My Husband, I Love You

My Husband, I Love You
Rio Sialan



" Duduk disini!." Keenan menepuk ruang kosong diatas ranjang, tepatnya disampingnya.


Kalila memutari ranjang, dan merangkak naik dan duduk disamping belakang Keenan. Ia mulai memijat kepala Keenan.


" Pijatanmu semakin bagus juga, mulai hari ini kau harus memijatku setiap aku mau tidur." Ucap Keenan dengan mata terpejam, menikmati pijatan istrinya.


Yah, padahal nyatanya, pijatan Kalila sama seperti saat berada dikamar mandi.


" Baik tuan." Jawab Kalila.


" Pijat pundakku!."


Kalila langsung memindahkan tangannya.


Kalila terus memijat dan memijat, setiap Keenan memerintah pindah, maka dia akan pindah, hingga sampailah kekaki.


" Kau boleh pergi, aku ingin istirahat."


Kalila menurut, kemudian keluar dari kamar Keenan. Setelah Kalila keluar, Keenan tidak tidur, dia memilih melanjutkan pekerjaannya. Ia membuka laptop yang berada dibawah bantal yang digunakannya bersandar.


Namun, bukannya bekerja, pikirannya malah pecah memikirkan seseorang yang dipanggil 'mas' oleh Kalila.


Keenan meraih ponselnya dinakas, kemudian menghubungi sekretaris Jordi.


" Halo tuan."


" Kau masih mengawasi pria itukan?."


" Tentu tuan."


" Apa ada hal yang aneh, apa dia sudah punya pacar, atau justru sudah punya istri? Atau dia adalah koruptor diperusahaan?."


" Tidak tuan, dia masih lajang, dia juga bukan koruptor, dia salah satu staf terbaik diperusahaan." Jawab sekretaris Jordi. Ia tau betul tuannya itu ingin mencari-cari kesalahan rivalnya.


" Tapi saya sudah mempunyai informasi yang mungkin berguna."


" Kirimkan padaku lewat email."


" Baik tuan."


Keenan memutus telponnya, kemudian meraih laptop disampingnya mengecek email dari sekretarisnya.


" Sial." Rutuknya saat melihat data-data Eko.


Bukan apa-apa, dia hanya tak suka saat tau Eko berusaha memiliki pekerjaan yang baik hanya demi Kalila. Wanita yang berstatus istrinya, tapi diperlakukan layaknya pelayan.


Entah kenapa, ia sendiripun tak tau, kenapa ia harus marah melihat kedekatan Kalila dengan pria lain. Padahal dia sendiri sangat membenci gadis berstatus istrinya itu.


Dia hanya menganggap Kalila wanita gila harta yang sudah menjebaknya sehingga mereka menikah. Tapi kenapa? Kenapa dia harus marah saat Kalila sekedar bicara pada pria lain. Dia bahkan sangat marah saat tau pria lain menyimpan perasaan untuk istrinya.


" Kenapa aku seperti ini?." Gumamnya menyugar rambutnya gusar.


Saat Keenan tengah gusar dengan pikirannya yang menurutnya tidak jelas, tiba-tiba ponselnya berdering. Sebuah panggilan video dari wanita yang berstatus kekasihnya.


" Halo sayang, aku sangat merindukanmu." Ucap Alin dengan nada manja seperti biasa.


" Hei! Kenapa kamu cemberut gitu? Pasti kamu kangen juga ya sama aku?." Tanya Alin yang tak tahu alasan sebenarnya wajah muram Keenan.


" Ya mau gimana lagi Yang, emang ini udah pekerjaan aku. Aku juga gak tau disini sampai kapan." Alin terus bicara, sedangkan Keenan hanya diam tak tau harus menjawab apa.


Padahal biasanya, jika mereka sedang LDR seperti sekarang, dia akan banyak bertanya. Bagaimana kabar Alin? Apa sudah makan? Bagaimana pemotretannya? Dan masih banyak lainnya. Namun kali ini dia hanya diam tak berkutik.


" Keenan sayang...kok kamu diem aja sih!."


" Ha...maaf, aku hanya sedang mendengarkanmu saja. Bagaimana hari ini? Pemotretannya lancar?." Pertanyaannya seperti biasa.


" Ya, walau agak lama karena model prianya agak kaku. Dia sepertinya model baru, hah jika saja kau yang jadi modelnya, pasti sekali potret saja sudah bagus."


" Aku tidak suka menjadi model, aku lebih suka bisnis."


" Ya...ya...aku tau, itu sebabnya kau menjadi rajanya bisnis." Puji Alin.


" Apa kau sudah sarapan?." Tanya Keenan lagi.


" Hem sudah, ini sudah kelewat siang untuk menanyakan sarapan sayang." Ujar Alin terkekeh.


