Keenan dan Kalila menuju satu tempat lagi. Sebuah tempat yang akan menjadi puncak rencana Keenan. Entah rencana apa, hanya Keenan dan Tuhan yang tau.
Kali ini perjalanan cukup panjang, setelah dua jam dan hampir menjelang malam mereka baru sampai ditempat tujuan. Sebuah hotel yang tentunya berbintang lima. Kali ini adalah salah satu aset PT. Elang Perkasa.
" Heh, kau pasti merasa sangat bahagiakan, sampai tertidur sepulas ini. Kau pasti akan lebih bahagia saat melihat kejutan terakhirku." Gumamnya menatap Kalila, segurat kebencian tergambar jelas disana.
" Bangun!." Titahnya dingin seperti biasa. Kalila yang memang tak terlalu lelap langsung mengerjapkan matanya terbangun.
" Kita sudah sampai tuan?."
" Hmm." Jawab Keenan dan keluar dari mobilnya.
Kalila memperhatikan sekeliling, ia tertegun, walau ia hanya orang miskin, ia juga tau apa yang namanya hotel.
Suaminya membawanya kehotel, apa lagi yang direncanakan Keenan. Apakah....suaminya akan memintanya haknya hari ini? Disini? Disebuah hotel berbintang?
' Benarkah tuan Keenan akan meminta haknya? Artinya dia sudah benar-benar menerimaku.' Batin Kalila tersenyum tipis memegangi dadanya, disana jantungnya tengah berdebar dengan kencang.
" Mau sampai kapan kau didalam?!." Teriak Keenan karena Kalila tak juga turun.
" Ah ma-maaf tuan." Jawab Kalila gugup, dengan tergesa ia turun dari mobil.
Keenan dan Kalila masuk kearea hotel, lagi-lagi sapaan penuh hormat menyambut mereka. Keenan sudah terbiasa dengan itu, tapi Kalila? Gadis itu tengah gugup luar biasa.
Jika saat direstoran ia seperti tak nampak, disini mereka yang menyapa Keenan juga menyapanya. Kalila hanya menjawab dengan senyuman.
" Siapkan kamarku!." Titahnya pada salah seorang pegawai disana.
Pegawai itu mengangguk, dengan cepat ia melaksanakan perintah pemilik hotel ia bekerja itu.
***