My Husband, I Love You

My Husband, I Love You
Cinta Pertama



Seusai mengerjakan tugasnya, Kalila berniat pergi, namun lagi-lagi Keenan mencegahnya.


" Aku ingin tidur siang, kau pijati kakiku!." Titah Keenan.


Tanpa berkata apapun, Kalila segera melaksanakan perintah suami sekaligus majikannya itu.


Pijatan-pijatan nyaman dari tangan lembut Kalila berhasil membuat Keenan tertidur dengan sendirinya.


" Terima kasih telah memberi saya kesempatan melayani anda seperti ini, walau anda menganggap saya hanya sebagai pelayan. Tapi saya menganggapnya sebagai tugas saya merawat suami yang sedang sakit." Gumam Kalila lirih, ia kemudian melepaskan pijatannya.


Menyelimuti Keenan dengan pelan, kemudian keluar dari kamar.


Tanpa ia sadari, Keenan yang belum sepenuhnya terlelap, mendengar jelas setiap kata yang ia ucapkan.


' Sikapmu membuatku bingung. Kau hanyalah wanita mura*an yang menginginkan hartaku. Tapi kenapa kau bersikap seolah kau adalah istri yang baik?.'


***


Tok...


Tok...


Tok...


" Masuk!." Ucap Keenan mendengar ketukan pintu.


Saat ini, ia sedang disuapi makan malam oleh Kalila. Tentunya masih dengan lauk sayur saja, Keenan hanya bisa pasrah, jika ia memberontak, yang ada Kalila curiga jika dia tak terlalu sakit.


" Tuan muda, tuan dan nyonya besar berada dibawah." Ucap seorang pelayan memberitahukan.


" Papa dan mama?."


" Keenan! Apa kau baik-baik saja?." Tanya nyonya Sarah dengan berteriak.


Ia langsung menyerobot masuk dengan panik, sedangkan tuan Haris baru saja sampai dengan langkah tenangnya.


" Ah, ternyata Kalila sedang menyuapimu. Tau begini, tadi mama gak main masuk aja." Raut wajah Sarah langsung berubah manis.


Melihat menantunya sedang menyuapi putranya. Ia memandang tuan Haris yang juga memandangnya, mereka tersenyum tipis. Merasa hubungan Keenan dan Kalila sudah ada kemajuan.


Kalila menaruh piring yang memang sudah kosong, ia bangkit dan menghampiri kedua mertuanya. Kemudian menyalimi mereka dengan hormat.


" Terima kasih ya sayang mau merawat Keenan." Ujar Sarah setelah Kalila menyaliminya.


" Itu sudah tugas Lila ma." Balas Kalila.


' Tugas sebagai seorang istri, walau tuan Keenan hanya menganggap saya sebagai pelayan.' Batinnya miris.


Ia kemudian melihat Keenan dengan takut-takut, karena ia sudah memanggil Sarah mama langsung didepan Keenan.


Ia bisa melihat Keenan memicingkan matanya tak suka mendengar perkataannya.


" Keenan itu kalau sakit agak manja, apa dia menyusahkanmu?." Tanya Sarah lagi.


" Tidak ma."


" Benarkah, tapi saat dia sakit, Keenan itu gak mau ditinggal loh. Masa kamu gak repot ?." Ujar Sarah lagi. Ia merasa bahagia putranya mendapat istri sebaik Kalila.


" Tidak ma, mama tenang saja, mas Keenan tidak manja sama sekali." Ujar Kalila lagi, masih memperhatikan raut kesal Keenan yang tak juga berubah.


Bahkan terlihat semakin kesal karena panggilan mas darinya.


" Baiklah."


" Hei! Bagaimana kau bisa sakit? Seingat mama terakhir kau sakit saat masih tinggal bersama kami?." Tanya Sarah langsung duduk disisi ranjang. Sedangkan tuan Haris berdiri disampingnya.


" Akukan manusia, tentu saja aku bisa sakit!." Ketus Keenan mendengar ucapan mamanya. Seakan ia tak boleh sakit karena mereka tak lagi serumah.


" Hem baiklah." Jawab Sarah.


" Papa ingin bicara denganmu." Ucap Tuan Haris dengan suara penuh wibawa.


Mendengar itu, Sarah yang mengerti suaminya ingin bicara empat mata dengan putranya, segera mengajak Kalila keluar. Sekalian ingin lebih dekat dengan menantunya itu.


" Ayo sayang, biarkan para pria bicara, kita keluar dan mengobrol sesama wanita." Ajak Sarah dengan senyuman lebar.


" Eh biarkan saja pelayan yang membawanya!." Cegah Sarah.


" Tidak papa ma, sekalian saja."


