
" Tidak, bukan begitu, aku hanya merasa tak percaya dengan semua ini." Ujar Keenan tak ingin membuat sedih Alin yang ia pikir sedang mengandung anaknya.
" Lalu bagaimana? Kau akan menikahiku kan?."
Desak Alin.
" Aku akan membicarakan ini lebih dulu pada papa dan mama, karena bagaimanapun mereka adalah orang tuaku." Ujar Keenan beralasan untuk mengundur waktu.
" Baiklah, aku yakin mereka akan menerimaku. Bukankah dulu aku yang dijodohkan denganmu. Jika bukan karena wanita sialan itu, aku yakin aku sekarang kira sedang sibuk mempersiapkan acara pernikahan." Ujar Alin menggerutu.
Namun bukannya memikiran perasaan Alin, Keenan justru merasa marah mendengar Kalila disebut 'wanita sialan'.
" Kenapa kau melihatku seperti itu? Apa aku salah?." Tanya Alin melihat raut wajah Keenan yang menunjukkan ketidak sukaan.
" Ah tidak, bukan begitu." Ujar Keenan segera memperbaiki ekspresi wajahnya.
" Ya sudah kalau begitu, sekarang kita pulang yuk. Udah waktunya pulang juga." Ujar Alin melirik jam ditangannya.
" Tapi aku masih banyak pekerjaan, kau pulanglah lebih dulu." Ujar Keenan.
" Baiklah kalau begitu, aku akan pulang kerumahmu. Bolehkan?." Ujar Alin. Ia yang tidak tau kepergian Kalila, ingin membuat Kalila cemburu pada kemesraannya dan Keenan.
" Baiklah, terserah kau saja." Ujar Keenan. Entah kenapa ia tak ingin berlama-lama melihat wajah Alin.
Lagipula Kalila juga tidak ada dirumah untuk melihat Alin. Jadi istrinya itu tak akan merasa sedih karena kedatangan Alin.
" Kau yang terbaik sayang." Ucap Alin mengecup bibir Keenan sekilas dan keluar dari sana.
" Hah, apa yang harus aku lakukan?." Gumamnya frustasi.
Kenapa saat ia ingin memperbaiki hubungannya dengan Kalila, justru Alin harus mengandung anaknya.
Sedangkan Alin, kini sedang berada dilift untuk menuju lantai dasar. Tiba-tiba ponsel ditasnya bergetar.
Alin mengambilnya, ia mengangkat telepon dengan takut saat melihat nama Devan disana.
" Halo."
" Kau memang pintar sayang, aku bangga padamu. Kau bisa meyakinkan sibodoh itu dengan cepat." Ujar Devan disebrang telpon dengan tawa kepuasan.
' Sial! Jadi laki-laki itu mengawasiku.' Batin Alin kesal.
" Tentu saja, itu hal yang mudah bukan?." Jawabnya berusaha santai.
" Hem baiklah, lanjutkan tugasmu!."
Tut...
Telepon terputus.
Alin melangkah keluar dari lift yang sudah terbuka. Ia melirik kiri kanan, mencari orang yang menjadi mata-mata Devan. Namun sialnya, ia tak melihat satupun orang yang mencurigakan.
' Aku harus lebih berhati-hati.'
Alin segera memasuki mobilnya sesampainya diarea parkir. Ia segera melajukan mobilnya menuju kediaman Keenan.
Beberapa menit kemudian, ia sudah sampai didepan gerbang rumah mewah itu. Ia segera membunyikan klakson mobilnya, untuk meminta satpam yang berjaga didepan gerbang membukakan untuknya.
Tiin!!! Tiiiinn!!!
" Maaf, nona ini siapa ya?." Tanya seorang satpam pada Alin menghampirinya yang masih berada didalam mobil.
" Apa kau tidak mengenalku? Aku ini kekasih majikanmu!." Ketus Alin karena kesal.
" Ah maaf nona Alin, dia baru, menggantikan salah satu dari kami." Ujar satpam yang sepertinya lebih senior karena mengenal Alin.
" Aku tak peduli! Cepat bukakan pintu!." Titah Alin dengan nada angkuhnya.
" Baik nona."
Kedua satpam itu kemudian membukakan gerbang. Alin segera melajukan mobilnya memasuki area rumah Keenan.
Sesampainya didepan rumah, Alin segera turun dari mobilnya.
Ia memasuki rumah karena penjaga didepan pintu mengenalinya.
Ia memandang dengan bahagia setelah memasuki rumah Keenan.
' Aku akan menjadikan semua ini milikku.' Batinnya.
" Dimana wanita itu?." Gumamnya mengedarkan pandangan mencari Kalila.
" Hei kau!!!." Teriak Alin memanggil seorang pelayan.
" Iya nona?."
" Dimana gadis itu?." Tanyanya langsung.
" Siapa maksud nona?."