Keenan tersenyum tipis, pikirannya sedang bekecamuk, ia tak tau harus mengobrol dengan Alin bagaimana.


" Yang, udah dulu ya, aku mau take lagi nih."


" Bye...bye...muachh." Alin kemudian mematikan panggilan.


" Hah...ada apa denganku?." Gumam Keenan masih merasa gusar.


...


Waktu sudah menunjukkan jam makan siang saat Kalila sudah menyiapkan makanan untuk suaminya. Tentunya sebuah olahan sayur.


" Wah, kok masaknya sayur semua Lil?." Tanya bi Susi heran. Melihat makanan yang sudah disiapkan Kalila untuk diantar kekamar Keenan.


" Itu bi, kata dokter Rio, tuan Keenan harus mengurangi lemak dan daging dulu. Bisa berpengaruh pada kesehatannya."


" Loh baru kali ini tuan muda sakit, dokter Rio melarang memakan daging, atau mungkin sakitnya tuan muda parah?." Tanya Bi Susi dengan panik.


Karena sebelumnya, jika Keenan sakit, tak ada pantangan apapun.


" Gak tau juga bi, tapi kata dokter Rio, gak perlu dibawa kerumah sakit. Cukup istirahat dan makan makanan sehat seperti sayur-sayuran ini."


" Hah syukurlah, bibi pikir tuan muda sakitnya parah." Bi Susi merasa lega.


" Ya sudah, kalau begitu aku ngantar ini dulu ya bi." Ujar Kalila kemudian mengangkat nampannya, membawanya kelantai atas dimana kamar Keenan berada.


Kalila kemudian mengetuk pintu, setelah mendapat ijin, ia membuka pintu dan masuk kekamar.


" Makan siangnya tuan." Ujarnya pada Keenan yang sedang berbaring. Atau lebih tepatnya, langsung berbaring saat Kalila datang.


Karena sebelumnya, dia masih sibuk dengan pekerjaannya.


" Hei!!!." Panggil Keenan.


Kalila yang sudah menghadap pintu keluar kembali membalikkan badannya.


" Iya tuan?."


" Suapi aku!." Titah Keenan kemudian duduk bersandari diranjang.


" Ba-baik..."


Kalila kemudian mendekat, duduk disofa yang ada disana. Mengambil piring makanan yang tadi dibawanya.


" Eh apa itu?." Tanya Keenan tersentak menatap makanan ditangan Kalila.


" Ini makan siang tuan." Jawab Kalila dengan polosnya.


" Ya...ya... aku tau, tapi kenapa hanya sayur begitu. Bukannya tadi pagi kau membuatkan aku bubur dan sop yang lebih berbumbu. Apa aku tidak bisa melihat?, seakan tidak ada bumbu dan minyak dalam makanan itu. Jika bahan masakan habis, seharusnya kau beli!." Cecarnya, sangat tak menyukai masakan yang Kalila buat.


Hanya irisan wortel dengan beberapa jenis sayur untuk lalapan. Dan sebuah sambal merah sebagai colekan.


" Maaf tuan, tapi dokter Rio meminta anda untuk jangan makan makanan berlemak terutama daging. Itu akan mempengaruhi kesehatan anda." Ujar Kalila menjelaskan. Ia bisa melihat dengan jelas bagaimana Keenan terlihat sangat membenci makanan yang ia bawa.


" Rio?."


' Sial, apa yang dokter sialan itu katakan. Apa dia ingin mengerjai Keenan Alvaro Pradipta? Lihat saja nanti, akan aku pastikan kau mendapat hukumannya.' Batin Keenan merasa geram telah dipermainkan oleh Rio.


Ia hanya meminta Rio tak memberitahukan keadaannya yang terbilang baik. Tapi justru Rio malahan memparah-parahkan keadaannya.


Bahkan mengatakan ia tak boleh makan daging dan lemak.


Rio pasti tau, jika dia tetap meminta Kalila untuk memasak makanan seperti biasa, maka Kalila akan curiga.


Dan tentu saja, itu akan membongkar sandiwaranya. Walau dia tak sepenuhnya pura-pura, tetap saja ia tak separah yang dokter Rio katakan.


" Hem baiklah, suapi aku!. Titahnya dengan kesal pada Kalila. Ia sangat kesal membayangkan wajah Rio yang menertawakan dirinya yang berhasil dikerjai.


Keenan mengunyahnya dengan pelan. Ia sangat tak terbiasa dengan makanan hambar seperti ini.


' Tunggu pembalasanku Rio sialan.' Batinnya mengumpat.


Setelah berjuang cukup lama, akhirnya makanan dalam piringpun tandas.


Kalila menaruh piring diatas nakas dan meraih air putih disampingnya.


Kali ini, Kalila memberanikan diri langsung meminumkannya tanpa diperintah. Ternyata Keenan tak menolaknya.


***