" Ya sudah."


Kalila pun keluar bersama Sarah.


" Apa yang ingin papa bicarakan?." Tanya Keenan dengan nada acuh.


" Bagaimana hubungan kalian?." Tuan Haris balik bertanya. Ia sudah duduk disofa tempat Kalila tadi.


" Kenapa? Apa papa senang melihat menantu papa tadi?."


" Tentu saja, dia adalah wanita yang baik."


" Hah, aku juga mengira dia wanita yang baik, sayangnya, semua pandanganku berubah setelah malam itu." Ujar Keenan.


" Papa yakin kau belum mendapatkan informasi yang lengkap. Terus minta Jordi menyelidikinya."


" Sudahlah pa, saat aku meminta ijin memutuskan Alin demi dia, papa menentangnya. Dan saat aku membenci dia, papa malah memaksaku menikahinya. Sampai kapan papa menjodohkanku dengan wanita yang tak aku suka." Keluh Keenan dengan nada tegasnya.


Ya, Keenan pernah meminta ijin pada tuan Haris untuk menikahi Kalila. Dia mencintai gadis itu, tanpa ia sadari.


Kalila adalah gadis yang pertama mengusik hatinya, bahkan Alin bukanlah wanita yang ia cintai.


Karena Alin hanya perempuan yang dijodohkan oleh tuan Haris. Alin adalah anak dari sahabat tuan Haris yang sudah berpulang lebih dulu.


Flash Back On...


Sahabat tuan Haris yang tak lain adalah ayah Alin memintanya untuk menjaga putrinya satu-satunya. Karena ikatan sahabat yang kuat, tuan Harispun memutuskan untuk menjodohkan Alin dengan putra pertamanya yaitu Keenan.


Karena adik Keenan, memilih tinggal diluar negeri sampai studinya berakhir.


Keenanpun menerimanya hanya atas dasar menghormati ayahnya dan juga ayah Alin. Lagipula, ia pasti bisa belajar mencintai Alin, karena ia belum pernah merasakan jatuh cinta.


Namun, perasaan memang tak bisa dipaksakan, ia tak bisa mencintai Alin seperti yang ia rencanakan.


Hingga pada hari dimana ia bertemu dengan Kalila, gadis berseragam OB yang dengan ceroboh menghalangi jalannya.


Gadis yang berhasil mengusik hati Keenan untuk pertama kalinya.


Rasa kasihan yang dirasakannya saat melihat Kalila menangisi ibunya yang sakit, perlahan berubah menjadi cinta yang tumbuh begitu saja.


Kecerobohan, kepolosan, dan senyum ceria gadis sederhana bernama Kalila berhasil mengetuk hati Keenan yang belum pernah terbuka untuk siapapun.


Namun sayangnya, rasa cinta yang dirasakannya tak dapat diungkapkan karena statusnya yang masih berhubungan dengan Alin dengan keterpaksaan.


Hingga hari dimana ia melihat Kalila berada seranjang dengannya. Membuat papanya koma, dan perusahaan yang susah payah dibangun mendapat kekacauan yang tak pernah dialami.


Sejak saat itulah, ia membenci gadis yang ia cintai. Baginya, Kalila hanya salah satu dari sekian wanita gila harta yang tak akan pernah tulus dalam mencintainya.


Ia menganggap dirinya sangat bodoh karena pernah terkecoh dengan tampang polos diwajah Kalila.


Akhirnya Keenan memutuskan tetap bersama Alin. Sampai dimana papanya sendiri memaksanya menikahi Kalila.


Ia semakin membenci Kalila karena itu, walau akhirnya ia terpaksa menikah dengan Kalila. Walau begitu, ia akan tetap berhubungan dengan Alin, sebagai pelampiasan rasa kecewa karena menganggap gadis yang pertama ia cintai hanyalah seorang wanita mura*an.


Flash Back Off...


" Suatu saat kau akan mengerti kenapa papa menganggapnya wanita baik-baik. Papa sudah katakan berulang kali, jika papa mengenalnya lebih dulu dibandingan dirimu." Ujar tuan Haris dengan tenang. Karena memaksakan kehendaknya pun akan percuma.


" Terserah papa saja, yang jelas apa yang papa harapkan tidak akan pernah terwujud." Ujar Keenan dingin.


" Jika saja papa mengatakan itu saat aku meminta ijin, aku yakin aku akan sangat bahagia." Tambah Keenan.


Tuan Haris tersenyum getir, apa yang diucapkan putranya adalah sebuah kebenaran. Namun sayangnya, ia terlambat.


Meskipun begitu, ia yakin, jika suatu hari Keenan pasti akan mencintai istrinya.


***