" Ahh, itu...." Alin begitu bingung menyebut Kalila apa.
" Hah, gadis yang merebut Keenan dariku." Ujarnya akhirnya.
" Dia bukan nona mudamu, jangan memanggilnya seperti itu." Ketus Alin menatap tajam pelayan didepannya membuat pelayan itu ketakutan.
Ia menyadari kemarahan Alin yang memang berstatus kekasih tuan mudanya.
" Baiklah nona. Nona Kalila sudah beberapa hari tidak berada disini." Jawab pelayan itu.
" Apa maksudmu?." Alin menautkan alisnya tak mengerti.
" Nona Kalila sudah beberapa hari ini menghilang nona. Tuan muda sudah berusaha mencarinya, namun sampai saat ini belum juga ditemukan." Jelas pelayan.
" Kau boleh pergi." Ucapnya dengan mengibaskan tangannya.
" Tunggu." Cegahnya membuat pelayan yang baru saja berbalik pergi kembali mendekat.
" Buatkan aku jus lemon."
" Baik nona."
Alin kemudian duduk disofa ruang tamu, menyilangkan kedua kakinya.
" Dimana gadis itu, apa dia diculik... atau memang sengaja kabur." Gumam Alin berpikir.
" Hah baguslah, itu akan mempermudah pekerjaanku." Ujarnya langsung memejamkan matanya.
Saat Alin masih menunggu minumannya, seorang diluar membunyikan bel.
Ting Tong...
Ting Tong..
" Hah siapa lagi."
Baru saja ia bangkit untuk membuka pintu, pelayan tadi sudah membawakan minumannya.
" Buka pintunya!." Ucap Alin dan kembali duduk.
Sang pelayan langsung menaruh gelas diatas meja. Kemudian membukakan pintu.
" Apa benar ini kediaman tuan Keenan Alvaro Pradipta." Ujar seorang pria berseragam yang merupakan seorang kurir.
" Iya benar. Ada apa ya?." Tanya pelayan itu.
" Saya diminta mengantar ini." Ujar kuris itu memberikan sebuah amplop coklat besar pada pelayan.
" Tolong tanda tangannya disini sebagai bukti terima."
Pelayan itupun menandatanganinya.
Kurir itupun berlalu pergi, sedangkan pelayan langsung menutup pintu.
" Apa itu?." Tanya Alin melihat amlpop coklat ditangan pelayan.
" Saya juga tidak tau nona."
" Sini!." Alin langsung merebut amplop itu dari pelayan.
" Pergilah!." Usirnya pada pelayan dan kembali duduk disofanya tadi.
" Hah, apa ini. Aku jadi penasaran."
Tanpa pertimbangan Alin langsung membuka lem amplop itu.
" What!!! Gadis itu mengirim surat perceraian! Apa aku tidak salah baca?." Gumamnya begitu terkejut dengan isi surat yang ia baca.
Itu adalah surat perceraian yang dikirimkan Kalila. Dan tanda tangan Kalila sudah berada disana.
" Kenapa gadis itu menggugat cerai Keenan? Bukankah itu aneh? Banyak wanita yang menginginkan posisi sebagai istri Keenan. Dan gadis itu justru menceraikan Keenan dengan mudahnya?."
" Sebenarnya apa yang terjadi, apa ada suatu masalah saat aku pergi sampai-sampai gadis itu menggugat cerai. Tapi, bukankah terdengar aneh? Gadis OB menggugat cerai seorang Presdir... Bukankah seharusnya Keenan yang menggugatnya."
" Akhh! Aku jadi sangat penasaran!."
" Ah tunggu, atau jangan-jangan perjanjian yang Keenan katakan sudah berakhir? Tapi seingatku jangka waktunya satu tahun? Ini bahkan baru beberapa bulan."
Alin terus saja bergumam sendiri, ia benar-benar kebingungan setelah melihat surat cerai itu.
" Ah sudahlah! Aku akan menyimpannya dan memberikan ini pada Keenan nanti."
Alin langsung mengembalikan surat itu keamplopnya. Ia kemudian melangkah menuju kamar Keenan.
Setelah sampai disana, ia menaruh amplop dimeja. Kemudian merebahkan dirinya ditempat tidur Keenan.
Disisi lain, Kalila yang sudah berada dikontrakannya diibu kota tengah menuju perjalanan kerumah kedua mertuanya. Dia masih mengingatnya walau kesana hanya sekali.
Ya, setelah kembali kerumahnya dengan diantar Eko, Kalila langsung mencari kontrakam didaerah yang cukup baik untuk bersembunyi dari Keenan.
Ia tak berharap Keenan mencarinya, tapi ia sengaja melakukan itu untuk berjaga-jaga.
Meskipun ia menggugat Keenan dipengadilan kota S, tetapi dia akan tetap menemui kedua mertua yang sebentar lagi menjadi mantan mertuanya secara langsung.
***